
Tiga hari yang begitu manis dan indah telah berlalu. Pagi ini Haris dan Kirana akan beranjak dari hotel Nurul Haris yang ada di kota P menuju rumah mertuanya di desa S dan akan berangkat ke kota S di provinsi lain.
Tujuan kepergian kali ini adalah untuk menghadiri undangan pernikahan Winda si GM Diana Beach Resort hotel.
Pagi ini penampilan Kirana cukup berbeda dari biasanya yang selalunya terbuka, kali ini dia tampil rapi dan elegan namun hal itu tidak mengurangi keanggunan dan keagungan parasnya yang cantik namun justru semakin membuatnya lebih menarik.
Dengan lift khusus para petinggi hotel, kedua pengantin baru ini turun dari lantai atas dan berjalan melewati Lobby hotel.
Rossa yang selama tiga hari ini takut untuk mengganggu, padahal sangat perlu melaporkan sesuatu, menghampiri dua pimpinannya itu.
"Bu' GM ada beberapa hal yang perlu ibu tandatangani."
Mendengar itu Haris menjawab
"Rossa..! Kamu sejak saat ini adalah GM Nurul haris hotel ini, Istriku ini sekarang adalah nyonya Haris bersama istriku Diana, mereka berdua adalah corporate owner.
Kamu adalah orang yang bertanggung jawab penuh, atas segala pelaksanaan yang terjadi di hotel ini sekarang, kamu atur semua bawahanmu dan bertanggung jawab penuh pada kami sebagai owner.
Kirana sayang, ada yang mau adek tambahkan.?"
"Ya suamiku tersayang, ada sedikit tambahan.
Rossa! kamu adalah orang yang dipilih langsung oleh suamiku kemaren untuk menjadi Assisten general manager mendampingiku, sekaligus orang yang langsung menjadi murid yang langsung berada dibawah didikanku, jadi tunjukkan kemampuanmu jangan kecewakan aku, selain itu kalau ada yang tidak kamu fahami, kamu masih bisa menghubungi aku, tetapi beban tugas dan jabatan GM Sekarang ada di pundakmu."
"Siap tuan!
Terimakasih bu Nyonya Haris, anda adalah guru saya, maka saya akan bertanya beberapa hal nantinya.
Terimakasih kepercayaan anda berdua."
"Ya bekerjalah dengan baik Rossa, ibu percaya dengan kamu."
"Baik bu."
"Ayo sayang....!"
Kirana memeluk pinggang suaminya dan dengan manja berjalan meninggalkan Lobby hotel di bawah tatapan tidak percaya para karyawati Front office dan karyawan lainnya yang masih saja terkejut atas segala apa yang terjadi, meski hal itu telah mereka ketahui sebelumnya.
Dengan mengendarai mobil sportnya, mereka berdua meluncur ke rumah mertua Haris yang ada di desa S, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai kesana.
Sesampainya di sana, Diana dan anggota keluarga lainnya sudah menunggu, kedatangan mereka sedari tadi.
Diana tersenyum manis melihat suaminya yang begitu gagah dan tampan, juga Kirana adik madunya yang tampak juga begitu manis, hanya saja kali ini wajahnya sedikit pucat.
Hal itu terjadi terkait dengan kegiatan kedua orang itu selama 3 hari belakangan ini, yang membuat mereka sering begadang sehingga kurang tidur.
"Kita berangkat sekarang, tapi mobil sport ini di desain hanya untuk dua kursi atau untuk 2 orang, sedangkan aku sedang tidak ingin berpisah dari dua istriku, jadi sebaiknya kita menunggu mobil yang akan di bawa oleh Very yang tadi sudah abang telepon, dia harusnya akan segera datang.
__ADS_1
Ayah dan ibu sama siapa dek..?"
"Ayah dan ibu sama adik Andri aja bang, adek Andri juga udah pas kok bawa mobilnya terus bibi juga sudah sama adik Nawir kak Yunita juga udah bisa naik mobil mereka sendiri yang dibawa oleh suaminya bang Roni."
"Wah kalau begini kan enak!
Semua bisa bawa mobil, nanti kedua istriku ini juga akan aku ajari bawa mobil.
Berarti sekarang hanya ada kita ya?
Baguslah kalau begitu.
Adek! Rencananya apa kado dan oleh-oleh buat Wina?"
"Nanti kita beli di sana ajalah bang, beli di kota S aja. Kita muter aja dulu ke kota, baru kemudian ke rumah tempat diadakannya pesta ini.
Lagian dek Kirana juga sampai lupa.
Nggak kepikiran pasti ya, beli kado untuk Wina?
Ya namanya juga orang lagi bahagia bahagianya, pasti lupalah, jangan-jangan dek Kirana juga lupa sama kakak yakan?"
"Nggak lho Kakakku sayang.
Kalau kakak mana mungkin Kirana bisa lupain, kebahagiaan yang hadir dalam hidup Kirana juga karena peran kakak, jadi pasti Kirana akan ingat sama kakak yang telah memberikan semua ini.
Sini sayang, bunda aja yang gendong ya!
Nurul putri Harispun menurut dan juga kelihatan dia juga terlihat sangat rindu kepada Kirana.
"Aduh.. Nurul juga rindu ya sama bunda, setelah ini bunda janji nggak akan pergi lagi ya sayang, nanti kita akan pulang sama-sama ke rumah kita ya sayangnya bunda..!"
"Iya Nurul, papa sama bundanya sibuk jemput adek Nurul tiga hari ini wkwkkwwk."
Diana menggoda suaminya dan adik madunya, tampak keduanya kini senyum senyum tak bertaburan, seperti raut wajah orang yang makan mangga muda.
"Oh ya bang, tadi bu dokter Sashmita nelpon. Katanya nomor abang nggak bisa dihubungi, bu dokter mau ngomongin masalah rumah sakit kita yang sedang dibangun itu.
Bu dokter melaporkan kalau rumah sakit itu lancar-lancar aja, nggak ada kendala dalam pembangunannya sedikitpun.
Semuanya berjalan mulus dan sukses, pemerintah daerah juga sangat mendukung, sebab bagaimanapun itu nanti akan di didedikasikan untuk melayani masyarakat.
Jadi menanggapinya adek bilanglah
Iya bu dokter, memang berapa hari ini abang mematikan HP-nya, karena sedang sibuk dengan kegiatan bersama GM Kirana, yang sudah sah menjadi istrinya.
Abang tahu ngak? bu' dokter sampai tergagap tadi, sampai bingung katanya dengar kabar itu.
__ADS_1
Ngak nyangka ya bu Kirana begitu beruntung, begitu kata dokter Sashmita bang.
Dokter Sashmita juga kecewa lho bang katanya, karena nggak diundang ke pernikahannya abang sama adek Kirana.
Adek katakan memang pernikahannya dibuat sederhana aja bu dokter, hanya dihadiri oleh keluarga.
Oh berarti saya yang terlalu mengharap, saya pikir saya ini sudah dianggap masuk dalam bagian keluarga kata dokter Sasmita tadi bang.
Terus adek minta minta maaflah jadinya, semua itu terjadi mendadak bu dokter, jadi bukan berarti ibu tidak dianggap sebagai keluarga, ini betul-betul mendadak sekali adek bilang.
Anehnya abang tahu ngak apa kata bu dokter selanjutnya? Kalau saya tahu pak direktur dan ibu memberikan kesempatan begitu, tentu saya juga mungkin berpikir kemarin untuk ikut berkompetisi.
Begitu kata dokter kan lucu bang...hahaha."
Ah... janganlah dek.
Abang tidak mau lagi. Cukuplah kalian berdua saja menjadi ratu dalam kehidupan abang ya..!
"Iya Kak jangan lagilah kak, kita berdua aja udah cukup."
"Iya sih dek, kakak juga berpikir begitu.
Hanya saja yang kakak nggak nyangka itu adalah ucapan dokter yang begitu...hahahaahh.
Suami kita ini sangat ganteng di mata wanita dek Kirana, kan Kirana juga sudah merasakan sendiri bagaimana tergila gilanya kemaren sama suamiku ini wkwkwkw dan juga ada banyak sekali penggemar gelapnya dek, makanya biar Kirana tahu, kalau kakak nggak ada Kirana harus menjaga suami kita ini dan kalau Kirana nggak ada, kakak juga akan mengikatnya supaya jangan diambil wanita lain hahahahh...!
Suami kita ini merupakan pria yang begitu menarik di mata banyak wanita.
Jadi kedepannya kita harus bekerja keras untuk menjaganya dek Kirana."
"Jangan takut kak, Kirana akan pastikan kalau ada wanita-wanita yang mulai coba coba mendekat, akan segera Kirana lemparkan jauh-jauh Hahaha...!
"Wah ternyata Kirana lebih posesif dari kakak tapi itu sangat bagus..wkwkwkw."
Kedua wanita itu terus bicara banyak hal, sangat terlihat kalau keduanya sebenarnya juga saling menahan rindu dan saling kehilangan tiga hari sebelumya.
Mereka begitu akrab begitu serasi, sangat jelas sekali bagaimana Diana sangat sayang dengan adik madunya ini
Haris membiarkan kedua istrinya itu saling berinteraksi dan memilih untuk diam serta memperhatikan kedekatan, yang timbul di antara kedua wanita itu.
Haris juga bingung kenapa keduanya sampai begitu dekat dan kompak serta saling pengertian seperti itu
"Apakah karena keduanya berasal dari tulang rusuk yang sama, yakni tulang rusukku? "
Pikir Haris dalam benaknya.
Dan dia tetap sepeti itu sambil menunggu Very datang.
__ADS_1