Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _115 : Kabar yang kurang sedap


__ADS_3

"Abang itu siapa sih dan orang mana Bang Budiman..?"


"Oh Abang itu dulu salah seorang guru honor di sekolah dekat sini Kak, Tapi dulu Abang itu orangnya susah lho, susah sekali malah hidupnya.


Saya tahu betul, karena sering juga kerja jadi kernet kerja bangunan di sekolah itu, kalau ada yang mau di rehap.


Kita malah lebih mapan lho kak dari Abang itu dulunya.


Mereka para guru disitukan honornya cuma Rp 300-an ribu/bulan, tapi Aku juga heran entah dari mana kok sekarang Abang itu jadi begitu kayanya Kak, setelah berhenti mengajar beberapa tahun dari tempat itu


Harga mobilnya saja miliaran begitu, Bang Mardan saja nggak sanggup beli mobil seperti mobilnya, malah kemarin-kemarin Bang Mardan ditawarin untuk meminjam mobilnya, karena anak Bang mardan itu suka sekali dengan mobil-mobil mewah.


Kenapa rupanya Kak..?"


"Iya enak sekali kalian Bang Budiman, kalian dapat rezeki nomplok awak malah nggak dikasih tadi."


"Oh mungkin Abang itu melihat Kakak inikan Bos, sudah ada usahanya bagus begini, Kakak juga tadi enggak minta pula. Makanya abang itu enggak kepikiran buat ngasih."


"Iya tapikan Abang tahu sendiri, usaha ini jugakan cuma sewa Bang Budiman dan lagi Abang tahu sendiri bagaimana pendapatannya juga bukannya banyak, apalagi belakangan ini terus sepi."


"Ya Kakak tadi nggak minta, sampai Abang itu pergi dari sini. Tapi sepertinya Abang itu belum pergi deh, masih di depan rumah makan itu nunggu kawannya yang seperti mengangkat-ngangkat makanan gitu.


Kakak minta saja kesana.."


"Ah enggaklah Bang Budiman, nggak beranilah."


"Kakak mau biar aku mintain...?"


"Emang Abang berani...?"


"Ya sudah Aku coba dulu ya Kak, Aku pergi dulu kesana."


Rasa kebersamaan dalam diri Budiman mendorongnya untuk memberanikan diri membantu memintakan untuk wanita tempat dia sehari-harinya bekerja mencuci kendaraan tersebut.


"Bang...Bang Haris..!"


"Iya.! Oh kamu lagi Budiman, ada apa Budiman, Apa ada yang tinggal..?"


"Nggak Bang ini Bang, kakak pemilik kedai yang disana itu, dia sedihlah Bang kami semua dapat uang, sedangkan dia tidak dapat.


Karenakan kakak itu juga, nyewanya itu bang tempatnya, terus kedainyapun belakangan ini sunyi, yang nyucipun akhir akhir ini jarang ada, jadi cukup sedihlah dia tadi Bang."


"Oh ya...? Abang mana tahu, Abang kirakan dia Bosnya disitu, nanti dikasih uang malah tersinggung gitu sih pikiran Abang, tapi ternyata malah sedih begitu ya..? Ya sudah nih kamu kasih Rp 5 juta juga sama kakak itu, bilang mudah-mudahan berkah ya."


"Iya Bang... iya Bang Terimakasih ya Bang."


"Ya sama-sama, Oke ya Budiman sudah selesai nih urusan orang Abang, sekarang Abang mau pulang ya.


Baik-baik kerjanya, duitnya dikasih sama Adek yang di rumah jangan dibuat jadi modal judi."


"Nggaklah Bang aku mana kenal aku judi Bang. Enggak tahu aku main main judi dari dulu Bang."


"Syukurlah, memang bagusnya nggak usah tahu yang begituan, jangan coba-coba belajar judi.


Nanti-nanti kalau jumpa Abang kasih lagilah kau Budiman, kitakan sudah kenal lama sedangkan orang yang enggak kenal saja Abang kasih, nanti Abang kasihlah kau secara khusus buat modal, bakal terkejut kau nanti jumlahnya hehehe"


"Iya Bang..iya Bang Makasih ya Bang Haris, panjang umur Bang Haris sehat selalu."


"Iya sama-sama kita panjang umur biar masih bisa jumpa lagi.


Ini kau do'ain juga Budiman, Abang ini kawan Abang namanya Darman, seorang Bos juga ini di perkebunan sawit mana tahu Kau atau ada saudara nanti mau kerja sawit bilang saja sama dia."


"Iya bang Haris. Kenalkan Bang saya Budiman."


"Wah sama ya ujung namanya Man, Darman dan Budiman hehehe..."


"Iya Bang Darman."


"Ya sudah ya Budiman, orang Abang pulang dulu ya."


"Iya Bang Haris iya, hati-hati di jalan Bang."


"Ya, terima kasih Budiman."


Haris bersama Darmanpun meninggalkan lokasi wisata alam yang merupakan tempat keberadaan Rumah makan Mardan berada.


Merekapun pergi kembali menuju ke desa tempat tinggalnya.


Dengan senyum yang mengembang Budiman kembali ke kedai pemilik usaha doorsmeer tempatnya bekerja.


"Sukses Kak, berhasil.


Abang itu titip salam mudah-mudahan katanya uangnya berkah."


"Wah sukses bang Budiman..? Terima kasih ya Bang Budiman Aduh bang Budiman baik sekali."


Abang itu juga, luar biasa sekali kebaikannya.


Semoga umurnya panjang, hidupnya berkah dan juga sehat selalu."


"Iya Kak, memang baik Sudah jarang dan sudah langkalah manusia seperti itu, ini ya Kak uangnya Rp 5 juta sama dengan yang lain."


"Aduh syukur sekali, mimpi apa aku tadi malam, sehingga berjumpa dengan manusia berjiwa malaikat seperti itu...?"


"Iya Kak, benar sekali."


Kali ini kebahagiaan terasa lengkap di tempat itu, karena semua orang sudah mendapatkan uang yang menjadi impian banyak orang.


"Bu saya permisi ya, jadi seperti biasa besok saya titip lagi aja kuenya ya Bu."


"Iya Bu nggak apa-apa dan Ibu jangan lupa kedai yang disebutkan Abang tadi, ada dua kedaikan lumayan lho sudah ada hasil pasti setiap bulannya 6 juta."


"Iya terima kasih juga buat Ibu, ini semua berkat saya nitip kue disini, sehingga bisa kenal dengan Masnya itu dan bisa berjumpa dengannya.


Maka akan saya pertahankan nitip kue disini selama masih di izinkan."


"Boleh-boleh kok Bu' tapi seperti yang kita bahas tadi, dikurangi saja jumlahnya."


"Iya ..iya Bu'.


Permisi semuanya."


...----------------...


[Mendatangi Rumah Jhon]


" Assalamu 'alaikum."


"Wa 'alaikum salam warahmatullah.


Wah si Bos ada kabar apa nih datang tiba-tiba begini...?"


"Si Bos lagi, sama aja kau Jhon dengan si Darman Bas Bos terus manggilnya.


Begini John nanti malam rencananya kita mau buat acara makan bersamalah di rumah.


Saat ini sedang ada Papa mertua Aku yang lagi datang dari kota K, jadi seperti merayakan kedatangan merekalah.


Darman dan juga bapak ibu mertua beliau ini juga datang nanti malam, kau datang jugalah John, sekalian bawa jugalah bapak dan ibu mertua, supaya kita rame-rame di sana.


Maksudku nanti malam kita sekalian manggang-manggang ikan sama ayam. Kaukan jago urusan panggang memanggang Jhon, Kaulah harapan nih buat manggang."


"Oh aman itu Bos."


"Oke mantap.


Nah kami tadi dari Rumah makan Bang Mardan beli lauk buat persiapan nanti malam, selain yang mau dipanggang itu ada juga disediakan yang sudah masak, itulah yang kami beli tadi, dari hotel juga bakal datang nantinya.


Nah yang ini buat kau Jhon kita belikan juga tadi, buat lauk makan sore inilah ceritanya. jangan lupa berikan juga beberapa bungkusan yang ini nanti sama mertuamu, waktu ngantar lauk ini nantinya, sekalian jugalah Kau undang mertuamu waktu ngasih lauk ini nanti Jhon..!"


"Iya Bos siap Bos.."


"Teringatnya Jhon besok si Darman sudah mau pergi ke showroom nih sama Very atau Nando buat beli mobil, Kau sendiri bagaimana Jhon, sudah bisa belum bawa mobilnya...?"


"Masih belajar Bos, masih kaku dan perlu waktu lebih banyak."


"Hmm, jadi nanti kapan bisanya saja baru kita beli mobilnya...?


Jadi kalau Bos Darman lebih dulu beli mobil, jangan nanti kau heran atau bertanya-tanya ya Jhon.


Atau sekalian saja kalian sama-sama beli mobilnya supaya semakin Semangat belajarnya, bagaimana...?"

__ADS_1


"Nanti-nanti sajalah Bos biar lebih mahir dulu."


"Baiklah kalau memang begitu yang jelas kau sudah tahu, jadi jangan ada salah faham nanti.


Sudah ya kami pergi ya."


"Ya oke Bos."


"Jangan lupa nanti malam datang oke..!"


"Oke, aman itu Bos.


Jangan oke-oke aja, nanti nggak ada yang manggang, kalau kau nggak datang Jhon."


"Siap, siaplah Bos tenang saja, Kami sekeluarga bakalan datang kok.


Mana berani nggak datang kalau sudah Bos yang kasih perintah hehe."


"Syukurlah kalau begitu, Aku juga mau mengantar ini, Bos kita si Darman sampai ke pintu rumahnya."


"Ha..ha...ha..hahahh."


Tawa renyah dari si Darman dan juga John meledak seketika di tempat itu.


"Kapan lagi Bos besar yang ngantar begini ya nggak Jhon..?


"Iya... iya betul Man hahahah."


Setelah Darman dan si Jhon berbasa-basi, dengan cepat Haris kemudian mengantarkan Darman ke rumahnya."


Selesai mengantarkan Darman Harispun kembali ke villanya, para pengurus Villa yang ada di rumah itupun kemudian mengurusi ikan dan berbagai lauk lainnya yang di bawa oleh Haris.


"Eh abang sudah datang.


Masih ada lauknya Bang..?"


"Ada masih ada kok, masih banyak malah.


Tadi waktu kami datang ke sana. Adek Kirana nggak mau makan sekarang..? Acara makan malamnyakan masih lama..?"


"Enggaklah Bang. Kirana lagi belum selera mau makan, nanti saja rame-rame makannya."


"Oh ya sudah, kok istri Abang makin cantik ya..? makin bercahaya wajahnya. Apa karena hamil itu ya..?"


"Iya biasanya sih memang begitu Bang."


"Kok biasanya, memangnya dek Kirana sudah biasa hamil..?"


"Eggak begitu maksudnya Bang, orang-orangkan pada cerita begitu lho maksudnya Bang.


Mama juga bilang memang begitu jadi cahaya si dedek yang belum berdosa itu membuat wajah si ibunya makin berseri begitu katanya, tapi nggak tahu juga sih."


"Oh begitu..? jadi pengen mencium nih Abang."


"Ya sudah yang mau diciumpun nggak keberatan kok Bang."


"He..he..he istri Abang yang satu ini memang paling bisa deh."


Baik Haris maupun Kirana begitu dikejutkan dengan kedatangan Diana, yang datang secara tiba-tiba.


"Memang yang satu lagi nggak bisa Bang..?"


"Lho Adek Diana, dari mana..? Abang sampai terkejut nih."


"Abang belum jawab, memang istri yang satu lagi nggak bisa..?"


"Bisa dong. Hanya saja tadikan masih Adek Kirana sendiri yang ada disini. Karenanya kata-katanya begitu Abang pilih, kalau istri Abang si Diana yang cantik sudah ikut ada disini, jadi Abang bilangnya 'Memang istri Abang Yang dua ini, paling bisa deh.'


Kan jadi begitu."


"Ha..ha..hah."


Baik Diana maupun Kirana tertawa terbahak-bahak mendengar alasan dan jawaban dari Haris.


"Sudah ah, baru datang juga Abang sudah seperti di interogasi begini."


"Haris pergi berlalu meninggalkan keduanya yang masih dalam keadaan tertawa.


"Tuan..!"


'Ya ada apa Puspa..?"


"Tadi temen-temen yang bertugas di hotel mengatakan, ada dua orang pria yang gerak-geriknya sangat mencurigakan datang dan menanyakan banyak hal tentang Tuan, melihat hal itu para penjaga kita yang ada di sana, kemudian meringkus orang-orang itu dan menyerahkannya pada para penjaga yang ada di kantor ekspedisi Tuan.


Bagaimana menurut Tuan..?"


"Itu sudah bagus. Wah ternyata orang-orang itu juga sudah datang ke hotel berarti ya, biarkan saja mereka dibawa kesana, katakan pada para pengawal kita yang ada di kantor Ekspedisi, supaya menginterogasi kedua orang itu di gudang baru milik kita, sekalian konfrontasikan kepada Albert.


Kita akan lihat apakah Albert mengenal sosok-sosok mereka."


"Baiklah Tuan."


"Kamu tidak ada membicarakan hal ini kepada kakakmukan Puspa..?"


"Oh tidak ada Bang."


'Bagus.! biarkan mereka tenang seperti biasanya, seribut apapun keadaan di luar sana, jangan sampai mereka merasa terganggu, fahamkan maksud Abang..?"


"Iya faham Bang..!"


"Nah, pantau dan simak terus apa yang terjadi di sekeliling kita, paling utama terus berhati-hati jaga keamanan di sekitar kita."


"Iya Bang baik Bang.


Oh ya Bang..! Tadi ada tiga orang lagi pengawal datang dari Ekspedisi, apakah mereka Abang yang panggil...?"


"Tidak, mungkin Nando dan juga Anton serta David yang punya inisiatif itu karena kita nanti malam ada acara, mungkin mereka merasa perlu untuk menambah personil penjagaan.


Kalian juga jangan ragu bertindak, kalau kira-kira ada orang yang mencurigakan kaliankan tahu betul siapa-siapa orang-orang yang memang sudah kita kenal, kalau ada orang baru kemudian alasannya juga tidak jelas lalu bertanya-tanya banyak hal, amankan saja dulu."


"Baik Bang."


"Ya sudah, nanti Kakakmu menjadi curiga kalau ada hal-hal yang sangat membahayakan, kalau kamu terlalu banyak bercerita di sini sama Abang."


"Ya baik Bang, Puspa akan pergi."


"Ya sampaikan juga pada Wulan supaya lebih berhati-hati, utamanya perketat penjagaan terhadap kakakmu."


"Iya Bang, siap Bang."


"Kalian berdua sehat-sehat sajakan Puspa, tidak ada hal-hal yang mengganggu pikiran kalian bukan..?


Jangan lupa lho di luar tugas penjagaan, kalian juga harus hidup normal.


Bagaimana dengan para penjaga pria yang baru itu..?


Apa belum ada yang senyumnya bisa menarik perhatian dan keinginan kalian...?"


"Ah Abang mulai lagi deh, sudah ah Puspa pergi."


Puspa lalu berlari dalam keadaan wajahnya merona menahan malu.


Haris tertawa melihat tingkah laku pengawal istrinya itu.


Haris melanjutkan langkah kakinya berjalan menelusuri tiap sudut dari lokasi villanya yang cukup luas itu, sembari berpikir dan mencoba mencerna informasi yang baru saja disampaikan oleh Puspa kepadanya.


"Sistem..! Apakah kau tidak menemukan sesuatu tentang orang orang itu..?"


[Sistem]


"Nanti setelah orang-orang itu dipertemukan dengan Albert maka saya akan bisa melacaknya Tuan.


Sebab ketika mereka nanti berbicara kepada Albert, sistem komputer yang sudah kita tempatkan bersama Albert, bisa menjadi akses bagi sistem untuk masuk Tuan."


Baiklah, tapi terkait nomor telephon yang kita dapat dari orang-orang yang menyerang kita tadi di perkebunan, Apakah kamu tidak menemukan sesuatu..?"


[Sistem]


Ya, sistem menemukan kalau nomor nomor itu pernah melakukan kontak dan terhubung dengan nomor dan komputer si Marlon yang sudah tewas itu Tuan.


Artinya memang telah ada beberapa orang yang sengaja dibayar oleh Marlon untuk memburu kita di sini, melaui komputernya di lokasi persembunyiannya yang berada di kota S."

__ADS_1


Baiklah terus pantau mereka sistem, kita akan hadapi seberapa banyakpun jumlah para begundal-begundal suruhan dari si Marlon itu."


[Sistem]


"Baik Tuan.


Tuan ada misi baru Tuan.!"


Wah sudah lama tidak ada misi, rindu juga dengan hadiah sistem.


Misi apa kali ini sistem..?"


[Sistem]


Sebenarnya misi ini sudah merupakan niat dan pemikiran lama bagi Tuan.


Yakni misi untuk membentuk satuan pengamanan yang terdiri paling tidak dari 100 orang, untuk misi ini sistem juga memberikan biaya tak terbatas, agar misi ini bisa segera sukses secepatnya bisa dilaksanakan."


"Oh ya kebetulan sekali memang itu yang kita perlukan saat ini.


Kau memang selalu yang terdepan Sistem."


[Sistem]


Tuan bisa saja, justru sistem hanya terpicu dengan pemikiran dan perasaan yang Tuan alami.


Sehingga terwujudlah misi ini."


"Baiklah kalau begitu nanti aku akan menghubungi Wilson, untuk menanyakan lebih lanjut sistem, tentang hal ini dan mencari apa yang kita butuhkan."


[Sistem]


"Ya Tuan, terserah bagaimana strategi Tuan saja."


"Oh ya sistem, kau masih terus memantau kondisi dan perputaran uang kita yang ada di kaya dan Jaya Bersama grup serta yang ada di sejumlah hotel-hotel kita yang adakan..?


Jangan hanya terlalu fokus pada uang kita yang beredar di perkebunan dan perkapalan saja."


[Sistem]


"Semua itu mudah Tuan.


Gampang saja bagi sistem untuk mengendalikan semuanya.


Tuan tenang saja Tuan. tidak perlu khawatir tidak akan ada yang bisa mencuri dari kita."


"Wah lagi-lagi kau yang paling bisa diandalkan sistem, aku akan merasa lebih tenang kalau begitu."


[Sistem]


"Kenapa Tuan belum pernah memakai mobil hadiah sistem yang telah sistem berikan Tuan."


"Tadinya aku juga sempat mau memakai itu ketika hendak pergi ke rumah makan Bang Mardan Sistem.


Tapi aku pikir-pikir itu terlalu menyolok sistem, mungkin ada saatnya yang tepat nantinya saat Aku akan memakainya."


[Sistem]


"Baik Tuan.


Tuan.! Baru-baru ini saya memantau Albert sudah menjalankan apa yang dia janjikan sebelumnya Tuan.


Dia sudah mengurus segala sesuatunya di pertambangan, untuk menarik uang milik Marlon. Sepertinya tidak lama lagi tuan Prawirawan yang diwakili Mr Lim, akan segera melakukan pembicaraan dengan Tuan untuk menanamkan saham di sana, menggantikan si Marlon.


"Baik itu juga good news Semakin banyak kita menjalin kerjasama dengan orang lain, maka akan semakin besar kerajaran bisnis kita dan juga semakin banyak jaringan bisnis yang bisa kita ikuti."


[Sistem]


"Benar Tuan.


Benar sekali, sistem akan terus membuat Tuan menjadi orang paling kaya paling sukses dan paling berjaya."


Jangan lupa juga sistem, Paling bahagia..ha..hahah."


[Sistem]


"Itu misi utamanya Tuan.


Jangan khawatir makanya sistem tidak akan rewel tentang berapapun uang yang Tuan keluarkan untuk membantu orang lain, selama Tuan bahagia dengan hal itu, sistem akan terus mendukung.


Tapi kenapa Tuan hanya memberi kenalan dan teman Tuan bernama Budiman itu Rp 5 juta Tuan..?"


"Iya aku sengaja berbuat begitu sistem, Kamu mungkin tidak pernah merasakan bagaimana terkejutnya ketika mendapat uang di saat-saat kita sudah terbiasa tidak punya uang sistem, Kamu ingat dulu saat Kamu berikan Aku uang Rp500 ribu untuk pertama kalinya saat kita pertama sekali Kita bertemu...?


Itu cukup mengguncang bagiku. Aku begitu bahagianya, mungkin kalau kau kasih Aku saat itu Rp 5 juta jantungku bisa putus dan berhenti berdetak, itulah yang Aku khawatirkan sehingga Aku memilih memberinya sejumlah itu lebih dahulu.


Hal itu agar si Budiman itu tidak terlalu terkejut, beda halnya dengan orang-orang yang memang sudah punya bisnis punya usaha, ketika dibantu disuntik dengan dana yang cukup banyak, mereka tidak lagi begitu terkejut dengan nominal uang yang lumayan banyak.


Walaupun terkejut tidak begitu dahsyat sehingga sampai merusak kesehatan si penerima."


[Sistem]


"Baiklah Tuan. Terserah Tuan saja, tugas sistem hanya memastikan Tuan agar Tuan menjadi orang yang bahagia."


"Terima kasih ya Sistem."


[Sistem]


"Tuan tidak perlu berterima kasih, kebahagiaan Tuan adalah kebahagiaan sistem juga, kesusahan Tuan adalah kesusahan sistem, hidup matinya Tuan juga adalah hidup matinya sistem.


Apa Tuan sudah lupa hal itu...? dimana kita sudah saling terikat satu sama lain."


"Ya tetap saja Aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu sistem, walaupun memang kenyataannya begitu."


[Sistem]


"Kalau begitu sistem juga berterima kasih kembali kepada Tuan."


"Iya itu memang sesuatu hal yang baik ha..ha..ha.."


Suasana hati Haris begitu cair dan tidak tegang serta kaku, meski telah mendapatkan berita yang kurang sedap dari Puspa soal peristiwa yang terjadi di depan hotel Nurul Haris miliknya yang ada di kota P.


Haris berjalan menuju sebuah bangunan menara lalu memasukinya. Bangunan itu merupakan menara pandang dimana dari ketinggiannya Haris bisa melihat ke seluruh sudut penjuru desa yang ada di tempatnya, karena memang bangunan-bangunan di desa itu sangat jarang sekali yang bertingkat dan kalaupun ada itu hanya sedikit dan terbatas pada tingkat satu saja sehingga itupun masih belum bisa menghalangi pandangan dari ketinggian Haris memandang saat ini.


Dari sana Haris bisa melihat di kejauhan para petani telah kembali dari sawah dan kebunnya masing-masing.


Mereka berjalan beriringan di jalan Raya desa tetsebut, sebagian mereka semakin dekat dengan jarak pandang Haris.


Tampak oleh Haris para petani ini berjalan sambil bercengkrama bercerita dan sesekali tertawa menunjukkan bahwa sebenarnya kebahagiaan itu bukanlah hanya milik orang-orang yang berharta saja.


"Sistem senang rasanya melihat senyum-senyum bahagia itu terus terpancar dari wajah-wajah semua orang.


Ingin sekali rasanya Aku untuk bisa selalu memastikan agar senyum itu bisa bertahan lebih panjang dan lama serta tidak memudar.


Aku jadi berpikir bagaimana caranya untuk membahagiakan orang-orang itu."


[Sistem]


Tuan..! Tuan saat ini punya kelebihan dalam hal harta, karenanya Tuan bisa membahagiakan mereka dengan banyak-banyak berbagi. sebab hal itu sama sekali tidak akan mengurangi harta dan juga kekayaan Tuan."


"Ya itulah yang sedang Aku pikirkan sistem, selama ini aku baru bisa berbagi minuman gratis di desa ini, sungguh sangat tidak seberapa memang beda sekali dengan apa yang Aku lakukan di desa P, Desa Kelahiranku dimana Aku sudah membuat usaha dan juga memberikan lahan maupun memperbaiki rumah-rumah warga.


Apakah menurutmu hal yang sama harus kita lakukan di sini sistem..?


Tapi sepertinya hal itu sangat sulit, mengingat Desa ini sendiri tidak sama seperti desa di tempatku yang memang sudah welcome dengan diriku, yang memang berasal dari mereka juga.


[Sistem]


"Sistem rasa tidak ada seorangpun yang menolak kebaikan Tuan.


Tuan pasti bisa melakukannya.


Saat ini mungkin yang paling perlu dan mendesak Tuan pikirkan adalah, bagaimana caranya agar usaha mereka semakin bagus, lalu kemudian soal tempat tinggal itu bisa menyusul. kita lakukan seperti apa yang Tuan berikan di desa Tuan."


"Baiklah sistem, kalau begitu aku akan memikirkan cara yang terbaik."


Harus memandang ke seluruh sudut Desa, matanya disejukkan dengan hijaunya daun pepohonan dan dedaunan padi yang mulai berkembang setelah beberapa bulan ditanami oleh warga.


Haris sangat bersyukur dengan pemberian yang Maha kuasa, sejenak dia menatap ke langit yang begitu luas dan dirinya hanyut dalam kebesaran dan ke Maha kuasaan sang Pencipta.


Hari kemudian perlahan menjadi semakin gelap, setelah matahari tak lama terbenam.

__ADS_1


Haris turun dari menara, kemudian masuk kembali ke dalam Villanya.


__ADS_2