
Pagi kembali hadir, Haris menikmati sarapan yang disediakan oleh koki khusus yang memasak bagi semua anggota keluarganya.
Setelah orang-orang yang ikut bersama Haris semakin banyak, rasanya sudah tidak praktis lagi bagi Haris untuk mengharapkan makanan mereka diantarkan dari hotel seperti biasanya, karenanya Haris mengambil koki khusus untuk bertugas memasak di Villanya.
Ikan jurung dan juga udang Tiger jadi lauk dari menu sarapan yang lezat di pagi hari itu.
"Wah enak sekali sepertinya sarapan pagi kali ini beda dari biasanya.
Abang ada beli sarapan ke rumah makan Bang Mardankah.?"
"Tidak Dek, ini adalah pemberian warga dari usaha pengelolaan budi daya ikan yang Abang galakkan untuk mereka itu.
Kemarin sorekan Abang ke sana, eh rupanya pulangnya dikasih oleh-oleh begini ha..ha..ha.
Ternyata orang-orang itu sangat pandai berterima kasih."
Haris menceritakan bahagianya perasaannya kepada Kirana istrinya, yang bertanya tentang asal-usul sarapan yang mereka nikmati pagi itu.
"Iya itu sudah wajarlah Bang, itu yang namanya saling menghargai."
"Iya Dek, itulah makanya abang senang, sebab pelan perlahan watak warga desa kita ini semakin berubah.
Terkadang memang orang-orang yang suka bersikap cuek, abai dan masa bodoh serta bersikap semaunya, adalah karena begitu terkonsentrasi dengan kesempitan dan kemalangan hidupnya.
Sebenarnya tidak semua orang-orang yang kita pandang sombong atau mungkin barangkali terlihat jahat dan bersikap semaunya itu, karena memang benar-benar begitulah watak mereka aslinya.
Akan tetapi lebih kepada kekuatan mental mereka yang sudah semakin rapuh dalam menerima cobaan-cobaan yang datang dalam hidup ini, karenanya kita yang paham akan hal itu harus berusaha bagaimana caranya, untuk sebisanya membuat orang-orang menjadi bersikap lebih baik, yakni dengan jalan memperbaiki taraf kehidupan mereka."
"Hmmm... Sudah lama rasanya Diana tidak mendengar Abang, memberikan petuah-petuah dan wejangan-wejangan bijaksana seperti ini.
Terkadang Diana rindu juga dengan sosok Abang yang dulu, yang sering memberi nasehat semacam itu."
Diana istri Haris ikut menanggapi pembicaraan antara suaminya dengan Kirana yang merupakan madunya.
"Ah masa sih..? Apakah Abang sudah begitu tampak asing bagi Dek Diana, sehingga sampai demikian.?"
"Tidak asing juga lho Bang, cuma memang Abang selama ini, begitu fokus dan juga terlalu banyak kesibukan, sehingga tidak sempat memberi nasehat-nasehat seperti ini."
"Oh begitu.? Syukurlah Abang pikir Diana sudah bosan dengan sikap Abang yang seperti ini."
"Ehem... ehem."
Ayah mertua Haris berdehem untuk memberikan kode mengingatkan Haris, kalau bukan hanya ada mereka di tempat itu.
Diana tersenyum melihat ayahnya, dia paham ayahnya tidak nyaman dengan pembicaraan itu dan tidak ingin pembicaraan itu melebar ke mana-mana.
Haris juga memahami hal itu, sehingga segera mengalihkan pembicaraan .
"Oh ya Dek, pagi ini selesai sarapan mungkin Abang akan pergi melakukan pertemuan dengan seluruh anggota pengawal keamanan kita yang ada di Kota P.
Ya biasalah kegiatan rutin tiap bulannya, selain evaluasi kinerja sekaligus juga hendak mengatur pemindahan tempat-tempat kerja mereka, jadi mereka itukan sebulan sekali dirubah lokasi kerjanya, biar mereka nggak bosanlah begitu maksudnya.
Dan sudah ada dua bulan belakangan ini juga Abang tidak hadir "
"Oh, ya sudah Bang, tapi Abang hati-hati ya di jalan."
Diana menunjukkan perhatiannya pada suami tercintanya.
Kirana juga tidak mau kalah dalam menunjukkan perhatiannya.
"Iya Bang, sebisanya Abang pulang ya, jangan menginap disana, nanti putra putri kita merasa kecarian."
"Iya Abang sebentar saja kok, ngak akan menginap.
Kalian juga tidak perlu khawatir, baik Wilson, Riston, Halim juga Amanu dan lainnya ikut kok.
Sedangkan Puspa, Wulan dan 10 pengawal wanita lainnya akan tetap berjaga di sini bersama puluhan pengawal pria yang merupakan anggota dari Halim, Amanu dan juga Riston.
Kalau kalian pergi atau Papa dan Mama mau pergi, jangan pergi begitu saja ya..! Tapi harus dikawal oleh para pengawal kita."
"Iya Bang. Abang nggak usah khawatir, Adek sudah tahu kok bagaimana standart protokolnya."
"Ya sudah, Abang hanya memastikan supaya semuanya baik-baik saja.
Papa barangkali mau ikut ke kota P nggak, untuk membeli sesuatu atau barangkali Papa mungkin bosan diam di sini..?"
"Ah tidak usah Ris, bagaimana mau bosan.? Papa di sini bisa bermain-main dengan cucu-cucu Papa yang tampan dan cantik, enak saja bilang bosen hahah."
Pak Wicaksono tertawa terpingkal-pingkal dengan pertanyaan yang sebenarnya merupakan bentuk keramahtamahan dari Haris itu.
Melihat hal itu, istrinya yang merupakan ibu mertua Haris, mencubit kakinya.
"Eh Ma kenapa Mama mencubit kakiku..? Bukankah yang aku katakan itu benar..?"
"Benar sih benar Pah, tapi mantu kitakan niatnya baik tadinya, Papa malah tertawa terpingkal-pingkal begitu, kok kesannya Mama dengar seperti mengejek gitu lho Pa."
"Tidak kok, hanya saja Papakan memang senang dengan cucu Papa, masa dianggap mengejek sih Ma..?"
"Ya sudahlah.
Papa ini, memanglah. Suka begini bawaannya."
Haris tersenyum melihat interaksi dari kedua orang yang merupakan Ayah dan Ibu mertuanya itu.
Sedangkan ayah dan ibu mertuanya dari Diana juga ikut tersenyum, melihat tingkah Pak Wicaksono yang memang baru kali ini memiliki cucu dari Putri satu-satunya yakni Kirana.
Tentu sangat berbeda dengan mereka yang sebelumnya memang sudah memiliki Nurul dan sudah terbiasa dengan kehadiran seorang cucu.
Selain itu dia juga masih memiliki cucu lainnya, dari dua putrinya yang lain. Sarapan itu berlangsung singkat, kemudian Haris segera bersiap-siap akan berangkat ke kota P.
Sebelum berangkat, Haris memberikan wejangan kepada Wulan dan juga Puspa, agar terus berhati-hati dan tetap waspada jangan lengah.
"Jadi Abang minta kalian terus waspada jangan lengah teruslah berhati-hati, karena kita tidak pernah tahu kapan datangnya musuh, kalian dengar bukan, Puspa dan juga kamu Wulan.?"
"Iya Bang, kami akan berhati-hati kok. Abang tidak perlu khawatir, kami akan fokus dengan pekerjaan di sini."
"Baik kalau begitu Abang tidak merasa khawatir lagi, setelah berkemas dan menyelesaikan apa-apa yang Haris perlukan untuk di bawa.
Haris kemudian pergi bersama dengan Wilson, Amanu, Riston dan juga Halim, sedangkan Erik dan Anton bersama para pengawal pria gelombang pertama yang Haris miliki, tetap berjaga di sekitaran lokasi Villa itu.
[Di dalam mobil dalam perjalanan menuju kota P]
"Very..!"
"Ya Tuan, saya Tuan."
__ADS_1
" Bagaimana rencanamu dengan Juli..?"
"Tu.. Tuan..i.itu..?"
"Kenapa..?
Kamu heran aku menanyakan hal itu.?"
"Tuan... aku."
"Kalau niatmu hanya bermain-main, aku akan melemparmu ke dalam lokasi penangkaran buaya.
Sebab buaya darat harus di berikan pada buaya betina yang asli.
Aku sudah tahu semuanya dari Ayah, kau tentu tahu Juli sudah seperti Adik kandungku sendiri bukan..? Jadi jangan coba main-main Very."
"Tidak Tuan. Saya tidak main-main, hanya saja saya terlalu takut membicarakannya dengan Tuan."
"Ya itu sebabnya setelah menunggu begitu lama, aku yang memulai untuk bertanya padamu. Jadi kalau kau memang benar-benar serius, maka tunjukkanlah keseriusanmu.
Jangan lagi plin plan, apalagi sampai bermaksud untuk bermain-main. Kau bicarakan bagus-bagus kepada Ayah dan Ibu, tentu sebelumnya kalian harus memantapkan niat maupun rencana kalian bersama Juli, apa kau paham..?"
"Iya Tuan saya paham."
Dalam waktu beberapa menit itu, irama jantung Very berdetak tidak karuan, satu sisi dia merasa terkejut atas sikap Haris yang tiba-tiba menanyakan hal itu, di sisi lain dia takut kalau kalau dia salah jawab, sehingga akan menghancurkan semuanya dan selain dua hal itu, dia juga sangat takut kalau Haris sampai menilainya hanya bermain-main saja.
Namun pernyataan Haris terakhir, membuat dirinya semakin lega dan merasa semakin mantap dalam hubungannya dengan Juli, yang sudah seperti adik kandung bagi Haris itu.
"Wilson apa menurutmu kinerja dari pengawal kita yang ada ini, sudah cukup baik.?"
"Ya saya rasa melihat dari performa yang mereka tunjukkan selama ini, mereka cukup baik Tuan.
Mereka cukup profesional dalam menjalankan tugas, selain itu mereka juga cukup patuh dan tidak pernah membantah apapun yang Tuan ingin maupun yang Tuan perintahkan kepada mereka.
Tetapi apakah Tuan melihat sesuatu yang salah, agar saya bisa mengevaluasinya."
"Tidak. Sampai saat ini aku sendiri cukup puas dengan kinerja mereka. Aku tidak melihat adanya kesalahan Wilson, tetapi evaluasi tentu saja harus perlu tetap dilakukan.
Selain menjaga agar performa kinerja mereka tidak menurun, evaluasi juga diperlukan sebagai cara untuk menunjukkan pada mereka bahwa kita serius tentang hal itu, dan bukan bermain-main "
"Baiklah Tuan, kalau begitu kami akan melaksanakan sesuai dengan apa yang Tuan inginkan."
"Ya harusnya begitu Wilson, aku berencana untuk meminta Master Lim untuk melatih kemampuan beladiri anggota kita setiap hari libur nantinya."
"Wah ide bagus itu Tuan, apalagi Tuan sendiri juga ikut turun tangan."
Haris terus berinteraksi dengan para bawahannya seperti seorang teman dan mereka membicarakan banyak hal dalam perjalanan itu.
Haris dan rombongan lainnya melakukan perjalanan dengan mulus tanpa hambatan, jalanan yang lengang memudahkan mereka untuk tiba lebih awal dari biasanya ke kota P.
Sesampainya di sana Haris langsung menjumpai para pengawal bawahannya itu, yang memang sengaja dibuat markas atau kantor pusatnya di tempat itu.
Haris melakukan rapat dan evaluasi kinerja bersama para satuan pengaman dan pengawalan miliknya.
Dalam kesempatan itu Haris juga menyampaikan beberapa nasehat dan terget kinerja yang harus dicapai termasuk peningkatan kualitas kemampuan beladiri para anggotanya.
Setelah selesai acara itu, Haris menyempatkan diri untuk mengunjungi Beni di kantor ekspedisi milik mereka.
"Bagaimana Bang Ben, apa ada kendala.?"
"Oh syukurlah kalau begitu, lalu masalah keamanan bagaimana.?Apakah ada gangguan selama ini.?"
"Tidak. Tidak ada sama sekali, semenjak satuan pengaman dan pengawalan milik kita terus berjaga, tidak ada orang yang berani coba-coba untuk berbuat macam-macam.
Apakah Bos Haris memang khusus bersengaja datang kemari untuk berkunjung.?"
"Tidak juga Bang Ben, tadi sebenarnya kami sedang melakukan rapat bersama seluruh anggota satuan pengaman dan pengawalan kita di markas pusat mereka, jadi setelah selesai aku sempatkan mampir berkunjung kemari."
"Oh baguslah, lalu apa rencanamu berikutnya Ris.?"
"Ya tidak ada sih Bang, aku paling hanya menunggu-nunggu hari sore saja, tadi dari rumah sudah di wanti-wanti agar jangan sampai menginap di kota P ini ha..ha..ha."
"Iya memang kurang semarak juga sih kalau kamu tidak ada di Villa Ris, aku juga nanti sama kakakmu si Butet juga si Yunita dan Roni rencananya mau menginap di Villa saja nanti malam, boleh nggak.?"
"Kok malah nanya boleh atau tidak, bagus itu Bang Ben. lagipula ayah dan ibu mertua kitakan juga di sana.
Selain itu kalau memang ada waktu untuk kebersamaan, kenapa tidak dimanfaatkan..?
Ya sudahlah Bang Ben, kalau begitu aku mau pergi saja sekarang."
"Lho mau kemana Ris, katanya mau nunggu-nunggu sore.?
Apa mau ke hotel..?"
"Nggak, aku nggak akan ke hotel Bang, aku mungkin akan pergi melihat-lihat ke rumah sakit kita yang ada di desa P sekalian mau singgah melihat keadaan Villa yang ada di sana."
"Oh ya sudah, kalau begitu pergilah Ris, hati-hati di jalan."
"Iya Bang Ben, kami tinggal dulu ya."
"Iya Pergilah..!"
Merasa bingung mau kemana lagi, untuk menghabiskan waktu menunggu saat sore hari tiba, Haris akhirnya terpikir untuk pergi mengunjungi Rumah Sakit miliknya, yang sudah hampir selesai secara keseluruhan pembangunannya itu.
"Nando kamu ikut aku, kita akan ke desa P mengunjungi Rumah Sakit kita yang ada di sana, ya hitung-hitung menunggu-nunggu tibanya waktu sore harilah."
"Baiklah Bang kalau begitu aku akan siapkan mobil dan memanggil Wilson dan lainnya, sepertinya tadi mereka minum di warung kopi seberang jalan."
"Ya panggillah agar kita bisa berangkat sekarang.
Kamu Very, kamu pergi ke rumah ayah dan ibu, sampaikan kepada mereka untuk menginap di desa S saja malam ini, karena terakhir kali ayah mertua bilang kalau ayah dan Ibu bersama Nawir dan Juli sudah seminggu ini mengunjungi rumah mereka yang ada di pinggiran kota P ini.
Katakan saja pada ayah dan ibu nanti malam Bang Beni dan semuanya, mau datang ke Villa jadi supaya kita lebih ramai dan semarak nanti malam kita kembali berkumpul semuanya.
Jangan lupa sampaikan juga apa yang tadi sudah kita bicarakan di mobil terkait tentang kau dan Juli."
"Baik Tuan, kalau begitu saya akan pergi."
"Ya pergilah tapi sebelumnya kau jemput dulu Juli di hotel permisikan kepada Manajer, katakan kalau ini adalah pesan dariku."
"Baik Tuan saya akan pergi."
"Ya sebaiknya sejak hari ini kau mulai untuk membiasakan memanggil Abang padaku."
"Iya Bang."
__ADS_1
Very merasa serba salah dihadapan Haris niat dia untuk menjadi lebih dekat kepada Haris tadinya setelah bersama Juli, justru berakhir dengan kecanggungan.
Nando sudah kembali setelah memanggil Wilson dan yang lainnya dan dia masih sempat mendapati apa yang disampaikan oleh Haris pada Very.
"Ya sudah ayo kita berangkat Nando.
Apa kau sudah memanggil Wilson dan semuanya."
"Sudah Tuan, saya baru berdiri di pinggir jalan saja tadi, mereka sudah paham dan datang."
Nando tersenyum menggoda Very yang akan pergi sambil sengaja menyenggol badannya.
Very yang memahami sikap Nando itu hanya bisa menunjukkan sikap malu-malu dan serba salah yang terlihat lucu itu.
Mobil Haris segera meluncur kembali mengaspal di jalanan, menuju jalan pulang ke Desa S yang memang satu arah dengan jalan menuju Desa P.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka, untuk sampai ke rumah sakit modern tipe A milik Haris yang cukup canggih itu. Setelah memarkirkan mobil, Haris bersama rombongannya memasuki gedung rumah sakit secara bersama-sama.
Para staf yang bertugas dan memang sudah mengenal Haris itu, segera menghubungi atasan mereka yang kemudian atasannya meneruskan pesan itu kepada Direktur Utama yakni dokter Shasmita.
Entah kenapa dokter Shasmita yang mendengar kabar itu, begitu bersemangat saat mendengar kalau Haris sedang datang ke rumah sakit itu, dia segera sedikit merias wajahnya dan memperbaiki penampilannya, kemudian tergesa-gesa untuk menemui Haris.
"Selamat siang Tuan. Kenapa Tuan tidak memberi kabar, kalau akan datang.?"
"Selamat siang dokter Sasmita, ah maaf saya tidak mengabari dokter, soalnya saya juga tadinya tidak berniat sejak awal untuk datang kemari, baru saat di pertengahan jalan tadilah niat itu datang begitu saja."
"Oh begitu rupanya mari Tuan mari kita ke ruangan saya."
"Ya terima kasih Dokter silakan tunjukkan tempatnya."
Haris kemudian pergi menuju kantor Direktur Utama yakni ruangan milik dr. Shasmita yang berada di lantai 2.
Mereka menuju ke lantai 2 dengan menggunakan lift yang telah tersedia.
"Bagaimana situasi di sini dokter..?"
"Ya beginilah Tuan, seperti yang bisa Tuan lihat situasi di sini cukup baik Tuan. Mungkin dalam satu bulan ini semuanya sudah selesai, hanya tinggal finishing saja.
Ada beberapa hal di luar yang masih akan diperbaiki, selebihnya sudah akan selesai semuanya."
"Ya tidak terasa sudah 1 tahun lebih juga ya dokter..?"
"Iya benar Tuan, cukup lama memang tapi ya untuk bangunan sebesar dan sedetail ini rasanya memang itu waktu yang ideal sih Tuan bahkan terhitung cepat."
"Ya benar dokter, lalu bagaimana dengan pelayanan yang Rumah Sakit kita berikan, apakah masyarakat merasa puas..?
"Sejauh ini dari survei yang kita lakukan, masyarakat menyatakan cukup puas kok tuan dan memang sudah cukup banyak juga pasien yang telah bisa kita bantu tangani termasuk beberapa orang yang datang dari luar kota P sebagai Kota terdekat dari rumah sakit ini "
"Syukurlah kalau memang demikian, artinya tidak sia-sia kita mengeluarkan dana, waktu, pikiran dan juga tenaga begitu besar, kalau kemudian masyarakat semakin merasa mudah untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang baik.
Bagaimana dengan mereka yang tidak mampu, tetap dilayani dengan baik jugakan dokter..?"
"Tentu Tuan, sesuai dengan apa yang Tuan pesankan, kami tidak pernah menolak pasien hanya karena mereka tidak mampu atau kekurangan biaya, semuanya tetap kami tangani dan kami berikan pelayanan kesehatan dengan baik. "
"Saya merasa sangat senang dan merasa puas mendengarnya dokter.
Apakah saya boleh meminta dokter untuk mengajak kita semua berkeliling..?
Saya ingin melihat langsung, bagaimana warga masyarakat kita ini ditangani dengan baik oleh rumah sakit dan tenaga medis yang kita miliki."
"Oh mari Tuan mari.
Silakan, saya akan membawa Tuan untuk berkeliling."
Dokter Shasmita kemudian membawa Haris untuk berkeliling melihat kamar-kamar pasien yang terlihat begitu mewah, bersih dan rapi serta memiliki peralatan medis dengan kualitas yang sangat bagus itu, semua tertata rapi di dalam bangunan megah yang tampak kokoh.
Haris berkeliling mulai dari beberapa kamar yang ada di lantai nomor 2, setelahnya mereka juga pergi ke lantai 3 dan 4.
"Lalu di lantai pertama itu melayani pasien dari jenis penyakit apa dok..?"
"Oh untuk lantai pertama, kita khususkan sebagai tempat penanganan dan pelayanan kepada ibu hamil juga ibu yang akan melahirkan serta perawatan intensif bagi bayi mereka Tuan."
"Oh begitu..? Jadi kenapa kalau di lantai pertama itu mesti khusus untuk pelayanan kepada ibu hamil dan yang akan melahirkan.?
Kenapa begitu ya dokter.?"
"Hal itu karena supaya lebih cepat penanganannya Tuan dan lebih mudah bagi ibu hamil dan yang akan melahirkan menjangkau lantai 1 dari pada lantai lainnya"
"Baiklah saya mengerti sekarang. Saya jadi semakin merasa, kalau hidup kita ini menjadi sangat berarti dengan adanya rumah sakit yang kita dirikan ini.
Baiklah dokter, sepertinya dokter juga sudah cukup kelelahan membawa saya dan yang lainnya berkeliling ke banyak tempat, saya mungkin tidak akan berlama-lama lagi di sini,.sebentar lagi hari akan sore saya akan pulang ke desa S.
Apa dokter masih sering pulang hari ke kota P, atau lebih sering bermalam di hunian khusus para dokter yang ada di tempat ini.?"
"Ya berganti-gantilah Tuan. kadang saya kembali ke kota P untuk menjenguk orang tua saya, tetapi terkadang saya bermalam di sini kalau ada cukup banyak pasien yang akan ditangani."
"Oh begitu ya. Maaf ya dokter mungkin pertanyaan saya ini agak sensitif, karenanya sebelumnya saya minta maaf. Kenapa dokter tidak berpikir untuk menikah.?"
"Bukannya tidak terpikir Tuan, sering sekali waktu-waktu saya justru habis untuk memikirkan itu, dengan usia saya yang sudah memasuki 35 tahun ini, mana mungkin sih saya tidak pernah berpikir tentang berumah tangga Tuan.
Hanya saja memang tidak atau belum ada orang baik yang mau sama saya tuan."
"Ah dokter ini ada-ada saja, mana mungkin begitu. Itukan hanya prasangka dokter saja, selain cantik, cerdas juga baik, dokter juga masih punya segalanya yang di inginkan pria, mana mungkin tidak ada pria yang mau kepada dokter..hehe."
"Iya saya sih tentunya tidak tahu kalau yang ada di dalam hati orang Tuan, tapi memang kalau yang menyatakannya tidak ada kepada saya.
Lalu bagaimana, kalau Tuan saja yang menjadi suami saya..?"
"Ha..ha..ha dokter ada-ada saja."
"Nah itukan, Tuan saja tidak suka dengan saya, lalu bagaimana bisa Tuan berpikir orang lain akan suka dengan saya.?"
"Maaf ya dokter, saya tidak bermaksud begitu.
Ya sudahlah kalau begitu saya akan pulang bersama yang lainnya.
Mungkin dokter juga ada pekerjaan lain yang harus segera dikerjakan. Selamat tinggal dokter."
"Sampai bertemu kembali Tuan."
"Oh ya sampai jumpa lagi dokter "
Haris dengan perasaan yang sedikit gugup dan merasa lucu dengan ucapan dokter Shasmita segera dengan terburu-buru berlalu dari sana, dia tidak menyangka kalau dokter Shasmita akan sanggup mengutarakan kalimat semacam itu tanpa merasa gugup dan secara langsung padanya.
Wilson, Riston, Amanu dan juga Halim merasa sangat geli melihat Tuannya yang sudah beristri dua itu, masih tampak malu-malu dengan godaan dokter Shasmita yang memang kalau boleh jujur mereka juga sangat mengakui keanggunan dan kecantikannya.
__ADS_1
Haris dan rombongannya berlalu dari tempat itu, di bawah tatapan yang didominasi oleh rasa kesedihan tetapi juga mengandung harapan, dari dua bola mata yang indah milik dokter Shasmita.