Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _107 : Mitra bisnis strategis


__ADS_3

Pagi itu Haris menikmati sarapan yang khusus memang merupakan hidangan paling istimewa miliknya sebagai Bos besar pemilik hotel tersebut.


Haris menikmati semua hidangan yang ada di depannya, sambil bercengkrama dan bercanda menggoda kedua istrinya dan berusaha menampilkan kehidupan yang normal seperti sebelumnya yang tidak ada masalah.


Selesai sarapan Haris segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor ekspedisi bersama 25 pengawal barunya.


Adapun untuk10 pengawal wanita, Haris memerintahkan mereka berjaga di lokasi hotel saja, sebagai sikap berjaga-jaga siapa tahu kaki tangan Marlon sudah mengendus keberadaan Hotel milik Haris.


"Jadi pagi ini juga Abang harus pergi ke kantor ya Dek, untuk menjaga kantor kita agar jangan sampai diserang lagi oleh kaki tangan orang yang memukuli Bang Beni."


"Baiklah Bang, tapi Abang tetap harus waspada dan berjaga-jaga.


Bagaimanapun keselamatan Abang yang paling utama."


"Iya kalian jangan terlalu khawatir, suami kalian ini akan berjaga-jaga kok, lagi pula aku masih ingin hidup lebih lama, menua bersama kedua istriku dan melihat anak-anakku tumbuh.


Aku tidak akan menyia-nyiakan hidupku."


"Syukurlah kalau abang mengerti dan berpikiran panjang seperti itu, Abang jangan sampai dikuasai oleh emosi dan terprovokasi, sehingga salah melangkah karena tidak berpikiran jernih."


"Ya terima kasih sayang nasihatnya, Abang pergi dulu ya."


"Pergi sekarang Bang, bukan pergi dulu."


"Yaelah, masa mau ngomong begitu aja, harus ada tajwidnya sih dek...?"


"Hahahahaah"


Ketiganya tertawa lepas dengan candaan ringan Diana itu.


Haris kemudian mencium kening kedua istrinya dan menggendong Nurul untuk sesaat, kemudian juga mencium kening Nurul, Putri pertamanya itu.


Setelah itu Haris bersama dan 25 anggota barunya, langsung meluncur ke lokasi kantor ekspedisi yang berada di pinggiran kota.


Setelah mengendarai mobil kurang lebih 20 menit, lewat jalur jalan tol, mereka tiba di tempat itu dan disambut oleh Amanu Riston dan Halim yang berjaga disana.


"Selamat datang Tuan. Kenapa Tuan begitu cepat datangnya...?"


"Ya tentu saja harus cepat, karena kita harus stand by berjaga-jaga di tempat ini, sekaligus juga untuk memperkenalkan lokasi ini kepada saudara-saudara kita yang 25 orang ini."


"Bukankah sebelumnya Tuan mengatakan ada 35 orang tambahan tenaga Tuan...?"


"Iya benar ada 35 dan 10 orang lagi Aku tugaskan berjaga-jaga di hotel kita.


Biarkan saja mereka di sana, kalau memang tenaga pengamanan yang ada di sini kurang, karena banyaknya musuh yang datang menyerang, tentu sewaktu-waktu mereka juga bisa tiba di sini.


Baiklah, kalau begitu ayo kalian saling sapa.


Walaupun kalian sudah saling kenal, tapi bukankah kalian sudah berpisah selama beberapa bulan ini bukan...?"


"Iya benar sekali Tuan, Senang rasanya bertemu dengan kawan-kawan lama."


"Kalau begitu aku tidak akan mengganggu reuni kalian, aku akan masuk ke dalam kantor sebentar.


Sebaiknya Puspa dan Wulan beristirahat di hotel karena mereka sudah berjaga-jaga malam ini, kalian bertiga juga boleh beristirahat.


Aku yakin dengan jumlah kita yang ada sekarang, kita sudah bisa mengamankan tempat ini."


"Tidak apa apa tuan, kami disini saja kami sudah cukup beristirahat malam ini dgn bergantian berjaga."


"Ya sudah kalau begitu."


Haris kemudian masuk dan menemui Puspa juga Wulan yang ada di dalam kantor.


"Puspa... Wulan...!"


"Iya Bang...!"


"Sebaiknya kalian beristirahat saja di hotel kita, saat ini di sudah ada 28 orang yang berjaga.


Selain itu aku juga ada di sini, kalian bisa beristirahat dan kalian sudah bisa mulai mengarahkan 10 pengawal baru kita yang ada di hotel.


Sejak saat ini, aku percayakan regu mereka itu, di bawah pimpinan kalian."


"Tapi Bang, bukankah lebih baik kami di sini sebagai tambahan tenaga...?"


"Tenang saja. Kalian pergi saja, dengarkan apa yang aku katakan."


"Baiklah Bang. Kami akan pergi dari sini."


"Kalian akan di antar ke hotel, sebab mobil kalian sudah ada disana."


Puspa dan Wulan kemudian pergi menuju Nurul-Haris hotel untuk beristirahat.


Haris menyapa semua karyawan yang ada disana.

__ADS_1


Semuanya Karyawan/tinya mengatakan kalau mereka cukup nyaman dan tidak takut seperti sebelumnya, meskipun orang-orang itu akan datang menyerang nantinya.


"Kalian semua jangan khawatir, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian seperti biasanya.


Setelah masalah ini selesai, aku akan membesarkan usaha ekspedisi kita ini, kita akan membuka cabang di beberapa kota lainnya dan akan merekrut banyak tenaga kerja.


Jadi kalau ada diantara kalian yang punya anggota keluarga yang memang bisa bekerja, maka bimbinglah anggota keluarga kalian itu di rumah, sedari sekarang.


Sesekali Kalian juga boleh membawa mereka kemari secara bergantian tentunya, jangan semua orang membawa angota keluarganya di hari yang sama.


Kalian atur jadwalnya masing-masing, agar mereka terbiasa dan terlatih juga punya pengalaman secara langsung melihat bagaimana cara Kalian bekerja di sini."


"Terima kasih Tuan, kebetulan saya punya adik yang sudah bisa bekerja."


"Iya saya juga punya Abang, yang berhenti bekerja karena perusahaannya tutup, lagi butuh pekerjaan."


Saya juga ada anggota keluarga, sepupu saya sedang mencari pekerjaan, kalau memang di sini bisa bekerja, aduh betapa beruntungnya."


"Iya aku juga ada."


Semua karyawan dan karyawati kantor Ekspedisi Antar Kota- PT Jaya Utama Transport- Pengangkutan Pengiriman Barang, yang merupakan para tenaga kerja milik Haris itu, saling mengatakan dan menyebutkan tentang anggota keluarganya yang butuh pekerjaan atau yang sedang menganggur.


Semua orang begitu antusias.


Hari yang cerah dan tidak terlalu panas di hari itu, semakin membuat suasana di hati mereka menjadi cerah, disebabkan oleh angin segar yang dihembuskan oleh Haris.


"Tenang .. tenang, semua pasti akan kedapatan.


Sebelum anggota keluarga kalian mendapatkan posisi pekerjaan itu, Kita tidak akan menerima orang lain.


Tapi ingat meskipun anggota keluarga, profesionalitas itu syarat utama, kalau keluarga kalian ternyata tidak mampu bekerja dan kalian memaksakan yang yang tidak bisa itu untuk bekerja di sini, maka jabatan kalian akan menjadi taruhannya.


Jadi bagus-baguslah mendidik mereka dan melatihnya, sebab tidak ada orang yang tidak bisa, kalau sudah dilatih dengan baik dan secara maksimal, apalagi disertai dengan kesabaran."


"Kami akan mengingat apa yang Tuan katakan."


"Baik, kalau begitu Aku akan menantikan itu.


Aku punya firasat kalau para perusuh itu, akan datang siang ini.


Jadi kalian jangan terkejut. "


"Baiklah Tuan, terima kasih atas peluang yang Tuan buka."


"Ya tunjukkan saja rasa terima kasih kalian dengan bekerja secara baik."


Dari tempat itu, Haris menghubungi Pak Ridwan agar menyiapkan para penasehat hukumnya dan menyiapkan laporan atas penyerangan yang terjadi pada Beni berikut visum dokter sebagai bukti adanya penganiayaan.


Para pengawal Haris yang berjumlah 25 orang, semuanya memakai seragam yang sama, yakni jas yang biasa mereka pakai, ketika bertugas di Kaya dan jaya bersama group.


Jas hitam dan rapi itu, tidak mencerminkan kalau mereka itu adalah para pengawal yang terampil dan terlatih.


Dari sebuah tempat parkir mobil yang ada di seberang jalan, tepatnya di depan kantor Ekspedisi milik Haris, dua orang mata mata keluarga besar yang merupakan paman Marlon si pria kasar, sedang memantau keadan dan situasi di depan kantor tersebut.


"Halo tuan..!"


"Ya.


Silahkan laporkan."


"Saat ini ada 25 orang berJas, selain dari 5 orang yang sejak tadi malam berjaga di lokasi ini tuan.


Tampaknya apa yang dikatakan Master Lim, benar adanya, sosok Tuan Haris ini memang punya kekuatan yang belum kita ketahui."


"Apa tidak ada petunjuk...?"


"Ada Tuan...! ke-25 orang itu memakai Jas yang seragam dengan motif dan warna yang sama termasuk juga tulisan yang sama, yang ada di atas kantong kirinya, bertuliskan kaya dan Jaya Bersama group tuan."


"Apa...? Apa kamu tidak salah...?"


"Tidak tuan, saya sudah memperhatikan ada beberapa orang yang semua memang Jasnya bertuliskan kata yang sama, bahkan tadi kami sempat mendekat dan mengirimkan paket untuk memastikan tulisan itu."


"Hmmmm... kalau begitu terus pantau, ingat jangan terlibat apapun tugas kalian hanya memantau situasi."


"Baik tuan."


Pimpinan dari mata mata itu adalah Bos besar, yang sebelumnya Master tua katakan pada Haris.


"Ricko...!"


"Saya Tuan."


"Coba panggilkan Master Lim kemari."


"Siap Tuan."

__ADS_1


Tak Butuh waktu yang lama, maka Master tua yang dipanggil oleh bawahan bos besar tadipun segera datang ke dalam ruangan milik si Tuan besar.


'Selamat pagi Tuan."


"Selamat pagi Master Lim, silahkan masuk, bagaimana kabar anda pagi ini Master."


"Saya cukup baik Tuan.


Ada apa kiranya Tuan memanggil saya...?"


Saya memanggil Master Lim, untuk menanyakan sesuatu.


Ini masih seputar pembicaraan kita yang kemarin...?


Master Lim mengatakan bahwa sosok pria bernama Haris ini mengaku kalau Dia punya kekuatan finansial dan hal-hal yang diperlukan untuk mengalahkan si Marlon bukan...?"


"Iya saya tidak menambah dan tidak mengurangi Tuan, itulah apa yang saya dengar dari Master Haris tersebut."


"Hmmm.. Aku sudah memerintahkan orang-orang kita untuk memantau dan melihat situasi, kabarnya siang ini Marlon dan beberapa puluh anggotanya bersiap untuk menyerang kantor ekspedisi milik Haris.


Saat ini menurut mereka ada sekitar 28 orang penjaga dan pengawal yang ditempatkan Haris disana, yang unik dan menjadi menarik adalah, setiap pengawalnya itu memakai jas dengan motif dan warna yang sama, serta ada tulisan Kaya dan Jaya bersama group.


Aku tahu betul bagaimana kekuatan korporasi itu di bidang perhotelan, artinya memang apa yang pemuda itu katakan kepada master Lim tidak sepenuhnya salah, tampaknya dia memang bukan orang sembarangan, sehingga bisa sampai memakai tenaga pengawalan milik Kaya dan jaya bersama group.


Dengan kata lain, Dia adalah anggota bahkan petinggi di Kaya dan Jaya Bersama group itu sendiri.


Sebab tidak ada sembarangan orang yang tahu tentang itu dan tidak ada orang yang cukup gila untuk berani memakai nama itu.


Saya minta master Lim untuk terus menjalin hubungan dan mendekati pria bernama Haris itu, siapa tahu kelak setelah runtuhnya kekuasaan dan kekuatan uang si Marlon ini, kita bisa mendapatkan Mitra bisnis yang bagus.


Terus terang saja, kita membutuhkan manusia yang kondisi jiwa dan pemikirannya stabil dan sehat untuk ikut menanamkan saham di perusahaan pertambangan yang kita miliki.


Bagaimanapun aku tetap merasa tidak nyaman bekerja sama dengan si Marlon bandit itu, meskipun dia Putra saudaraku sendiri.


Kalau bukan karena uang Ayahnya yang telah diwariskan padanya, ada di perusahaan kita, Aku telah lama menendang anak itu dari group Perusahaan kita.


Kalau memang si Haris ini benar-benar punya kekuatan finansial seperti yang dia katakan, maka dari temperamen serta sikap yang master Lim ceritakan, tampaknya Pria baik itu lebih menarik untuk kita jadikan sebagai rekan bisnis."


"Iya itu adalah keputusan yang tepat dan sangat bagus sekali tuan. Saya sudah menyaksikan sendiri bagaimana tempramen dan juga sikap yang ditunjukkan oleh master Haris ini.


Bayangkan dengan usia semuda itu Dia sudah mampu mengalahkan saya dengan mudah Tuan.


Kalau bukan karena kemampuannya itu, mustahil lidah Saya ini akan mudah saja menyebutnya sebagai Master.


Selain itu saya yakin Dia memang punya kekuatan finansial yang bagus, secara logika saja tidak mungkin keadaannya yang begitu, bisa dimiliki oleh orang sembarangan.


Karenanya terus terang saja, Saya sejak awal memang sangat berharap Tuan bisa menerima Master Haris ini, sebagai sahabat kita atau paling tidak menjadi mitra bisnis strategis, seperti yang Tuan katakan."


"Saya setuju Master Lim.


Kalau memang keadaannya benar begitu, karenanya saya memerintahkan orang-orang untuk terus memantau disana, namun tidak boleh terlibat langsung pada peristiwa itu.


Mungkin akan lebih baik jika master Lim juga bisa ikut terjun langsung membantu nanti di akhir-akhirnya, sehingga kita memiliki kesan yang baik di hati pria bernama Haris itu."


"Jadi maksud Tuan, saya harus membantu mereka begitukah Tuan...?"


"Iya tapi jangan langsung secara konfrontasi, misalnya Master Lim bisa menghubungi Pak Haris itu, untuk memberikan informasi kalau siang ini si Marlon dan para pasukannya akan datang menyerang, sehingga mereka bisa bersiap-siap."


"Baik Tuan, kalau begitu saya akan menyampaikannya langsung saja ke sana, Bagaimana menurut Tuan...?"


"Begitu juga bagus, tapi seperti yang aku katakan Master tidak perlu terlalu mencolok terlihat di sana, cukuplah Master nanti menjadi polesan akhir sebagai penutup nantinya."


"Baiklah Tuan, Saya sudah paham apa maksud Tuan.


Kalau begitu saya izin berangkat sekarang Tuan.


"Ya pergilah Master Lim."


Persis setelah berakhirnya pembicaraan itu, Master Lim langsung meluncur ke lokasi kantor milik Haris.


......................


"Bagaimana dengan persiapan orang-orang kita...?"


Persiapan kita sudah selesai Tuan.


Kali ini kita membawa setidaknya sekitar 70 orang anggota, untuk menghancurkan dan meratakan kantor itu.


Saya yakin kalau setelah ini,.ekspedisi itu bersama orangnya akan tinggal menjadi Kenangan Tuan"


"Hahaha.. bagus bagus sekali. Memang itulah tujuan kita.


Siapa suruh juga, Dia tidak pandai untuk bersikap dalam hidup ini.


Dia mau menantangku Marlon si tuan muda kaya yang punya kuasa..?

__ADS_1


"Baiklah tampaknya beberapa orang di dunia ini, perlu disadarkan akan betapa tingginya langit Itu.


Cepat selesaikan segala hal, sediakan kendaraan dan Kita akan langsung berangkat."


__ADS_2