
Lelah seharian di pantai, Haris dan seluruh keluarganya memasuki hotel dan masing masing mereka mendapatkan kamarnya, yang telah disediakan.
Saat itu semua kamar Presidential suite, sudah di tempati oleh tamu yang datang sebelum mereka.
Namun jelas kamar pribadi Tuan dan Nyonya Haris, tak boleh di isi oleh siapapun selain mereka.
Atas izin Haris keluarganya di arahkan oleh assisten manager, menginap di kamar yang kelasnya satu tingkat berada di bawah kamar Presidential suite, seperti yang Haris tempati saat ini.
"Maaf tuan, jika sebelumnya saya tahu tuan dan keluarga akan datang, saya tidak akan berikan kamar itu pada tamu."
"Tidak apa apa Yulia, keluarga saya bukan orang yang manja.
Dan lagi itu bukanlah salahmu, sekarang pergilah urus apa yang perlu di urus di hotel kita ini."
"Terima kasih atas pengertian tuan CEO, saya pamit dulu."
"Ya, tapi sejak hari ini setelah tamu tamu itu pergi, sediakan 1 buah kamar Presidential suite lagi, khusus buat keluargaku.
Bisnis memang perlu, penghasilan apalagi, tapi keluarga juga tidak kalah penting, kamu faham Yulia.!'
"Faham tuan, siap..!
Saya akan mengurus segala sesuatunya sesuai yang anda inginkan.
Saya pamit pergi tuan."
"Baiklah bekerjalah dengan baik. Tampaknya kau kelak layak untuk menjadi GM di salah satu hotel kita yang berjumlah 14 buah itu."
"Terima kasih tuan atas kepercayaan anda, saya akan terus berbenah diri meningkatkan kwalitas diri saya."
"Ya itu bagus, sekarang kau boleh pergi."
"Baik, tuan..!"
Yulia sang assisten manager, yang merupakan wakil Wina itu, pergi dari tempat itu.
"Bang...!"
"Iya. Ada apa dek Kirana?"
"Setelah ini kita akan kemana lagi?"
"Mau kemana lagi.
Rasanya tidak ada yang terlalu mendesak, untuk kita lakukan bukan?
Ya suka suka kita aja mau kemana, kita bos dan pimpinannya kok.!"
"Kalau memang begitu, bolehkah adek minta kita untuk menetap beberapa minggu lagi di hotel ini?
Adek masih suka suasananya bang, enak rasanya memandang ke lautan luas dan pantai berpasir putih yang sangat indah itu.
Adek ingin ganti suasana biar jangan jenuh, dengan suasana Hotel kota seperti hotel kita yang di kota P sana bang."
Baiklah tidak masalah, lagipula dari sini ke tempat Ibu, perjalanannya cuma 3 jam, kalaupun ada sesuatu yang perlu, kita masih bisa ke tempat ibu dengan cepat."
"Makasih ya bang udah mau nurutin kemauan Kirana."
"Iya. Apakah itu tidak masalah, buat adek Diana?"
"Nggak kok bang, sama aja tuh dua-duanya adalah hotel kita. kalau memang dek Kirana masih pengen di sini, ya kita di sini aja bang.
Adek pun pengen sebenarnya ganti ganti suasana, malah kadang adek ingin tinggal di hotel kita yang di kota M itu, yang super mewah itu loh bang."
"Iya. Nggak masalah.
Akan ada saatnya nanti, buat kita pergi kesana ya dek.
Sebenarnya sekarangpun bisa saja kita pergi, tapi karena urusan tentang si Jhon juga belum selesai, ditambah lagi pembangunan Villa kita yang di desa P dan di Desa S masih dalam tahap pembangunan, malah yang di desa S itu baru mulai dikerjakan, jadi tampaknya kita belum bisa pergi sebelum semua itu tuntas.
Tapi abang janji nanti setelah semuanya tuntas, kita akan jalan-jalan ke sana.
Lagipula terakhir kali kita pergi ke kota M, kita belum bertemu dengan saudara dan kerabat abang bukan?
Kita sudah banyak sekali mengurusi berbagai hal disini, tapi belum berbuat apa-apa pun, buat saudara abang disana.
Iya walaupun sebenarnya memang, mereka itu sama seperti yang lainnya juga tidak baik kepada abang dahulunya, tapi abang tidak mau membalas itu dengan hal yang sama.
Abang justru ingin menyadarkan mereka dengan rasa malu atas perbuatannya di masa lalu, melalui kebaikan yang akan banyak abang tebarkan, sehingga harapan abang, hal itu bisa menggugah kesadaran mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.
__ADS_1
Bagaimana menurut kedua istriku prinsip hidup yang abang pegang..?"
Wah kalau soal itu adek ampun-ampunlah sama abang.
Adek aja jujurnya sampai sekarang, belum bisa memaafkan ketua yayasan yang telah memberhentikan kita dan yang dengan semena-mena telah mengusir kita itu bang.
Tapi abang dengan mudah memaafkannya, malah sudah berkunjung ke sana, seolah olah tidak punya beban masalah lalu disana.
Okelah kalau teman-teman abang itu tidak jahat terhadap abang, walau secara tidak langsung merekapun sebenarnya, turut memberi sumbangsih atas keluarnya kita dari tempat itu.
Karena seringkali mereka bolos dalam jam mengajarnya, lalu malah abang yang terkena getahnya, ketika tidak tahu-menahu murid-murid itu sudah berkeliaran di luar."
"Iya semua yang adek katakan itu memang benar adanya dek, tapi coba pikirkan andai kita terus bertahan disana, mungkinkah segala yang kita capai hari ini akan kita dapatkan...?
Akankah kita bisa sampai ke titik ini, kalau kita masih tetap disana..?
Jadi sebenarnya mereka itu adalah, orang-orang yang mendorong kita untuk sampai ke titik ini, meskipun pada prosesnya kita merasa sangat sakit.
Itulah sebabnya abang tidak mau membenci mereka terlalu dalam, prinsip abang, apa yang kita raih hari ini sedikit banyaknya itu adalah sumbangsih mereka.
Ya walaupun memang mereka tidak berniat dan tidak sadar tentang hal itu, namun itu tidak merubah fakta, bahwa kita mendapat apa yang kita raih hari ini, tidak lain itu karena keluar dari sana.
Dalam hidup ini setiap kita kehilangan sesuatu, pasti akanTuhan atur untuk mendapatkan sesuatu hal yang lainnya yang bahkan boleh jadi lebih bagus dari yang kita miliki pertama.
Jadi Abang mohon adik abang yang super cantik ini, mamanya Nurul yang manis maaf maafkanlah mereka.
Bagaimanapun mereka itu juga merupakan orang tua kita, mereka itu juga kerabat ibu kita, baik itu dari ibu adik sendiri maupun dari ibu abang.
Kita semua bersaudara , kita berkerabat sebenarnya selama ini, hanya saja karena status ekonomi kita yang selama ini berada dibawah, kekerabatan itu menjadi hilang.
Nah sekarang status kita sudah Tuhan angkat, maka kenapa kita tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekatkan kekerabatan itu.....?
Luar biasa suami kita kak Diana, aku nggak menyangka kalau abang yang aku pilih sebagai suami kita ini, adalah orang yang sangat spektakuler, orang yang sangat legowo sangat berjiwa besar penyabar dan penuh kebijaksanaan.
Kelak adek harus dituntun lebih baik dan lebih banyak lagi, oleh abang."
"Hmmm..sebenarnya abang sendiripun kehidupanlah yang mendidik abang sampai seperti ini, cuma memang kalau kita belajar dari kehidupan ini, masih perlu berpikir keras untuk mencari maknanya.
Tidak akan sama seperti yang abang sampaikan sekarang ini, sudah seperti pisang yang sudah dikupas jadi adek tinggal telan saja, tinggal menikmatinya tanpa harus tahu proses mengupas pisang itu sendiri.
Itulah fungsi abang sebagai suami kalian, abang bisa memberikan pelajaran, memberikan hikmah kehidupan dan pemahaman yang bermanfaat.
"Ah abang kalau muji, pujiannya setinggi langit, takutnya kalau jatuh jadi hancur berkeping keping wkwkwkwkwk.
Kak Diana nggak-nggak aja bukan suami kita.?"
"Itu benar dek, kita berdua memang cantik kok, kalau nggak mana mungkin kita dipilih oleh suami kita dari semua wanita yang ada..hehehehe."
"Memang kalian berdua istri abang adalah wanita yang paling cantik kok.
Oh ya ngomong-ngomong ada nggak mama cerita sama Kirana mengenai abang.?"
"Kenapa bang...?"
"Kenapa ya..? namanya ibu mertua abang, ya abang pengen juga dong tahu seperti apa penilaian mereka terhadap abang, kalau ibu mertua yang di sini Ibunya kakakmu Diana ibu kita semuanya, abangkan sudah tahu tuh.
Nah mertua baru abang, bagaimana penilaian mereka terhadap abang? Bagaimana penilaian Papa dan Mama abang..?"
"Oh.. kalau Papa dan mama sejak dari awal mereka sudah suka dengan abang, makanya abang tidak usah terlalu memusingkan hal itu.
Hanya saja sekarang papa dan mama sedang sibuk bang, mereka sedang dihantam badai masalah papa dan mama sebenarnya juga punya hotel, tapi Hotel itu kecil bang, cuma hotel bintang 2 dan keberadaannya itu berada di kota K."
"Jadi apa badai permasalahnya yang adek maksud dek....?"
"Baru-baru ini ada seorang pengusaha nakal, bekerjasama dengan pihak yang berwenang mengurusi izin serta pengelolaan perhotelan di daerah itu, mempersulit izin dan standarisasi pelayanan hotel, jadi papa dan mama itu dipersulit dalam apa yang disebut sebagai penilaian standarisasi itu loh, bang, jadi hotelnya terancam rusak gitu izinnya."
"Wah kok kamu baru cerita sekarang dek..?
Lalu siapa sosok pengusaha itu dek?"
"Ada satu korporasi besar bang, mereka itu grup yang cukup kuat juga sebenarnya di bidang perhotelan namanya Kaya dan jaya bersama group.
Adekpun meski sudah lumayan lama di bidang perhotelan baru sekarang dengar nama korporasi itu.
Orang yang berada di lingkaran grup Itulah, yang bekerja sama dengan pihak pengelola izin perhotelan, kemudian menekan usaha papa dan mama disana.
"Brengsek..! Kaya dan jaya bersama group...?
"Iya bang...! Abang pernah dengar nama korporasi itu....?"
__ADS_1
"Lho, kok nanya pernah dengar dek.?
Abang pemegang saham di sana, kita punya saham di sana dek 17 % yang kalau diuangkan bernilai 1,7 triliun artinya abang punya suara di sana.
Sialan..! Ada yang bawa bawa nama group itu untuk menekan Papa mertua abang..?
Akan kulibas habis orang itu, Kalau begitu besok kita berangkat ke kota K.
Abang mau melihat siapa oknum di balik semua ini, abang nggak yakin kalau itu adalah orang besar di grup Kaya dan jaya bersama group, sebab kalau orang besar nggak akan mau kerjaan kecil begitu.
Kalau yang di jahilin adalah abang, abang akan sabar, tapi kalau keluarga abang, orang-orang yang abang sayangi jangan coba-coba, abang akan libas habis itu.
Adek lihat tuh yang mengganggu si Jhon, bagaimana sekarang nasibnya..?
Bahkan abang sampai sekarang ngak berani melihat si Jhon di rumah sakit, karena kalau abang lihat, maka abang yakin nggak akan berhenti sampai semua keluarga si pelaku ini hancur berkeping keping.
Jadi abang tidak mau orang yang tidak bersalahpun ikut menjadi korban, hanya karena seseorang yang berbuat, karenanya abang tidak berani melihat si Jhon untuk sementara ini.
Jadi sudah abang putuskan besok pagi kita harus pergi, abang tidak mau papa dan mama mertua abang, di tekan dan diintimidasi begini."
"Iya bang tapi nggak usah begitu emosi juga ya bang, adek takut kalau lihat abang emosian."
"Nggaklah, kalau emosi berlebihan sih enggak, cuma abang memang nggak suka gitu loh, kalau papa Mama yang harusnya udah tenang, tapi diganggu sebegitunya, sehingga pantas papa dan mama itu enggak punya kesempatan walau sesaat untuk bersama kita.
"Iya memang bang.."
"Bang udah bang, kita sikat aja tuh si pengusaha nakal itu."
Diana memberi masukan.
"Adek juga nggak suka, masa papa sama mama dibuat begitu.
Apalagi dia bawa bawa nama yang tadi abang bilang, kita juga pemegang saham di sana, ya udah kita tekan balik aja bang biar kapok."
"Ya sudah kalau begitu, besok kita akan berangkat ke kota K, tapi apa nggak masalah sama kamu Dek kamukan sedang hamil..?"
"Nggak masalah sih bang, lagian kita perginya santai ajalah, tenang-tenang aja, nggak usah terlalu buru buru yakan?"
"Lalu bapak Ibu bagaimana? kita ikutkan ngak..?"
"Udahlah bang, ikut aja semuanya."
"Ya sudah kita berangkat semua kalau begitu.
Lagian kota K itu cuman berkisar 7 jam atau 8 jam aja kok dari sini, ya sekitar sekitar segitulah.
Kalau begitu sampaikan ke mama kita akan datang.
Adek Diana juga sampaikan ke ibu bapak sama ayah, kalau kita semua akan berangkat besok."
"Makasih ya Bang, abang udah mau mikirkan papa dan mamanya Kirana."
"Lho papanya dek Kirana sekarangkan udah jadi papanya kita semua dek, sudah jadi papanya kakak Diana, papanya abang, papa kita semuanya deh.
Sama seperti ayah ibu, ayahnya Kak Diana Itu juga sudah jadi ayah dan ibu Kirana juga ayah dan ibu abang, begitu juga dengan bapak ibu, Nawir Juli dan Andri kita semua satu keluarga sekarang."
"Adek bahagia sekali bang, bisa masuk dalam lingkaran keluarga ini.
Ini adalah berkah paling besar buat adek."
"Kalau begitu kita banyakin bersyukur aja. Hmmm sekarang abang mau istirahat bentar ya, abang mau berendam air hangat dulu di Bathtub."
"Adek ikutan ya bang.."
"Eh.... itu?"
"Apa salahnya? Kirana sudah jadi istri abang kok, sudah jadi miliknya abang."
"Tapi tadinya abang mau sendiri lho dek, biar tenang, kalau berdua nanti jadi lain lagi kegiatannya...hehee.."
"Ah... nggak boleh alasan, nggak ada cerita, pokoknya sekarang kita sama-sama, lagian adek siap kok kalau ada kegiatan lain, ya kan kak Diana?wkwkwkwk.."
"Betul dek, tempel terus hihihi."
"Okelah kalau begitu, ayo dek Diana, gabung."
"Malas ah bang Diana mau rebahan aja.
Tuh dek Kirana tuh lagi pengen honeymoon, di manjain dong wkwkwkwk.
__ADS_1