Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _46 : Sahabat sepenanggungan


__ADS_3

Setelah malam hari berlalu, hari yang cerah dan penuh warna warni kehidupan kembali hadir menjelang.


Burung berkicau riang, terbang beriringan di atas pematang sawah.


Desa mertua Haris yang masih asri, pagi itu cukup sejuk, anak sekolah berjalan sambil bercanda menandakan begitu riangnya suasana hati mereka saat itu.


"Dek abang berangkat sendiri aja atau bagaimana?"


"Ikutlah adek bang, adek juga ingin melihat sosok malaikat penolong kita itu."


"Oh ya udah kalau begitu, kita pergi selesai sarapan aja."


Haris yang masih menanti Diana sedang memasak bersama ibu mertuanya itu, pergi ke kedai kopi.


Kedai itu terletak di persimpangan jalan ke kebun warga.


"Kopinya satu bang Kules."


"Iya Ris, jarang kau nampak beberapa hari ini Ris?"


"Iya bang, lagi diluar selama ini."


Di desa mertuanya ini Haris terbilang tidak punya teman dekat kecuali dua orang saja, dan mereka bertiga adalah orang yang selalu di rendahkan oleh warga asli kampung ini, sebab mereka adalah pendatang miskin yang datang ke kampung ini karena menikahi istrinya, yang berasal dari desa ini.


Beristrikan wanita dari desa ini, tidak lantas menjadikan mereka dianggap sebagai bahagian dari keluarga, tetapi malah di kucilkan dan di pandang sebelah mata.


Karena tidak tahan dan tidak kuat menerima perlakuan warga desa, termasuk dari keluarganya masing masing, ketiganya lantas 'terbang' kembali ke desanya masing masing membawa istri dan keluarganya.


Dahulu saat masih tinggal di desa ini bila tidak bisa menyadap pohon karet dan tidak ada kerja upahan, Haris dan kedua teman senasib dan sepenanggungannya ini, akan pergi memikat burung ke hutan, mencari rotan atau menjala ikan di sungai.


Keadaan itu membuat hubungan mereka sangat dekat, bagai ikatan darah, apalagi Haris pernah terpeleset di sungai saat menjala dan masuk pusaran air yang besar.


Kalau temannya tidak segera melempar jalanya untuk kemudian di tangkap oleh Haris, maka dia akan tenggelam dan tidak akan ada hari ini.


Bahagianya hati Haris saat Darman salah seorang dari temannya itu, ada di kedai itu pagi ini.


"Ris, audah lama kita ngak jumpa sudah berapa tahun ya?


Kau sekarang makin bersih dan berisi aja Ris."


"Ah Darman saudaraku, penolongku saat di sungai dulu."


Keduanya berpelukan tak sadar Haris meneteskan air mata, kini satu persatu orang orang penting dalam perjalanan kehidupannya, seolah ditunjukkan padanya.


"Iya kok nangis kau Ris?"


"Kau juga Man."


"Yaaahhhh namanya saudara sepenanggungan jumpa beginilah ya Ris, berarti rasa persaudaraan yang dihati ini juga ada tersimpan di hatimu, atau belum pudar sama sekali, ayo duduk Ris."


"Iya Man, aduh senang kali aku jumpa begini Man, gimana kabarmu Man?"


"Alhamdulillah sehat Ris."


"Alhamdulillah...!

__ADS_1


Anak anak sehat Man?"


"Alhamdulillah sehat juga Ris, kau sendiri gimana, si kecil kemaren siapa namanya?"


"Nurul namanya Man.


Jadi kalau jumpa begini yang di tanya itu kau sama anak anak ajalah yakan Man..?


Kalau bini kawan jangan ditanya tanya, kalau di tanya ngajak gaduh itu berarti.


Seperti yang selalu kau bilang dulu Man, kalau anak biarlah anak kita bersama, tapi kalau istri cukuplah itu istriku sendiri hahahaahhhhh."


"Ah, masih ingat aja kau Ris hahaha."


"Jadi kau tinggal disini sekarang Man?"


"Ngak Ris, orang rumah aku sakit Ris, cukup parah sih, jadi dia katanya minta tinggal disini lagi, sementara tahulah kau Ris keadaan disini.


Di kampungpun memang bukan pala senang kali awak, cuma ya ngak sampai hina kalilah seperti yang kita jalani dulu.


Kau ingatlah Ris kekmana yakan?


Sedangkan adik iparmu dulu, anak dari paman orang rumahmu, cuma karena kita motong jalan dari kebunnya waktu mau menjala, sudah dibilangnya kita yang mencuri hasil kebunnya selama ini


Ah entahlah Ris..."


"Dimana di desa ini kau mau bangun rumah Man, biar ku bangunin."


"Ha..hahahah, terima kasihlah Ris.


"Serius Man, aku bisa sekarang Man, dimana kau mau."


"Darman..! Haris memang sudah kaya sekarang, mobilnya aja sudah ada, rumah mertuanya itu dia yang bangun, bahkan sekarang dia sudah punya dua hotel."


Herkules pemilik kedai yang sedari tadi menyimak ikut menimpali.


"Ah benar ini bang kules?"


"Benarlah! kau aja yang ngak tahu"


"Aku serius Man, sudah banyak rumah orang di desaku yang kubangun, apalagi kaukawan kentalku ngak mungkin kubiarkan, masih ngak percaya kau Man? tunggu bentar ya biar kuhubungi salah seorang manager hotel ku, biar kaupercaya."


Haris menghubungi managernya dan mengaktifkan loudspeaker HP-nya


[Menghubungi GM Hartono].


"Halo....! Tuan Haris, ini manager Hartono tuan."


"Ya. Pak Hartono bagaimana informasi hotel bintang lima yang aku tanya kemaren itu.?"


"Oh.. Iya tuan, memang sengaja belum saya informasikan, niatnya sampai dapat ke sepuluh hotel bintang lima yang mau tuan beli itu tuan.


Dan sekarang baru dapat empat sampai saat ini tuan, saya dan teman masih bergerak lagi mencari yang enam lagi."


"Oh ya sudah, kabari saya begitu dapat ya Pak Hartono."

__ADS_1


"Siap tuan..."


"Bagaimana hotel kita disana?"


"Aman pak, tingkat hunian hotel kita cukup meningkat dengan terobosan terobosan yang kita lakukan."


"Bagus kalau begitu."


"Terima kasih tuan mempercayakannya, pada saya."


"Baik saya tutup ya pak Hartono."


"Siap tuan..!"


[Panggilan berakhir]


"Bagaimana Man?"


"Ihhh.... Kau sudah jadi tuan demang berarti sekarang Ris?"


"Ehh... bukannya tuan demang itu penjajah Man? hahhaahah."


"Bang....!


Andri adik Diana datang memanggil.


"Apa andri?"


"Sarapannya sudah siap kata kakak bang?


"Oh ya, abang akan datang."


"Man ayo ke rumah sarapan dulu, nanti kita lihat penyakit istrimu, jangan di biar biarin Man."


Darman masih ragu.


Baginya ini masih mimpi.


"Ayo Man biar kita urus semuanya termasuk rumah dan kerjamu nanti."


"Ayolah Ris, terima kasih ya Ris?"


"Heiiii.... kita ini saudara lho, selesai urusanmu kita harus harus cari si Jhon cees kita yang satu lagi, ngak ingat kau waktu dikejar orang utan saat mau masang pikatan burung di kayu hutan itu? hahahahahaahh."


"Iya, Haha untung ada si Jhon bawa kayu bakar yang menyala, jadi ragu monyet itu."


"Bukan itu yang lucu Man, kata si Jhon monyet itu lari karena merasa si Jhon lebih monyet dari monyet itu sendiri... hhahahahhh."


"Memang pulak Ris kalau di ingat ingat saat itu, lebih monyetlah kita daripada monyet itu sendiri.


Monyet tinggal petik buah dia sudah makan, kita? Haahahaahaahh."


"Ah memang sempurnalah penderitaan saat itu Man."


Kedua sahabat sejati yang telah di uji persahabatan dalam penderitaan antara hidup dan mati itu, tidak henti hentinya tertawa saat akan pergi sarapan pagi di rumah mertua Haris.

__ADS_1


__ADS_2