Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _112 : Kerinduan teman lama.


__ADS_3

Tak terasa sudah seminggu tim Riston yang ditugaskan oleh Haris, memburu Marlon yang selalu saja berpindah-pindah tempat, untuk menghindari pengejaran aparat yang berwajib maupun para bawahan Haris.


Adapun pria bernama Albert cukup kooperatif dan dia mau bekerja sama dengan pihak Haris.


Albert mengatakan kalau dia bekerja bersama Marlon itu adalah suatu keterpaksaan baginya, sebab dia tersandera oleh Marlon yang selalu mengancam keselamatan keluarganya yang bisa saja sewaktu-waktu membunuh mereka.


" Tuan tolong maafkan saya tuan, saya juga tidak punya pilihan ketika harus bekerja dengan Marlon Tuan, saya terpaksa dan terpasung atau tersandera dengan jaminan akan keselamatan keluarga saya, sehingga saya harus ikut dengannya.


Sebelumnya anggota keluarga saya memiliki hutang pada Marlon dan untuk itu saya harus bekerja kepadanya Tuan.


Tolonglah tuan, saya yakin Tuan bukan orang yang jahat."


"Pertolongan seperti apa yang kau minta..?


Apakah kamu lihat bawahanku ada menyiksamu..?


Atau apakah makanmu kurang..?


Apakah pikiranmu disakiti...?"


"Tidak Tuan. Justru karena hal itu saya tahu Tuan adalah orang yang baik, saya sudah menceritakan dan menjelaskan semua tempat-tempat persembunyian Marlon dan terbukti rute-rute yang saya berikan itu tepat adanya.


Hanya karena si Marlon yang belum didapatkan, tentu itu sepenuhnya bukan salah saya lagi Tuan.


Terus terang saya masih khawatir dengan keselamatan saya. bagaimanapun menjadi orang yang disandera seperti ini sangatlah tidak enak Tuan, meskipun makanan saya terpenuhi dan saya tidak disiksa, tapi dengan saya terkurung begini, apalagi dengan status tawanan, itu saja sudah membuat saya hampir frustasi Tuan."


Haris yang sudah mendengar bagaimana kisah Tommy yang mendapat ancaman dari Marlon, menjadi faham trik Marlon itu, sehingga menerima alasan dari Albert.


Begitupun Haris tidak menunjukkan kalau dia sudah menerima alasan dari Albert tersebut.


Merasa khawatir kalau dirinya tidak dipercayai dan takut kalau dia akan berakhir dengan kematian di tangan para bawahan Haris, maka Albert memberikan tawaran.


Dia menawarkan pengalihan harta atau saham milik Marlon kepada Haris, sebab dia mengatakan kalau Marlon sudah memberikan kuasa baginya yang dituangkan dalam bentuk surat kuasa dan akta yang dibubuhi materai juga tanda tangan Marlon untuk menarik seluruh sahamnya di perusahaan pertambangan, dimana sebelumnya Marlon telah memerintahkan dirinya nantinya untuk mengalihkan uang itu ke rekening lain yang ada di luar negeri.


"Kelihatannya kamu memang benar-benar sudah sangat takut sehingga sampai menawarkan hal semacam itu, terus terang aku tidak tertarik dengan penawaran semacam itu karena aku juga bukan orang yang kekurangan uang, tapi aku adalah orang yang sangat peduli tentang arti kesetiaan, kalau kau bisa buktikan bahwa semua yang kau tawarkan ini benar adanya, maka aku akan mempertimbangkan untuk melepaskan dirimu, tapi itu adalah hal yang pertama.


Hal yang kedua dan yang paling penting, sehingga aku sampai datang kembali menemuimu di sini, adalah untuk bertanya.


Menurutmu setelah lolos dari tempat yang terakhir, kemana lagi si Marlon itu akan pergi Albert...?"


"Itulah yang paling saya khawatirkan Tuan.


Menurut dari rute pelariannya, seharusnya dia akan menuju ke kota M tempat di mana lebih banyak orang yang Loyalis padanya dan juga dia memiliki beberapa usaha di sana.


Tentu saja dia untuk saat ini tidak akan berani ke lokasi tempat usahanya itu, karena polisi juga sudah memburunya, tapi paling tidak dia akan berusaha untuk menjumpai orang-orang yang selama ini memang bekerja padanya.


Menurut hemat saya, saya sangat yakin dan inilah yang paling saya takutkan dari semuanya, bahwa dia akan pergi ke tempat tinggal keluarga saya Tuan.


Sesuai dengan rute pelariannya dan juga tempat terdekat yang bisa dia temui setelah lolos terakhir kali itu, adalah ke desa saya, yang memang itu searah pada jalan yang menuju kota M Tuan."


"Apakah kamu begitu yakin..?


"Saya sangat yakin Tuan, karenanya saya mohon bantuan dari Tuan untuk melindungi keluarga saya, bagaimanapun Marlon itu adalah seorang penjahat yang suka nekat Tuan.


Selain itu dia juga memegang senjata, saya khawatir terjadi apa-apa bagi keluarga saya, Apalagi orang tua saya yang sudah tua Tuan."


"Terima kasih atas informasimu, kalau begitu aku akan mengerahkan para bawahanku untuk pergi ke desamu dan memastikan kebenaran ucapanmu.


Terkait melindungi keluargamu, itu akan aku pikirkan bila kau bisa menunjukkan kesetiaanmu."


"Baiklah Tuan. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kalau begitu, selanjutnya saya mohon agar diberikan hal-hal yang saya butuhkan, berupa perangkat komputer dan lain-lainnya.


Maka saya akan bekerja untuk Tuan, saya tidak akan macam-macam Tuan.


Apalagi yang mau saya pertahankan dari si Marlon dan saya juga tahu kalau polisi juga sudah memburu kami kemana-mana, karenanya pilihan untuk berada di bawah perlindungan Tuan itu adalah hal yang paling tepat bagi saya.


Sekali lagi tolonglah Tuan.


Tolong lindungi keluarga saya Tuan."


"Baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh orang-orangku menyediakan apapun yang kau butuhkan, tapi ingat kau akan selalu dipantau, komputer yang akan diberikan ini akan terkoneksi dengan suatu sistem, yang bisa menelusuri segala jejak pekerjaan maupun perbuatan yang kau lakukan.


Jadi jangan coba-coba untuk berniat yang macam-macam."


"Tidak Tuan, saya tidak punya niat apa-apa lagi Tuan, yang saya butuhkan sekarang adalah mendapatkan kepercayaan dari Tuan.


Sehingga saya bisa bebas dan kalau boleh saya ingin ikut dengan Tuan, sebab berada di luar sana juga, saya hanya akan menjadi buruan berbagai pihak, kalau Tuan tidak sudi untuk melindungi saya."


"Jangan terlalu banyak berandai-andai, kau kerjakan saja apa yang menjadi tugasmu dan aku akan suruh para bawahanku, untuk mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka."


"Baik Tuan. Kalau begitu saya akan mulai bekerja Tuan."


"Ya baiklah, tunggu saja semua yang kau minta dan kau perlukan akan dibawa oleh orang-orangku kemari, sekarang Aku harus pergi."


"Iya Tuan terima kasih Tuan..!"


Haris kemudian pergi meninggalkan gudang baru milik ekspedisi, yang merupakan salah satu usahanya itu ditemani oleh Nando dan dia memerintahkan Nando untuk mengatur orang yang menyediakan semua yang Albert butuhkan.


"Tuan apakah Tuan percaya pada si Albert itu..?


"Iya kelihatannya dia tulus Nando, tapi begitupun kita tidak boleh percaya 100% padanya, karenanya kita harus tetap Waspada.


Oh ya Nando hari ini kita akan pergi ke desa P dan akan bermalam di sana.


Jadi kau katakan pada Very, supaya dia juga bersiap-siap."


"Baik Tuan, saya akan menghubunginya setelah kita sampai di hotel."


"Kau atau aku yang akan membawa mobil ini Nando...?"


"Tentu saja saya dong Tuan, kan saya yang jadi sopir dan ajudannya, sedangkan Tuan adalah Tuan dan bosnya."


"Lha kalau begitu kenapa kau ke pintu kiri..?


"Oh iya Tuan, salah Tuan.


Saya kira kita sedang berada di luar negeri Tuan di mana setirnya itu di sebelah kiri Tuan."

__ADS_1


"Memangnya kamu sudah pernah ke luar negeri Nando..?"


"Belum Tuan, kan belum Tuan ajak.


Tuan sudah berapa kali ke luar negeri Tuan...?"


"Belum pernah, kan saya juga belum pernah diajak orang ke luar Negeri...Ha..ha.hahhh.


Kalau dipikir-pikir lucu juga ya Nando, uang banyak tapi nggak pernah ke luar negeri.


Ya sudah deh, bawa mobilnya, nanti nanti saja kita ke luar negerinya, bila perlu kita dirikan perusahaan nanti di luar negeri."


"Memangnya Tuan ingin pergi ke negara mana Tuan..?"


"Hmmm.. Kalau Negara yang ada di luar negeri, mungkin ke negeri anime kali ya, ke negeri Jepang, biar jumpa sama hokage ke-7."


"Wah kalau saya diikutkan.


Seharusnya saya memang wajib diikutkan dong, karena saya kan ajudan..hehe.


Kalau begitu saya harus latihan untuk bahasa berbahasa Jepang nih Tuan."


"Ya kamu harus belajar minimal yang perlu-perlu, misalnya Konnichiwa Arigatou Gozaimasu ohayo, Konbanwa atau kalau jumpa cewek cantik nanti kamu bisa mengatakan e kawai, begitu Nando ekekeekkekkk."


" Ha..ha..ha.. Saya sangat senang melihat Tuan kembali riang dan ceria seperti ini, tidak lagi terlalu serius seperti hari-hari yang lewat, sampai-sampai mau bicarapun saya takut Tuan."


"Ah ada-ada saja kamu Nando, wah sudah sampai nih, Oh ya jangan lupa nanti kamu katakan sama Very ya, mungkin kita nanti agak sore saja pulangnya dan juga jangan lupa telephon pengurus Villa yang ada di desa P, kalau kita mau datang."


"Iya Tuan siap Tuan, arigatou gozaimasu Tuan."


'Eh belum..belum, kita belum di Jepang ini Nando, Ini masih di kota P...hahahah."


Haris meninggalkan Nando yang merupakan ajudan dadakannya dengan tertawa terkekeh-kekeh sehingga semua mata orang-orang yang ada di lobby tertuju pada Haris.


Baru saja Haris akan memasuki lift seorang wanita resepsionis buru-buru datang menghampirinya dalam keadaan berlari dan nafasnya terengah-engah.


"Tuan.. tuan...!"


"Ya ada apa...?"


"Maaf, saya hanya mau menyampaikan pesan Tuan.


Tadi Nyonya berpesan kalau mereka sudah pergi lebih dulu bersama mertua Tuan dan juga pak Beni. kata Nyonya, nanti kalau Tuan datang, saya disuruh beritahukan supaya Tuan nanti datang ke desa S saja."


"Oh ya sudah kalau begitu, terima kasih ya, kamu sampai ngos-ngosan begitu berlarinya.


Siapa nama kamu...?"


Saya Tiara Tuan...?"


"Sudah lama bekerja disini...?"


Baru 6 bulan belakangan ini Tuan."


"Masih punya orang tua...?"


"Lho sudah lapor ke management hotel, agar dapat bantuan...?"


"Tidak Tuan, saya takut karena masih baru juga di sini Tuan."


"Oh tidak begitu, walau baru 3 hari kalau sudah jadi keluarga hotel Nurul Haris, management wajib memperhatikan kesejahteraan kayawan/i nya.


Ya sudah kirim nomor rekening kamu, biar saya bantu transfer Rp 100 juta."


"Se...seratus juta pak...?"


"Iya... kenapa, kurang...?"


"Ti..ti..tidak pak eh Bos..Eh Tuan."


"Ya sudah kirim nomor rekening kamu."


"I..iya pak, terima kasih Tuan."


Wanita itu lalu mengirimkan nomor rekeningnya dan Haris kemudian mengatakan kepada Sistemnya untuk mentransfer uang dari ruang inventory sistem miliknya.


" Nah sudah sampai semoga bermanfaat ya Uangnya.


Titip salam buat keluarganya, kalau masih kurang silahkan kamu lapor lagi ke manajemen hotel, nggak usah katakan kalau saya sudah memberikan kamu uang ya."


"I...i..iya Tuan.


Terima kasih Tuan."


"Sudah. Tidak apa-apa. saya pergi ya."


"I..iya Tuan."


Haris lalu pergi meninggalkan wanita itu, yang masih bengong memegang handphone nya yang telah memiliki notifikasi dari Mobile Banking, pertanda uang sudah masuk ke rekening wanita tersebut.


Mendengar informasi Istrinya yang sudah pergi, Haris kemudian mengurungkan niatnya ke kamar hotelnya dan dia lalu keluar dari hotel kembali menemui Nando.


"Nando...!"


"Ya Tuan."


"Ada perubahan rencana, ternyata semua orang telah pergi ke desa S bersama Very dan juga Puspa dan Wulan, jadi kita akan berangkat sekarang.


Ya sudah ayo berangkat."


"Baik, siap Tuan."


Haris kemudian pergi bersama dengan Nando dan dikawal oleh dua orang pengawal yang sebelumnya membawa Albert.


Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, mereka kemudian sampai di desa P.


"Oh ya Nando, sebelum ke desa S kita singgah saja dulu di desa P ini dan kita sore atau malam saja ke desa S, silahkan kamu dan yang lainnya istirahat ke Villa.

__ADS_1


Saya nanti turun di kedai kopi Wak Maklin saja, sudah lama juga saya tidak minum kopi di tempat itu."


"Ya Tuan, baik Tuan."


Sesampainya di depan warung kopi Wak Mak Lin langganan Haris dulu ketika masih menjadi seorang petani biasa, diapun turun dari mobil.


Nando bersama dua pengawal yang di bawanya langsung masuk menuju ke Villa milik Haris yang ada di desa itu.


"Halo semuanya, selamat pagi menjelang siang.


Minumannya yang biasa Wak, satu gelas."


"Wah Pak Bos dataaaannggg..."


"Iya Tuan besar kita datang, sudah lama nggak datang."


Seluruh pengunjung yang ada di kedai kopi itu langsung saja menyambut Haris dan menyalaminya seperti menyalami seorang pejabat yang sedang turun meninjau rakyatnya.


"Wah saya sudah seperti jadi caleg aja nih, disalami oleh semua orang ha..ha..ha."


"Oh lebih lebih dari caleglah Pak Bos.


Pak Bos ini adalah pahlawan bagi kami di desa ini, iya ngak teman teman...?"


"Betul tuh Amir, kalau tidak ada bos, wah mungkin hidup kita masih susah terus.


Ayo..ayo wak Maklin mana kopi pak Bos...?"


"Sabar..sabar, sedang dibuat. Kalau untuk Bos nggak bisa buru-buru, buatnya harus istimewa."


"Tentu dong, Bos kita...hahahahh."


Semua orang begitu bahagia menyambut kedatangan Haris dan semua orang berlomba-lomba untuk menjadi lebih dekat dan lebih ramah padanya.


Suatu hal yang berbanding terbalik dengan situasi yang beberapa saat lalu diterimanya.


Bagaimana dengan usaha pertanian sayur kita, masih lanjutkah...?"


"Oh masih, masih Pak Bos. Sekarang tidak hanya di lahan yang Pak Bos sediakan, di tanah-tanah bekas persawahan wargapun sekarang sudah ditanami sayur-sayuran, ya alhamdulillah berkat ide dan terobosan yang digagas oleh pak bos, ekonomi warga sudah lebih baiklah daripada dulu saat kita hanya mengandalkan hasil karet dan buah salak saja.


Kami punya usul nih Pak Bos, bagaimana kalau sungai yang ada di belakang Desa itu kita buat jadi Lubuk larangan saja, supaya nanti kalau panen kita akan makan bersama bagaimana itu kira-kira Pak Bos...?"


"Bagus ide yang baik itu, saya akan dukung itu.


Nanti biar bibitnya dari saya saja semuanya, jadi nanti waktu panen biar kita makan bersama satu kampung, pesta kita ya nggak wak Maklin...?"


"Oh mantap kalilah itu Bos Haris, mantap itu.


Makan bersama kita nanti, udah lama juga kita nggak jumpa dan makan bersama."


Kemudian pemilik kedai itu memeluk Haris, setelah menyalami dan meletakkan minuman Haris


"Kemana saja selama ini Bos..? Kami pikir kami sudah dilupakan dan ditinggalkan di sini hahah."


"Nggaklah nana mungkin meninggalkan kampung sendiri, awak juga berasal dari Desa ini, cuma memang beberapa saat belakangan ini banyak urusan, kalau Wak sempat dengar dulu urusan teman saya si Jhon yang sempat masuk berita yang dikurung dan dipasung serta dianiaya di desa yang di atas dekat gunung sana.


Terus Wak Maklin juga tahu sendiri dari Pak Samsul atau dari Fauzan, kalau kita sudah membeli kebun sawit juga, lalu mendirikan pabrik pengalengan ikan dan ini sedang proses pula mendirikan pabrik kelapa sawit, ah jadi memang sibuk dan banyak urusanlah belakangan ini.


Makanya tadi teringat kemari jadi singgah sebentar, tadi rencana mau ke desa S tapi sudah rindu juga sama teman-teman semua disini makanya saya singgah.


Ditambah rindu juga minum kopi buatan Wak disini.


Haris kemudian bercengkrama dan bersenda gurau bersama teman-teman sekampungnya yang ada di sana, mereka begitu akrab dan begitu riang seolah-olah seperti saudara yang melepas rindu sesudah bertahun-tahun lamanya tidak berjumpa.


Sampai saat Haris akan pulang, semua orang masih merasa kurang lama untuk bersama dengan Haris.


"Sering-seringlah Bos datang kemari, jangan terlalu lama-lama begini jaraknya."


"Aman itu Wak, aman itu.


Ini karena urusan kemarin yang saya bilang itu aja itu.


Kedepannya mungkin udah agak lapanglah ini. Bakalan sering-sering kok main-main kemari.


Ke mana lagi mau pergi coba, mau ke luar negeri nggak ada duit..hehe."


"Halah.. si Bos inilah, cerita nggak ada duit pulak, tapi bangun pabrik beli kebun sawit, beli hotel, ada duitnya hahaha.


Harus nggak pandai lagilah kucing mengeong baru nggak ada uang si Bos Haris ha..ha..ha."


"Ya sudah, oh ya yang jatah minuman itu masih teruskan Wak...?"


"Iya..iya terus kok Bos Haris masih terus, tiap bulan dikasih kok sama Fauzan dia tahu betul tanggalnya saya malah yang kadang-kadang lupa."


"Ya sudah lalu bagaimana masih ada tambahan pengunjung di luar yang gratis itu, apa masih ada yang bayar...?


"Iya sekarang ada, sekitar 20 orang lagi tambahannya."


"Ya sudah yang belum gratis itupun nanti gratiskan saja Wak Maklin, nanti saya bilang aja sama si Fauzan, biar ditambah jatahnya."


"Oke siap pak bos siaplah pokoknya."


"Ya sudah kalau begitu awak pergi dulu ya, masih mau lihat rumah juga, habis itu mau pergi ke desa S ke tempat mertua."


"Oke siap bos Haris tapi jangan lama-lamalah bos."


"Nggak paling 3 hari disana sudah kemari juga.


Baik ya udah ya semuanya, sampai jumpa lagi."


"Oke Bos sehat-sehat selalu Bos, panjang umur murah rezeki, tambah istri lagi."


"Busyet dah...! Tambah istri..?


Janganlah, dua saja sudah cukup."


Haris lalu pergi meninggalkan kedai itu dan menuju ke villanya.

__ADS_1


__ADS_2