
"Wah pemandangan disini bagus ya Ris.
Hawa gunung yang sejuk, hamparan persawahan yang luas di pinggiran kota.
Tidak kalah menarik, susunan rumah yang ada di kota, juga tampak begitu indah terlihat dari sini."
"Kau tahu apa yang membuat pemandangan ini menjadi lebih indah teman?"
"Kalau itu aku tidak tahu Haris temanku, aku hanya tahu hasil yang sudah terpampang ini dan bukan prosesnya."
"Dahulu saat kita jauh masuk ke hutan dekat dengan perbatasan hutan lindung, bagaimana lagi cantik dan indahnya Man?
Air sungai yang berwarna biru, gunung yang menjulang tinggi, alam yang begitu indah semua itu jauh lebih indah dari apa yang kita lihat hari ini, tetapi kenapa keindahan yang sedikit ini tampak lebih indah dari semua itu?
Jawabannya tidak lain, karena hari ini ekonomi kita sudah aman dan terjamin.
Kita tidak lagi di kejar kejar kekhawatiran seperti saat itu, sehingga bahkan tidak sempat untuk menyadari, keindahan yang ada di sekeliling kita.
Coba ingat bagaimana besarnya ikan ikan jurung, yang dulu bisa kita temui kalau kita mau masuk ke kedalaman hutan itu.
Masih ingatkan sungai sungai kecil di hutan itu.?
Bahkan di sebahagian sungai kecil itu, tubuh ikan ikan jurung itu tidak bisa di tutupi oleh air karena begitu besarnya ikan dan dangkalnya sungai
Mau dibawa ke desa tidak memungkinkan, perjalanan yang jauh seharian dan tidak adanya es maka ikan akan busuk dan sayang.
Kalau mau bawa es kesana juga ngak mungkin karena ngak akan kuat, berjalan bawa badan saja sudah begitu berat karena medannya.
Misalkan di salehpun ngak akam bisa banyak, karena aromanya akan menyebar ke seluruh hutan sehingga akan memancing kucing kucing besar berbelang yang bernama harimau itu untuk turun gunung dan berdatangan hahahah."
"Ha ha tempat itu memang surga teman. Membayangkannya saja sudah terasa begitu indah, tapi keadaan kita saat itu memang begitu memprihatinkan ya?
Karena takutnya akan kelaparan maka harimaupun di hadapi hahah.
Tapi saat mula mula pertama kali berjumpa dengan makhluk berkumis itu yang paling seram wahhhh..... baru dengar suaranya saja sudah menggigil tulang Ris...wkwkwkwwkwkk."
"Ha..hahahahahah betul betul Man, si Jhon bahkan sampai mengompol di celananya Man...wkwkwkwk.
Yah semua orang tahu harimau itu menakutkan, tapi tahu saja tidak sama dengan merasakan langsung.
Seperti yang kau bilang Man, baru mendengar suaranya saja di hutan liar, dengan tubuh kita yang sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan harimau itu rasanya seperti menari nari di ambang kematian.
Apalagi kalau dia sudah menampakkan dirinya wahhh....
Tulang menggigil, di tengkuk ini sudah bisa terbayangkan bagaimana rasanya saat cakar tajam itu, mendarat dan merobeknya..
hahahhahaahh... benar benar mengerikan.
Coba kau bayangkan Man, monyet yang begitu jauh diatas kayu saja, saat harimau itu memandang dan mengaum padanya, monyet itu sampai menggigil dan terjatuh karena tidak bisa mengawal rasa takutnya.
Ingat tidak kau Man? saat kita melihat monyet yang jatuh hari itu, monyet itu datang bersimpuh sujud di hadapan harimau yang mengaum marah, harimau itu dengan keagungan dan kebesarannya menjilat si monyet itu, seolah memberi restu bagi kehidupan keduanya lalu pergi meninggalkannya."
__ADS_1
"Iya Ris, kau ingat saat kita menjala dan terus berjalan ke hulu, harimau itu akan berulang kali melintas lintas dengan menyeberang di hadapan kita sambil menunjukkan belangnya dalam jarak 10 meter."
"Ha..ha..ha..hah itu momen harimau minta bagian Man.
Orang orang di luar sana yang tidak pernah merasakan dan menyaksikannya langsung, pasti tidak akan pernah tahu kalau si raja hutan itu, akan meminta bagian miliknya, ketika harta di kerajaan miliknya di ambil.
Ingat ngak Man, pertama dia akan mengais ngais kayu dan tanah, sehingga berjatuhan dan hanyut ke tempat yang akan kita jala, begitu kita bicara kalau kita hanya sedang mencari nafkah, lalu melemparkan seekor ikan besar, maka sampai ke hulu tidak akan ada lagi gangguan.
Uniknya seperti kata teman teman yang sudah senior dari kita, harimau itu akan mengawal kita dari jauh, memastikan tidak adanya lagi gangguan dari harimau lain, yang datang mendekat
Yang sulit itu saat pertama kali datang kesana karena belum faham, kita ngak kasih bagiannya, maka dia akan mengaum lebih keras dan melintas lintas seperti pengawas, persis yang kau sebut itu Man.
Kita semua sampai sport jantung karenanya hahahahaahh."
Haris begitu bersemangat mengingat nostalgianya, ketika bersama kedua temannya saat berada di hutan.
"Ha hah.. Kau ingat ngak Ris, saat kita begitu asyik menyaksikan kekayaan alam yang ada di hutan itu, sehingga tanpa sadar begitu jauh masuk ke dalam hutan dan lupa memperhitungkan waktu, lalu saat malam haripun tiba...hahahahah
Mau naik ke pohon takut beruang yang suka mengoyak kulit kayu .
Ada pula si macan yang begitu sadis, tidak beradat sama sekali layaknya harimau.
Saat itu kita kumpulkan pohon dan dedaunan hutan, lalu membuatnya menjadi gubuk dadakan dengan bentuk seperti gunung.
Menyalakan api besar agar hewan hewan menjauh, namun si raja hutan malah datang menggosok gosokkan badannya ke barisan kayu yang kita dirikan sebagai penyangga dedaunan itu, sehingga hampir saja rubuh.
Badan si raja hutan itu terasa begitu hangat, saat terkadang bersentuhan ke kulit kita. Otomatis kita semua akan melompat beradu ke tengah, karena takut di lahap, jadi santapan makan malamnya hahahha."
Saat Haris dan Darman begitu larut dalam ceritanya, pemilik warung kopi puncak itu datang dan bergabung ke meja mereka.
"Oh tidak sama sekali tidak pak.
Kita hanya mengenang kepahitan masa lalu, yang justru terasa malah lucu dan indah saat ini haahah."
"Saya jarang melihat adek berdua disini tidak seperti teman teman yang lain."
"Oh ya? Tampaknya kami harus sering sering kemari ya pak siapa...?"
"Edi panggil saja Edi dek, ngak usah bapaklah heheeh.
Panggilan bapak itu kalau di lapangan terasa hambar ngak akrab."
"Oh begitu ya bang Edi?"
"Iya dek siapa, saya pun belum tahu namanya."
"Ah ya... kita belum berkenalan, perkenalkan saya Haris bang Edi."
"Kalau saya Darman bang!"
"Ya! beginikan jadi enak sudah tahu nama masing masing."
__ADS_1
"Jadi bang Edi, sudah lama jualan disini bang?
"Wah kalau itu sudah lumayan jugalah dek Haris, ya dibilang lamapun belasan tahunlah."
"Jadi abang dapat lahan ini darimana bang?"
"Dari mimpi dek Haris?"
"Lho kok dari mimpi? haahah
Maksudnya bagaimana sih bang."
"Maksudnya ya, semua pedagang yang ada disini, karena memang punya mimpi ingin berdagang begini dek Haris.
Kalau yang adek Haris maksud status tanah ini, ngak ada yang jelas ini dek statusnya, yang jelas kita disini dikutip bayaran, apa ya istilahnya? uang keamananlah."
"Oh begitu ya bang, tapi memang amanlah ya bang?"
"Ya aman aman begitulah dek, namanya juga di lapangan yang sakit itu kalau pas kitapun belum ada pemasukan, lalu mereka datang mengutip.
Wahh ngak ada harganya kita dek, anak anak ini akan mengamuk sejadi jadinya, dagangan kitapun disepakkannya."
"Oh begitu pulak ya bang?"
"Begitulah dek namanya hidup, Semuanya bakalan kena.
Dimanalah yang ngak kena coba?
Bertani dimakan burung
Beternak dimakan biawak
Berkebun dimakan monyet
Kerja jadi bawahan dimakan atasan
Jadi ya jalanin ajalah, sampai dimana sih kalau yang hidup ini."
"Itulah cerita kami tadi bang, saat menjala di hutan saja harus setor bagian ke Harimau, kalau ngak, bakal di ikutinya kita kemanapun, kalau di tengoknya ngak faham faham juga, yah bakal di telannyalah kita hidup hidup...haha"
"Oh patutlah seru kali tadi kutengok....he..heh.."
Saat ketiganya asyik mengobrol, sebuah mobil masuk ke pelataran warung kopi di puncak itu.
" Wah masuk langganan elit ini bang."
"Apanya elit dek Haris?
lintah darat semuanya ini, cari yang gratis.
Menang gaya aja ini.
__ADS_1
Menganggarkan bapaknya aja yang jadi pejabat, inilah satu harimau yang kita bahas tadi dek Haris, ya sudahlah abang pergi dulu ya, mengaum pulak dia nanti."
"Ha.haha oke bang!."