
Setelah mengatur tugas bagi bawahannya Haris kemudian hendak beranjak keluar, namun Erik dan Anton kemudian mendatanginya dan bertanya pada Haris.
"Tuan mau ke mana.?"
"Erik, Anton aku hendak pergi ke kedai wak Mak Lin untuk menanyakan sesuatu hal yang sangat penting."
"Tuan biarkanlah kami yang pergi menjemput pak Mak lin itu.mm Tuan tunggu saja di sini. Bukankah Nyonya sangat membutuhkan kehadiran Tuan di sini.?"
"Baiklah Anton kalau begitu kalian berdua saja yang pergi kesana dan katakan ini sangat penting."
Setelah Erik dan Anton pergi, Haris kemudian berniat menelepon Fauzan dan meminta Fauzan yang saat itu sedang berada di wilayah timur, untuk segera pulang ke desa P menemuinya.
[Memanggil Fauzan]
"Halo Fauzan..!"
"Halo Bang, Ada apa Bang.?"
"Fauzan kakakmu berdua saat ini sedang sakit memuntahkan darah, tadinya berada di rumah sakit dan saat ini sudah berada di Villa. Kau datanglah kemari ada hal penting yang ingin Abang tanyakan dan juga tugaskan untukmu."
"Apa.?
Kakak muntah darah Bang..? Ya Allah. Iya Bang kalau begitu Fauzan akan segera pulang, Apakah Fauzan tidak memanggil Bos Darman dan bos Jhon juga..?"
"Tidak usah Fauzan, biarkan mereka bertugas di sana nanti mereka juga akan datang kemari setelah mereka mengetahui kabarnya."
"Baiklah Bang kalau begitu Fauzan dan Pak Samsul akan pulang."
"Ya cepatlah kemari, hal ini sangat mendesak.
Ini sangat genting Fauzan."
"Iya..Iya Bang oke Bang.
Aku sudah di mobil dan akan berangkat."
"Ya sudah, Abang tutup teleponnya."
[Panggilan berakhir]
Sistem, kali ini aku merasa semua yang aku miliki tidak ada artinya sama sekali.
[Sistem]
"Tuan..!
Tuan harus mengambil kemampuan sistem pengobatan, bila nantinya telah cukup poin."
"Sistem kalau aku tidak lupa, kau dulu pernah mengatakan untuk menaikkan tingkatan sistem yang saat ini berada di level 3 mewah ke level sistem 3 super mewah dibutuhkan 100 ribu poin lagi.
Lalu mana yang lebih bagus, apakah aku harus mengambil kemampuan sistem pengobatan atau meningkatkan sistem ke level 3 super mewah.?"
[Sistem]
"Tuan kita telah pernah membahas hal ini sebelumnya, bila Tuan mempercanggih kualitas sistem dengan meningkatkannya, maka bukan hanya mampu melihat jejak gelombang emosi orang-orang baru, yang berada di sekitar tuan, tetapi bahkan sistem juga akan bisa masuk ke dalam pikiran mereka, membaca niat maupun rencana baik atau buruk mereka tuan.
Artinya jika sistem tadinya sudah berada pada tingkatan level itu, apa yang menimpa kedua istri Tuan saat ini tidak perlu terjadi, sebab sistem otomatis akan mengetahui isi hati dari staf koki yang membubuhi makanan istri tuan dengan racun itu sehingga langsung bisa mencegahnya.
Tapi nasi telah menjadi bubur Tuan, untuk saat ini yang terbaik bagi Tuan terkait dengan pengobatan istri Tuan adalah dengan mengambil kemampuan pengobatan yang langsung saja pada tingkat Grand Master.
Kemampuan ini menjadi begitu penting, mengingat boleh saja mungkin jumlah musuh atau orang-orang yang akan memusuhi Tuan kedepannya akan semakin banyak dan tidak tertutup kemungkinan mereka akan melakukan cara-cara kotor yang sama seperti ini lagi Tuan.
Selain itu kalau Tuan nantinya menaikkan level sistem kepada tingkatan atau level 3 sistem super mewah, maka otomatis kemampuan pengobatan juga kemampuan lainnya yang pernah anda ambil akan ikut meningkat dan disesuaikan tingkatannya ke level 3 super mewah itu.
Setelah kemampuan pengobatan itu nanti bisa anda miliki, maka baru anda akan bisa berkonsentrasi untuk menaikkan level sistem ke level tertinggi 3 super mewah Itu Tuan.
Jadi kalau nantinya sistem memiliki kualitas sampai ke level itu, maka tentunya sama seperti sekarang bila saja makanan beracun semacam itu diserahkannya adalah kepada Tuan, sistem tentu bisa dengan mudah untuk mencegahnya, maka seperti itu pula hal yang sama akan terjadi kepada orang-orang di sekitar Tuan, dimana sistem juga akan bisa mencegahnya nantinya bila kualitas atau level 3 sistem super mewah itu sudah kita peroleh"
"Lalu bagaimana dengan status poinku saat ini sistem.?"
[Sistem]
"Tuan saat ini poin sistem anda berjumlah 70 ribu poin sistem Tuan, dengan rincian 20 ribu poin misi pembangunan pabrik pengalengan ikan dan juga pembangunan pelabuhan sementara.
Lalu ada 20 ribu poin sistem dari pembangunan rumah sakit dan 10 ribu poin pembangunan pabrik kelapa sawit.
Terakhir ada 20 ribu poin, yang sistem simpan dari pembangunan yayasan kemanusiaan Diana Haris Foundation.
"Lalu ada berapa lagi kekurangannya sistem..? Kenapa kau tidak memberikan aku misi.?"
[Sistem]
Tuan kekurangannya ada 30 ribu Poin sistem lagi. Terkait misi yang Tuan tanya, sebenarnya sudah tercetus yakni pemberian bantuan dana untuk kampanye bakal calon walikota P yang kemarin sempat kita bicarakan.
Sebaiknya Tuan segera merealisasikan misi itu, agar poin segera masuk dan Tuan segera punya keahlian untuk mengobati kedua istri Tuan.
Untuk sementara sebagai pertolongan pertama, Tuan bisa mengobati kedua istri Tuan itu dengan bantuan orang-orang Desa yang terbiasa mengobati orang yang terkena racun."
Begitu ya sistem.?
Sistem saat ini aku kembali bisa melihat sedikit cahaya yang terang, tapi aku begitu khawatir dengan perlombaan waktu ini.
Aku sangat khawatir kalau aku tidak punya cukup waktu untuk mendapatkan poin-poin itu, sehingga punya kemampuan untuk mengobati kedua istriku.
Coba kau bayangkan sistem, apa gunanya semua ini, kalau aku harus kehilangan dua istriku sekaligus..?
Yakni orang-orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai dengan tulus, sebaliknya juga sangat menyayangi dan mencintai aku dengan begitu tulus, dimana salah satunya malah telah mengikuti aku sejak dari nol."
[Sistem]
"Tuan. Tuan tidak perlu khawatir, sistem bisa menjamin bahwa istri Tuan bisa bertahan sampai Tuan mendapatkan poin sistem itu. Yang perlu Tuan lakukan saat ini adalah, tetap fokus untuk menjalankan misi dan jangan sekali-kali Tuan menemui orang yang membubuhi racun ke makanan istri Tuan.
Hal itu disebabkan nanti Tuan bisa menjadi gelap mata dan semuanya akan menjadi sirna dan musnah sia-sia, sehingga bahkan Tuan tidak punya kesempatan untuk mengobati istri Tuan."
"Kenapa begitu sistem..?"
[Sistem]
"Karena kemampuan pengobatan yang akan diberikan sistem kepada Tuan, tidak mengizinkan kemampuan ini diberikan kepada jiwa-jiwa yang kotor dan masih dikuasai oleh amarah Tuan.
Karenanya untuk sementara ini, sebelum memiliki kemampuan itu Tuan harus bersih dari amarah dan emosi. Sistem berharap kita tidak hancur di sini Tuan.
Tuan harus bisa bersabar."
"Baiklah sistem aku paham sekarang, terima kasih telah mengingatkanku.
Kau selalu menjadi yang terbaik dari semua orang-orang yang bisa berbuat sesuatu untukku sistem."
[Sistem]
Terima kasih Tuan, tetapi terus terang saja, sistem sendiri saat ini sedang merasa gagal, karena tidak bisa melindungi kedua istri Tuan, padahal salah satu misi penting dan alasan utama keberadan dari sistem adalah untuk membahagiakan Tuan dan orang-orang yang berada di sekitar tuan atau orang-orang yang berada dekat dengan hati Tuan."
"Sistem sama seperti aku yang tidak bisa lepas dari kesalahan, tentu kau juga begitu. Akan tetapi seperti yang kau sebutkan padaku di awal tadi, kita jangan hancur di sini.
Kita harus bangkit berdiri dan menghancurkan semua orang-orang yang mencoba menghadang kebahagiaan yang akan kita raih."
[Sistem ]
Baiklah Tuan. Sistem merasa bahagia Tuan bisa berpikir sampai kepada hal itu, sistem pastikan bahwa kedepannya bila kemampuan pengobatan itu bisa kita raih, baik Tuan maupun orang-orang terdekat Tuan, tidak akan bisa lagi dilukai orang-orang jahat di luar sana dengan cara-cara yang sama.
Selain itu kita juga perlu meningkatkan kualitas sistem kepada level sistem super mewah Tuan. Agar saat bertemu dengan metode-metode kejahatan lainnya sistem sudah bisa mendeteksi dan mencegahnya sejak dini."
"Baiklah sistem, satu persatu dan selangkah demi selangkah kita akan menjalaninya, seperti yang kau katakan saat ini marilah kita fokus untuk mengurus ini dulu."
[Sistem]
Ya baiklah Tuan. silakan Tuan mencari pengobatan sementara, sebelum Tuan memiliki kemampuan untuk pengobatan orang yang terkena racun itu."
__ADS_1
"Ya terima kasih sistem kau yang terbaik."
[Sistem]
Sama-sama Tuan.
Tuanlah bintang yang sebenarnya.
"Bos Haris kenapa dan ada apa dengan istri Bos Haris..?"
Saat Haris telah selesai berbicara dengan sistemnya, sesaat kemudian Erik dan Anton telah datang membawa Mak Lin ke Villa Haris dan telah menceritakan sekilas tentang penyakit yang menimpa istri Haris.
"Wak Mak Lin, sebaiknya kita bicara di pondok yang berada di tengah-tengah kolam itu saja."
"Baiklah terserah bos Haris saja, dari mana jalannya.?"
"Ayo dari sini Wak."
Haris membawa Mak Lin ke pondok yang berada di tengah-tengah kolam ikan miliknya, yang berada di sebelah kanan villanya.
"Erik dan kau juga Anton, coba kalian pergi katakan kepada siapapun anggota keluarga kita yang ada di ruangan sana, agar memberitahukan kepada kedua istriku bahwa aku tidak jauh dari mereka.
Aku berada di tengah kolam ini sedang berbicara dengan Wak Mak Lin untuk menanyakan orang yang bisa mengobati penyakit mereka."
"Baik Tuan. kami akan pergi Tuan."
Paham kalau Tuannya ingin berbicara empat mata dengan Wak Mak Lin, mereka berdua segera pergi dari sana dan menyampaikan apa yang Harus katakan kepada ayah mertua Haris yakni ayah dari diana.
Saat mengatakan hal itu ibu dari Diana yang mendengar langsung jadi ikut mengetahui hal itu, lalu baik ibu dari Diana juga Ibu dari Kirana segera membuka tirai yang menutupi dinding kaca yang mengelilingi seluruh bagian kiri kanan dan depan kamar tempat keberadaan Kirana dan Diana saat ini.
Kamar yang sebenarnya tadinya dirancang khusus untuk satu acara tertentu, sehingga dari kamar itu semua orang yang ada di dalamnya bisa memandang ke sekitar wilayah area Villa memudahkan Diana maupun Kirana bisa melihat keberadaan suami tercinta mereka yang tidak jauh dari mereka.
Kedua ibu itu, tentunya sangat paham bagaimana dan seperti apa watak putri-putri tercinta mereka.
Keduanya paham betul bagaimana kedudukan Haris dalam hati kedua putrinya itu.
"Lihatlah suami kalian tidak pergi jauh dari kalian nak, saat ini dia sedang berbicara dengan seseorang untuk mencari orang yang bisa menyembuhkan kalian.
Itu lihat mereka sedang bicara di pondok yang ada di tengah kolam yang ada di sana itu.
"Iya Ibu, kami melihatnya.
Kak Diana bukankah kakak juga bisa melihatnya..?"
"Benar Kirana, kakak juga bisa melihatnya dengan jelas."
Diana menyahuti Kirana yang lumayan susah untuk bicara.
"Mama jangan menangis, putri Mama yang bernama Kirana dan juga yang bernama Kak Diana, akan kuat melewati hal ini. Kami akan terus berjuang untuk bertahan, tidak akan mudah untuk membuat kami menyerah kalah."
"Baiklah sayang, Mama tidak punya apa-apa lagi di dunia ini kecuali kalian berdua, kau putri Mama satu-satunya dan kakakmu Diana yang juga sudah seperti putri kandung Mama sendiri. Kalian berdua adalah harta Mama yang paling berharga.
Hidup Mama akan kosong dan hampa kalau kalian sempat kenapa-kenapa."
Ibu Kirana tiba-tiba merasa seolah ada beban yang begitu berat yang diletakkan di atas pundaknya. Dia tidak bisa dan tidak sanggup membayangkan kalau harus kehilangan Putri satu-satunya yang dia miliki di dunia ini.
"Ma jangan berkata seperti itu, nanti semua semangat mereka menjadi rapuh, mereka sudah mengatakan siap berjuang untuk bertahan. Mamakan sudah mendengar putri kita kuat, Papa sangat yakin itu kalau putri kita kuat dan Putra menantu kita juga akan segera berbuat yang terbaik.
Bukankah selama ini dia tidak pernah mengecewakan kita, jangan ragukan bagaimana kedudukan kedua Putri kita ini dalam hatinya, bahkan seandainya itu harus bertaruh nyawa, dia pasti tidak akan segan untuk mempertaruhkan nyawanya bagi kedua putrimu. Tenanglah Ma..! Berpikirlah yang positif.
Sebutkan kata-kata yang membangun semangat saja."
"Mama..Papa..! Saat ini Mama dan Papa tidak hanya memiliki dua Putri yakni aku dan Kak Diana tetapi juga ada putri ketiga dari Mama dan Papa yakni Adek kami dokter Shasmita.
Kami berdua sudah setuju, sudah sepakat dan sudah menyatakan kalau Abang harus mengangkatnya menjadi istrinya. Maka cintailah dia juga Ma..Pa..! Seperti bagaimana Mama dan Papa mencintai kami berdua.
Lihatlah Bagaimana tulusnya dia selama ini telah berbuat banyak untuk kami."
Semua mata sontak saat itu juga, tertuju kepada Shasmita yang tertunduk seolah seperti akan dihakimi itu. Dia begitu takut untuk membayangkan bagaimana reaksi keluarga Diana maupun Kirana karena mendengar ucapan Kirana yang dia rasa sebenarnya belum tepat waktunya untuk menjelaskan semua itu.
Tetapi di luar apa yang diperkirakan, ternyata ibu dari Kirana dan juga ibu Diana segera datang ke sisi kiri dan kanan dokter Shasmita, kemudian meraih tangannya dan memeluk Shasmita.
Kami mohon kepadamu, rawatlah kedua kakakmu ini dengan baik, cintailah mereka berdua dengan tulus sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.
Kami tidak akan melarang Haris untuk menikahimu, setelah selesainya badai yang menimpa kita dengan sangat menyakitkan ini."
Ibu Kirana menangis terisak sambil mengucapkan kata-kata itu. Shasmita merasa hatinya seperti hancur lebur merasakan kesedihan yang dirasakan oleh seorang ibu yang begitu mencintai Putrinya itu, lantas dia berkata
"Mama terima kasih telah menganggap wanita ini menjadi putrimu, aku berjanji akan menjaga dan merawat kedua kakakku ini dengan jiwa dan ragaku, dengan segenap kemampuan dan daya upaya yang aku miliki.
Aku akan memberikan yang terbaik bagi mereka, aku telah melihat cinta mereka yang tulus terhadapku sebelumnya, tapi hari ini aku pula telah melihat cinta ibu berdua yang begitu tulus kepadaku. Maka bagaimana mungkin hal itu tidak akan membuat putri ibu yang satu lagi ini, akan dengan tulus mencintai kedua kakakku itu.?
Terima kasih Mama, terima kasih Ibu."
Shasmita memeluk kedua Ibu dari Diana dan Kirana yang telah mendahuluinya menjadi istri Haris. Dia merasakan perasaan yang begitu kuat dan tajam bercampur aduk menghujani hatinya dalam satu saat, sehingga kesan dari semua itu membuat tubuhnya sampai lemas.
"Nak kamu.? kenapa tubuhmu tiba-tiba saja menjadi lemas..?
Ayah..Ayah..! Ambilkan air minum..!"
Ayah Diana dengan sigap mengambil air minum.
Shasmita didudukkan di sebuah kursi yang ada di sana, pelan-perlahan Shasmita kemudian kembali menjadi pulih dan tegar kembali, air mata tidak berhenti bercucuran di kedua pipinya yang putih dan sangat cantik itu.
Tangan Diana dan Kirana terangkat seolah-olah hendak menggenggam tangan dirinya.
Shasmita yang melihat hal itu segera berlari kecil menuju kedua wanita yang sudah dianggapnya seperti kakaknya itu, lalu memegang kedua tangan wanita itu dan meletakkan di pipinya.
"Kakak, terima kasih..! Kalian sudah menerima aku sebagai adik perempuan paling kecil kalian, aku akan berjuang sekuat tenaga, mengurus kalian berdua, bertahanlah kak, kita pasti bisa melewati ini semua.
Bertahan dan kuatlah untuk kami semua Kak..!"
"Iya Shasmita, kakak dan juga Kak Diana akan kuat untuk kalian semua. Bagaimana kami tidak kuat, ada Adik sepertimu yang menguatkan kami. Untuk sementara ini, tolong jaga dan perhatikan pria yang sama-sama kita cintai itu, kami berjanji setelah penyakit ini sembuh maka pernikahanmu dengan pria yang sangat kau cintai, yang kelak akan menjadi suami kita bertiga itu, akan segera dilangsungkan.
Kali ini kami akan meminta kepada Abang, untuk melakukan pesta besar-besaran. Karena selain merayakan pernikahanmu pesta itu juga sekaligus menjadi pesta pernikahan antara aku dan juga Kakak Diana. Kita harus lebih senang dan bahagia kedepannya melebihi dari hari ini."
"Ya Kak, kita harus lebih bahagia kedepannya."
Pada akhirnya Kirana juga tak kuasa membendung air matanya. Air matanya mengalir menganak sungai di pipinya yang sudah semakin pucat itu.
"Kakak jangan menangis..! Jangan menangis Kak."
"Shasmita kita akan menang, kita akan melewatinya. Tidak apa-apa, dengan menangis ini Kakak sekarang menjadi lebih lega dan merasa lebih lapang.
Terima kasih untuk semuanya."
Seluruh orang yang ada di ruangan itu ikut menangis tidak terkecuali Erik dan Anton yang tadi datang untuk memberitahukan keberadaan Haris, mata semua orang menjadi merah seolah-olah ada asap tebal dari sebuah pembakaran yang membuat mata mereka menjadi perih.
Dari semua hal yang mereka lewati, peristiwa kali ini adalah yang paling menyakitkan.
...-------------...
"Oh jadi Pak Maksum itu adalah orang yang sudah sering mengobati orang yang terkena racun begitu ya Wak..?"
"Betul bos Haris. Maksudnya itu bukan satu dua atau puluhan lagi yang sudah di obati beliau, tapi sudah ratusan. Insya Allah nanti kalau dengan beliau penyakit ini akan mudah tertangani, walau memang butuh waktu untuk itu.
Tapi berobat disana ada pantangannya."
"Apa pantangannya Wak.?"
"Pantangannya ada beberapa jenis makanan yang tidak boleh dimakan dan tidak boleh tidur siang Bos, begitu obat nanti mulai diberikan dan di minum, maka tidak boleh lagi tidur siang.
Kalau melanggar pantangan tidur siang itu, maka nanti selanjutnya obat itu tidak akan lagi mempan. Tapi anehnya memang dari pengalaman-pengalaman mereka yang pernah berobat ke sana, termasuk anak saya yang paling besar juga pernah terkena penyakit itu dulu beberapa tahun yang lalu jelang puasa, kalau sudah mengkonsumsi obat dari Pak Maksum itu, mata rasanya menjadi begitu berat sekali, di siang hari tapi kalau malam tidak pula.
Nah tugas kitalah keluarganya ini menjaga dan mengontrol, agar jangan sampai tertidur di saat siang hari."
"Wak Mak Lin kalau begitu, kalau boleh saya minta tolong sebesar-besarnya wak Mak Lin sajalah yang pergi untuk mengundang Pak Maksum itu unruk datang kemari guna mengobati istri saya.
__ADS_1
Apakah kira-kira Pak Maksum itu tidak akan tersinggung dan apakah dia mau datang kalau dipanggil ke rumah.?"
"Mau. Mau Bos kalau karena tidak ada kegiatan yang lain atau beliau itu tidak sedang keluar kota, maka beliau itu selalu mau saja itu dijemput untuk membantu orang."
"Oh sudah cocok kalau begitu."
Tak lama sesudah itu Fauzanpun datang dengan berlari menuju Haris, setelah sebelumnya dia bertanya kepada pengawal yang ada di Pos depan tentang keberadaan Haris.
Setelah mengetahui Haris berada di tengah-tengah kolam di sebuah pondok bersama Mak Lin, melihat hal itu pikiran Haris kembali bertambah menjadi cerah dan dia menyerahkan sepenuhnya kepada Fauzan untuk menjemput langsung pria yang bernama Pak Maksum itu
Segera saja baik pak Mak Lin maupun Fauzan, langsung berangkat menuju suatu desa yang cukup jauh dari tempat mereka berada, untuk menjemput Pria tua yang sudah terbiasa mengobati orang yang terkena racun itu.
Setibanya Fauzan dan juga Mak Lin di tempat Pria tua yang diketahui bernama Maksum itu ternyata Pak Maksum itu berkebetulan sedang melakukan pengobatan di wilayah lain di mana dia juga dijemput ke sana.
Akhirnya mau tak mau Fauzan dan Mak Lin terpaksa harus menyusul dan menjemput sendiri.
Setelah pak Maksum itu mengatakan bersedia untuk mengobati istri Haris, tapi dia tidak bisa datang dengan segera karenanya Fauzan mengambil inisiatif untuk menjemputnya.
[Panggilan dari Fauzan]
"Halo Fauzan..!
Bagaimana..? Apakah kalian sudah sampai Fauzan.?"
"Iya kami sudah sampai di rumahnya Bang, tapi rumahnya dalam keadaan kosong. menurut tetangganya pak Maksum tidak ada di tempat."
"Waduh bagaimana itu Fauzan. Tolonglah Fauzan, cari dimana orang itu berada.
Kau tahu bagaimana dan seperti apa pikiran Abang sekarang Fauzan, kaulah harapan Abang untuk itu."
"Abang jangan mengatakan itu Bang.
Hati Fauzan terasa sakit mendengar ucapan Abang, Abang sudah banyak membantu hidup Fauzan maka kali ini tanpa Abang mintapun biarkan Fauzan yang akan memberikan yang terbaik bagi Abang.
Abang tidak usah khawatir, kami telah mengetahui keberadaan pak Maksum itu, beliau tadinya sedang pergi ke wilayah yang lain karena dijemput orang untuk mengobati seseorang di sana, tetapi kemudian beliau itu sudah pergi lagi ke tempat lain yang lebih jauh dari tempat pria, yang menjemputnya pertama kali ke rumahnya ini.
Sehingga pria pertama itu tidak lagi bisa mengantarkannya kemari. pak Mak Lin sudah berkeliling mengobati banyak orang dan sudah jauh dari tempat orang yang pertama menjemputnya.
Syukurnya beliau sudah bisa kami hubungi dan mengatakan siap untuk mengobati Kakak dan juga berjanji akan mendahulukan kakak kalaupun ada yang lain memanggilnya, tapi beliau terkendala dengan waktu Bang. Beliau tidak bisa segera datang, karena keterbatasaan kendaraan di tempatnya saat ini berada.
Karenanya sekarang kami dengan wak Mak Lin ini sudah dalam perjalanan untuk menjemputnya.
Perjalanan ke sana itu membutuhkan waktu satu malam penuh Bang, artinya kami akan sampai di sana besok pagi, jadi kalaupun kami langsung berangkat nantinya bersama pak Maksum, maka baru akan bisa sampai ke desa kita pada saat tengah malam hari berikutnya."
[Sistem]
Tuan coba hubungi Pak Prawirawan. Biasanya di area pertambangan itu ada helikopter.
Kita juga memegang saham di usaha pertambangan itu, minta saja bantuan Pak Prawirawan untuk mengirimkan helikopter ke tempat pak Maksum itu, untuk menjemputnya dan Tuan minta juga nomor pak Maksum itu dari si Fauzan, maka sistem akan mencari koordinat keberadaan pak Maksum itu agar bisa mengirimkannya kepada operator helikopter, yang akan menjemput serta akan memandunya.
Hal itu akan lebih ringkas Tuan, sehingga kita tidak perlu harus menunggu sampai dua hari lagi, tetapi barangkali hanya dengan beberapa jam saja nanti sudah sampai.
Kasihan istri Tuan kalau harus menunggu lebih lama agar bisa diobati, minimal paling tidak untuk mematikan bisa racunnya.
"Oh baik. Itu lebih baik sistem. Terima kasih sudah mengingatkan."
Haris kemudian menghubungi Prawirawan dan Prawirawan menyanggupi hal itu, sehingga segala sesuatunya bisa berjalan sesuai keinginan Haris.
Akhirnya Haris mengatakan kepada Fauzan untuk kembali pulang saja, setelah mendapat konfirmasi dari Prawirawan bawa helikopter itu sudah berangkat dan juga titik koordinat tempat pak Maksum itu sudah ditemukan.
Pak Maksum sendiri sudah berkomunikasi dengan Haris dan menyatakan siap untuk datang, taksiran dari operator helikopter bahwa mereka akan sampai paling tidak sore hari di desa P.
Haris dengan senyum yang mengembang kemudian beranjak dari tempatnya dan segera masuk ke ruangan tempat di mana istrinya berada.
"Bagaimana nak Haris.? Apakah sudah ditemukan orang yang bisa mengobati Kirana dan juga Diana.?"
Ayah Kirana buru-buru langsung menghadang Haris, dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah Pa, tenang saja saat ini operator helikopter dari teman Haris, sedang menjemput seseorang yang sudah terbiasa mengobati orang yang terkena racun semacam ini.
Hanya saja memang, orang tersebut sangat jauh keberadaannya dari tempat kita dan cukup terisolasi tempatnya, sehingga sampai harus dijemput pakai helikopter supaya cepat tiba di tempat kita ini.
Menurut taksiran operator itu, nanti sore kemungkinan mereka sudah sampai di tempat ini, sehingga penanganan untuk adik Diana maupun Kirana, bisa diberikan hari ini juga."
"Alhamdulillah."
"Oh Syukurlah Tuhan..!"
"Syukurnya Tuhan masih memberi kita jalan."
"Terima kasih Tuhan."
Semua orang mengelus dadadan sangat bahagia mendengar kabar itu.
Haris berjalan menuju Kirana dan Diana istrinya, yang juga mendengar ucapan dari suami mereka itu.
Dia mencium tangan keduanya dan mencium kening kedua istrinya itu tanpa malu-malu lagi di depan semua orang.
"Bertahanlah sayang bertahanlah. Nanti sore kalau tidak ada hambatan dan halangan, mereka sudah akan tiba.
Orang yang akan mengobati Adek berdua bernama pak Maksum. Sudah ada ratusan orang yang sembuh di tangan beliau, termasuk salah satunya adalah putra tertua dari wak Mak Lin, informasi ini juga Abang dapatkan dari wak Mak Lin."
"Iya terima kasih Bang. Abang selalu bisa memberikan jalan keluar dari apapun yang kami butuhkan."
"Ya kita sama-sama bersyukur saja Dek kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Apakah kalian sudah makan..?"
"Belum kami belum selera untuk makan Bang."
"Eh jangan begitu, Makanlah walau sedikit, nanti Abang yang sulang ya..!"
"Iya."
Serentak Diana dan Kirana bersedia.
"Dek Shasmita."
"Ya Bang, Shasmita akan pergi mengambil makanan untuk kakak."
"Ibu untuk sementara ini Haris sudah memberhentikan seluruh asisten rumah tangga dan juga Chef kita, sehingga mungkin Ibu berdua termasuk Kakak Butet dan Kak Yunita, mungkin harus repot kembali memasak sendiri.
Karena dari penyelidikan Riston, Amanu dan juga Halim ditemukan bukti kuat bahwa ternyata yang membubuhi racun kepada makanan Diana maupun Kirana putri Ibu adalah seorang staf baru dari Chef yang kita miliki di kota S.
Sekarang Chef itu dan seluruh stafnya, maupun asisten rumah tangga kita sudah Haris berhentikan sementara, kalaupun mereka akan bekerja lagi ke depannya, agar mereka lebih bertanggung jawab.
Jadi Haris minta ibu bersabar ya untuk memasakkan bagi Adek Diana dan Kirana.
Sebab khusus bagi Adek Diana maupun Kirana, memang secara khusus harus diperhatikan makanannya, menurut mereka yang sudah pernah berobat pada pak Maksum, nanti akan ada berupa pantangan makanan yang tidak boleh dimakan dari beberapa jenis tumbuh-tumbuhan, yang tentunya akan sulit kita jaga kalau harus membeli dari Rumah makan atau mendatangkan makanan dari hotel kita."
"Baiklah nak terima kasih kamu telah begitu sigap bergerak untuk segera bisa memberikan pengobatan terbaik pada Diana dan Kirana.
"Ibu apa yang Ibu katakan.? Kenapa Ibu harus berterima kasih ketika aku mengobati istriku sendiri.? Kita ini semua adalah keluarga, keluarga kita ini sedang menghadapi badai fitnah maka kita harus saling dukung."
"Iya Ibu percaya, tetapi apapun jenis badainya pasti akan berlalu. Nak izinkan Ibu memelukmu."
Ibu Diana segera memeluk Haris anak menantu yang dahulu begitu dia dan keluarganya benci ituk, tidak disangka anak menantu itu kini sudah lebih berharga dari emas permata dalam pandangannya, anak menantu itu adalah sosok penyelamat keluarga mereka.
Setelah itu Ibu dari Kirana juga ikut memeluk Haris dan menangis tersedu-sedu, sehingga sebagian pakaian Haris sampai basah karena air matanya.
"Mama...! Mama jangan menangis, yang Haris sampaikan itu adalah kabar gembira. Kenapa Mama menangis..?
Mama harus kuat, kita harus kuat dan tegar.
Kita harus tunjukkan bahwa keluarga kita tidak mudah untuk diganggu, apalagi untuk ditaklukan, kita berhak untuk bahagia tidak boleh ada yang melarang kita untuk itu."
"Ya Mama percaya itu nak Haris.Tapi tetap saja mau merasa bangga padamu, Mama berterima kasih padamu nak, tangisan ini adalah tangisan kebahagiaan.
Mama bahagia mendengar kabar baik yang Haris sampaikan "
__ADS_1
Anggota keluarga Haris juga sangat senang dengan kabar itu sehingga mereka sampai berpelukan, namun mereka juga masih menanti dengan harap-harap cemas.
Kedatangan pria yang disebut sebagai Pak Maksum itu, sangat diharapkan saat ini.