
Setelah Haris Pergi ke kedai kop, Diana segera menelepon Kirana supaya segera datang.
Kirana pun mengiyakan dan kemudian diantar oleh dua orang wanita bawahannya yang mahir membawa mobil.
Haris memasuki kedai kopi si kules, langganan Haris dan dua temannya sejak dahulu, ketika masih tinggal di desa mertuanya.
"Lama kau tak nampak nih Ris."
"Iya bang, begitulah bang kadang ada urusan di kampung, kadang kemari kadang memeriksa hotel yang di kota S kadang pergi ke hotel kita yang di kota P tapi kadang pergi keluar kota.
Pokoknya sekarang sibuklah bang.
Kadang kalau di pikir-pikir, ada juga enaknya dulu waktu masih biasa-biasa aja bang. "
"Ah masa begitu Ris?
Lebih enaklah sekarang."
"Iya memang bang dalam beberapa hal. "
"Ini mau minum apa ini Ris?"
"Kopi susu ajalah bang.
agak menyalah perut ini, kalau kopi hitam."
"Ya udah ya Ris, bentar abang siapin.
Kabarnya istri Darman kau bawa berobat Ya Ris?"
"Iya bang. Tapi sekarang alhamdulillah istrinya udah mulai sehat kok, sedang masa pemulihanlah ini.
Mereka sekarang masih menginap di hotel kita yang di kota P itu bang."
Hebat kau ya Ris, memang betullah kau setia kawan Ris, kurasa kalau sekarang udah banyak kali orang yang menyesal karena dulu nggak mau mendekatimu, apalagi yang sombong sama kamu dulu."
"Biasa aja sih bang .
Apa sih yang di banggakan itu bang, toh kita tetap begini begini aja kok."
"Iya tapi, kan harus orang yang setia kawan itu, yang bisa seperti kau Ris, yang lain kebanyakan kalau sudah kaya akan lupa daratan lupa diri dan macam macamlah.
Belakangan ini abang dengar ada banyak orang yang bilang begini Ris 'aku nyesal dulu jahat sama si Haris' dan bukan satu dua orang lho Ris yang bilang begitu."
"Sampai begitu ya bang? Haha...!
Haris ngak ingat semua itu bang, nggak ada dendam yang Haris pelihara.
Kalau memang seseorang perlu bantuan, apalagi sampai minta dibantu aku nggak akan melihat dari segi, dia itu sebagai kawan atau lawan lagi bang , sama aja itu sama Haris, sebab bagi Haris menolong itu sudah jadi candu bang.
Tapi tentu kalau sama kawan, ngak usah dia sampai mintapun, maka apa yang Haris lihat perlu dibantu sudah langsung kita bantu tanpa menunggu dia harus meminta
Soalnya aku merasa bahagia kalau bisa menolong dan membantu meringankan kesusahan orang lain.
Bagiku saat ini harta itu cuma daki dunia bang, semua harta hanya titipan dan kita hanya sekedar menyalurkannya saja."
"Mulianya hatimu Ris, doakanlah abangmu ini biar bisa mengikuti prinsipmu Ris.
Do'akan sehat sehat selalu dan tegar menjalani hidup ini."
__ADS_1
"Iya sama-sama mendoakan kita bang, Haris juga minta do'a abang."
"Doamu lebih makbul Ris daripada abang."
"Ha...ha..ha...ada aja abang ini."
Tawa Haris kembali terlepas mengisi semua sudut di warung itu.
"Jadi Si Jhon Bagaimana Ris?"
"Begitulah bang, sudah dalam masa pemulihan juga, ini masih dirawat di rumah sakit tapi Insyaallah masa kritisnya sudah lewat sih.
Nanti rencana mereka akan bangun rumah di sini, sama seperti Darman juga akan bangun rumah bang Kules."
"Pasti Kaulah ya Haris yang bangun rumahnya?"
Ya, begitulah bang namanya kawan ada perlu ya dibantu."
Haris kemudian banyak bersenda gurau, bercengkrama berinteraksi dan bersilaturahmi dengan teman-temannya.
Mereka bercerita banyak hal di kedai itu jelang siang hari.
Keadaan tidak seperti biasanya yang akan mulai lengang di desa mertuanya jika sudah berada pada jam jam seperti itu, kalau pada hari biasanya.
Namun karena hari ini adalah hari pekan banyak warga desa yang tidak pergi ke kebun.
Saat sedang asyik berbincang-bincang di kedai itu kemudian sebuah mobil yang cukup bagus berhenti tepat di depan kedai kopi yang berada di pinggiran persimpangan jalan itu.
Seorang wanita yang sangat cantik turun dari mobil, wanita itu begitu cantik kulitnya putih bersih pipinya mulus seperti salju dan dia memakai baju berwarna merah muda yang cerah.
Keanggunannya membius semua mata pria, wanita itu begitu lembut manis dan segala hal yang di dambakan para pria ada padanya.
"Baaaaang......!"
Semua pria yang mendengar panggilan lembut dari wanita yang seolah berasal dari surga itu, membayangkan kalau panggilan itu ditujukan bagi diri mereka masing masing.
"Haris langsung keluar, kamu Kirana!"
"Jadi juga datang.!"
Kirana tidak menjawab tetapi langsung memeluk Haris sepenuh hati.
Ini adalah pria yang sudah dia anggap sebagai suaminya sendiri, izin dari sosok orang yang paling berhak untuk berkeberatan atasnya sudah di dapat.
Selain itu tadi di telepon Diana juga sudah mengatakan, kalau ayah dan ibunya sudah setuju dan bahkan mengucapkannya secara langsung, dihadapan semua kakak dan adiknya.
"Eh dek Kirana, ini di desa lho banyak orang lagi."
"Kirana ngak perduli, Kirana rindu sama abang."
"Kalau kamu begini nanti kakakmu tersinggung, karena ini sama saja kamu mempermalukan kakakmu yang sudah baik sama kamu di desanya sendiri.
Bagaimanapun kita belum menikah."
"Oh nanti aja ya bang kalau kita sudah nikah."
"Iya."
"Janji ya, abang sudah setuju kita menikah. "
__ADS_1
"Eh itu maksudnya kalau memang jadi nikah, gitu lho."
"Pokoknya abang sudah janji."
Kirana melepas Haris dengan sedikit tidak rela, tapi dia merasa ucapan Haris itu benar, Diana sudah baik jadi jangan permalukan Diana atau mempersulitnya ketika harus menjawab pertanyaan dari orang lain tentang kejadian itu.
Apa yang kedua orang ini tidak sadari adalah, banyak sekali pria yang ketika melihat Kirana memeluk Haris dengan lembut dan manja, menjadi patah hati sesaat dan begitu kecewa, sebahagian mereka bahkan sampai membuang mukanya, karena tidak sanggup melihat adegan romatis dari wanita, yang seolah sudah menjadi pujaan semua orang itu.
"Yang mana rumahnya bang?"
"Itu rumahnya, terus aja jalan dari sini sedikit lagi, kira-kira 3 rumah lagi dari sini sudah sampai, yang itu lho yang cat warna merah apa itu namanya.?
Kakakmu ada di situ nunggu kamu.
"Oh iya Kirana akan jumpai kakak ya bang!
"Iya kakakmu di sana dia lagi bantu-bantu, pergilah kesana."
"Iya tapi abang juga pulanglah."
"Iya bentar nanti abang juga nyusul habis bayar minuman abang, lagian masih ada cerita yang terpotong tadi sama kawan-kawan, karena adek datang."
"Adek takut lho bang kesana sendiri, karena adanya pembicaraan kakak dan bapak ibu soal hubungan kita."
"Kenapa harus takut kalau kamu memang sudah siap.?"
"Iya demi abang adek akan siap"
"Ya sudah sana cepetan."
"Iya bang Kirana akan pergi."
"Temanmu yang dua orang itu suruh langsung pulang saja nanti di hotel kurang tenaga."
"Iya bang."
Mobil yang membawa Kiranapun pulang dan Kirana sudah masuk ke dalam.rumah
"Siapa tu Ris?
Kok cantik kali?"
"Saudara itu bang! manajer kita di hotel yang di kota P itu lho bang."
"Oh cantiknya seperti bidadari dari kahyangan aja Ris cantiknya.
Kirim salamlah ya Ris cantik kali kutengok, masih anak gadis itu Ris?"
"Masih..! Kenapa bang?"
Entah kenapa Haris merasa sedikit emosi ketika Kirana dipertanyakan begitu, seolah Haris juga sudah menerimanya dan menganggapnya sebagai istrinya sehingga tidak nyaman dengan pertanyaan Kules si pemilik warung
Kules menangkap isyarat ketidak nyamanan dalam hati Haris akan topik pembicaraan itu, melihat dari sikapnya sehingga Kules berhenti bercanda tentang itu.
"Ah abang seloroh lho Ris, manalah mungkin abang berani sama wanita seperti itu cantiknya, membayangkannya saja abang tidak berani."
"Ha ha begitu ya bang?"
Kules melihat wajah Haris kembali normal seperti biasa dan Kules merasa memang antara Haris dan wanita itu ada hubungan yang sangat dekat, yang barangkali hubungan persaudaraan seperti yang Haris sebutkan.
__ADS_1