
"Oh ya jadi kau mulai mengancamku..?
Apakah kau mengira dengan cara ini, kau akan bisa terus melanggengkan jabatanmu sebagai mandor kepala begitu...?"
"Ha..ha..hah manusia pengecut sepertimu, hanya pandai menggonggong di depan tuannya.
Apakah kau kira tuan Haris akan begitu saja percaya denganmu Darman...?
Aku adalah orang lama di tempat ini, aku punya pengaruh di tempat ini.
Maka jabatan mandor kepala itu, bukanlah sesuatu yang akan bisa hilang begitu saja dariku.
Tetapi aku terlanjur tidak suka denganmu, maka bersiap-siaplah.
Meskipun kau adalah orang kepercayaan tuan Haris, aku punya banyak cara untuk menyusahkanmu.
Aku adalah penduduk asli di tempat ini, lalu kalau tuan Haris mengetahuinya, memangnya kenapa...?
Aku bisa mengarahkan banyak orang, bahkan untuk membakar seluruh perkebunan sawit ini.
Kau pikir kau siapa...?
Hanya karena kau berasal dari kota, apakah lantas kau merasa bisa berkuasa di tempat terpencil ini...?
Aku adalah raja di tempat ini Darman...!!"
"Oh ya ternyata begitu pola pikirmu selama ini Erfan..! Pantas saja kau begitu berani mencaplok 30 hektar dari kebun ini menjadi kebun milikmu pribadi dan kau bagi-bagi bersama staf dan juga asisten kebun itu.
Kau pikir aku tidak mengetahui permainanmu...?
Apakah kau pikir kau akan bisa melenggang ke depannya...?
Sebentar lagi polisi akan datang menjemputmu dan akan kita lihat, siapa yang mau mendengarkanmu untuk membakar perkebunan ini.
Apakah kau pikir dengan membakar perkebunan ini, lantas tuan Haris dan aku akan menjadi miskin...?
Kau salah besar, perkebunan ini adalah jalan bagi tuan Haris, untuk membantu orang memberikan mereka pekerjaan dan penghasilan, sehingga hidup mereka menjadi lapang.
Kami berbeda dan bukan manusia seperti kau, yang menjaga dan memelihara agar orang lain menjadi susah dan bergaji sedikit, supaya bisa kau sogok dan kau manfaatkan untuk keuntungan pribadimu.
Kaukan yang selama ini mencuri hasil sawit dan juga mencuri pupuk, untuk kemudian kalian gunakan kepada kebun yang kalian caplok sebagai milik pribadi itu...?"
"Ah brengsek ternyata kau orang yang sangat banyak bicara omong kosong, kau pandai memfitnah dan berbohong.
Aku akan merobek mulutmu....!"
Erfan berlari dan mengambil dodos yang merupakan alat pemanen sawit dan mengayunkannya kepada Haris.
"Kau terlihat begitu hebat dan merasa begitu kuat, tapi ternyata kau berkelahi dengan cara berkelahinya seorang wanita, apa ini...?
Apakah kau tidak punya kekuatan untuk menyerangku dengan tangan kosong Erfan..? hahahah!
Haris mengelak dengan lincah, gerakannya sangat gesit. Sebagai seorang master dalam beladiri silat tentu sekuat dan secepat apapun Erfan berusaha untuk menyerangnya gerakannya masih saja tampak seperti keong bagi Haris.
Para pengawal Haris yang melihat bahwa tuan mereka diserang, segera datang dan hendak membekuk Erfan.
Melihat keadaan tidak menguntungkan baginya Erfan melemparkan dodos yang ada di tangannya, kepada para pengawal Haris dan kemudian dengan sekuat tenaga dia berlari ke arah pohon-pohon sawit dan menghilang dari sana.
"Tuan apa yang terjadi tuan...? Maafkan kami tidak ada di tempat bersama tuan, ketika hal ini terjadi."
"Sudah tidak apa apa biarkan saja.
Orang itu sudah menunjukkan wajah aslinya.
Baiklah kalau begitu saat ini, kita tidak perlu lagi berpura pura, kalian boleh bersikap seperti biasa kembali.
Oh ya di mana Fauzan dan rombongannya..?
Kenapa belum tiba juga...?"
"Ah iya..! itu tuan, tadi Nando juga sudah dihubungi oleh Fauzan ternyata kendaraan mereka rusak, bannya tadi bocor sampai dua kali.
Sementara jalan menuju kemari tidak ada tukang tempel ban dan ban serap juga sudah terpakai, jadi mereka harus mengupah seseorang untuk kemudian datang dan membawa ban itu ke pekan tuan, itulah sebabnya mereka terhambat untuk sampai datang kemari tuan."
"Lalu apakah sekarang mereka sudah bisa jalan kembali...?"
"Sudah tuan, kendaraan mereka sudah diperbaiki dan sudah bisa jalan dan sekarang sedang dalam perjalanan datang kemari."
"Baiklah kalau begitu kumpulkan semua orang..!
__ADS_1
Aku akan menyampaikan beberapa hal, terkait ancaman dari mandor kepala tadi yang sudah lari.
Aku merasa ancamannya itu bukanlah sekedar omong kosong, mengingat sepak terjangnya selama ini, ditambah lagi dia adalah putra daerah asli dari tempat ini.
Pastinya dia juga punya jaringan tersendiri, jadi aku ingin semua orang bersiap-siap untuk ini."
"Baik tuan.!
Apakah kami tidak perlu memburunya tuan...?
Biarkan pihak yang berwajib yang melakukan itu, kita hanya perlu memastikan bahwa para karyawan dan pekerja kita yang ada di kebun ini selamat.
Selain itu mereka juga harus bisa ikut mengawal, serta menjaga potensi bahaya yang bisa menghilangkan pekerjaan mereka di kebun ini."
"Baik tuan, kami akan berangkat.
"Temui Balyan dan juga bapak yang rumahnya tadi aku masuki."
"Siap tuan...!"
Para pengawal Haris kemudian pergi menjumpai Balyan si krani buah dan juga pria tua yang dimaksud oleh Haris.
Melalui keduanya seluruh pekerja perkebunan itu datang dan berkumpul di suatu tempat, yang ditetapkan oleh Haris.
Haris sendiri menghubungi lawyernya dan menceritakan perihal tentang kebunnya yang di caplok 100 hektar itu dan juga tentang ancaman dari mantan kepala mandor kepala, di tempat itu.
"Baik tuan kami akan bersiap untuk mengurus dan melaporkan hal itu pada pihak berwajib dan akan mengusahakan untuk segera terjun ke lokasi hari secepatnya."
"Ya sebaiknya begitu, kami disini menanti kalian."
"Baik tuan...!"
Haris lalu menutup panggilan telepon kepada lawyernya dan tidak berapa lama, karena semua orang sudah hadir di tempat yang dimaksud maka Harispun datang ke tempat itu.
Haris lalu maju dan memperkenalkan dirinya sebagai Haris yang sebenarnya, sekaligus pemllik perkebunan sawit tersebut.
"Halo selamat pagi jelang siang bapak ibu semuanya, yang hadir di sini jadi kali ini kita perkenalan kembali ya..!
Sebenarnya saya adalah Haris pemilik yang sebenarnya perkebunan sawit ini dan Haris yang bapak ibu panggil dan ketahui sebelumnya, adalah sahabat saya Darman, yang akan menjadi asisten kebun ini kedepannya."
Saya melakukan ini adalah untuk mengetahui sikap juga prilaku semua orang, yang tidak saya kenal sebelumnya."
Pak Kusno kini semakin yakin, bahwa dia akan benar-benar menjadi mandor, setelah tahu bahwa yang menjanjikan itu adalah Haris si pemilik perkebunan sawit itu sendiri.
"Jadi bapak Ibu semuanya..!
Apa yang saya janjikan sebelumnya kepada semua orang, baik masalah gaji dan juga tempat tinggal serta berbagai tunjangan lainnya, yang nantinya akan mengejutkan bapak ibu semuanya akan saya berikan.
Kelak bapak ibu akan mendapat penghasilan yang setara dengan karyawan yang berada di perkebunan milik pemerintah dan boleh jadi akan melebihinya.
Semua itu bisa berlaku sebab saya akan menjadikan kebun ini, bukanlah semata-mata sebagai sumber penghasilan saya, tetapi sebagai jalan bagi saya untuk membantu bapak ibu memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang tepat.
Bukan untuk bermaksud sombong, tetapi sebenarnya saya punya banyak uang.
Bahkan seandainya kebun ini tidak ada sekalipun, hal itu tidak akan mempengaruhi harta kekayaan yang saya miliki, tetapi saya faham bagi bapak ibu dan keluarga, mungkin perkebunan ini adalah segalanya, dalam hal sumber penghasilan dan pendapatan untuk menafkahi keluarga.
Selama ini ada oknum yang bapak Ibu kenal sebagai mandor kepala lama, yang selalu berusaha menjaga dan merawat kemiskinan bapak Ibu, agar yang bersangkutan bisa menyogok beberapa orang demi untuk memperkaya dirinya sendiri.
Saat ini kedoknya telah terbongkar, bahkan sebelumnya dia sempat menyerang saya dengan apa itu namanya...?
Dodos ya alat pemanen sawit itu...?
Tetapi setelah para pengawal saya datang, dia berlari ke dalam perkebunan, namun sebelumnya dia berjanji akan membakar dan memusnahkan perkebunan sawit ini.
Tapi tenang saja para pihak berwajib, akan segera datang dan menangkap yang bersangkutan bersama komplotannya, namun begitupun karena kebun ini sudah menjadi hajat kepentingan bapak ibu semua, saya minta ke depannya bapak Ibu lebih proaktif untuk menjaga dan merawat kebun ini.
Kebun ini adalah sumber penghasilan bapak Ibu, sebab dari kebun ini bapak Ibu bisa memenuhi kebutuhan nafkah rumah tangga bapak Ibu dan juga kebutuhan tentang pendidikan sekolah dari anak bapak ibu kedepannya.
Oleh karenanya rawat dan cintailah kebun kita ini, sebagaimana bapak Ibu mencintai dan merawat kebun sendiri, pelihara kebun ini dari segala potensi bahaya dan ancaman apapun kedepannya.
Karena si mandor kepala itu sebelumnya, mengandalkan statusnya sebagai putra daerah di tempat ini, saya yakin diantara bapak ibu yang bekerja di sini juga, banyak yang merupakan putra asli daerah atau berasal dari desa desa sekitar sini.
Oleh karenanya bapak ibu perlu menjelaskan kepada warga desa yang lain, supaya jangan ikut-ikutan tentang maksud dan tujuan si mandor tengil itu.
Sampaikan penjelasan mengenai itu, baik itu secara langsung berkomunikasi ataupun melalui telepon genggam, atau melalui jalan lainnya.
Bagaimana bapak Ibu semuanya...?"
"Siap kami sangat siap tuan..! Kami akan menjaga dan mengawal kebun ini dengan nyawa kami, tuan siapapun yang mengganggu kebun ini berarti mengganggu keluarga kami, juga mengganggu sumber pendapatan kami.
__ADS_1
Dengan kata lain, sama saĵa orang itu sedang mengusik dan bermain main dengan nyawa dan kelangsungan hidup kami tuan.
Karenanya kami siap bertarung tuan...!!"
"Ya tidak sampai harus bertarung juga bapak ibu.
Ketika bapak ibu melihat ada potensi dan bahaya, cukup hubungi kita dan laporkan situasinya, kecuali pembakaran kalau soal pembakaran bapak ibu memang harus proaktif secara cepat dan sigap mematikan di manapun ada titik api yang coba disulut oleh orang orang itu."
"Baik tuan..! Kami siap tuan."
"Baik kalau begitu saya bisa menjadi lebih tenang sekarang, bapak ibu boleh kembali ke tempatnya masing-masing."
Setelah para pekerja dan karyawan perkebunan milik Haris bubar, sekelompok orang yang berjumlah 20 orang datang hendak menyerang dan mengepung Haris.
Melihat situasinya Haris tahu bahwa orang-orang itu, adalah komplotan dari si mandor kepala tengil yang sebelumnya lari, maka Haris dan para pengawalnya pun serta Very dan Nando juga Darman bersiap-siap menghadapi ke-20 orang yang diantaranya membawa senjata tajam itu."
" Wah akhirnya si pengecut ini, datang lagi membawa kawanannya.
Baiklah maju kalian semua...!"
Haris langsung melompat menerjang menyepak dan memukul setiap orang yang berada di jangkauannya.
"Ayo pukul pukul mereka semuanya...!
Mereka hanya beberapa orang tidak mungkin kita akan kalah.."
Erfan si mandor tengil berusaha terus menyemangati dan memprovokasi orang-orang yang dibawanya.
"Ha..ha..hah kau hendak mengandalkan jumlah kalian...?
Jumlah itu tidak akan berpengaruh di sini Erfan..!"
Haris lalu meninju wajah Erpan yang memang sudah sangat membuatnya kesal itu, Erpan terjungkal ke belakang dan tumbang ke tanah.
Ketika ada orang yang hendak memukul Haris dari belakang, karena melihat Erfan yang terjungkal dibuatnya, Darman yang berada tidak jauh dari depan Haris langsung berlari dan meninju ulu hati orang tersebut sampai tumbang.
Walaupun jumlah penyerang itu ada 20-an orang tetapi dengan kemampuan Haris sebagai Master beladiri dan tiga pengawal terlatih milik Haris yang juga merupakan ahli bela diri itu, semua penyerang itu terkapar di tanah..!
"Hei lihat itu ada keributan di sana..!"
"Apakah tuan Haris sedang diserang oleh kelompok mandor keparat itu...?"
"Ayo ayo kita bantu tuan...!"
"Iya benar. Ayo kita bantu tuan jangan sampai tuan terluka."
Semua para pekerja dan karyawan perkebunan milik Haris datang berlari, bermaksud menyerbu dan hendak menyergap para penyerang yang menyerang Haris.
Tetapi mereka tertegun melihat ke-20 orang penyerang itu telah terkapar tak berdaya di tanah.
"Rudi.. Kandar.. Hamzah...? Apa..?
Kalian ikut-ikutan menyerang tuan, karena si mandor korup itu..?"
"Pak lek kami dibohongi pak lek, katanya pak Erpan dikeroyok oleh para bawahan pemilik kebun ini, makanya sebagai sesama warga desa kami datang kemari. "
"Plak.. plak..plak..."
Suara tiga kali tamparan yang begitu nyaring terdengar di tempat itu.
Dasar bodoh...!
Kalian hanya membuatku merasa malu di sini, apa kalian lupa kalau aku bekerja di sini...?"
Justru karena itu Paklek, Pak Erpan mengatakan bahwa pemilik kebun ini orangnya sangat tidak baik dan dia tidak memperhatikan kesejahteraan para pekerjanya, termasuk paklek anggota lama yang sudah bekerja selama puluhan tahun, tapi tetap saja menjadi pemanen tidak diperhatikan sama sekali.
"Omong kosong tuan Haris yang sekarang adalah pemilik baru di perkebunan ini.
Beliau sudah sangat memperhatikan kami dan menaikkan gaji kami semuanya, bahkan akan menyamakan gaji kami dengan karyawan perkebunan milik pemerintah.
Kalian mau saja dibodoi oleh orang itu, justru selama ini dialah yang menekan kami membatasi kami, untuk bisa beroleh gaji yang layak demi memperkaya dirinya sendiri.
Dasar bodoh kalian membuat malu kami saja."
"Iya kalian jangan mau ditipu dan di hasud oleh si Erpan itu, banyak warga dari desa kita yang bekerja di sini dan bahkan tuan Haris telah berjanji akan menerima lebih banyak lagi karyawan kedepannya.
jangan membuat kami malu."
Ketiga orang itu dan tujuh belas orang lainnya, merasa di tipu mentah mentah oleh Erfan.
__ADS_1
Semuanya segera meminta maaf kepada Haris