Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _147 : Hari yang indah bagi Shasmita dan Haris


__ADS_3

"Sebenarnya ada apa sistem.? Tadi aku mendengar bunyi notifikasi tapi tidak mendengarkan apa-apa lagi setelah itu, selain hanya suara notifikasi yang berbunyi 'Ting' yang biasa kau keluarkan itu."


[Sistem]


"Ya tadi ada misi yang terpicu Tuan, tapi sistem khawatir hal itu mengganggu konsentrasi Tuan saat sedang memberikan pengobatan, karenanya sistem merasa hal itu bisa disampaikan nanti saja.


Namun berhubung karena Tuan sudah menanyakan hal itu saat ini, maka akan sistem jelaskan.


Sebenanrya ada misi khusus yang terpicu dari sub sistem pengobatan milik Tuan.


Ada seorang wanita tua yang merupakan petani yang sangat miskin, tapi punya semangat hidup yang sangat kuat, dimana saat ini suami dari petani miskin itu sedang menderita sakit yang parah, berupa penyakit gula yang cukup akut Tuan. Misi kali ini adalah misi untuk menyembuhkan suami petani miskin itu dan juga membantu ekonomi keluarganya.


Soal poin hadiah sistem, akan disebutkan nanti setelah misi berhasil."


"Oh Ternyata begitu, aku sempat khawatir tadinya dan merasa cukup gelisah dan tidak enakan, itu sebabnya aku buru-buru permisi dari kediaman orang tua Jenderal Gunawan. Aku sempat mengira kalau itu adalah pertanda bahaya tadinya sistem."


[Sistem]


"Tidak Tuan. Tidak seperti itu dan Tuan sudah tahu dari apa yang sudah sistem jelaskan barusan alasannya pada Tuan."


"Ya itu benar sistem, jadi terkait misi itu, ke arah mana kami harus pergi mencari petani itu."


[Sistem]


"Setelah melewati ruas jalan ini, nanti di depan sana ada persimpangan jalan. Tuan sebaiknya berbelok ke arah kanan dan meneruskan perjalanan menelusuri jalan lurus itu beberapa meter ke depan, lalu masuk ke jalan tanah yang merupakan jalan menuju area persawahan pada sisi kiri yang pertama dapat .


Disana nanti Tuan akan menemukan sosok petani itu, selebihnya Tuan harus mencari sendiri."


"Oh begitu rupanya, oke lah sistem, untuk saat ini kita cukupkan sampai di sini pembicaraannya, aku akan menjalankan misi ini sekarang."


[Sistem]


"Baik Tuan. silakan Tuan."


Haris lalu kembali fokus pada jalan yang ada di depannya, setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan sistem. Shasmita yang merasa heran ke mana arah tujuan mereka sebenarnya, mulai bertanya.


"Sebenarnya kita mau ke mana sih Bang..? Apakah proses pengobatan orang tua Jenderal Gunawan begitu melelahkan Abang..? Seharusnya Abang tidak terlalu banyak mengeluarkan hawa murni tadinya, sehingga Abang tidak harus merasa begitu kelelahan."


"Eh tidak. Tidak seperti itu kok dek Shasmita. Sebenarnya Abang sedikitpun tidak merasa kelelahan, bahkan dalam proses penyaluran hawa murni tadi itu, tidak ubahnya seperti bernapas saja bagi Abang.


Abang mengatakan begitu tadi pada Jenderal Gunawan, hanya karena Abang ingin segera pergi dari sana saja.


Bagaimanapun ini adalah hari pertama setelah kita menikah bukan..? Abang tidak ingin Adek merasa terlalu bosan dan terganggu, sehingga Abang bermaksud membawa dek Shasmita, berkeliling menghabiskan banyak waktu bersama.


Selain itu, Abang ini orangnya sangat senang membantu orang lain, Abang mendengar informasi dari seorang teman, kalau ada petani yang sangat miskin di daerah ini, tapi suaminya saat ini sedang sakit. Nah sambil berkeliling tidak ada salahnya bukan, kita sempatkan mencari keberadaan petani yang kesulitan itu untuk membantunya..?


Apakah dek Shasmita merasa keberatan dengan perjalanan kita ini..?"


"Oh tentu Shasmita tidak akan merasa keberatan begitu Bang. Malah Shasmita merasa sangat bahagia rasanya, menaiki sepeda motor dan bisa memeluk Abang dari belakang seperti ini, apalagi sambil menelusuri jalan persawahan begini sungguh menyenangkan.


Enak juga ya bang udaranya segar, pemandangannya bagus, di depan sana ada barisan bukit yang sangat menyejukkan mata saat memandangnya.


Selain itu pikiran kita juga menjadi fresh begini, komplitlah pokoknya."


"Itulah yang Abang harapkan tadinya, dimana perjalanan ini bisa membawa kesan yang menyenangkan dan juga menyegarkan pikiran kita.


Syukurnya istriku yang cantik ini juga merasa begitu. Sepertinya setelah tikungan di depan itu, kita akan keluar dari jalan raya dan tentu jalanannya akan semakin rusak. Ayo yang kuat berpegangannya dek Shasmita, jalan di depan kita itu mungkin akan banyak berlubang."


"Jangan takut, Shasmita akan memeluk Abang lebih kuat, bila jalanannya makin rusak hi..hi."


"Ya harus kuat dong, bagaimanapun kita ini masih pengantin baru lho..ha..hah."


"Ah, Abang bisa saja."


Benar saja setelah memasuki jalan persawahan persis setelah Haris berbelok di tikungan sebelah kiri, sepeda motor Haris mulai memasuki area persawahan yang jalanannya penuh dengan lubang, layaknya kubangan itu.


Namun hal itu tidak mengurangi kebahagiaan keduanya, malah mereka sangat terhibur dan tertawa lepas, manakala sepeda motor mereka sedikit berguncang karena masuk ke salah satu lubang kecil di jalanan itu, yang memang sangat susah dan hampir mustahil untuk dihindari semuanya, dalam rangka mendapatkan jalan yang lebih baik.


"Waduh mimpi apa kita semalam ya dek Shasmita..? kita kok bisa sampai ke kubangan-kubangan ini sekarang."


"Iya Bang. Perasaan Shasmita tadi malam itu tidurnya pulas lho, nggak ada mimpi-mimpi sama sekali, bahkan Abang tahu sendiri kita sampai terlambat kan, ke rumah orang tuanya Jenderal Gunawan.?


Hi..hi.. Ini akan menjadi pengalaman dan kenangan tersendiri bagi kita. Siapa yang menduga kalau kita akan sampai di tempat ini berdua, tanpa kehadiran Kak Diana dan juga Kak Kirana Bang..?


Mungkin kalau Kak Diana dan Kak Kirana ikut, mereka tidak akan berhenti mengoceh karena rusaknya jalan ini ha..hah."


"Iya itu benar sekali dek, apalagi kakakmu Kirana yang paling bawel diantara mereka berdua."


Shasmita merasa begitu bahagia dan merasa menjadi punya bagian tersendiri di hati Haris suaminya.


Shasmita kemudian mengeluarkan smartphone-nya dan merekam suasana perjalanan mereka.


Tak lama setelahnya Haris berhenti di sebuah ladang, yang tampaknya merupakan satu-satunya ladang di tengah-tengah area persawahan itu.


Haris begitu takjub melihat buah-buah mentimun yang bergantungan berjejeran pada tampuknya, yang tampak segar dan juga menarik minatnya itu.


"Kenapa kita berhenti di sini Bang..? Apa ini tempatnya, petani yang Abang sebutkan itu.?"


"Abang juga sebenarnya tidak tahu persis dimana lokasi keberadaan petani yang kita cari itu dek Shasmita. Tapi dari sejak kita masuk tadi, Abang tidak melihat dan tidak menjumpai ada satu orangpun yang terlihat, yang bisa kita jadikan tempat bertanya.


Tetapi disini, itu terlihat ada beberapa anak dan yang sedang bermain. Dan wanita yang ada di gubuk yang berada disana itu, sepertinya merupakan ibu mereka. Selain itu Abang sangat tertarik dengan buah-buah mentimun yang bergantungan di batangnya itu. Bagaimana kalau kita turun dan kita mencoba membeli beberapa buah, sepertinya pemilik ladang akan mau menjualnya pada kita."


"Wah cocok sekali itu Bang. kalau memang diberi, sebaiknya kita juga membeli jagung-jagungnya Bang. lihat itu pohon jagungnya juga bagus-bagus buahnya."


"Iya benar dek, Nah itu sepertinya enak tuh kalau dibakar-bakar di tengah kebun begini, yuk..! kita turun yuk..!"


"Ayo, siapa takut..?"

__ADS_1


Haris segera memarkirkan sepeda motornya di pinggir jalan persawahan, kemudian masuk ke area ladang timun warga, yang sangat menarik minatnya itu.


"Maaf Ibu, kami permisi masuk kemari. Saya tadi dari jalan melihat buah-buah timun di ladang Ibu ini, sangat bagus dan segar sekali.


Saya bermaksud hendak membeli beberapa buah, apakah ibu berkenan menjualnya kepada kami.?"


"Oh ya, tidak apa-apa Pak. Boleh-boleh saja, tapi kalau hanya untuk dimakan makan saja, tidak mesti harus dibayar kok.


Makan saja sepuasnya di sini."


"Wah tidak begitu juga dong Bu. Masa Ibu sudah lelah menanam dan merawatnya lalu diberikan secara gratis begitu saja. Kalau memang Ibu mau menjualnya, kami bisa kok membeli banyak, jika Ibu berkenan sih. Malah kalau dibolehkan, kami akan membeli semua timun yang ada di kebun Ibu ini, bagaimana..?"


"Wah kalau memang begitu, saya sangat senang sekali Pak. Kebetulan juga, seharusnya besok kami sudah akan memanen timun ini untuk menjualnya, karena suami saya sedang butuh uang untuk membeli obatnya."


"Oh suami ibu sakit ya..?"


"Iya Pak.."


"Aduh maaf ya Bu, kalau saya membuat Ibu menjadi sedih, maaf juga kalau saya terlalu lancang, kalau boleh tahu sebenarnya apa penyakit suami ibu..?"


"Suami saya terkena penyakit gula Pak, jadi kami harus menyisihkan uang untuk keperluan pengobatannya."


"Oh begitu ternyata, kasihan sekali si Bapak dan Ibu sekeluarga."


Haris tampak termenung sejenak dari luar, padahal sebenarnya dia sedang bertanya untuk memastikan kepada sistem miliknya, apakah wanita yang berada di depannya itu adalah petani wanita yang dia cari.


Sebab wanita itu juga mengatakan kalau suaminya juga terkena penyakit gula. Haris berpikir apakah dia petani yang ada dalam misi itu, atau hanya petani yang kebetulan juga punya penyakit yang sama."


"Sistem apakah wanita di depan ini, adalah wanita yang kau sebut sebagai wanita tua yang ada dalam misi itu..?"


[Sistem]


"Iya benar Tuan, wanita ini adalah target dalam misi kita."


"Oh begitu ternyata, tidak terlalu tua dong, kalau begitu sistem."


[Sistem]


"Iya, kan sistem juga mengatakannya wanita tua Tuan, bukan wanita yang terlalu tua."


"Hmm.. mulai lagi kau sistem. Hadeuhhhh...! Baiklah aku akan menyelesaikan misi ini."


[Sistem]


"Baik tuan, silakan tuan..! Maaf kalau tadi saya sedikit bercanda Tuan."


"Ya tidak apa-apa sistem, bercanda itu memang baik untukmu he..he..! Kalau begitu aku akan melaksanakan misi ini dulu."


Haris kemudian berpikir sejenak, tentang apa yang harus ia sampaikan.


Tetapi kalau Ibu tidak atau belum tahu sekalipun, nanti Ibu bisa melihatnya secara langsung bagaimana metode pengobatannya."


"Oh terima kasih sekali Pak. Jadi istri bapak ini adalah dokter ya..?"


"Ya, begitulah bu, makanya nanti kita lihat saja bagaimana keadaannya.".


"Aduh..! saya senang sekali pak mendengarnya. Jadi bisakah kami mulai memanen timun timun, yang untuk Tuan itu sekarang.?"


"Iya Bu, lebih cepat lebih bagus dan juga istri saya ini kebetulan menginginkan jagung-jagung itu juga Bu, bolehkah kami juga membeli itu..? Berapapun yang ada di ladang Ibu ini kami akan membeli semuanya. Nanti kami akan menelepon mobil, yang akan membawa timun dan juga jagung-jagung itu, tapi kalau boleh kami meminta beberapa buah jagung terlebih dahulu, untuk dibakar-bakar di sini, bolehkah Bu..?"


"Oh boleh Pak, tentu saja boleh, sebentar kalau begitu akan saya ambilkan."


Wanita itu begitu bersemangat, seperti baru mendapat rezeki nomplok. Dia dengan berlari kecil, segera menyampaikan kabar gembira itu kepada anak-anaknya, yang saat itu sedang bermain-main di dekat parit kecil, yang merupakan sumber pengairan sawah, yang mana airnya sangat jernih itu.


"Mulkan dan juga kamu Syawal serta kak Linda, itu ada Bapak dan Ibu yang ada di gubuk kita itu, ingin membeli semua timun timun kita dan juga jagung kita. Jadi sudahi dulu main-mainnya ya Nak, sekarang kalian panen semua timun timun kita yang memang sudah bisa di panen, tapi jangan dipaksa, ambil yang memang sudah layak dipanen saja, karena bapak itu mau membeli semuanya.


Ini adalah rezeki dari Tuhan, yang mengirim orang secara langsung ke kebun kita ini untuk membeli semua tanaman kita, jadi kita tidak kesulitan lagi untuk menawarkan kepada para tengkulak, yang biasa menadah hasil panen warga."


"Wah yang bener bu.? Bapak yang itu, yang bersama wanita itukah.?"


"Iya itu benar Syawal."


"Wah kalau begitu, ayo kita panen semua Kak Linda, Bu nanti kami jajan ya Bu setelah panennya selesai."


"Iya nanti kalian beli jajan sepuasnya ketika kita sampai di rumah."


"Asik...asik..hore.. hore..! Ayo Kak Linda. Ayo Bang Mulkan kita berlomba siapa yang paling banyak dan paling cepat memanennya.!"


"Ayo. Siapa takut..!"


"Eh, jangan buru-buru memanennya nanti buah-buah yang lain, yang belum waktunya dipanen bisa rusak. Kalian harus hati-hati ya, pastikan mengambil yang baik-baik saja, jangan biarkan orang baik menjadi kecewa."


"Iya Bu. Pasti kami akan hati-hati, tapi tetap saja kami akan berlomba."


"Ya terserah kalian sajalah, Ibu mau mengambil jagung dulu beberapa buah untuk dibakar oleh Bapak itu, nanti Ibu akan menyusul membantu kalian."


"Iya Bu oke..!"


Ketiga anak itu begitu riang, sebelumnya mereka tahu bagaimana pembicaraan Ayah dan Ibunya yang mengeluh soal ketiadaan duit untuk membeli obat ayahnya.


Mendapat kabar itu bagai beroleh kado terindah bagi mereka pada hari itu, sehingga tanpa menunda-nunda ketiganya langsung bergerak dengan cekatan dan juga terampil, memanen buah-buah timun yang dipesan oleh Haris.


Tak lama, ibu petani itu telah datang dengan beberapa puluh buah jagung yang akan diberikan kepada Haris untuk dibakar.


"Ini pak. Pak siapa namanya pak..?


"Oh saya Haris Bu, tidak usah panggil Pak, panggil saja nama saya Haris.

__ADS_1


Saya juga nggak enak dipanggil Pak, Ibu lebih tua dari saya.


Lalu ini adalah dokter Shasmita istri saya. Ibu juga bisa memanggilnya dengan Shasmita saja, atau dengan sebutan Dek Shasmita."


"Oh iya Dek Haris dan Dek Shasmita, kalau begitu jangan panggil saya ibu juga, panggil saja saya kakak. Nah sekarang saya tinggal dulu ya, saya akan membantu anak-anak memanen timun dan jagung itu, agar cepat selesai.


Oh ya kalau Dek Shasmita dan Dek Haris mau merebus kacang tanah, itu di sebelah sana kita juga ada kacang tanah yang sudah waktunya panen, nanti biar saya suruh diantarkan oleh anak perempuan saya."


"Wah boleh juga tuh Bu. Kacang tanah baru dicabut langsung direbus, sepertinya manis juga itu."


"Oh iya Dek Haris pasti manis memang, ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu ya dan nanti anak kita yang perempuan akan datang mengantarkannya kemari."


"Baik terima kasih Kak kalau begitu. Oh ya ini kami boleh bakar di sini nggak..?"


"Iya boleh, tentu saja boleh, bakar saja di situ nggak apa-apa, tidak usah menyalakan api yang lain lain."


"Wah sempurna kalau begitu, baik mari kita buat jagung bakar...!"


"Seru juga ya Bang, kita jadi bisa bakar-bakar jagung begini, di tengah-tengah ladang. Shasmita tidak menyangka perjalanan kita hari ini, sangat seru.


Apa tidak sebaiknya Abang telepon orang-orang kita, yang akan mengangkut hasil timun timun itu, sekaligus ikut membantu mereka memanen.


Kasihan juga lho Bang mereka, Shasmita tidak tega melihat tangan-tangan kecil itu harus bekerja keras dan bersusah payah, padahal ini masih waktunya bagi mereka untuk tumbuh berkembang dan bermain-main, apalagi mereka masih akan memanen jagung lagi."


"Wah saran yang bagus juga tuh Dek, ya sudah kalau begitu Abang akan kirimkan pesan singkat saja kepada Albert, salah seorang pengawal kita yang ada di markas."


Haris kemudian mengirimkan pesan singkat, agar beberapa anggota pengawalnya datang sekalian membawa mobil pick up.


Saat Haris dan Shasmita asyik membakar jagung. Linda yang merupakan anak perempuan dari wanita petani itu, kemudian datang membawa kacang tanah yang telah dicabut dan juga telah dicuci bersih.


"Om ini kacang tanahnya, kata ibu."


"Oh iya nak, letakkan di sini saja. Hmmm.. alat untuk merebusnya ada nggak..?"


"Ada Om, sebentar Linda ambilkan di dalam gubuk."


Linda lalu masuk ke dalam gubuk kecil yang ada di tengah-tengah ladang mereka itu dan kemudian datang dengan membawa panci kecil, untuk dipakai merebus kacang.


"Jadi nama kamu Linda ya Nak..?


"Iya Om, Tante..!"


Kamu kelas berapa sekarang Nak Linda..?" Kali ini gantian Shasmita yang bertanya.


"Saya tidak sekolah lagi Tante. Saya berhenti di kelas 2 SMP, kami tidak punya biaya. Saya tadinya sekolah itu harus pakai ongkos naik mobil penumpang, setelah Ayah sakit uang kami dipakai untuk berobat Ayah.


Semakin lama biaya untuk kebutuhan pengobatan Ayah semakin meningkat, jadi kami tidak lagi bisa melanjutkan sekolah."


"Aduh kasihan sekali kamu Nak. Tapi Linda masih mau nggak sekolah..?"


"Mau kalau ada biayanya Tante, sebab dulu Linda di sekolah banyak yang sudah tidak bisa Linda bayar, seperti biaya untuk bayar bahan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler dan yang lain-lainnya."


"Ya sudah ya sayang, nanti ke depannya Linda sekolah lagi, Tante yang akan biayai semua biaya dan kebutuhan sekolah Linda ya. Kalau begitu besok tante sama Om, akan antarkan Nak Linda ke sekolah, nanti kita akan bayar semua ketertinggalan Linda dan juga semua biaya-biaya Linda, pokoknya nanti akan Tante tanggung semuanya oke..! Tapi Linda harus janji, kalau Linda sekolahnya akan sungguh-sungguh.


Bagaimana, mau tidak..?"


"Mau Tante, terima kasih Tante."


"Ya sudah, kalau begitu sekarang pergi bantu ibu ya. Nanti kita cerita lagi."


"Baik Tante Linda pergi dulu Tante, Om..!"


"Ya pergilah Nak..!"


Setelah Linda pergi, Shasmita meneteskan air matanya. Haris yang melihat hal itu kemudian mengusap air mata istrinya itu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Kasihan lho Nak Linda Bang, kita bantu sekolahkan dia ya Bang..?"


"Iya Dek. Sejak hari ini akan kita perhatikan biaya sekolah Linda. Akan kita perhatikan khusus Linda maupun kedua adiknya, bahkan keluarga mereka akan kita pantau segala kebutuhannya ke depannya.


Tapi Abang heran lho Dek. padahal kita punya yayasan kemanusiaan Diana Haris foundation yang juga berada di kota P ini, tapi kenapa kok anak-anak ini, belum bisa dijangkau ya..? Apa saja kerja mereka selama ini, seharusnya tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah begini di semua wilayah kota P ini mengingat markas Diana Haris Foundation yang dananya cukup besar dan kuat itu, basisnya justru ada di kota ini.


Sepertinya nanti Abang harus mengevaluasi kinerja mereka. Selama ini Abang membiarkan mereka bergerak leluasa tanpa pengawasan, jangan-jangan ada yang tidak beres kepengurusannya di sana."


"Bisa jadi Bang. Mungkin mereka berpikir ah toh pemilik Yayasan juga tidak begitu peduli, sehingga ada oknum yang memperkaya diri sendiri."


"Wah kalau ada yang begitu, tidak bisa dibiarkan itu. Berarti dia penjahat kemanusiaan itu namanya, harus dipecat dan diberhentikan dari jabatannya kalau ada model-model manusia yang begitu di Yayasan milik kita."


"Ah sudahlah Bang, itu nanti saja kita pikirkan. Saat ini Adek mau berpikir yang ringan-ringan saja. Kita nikmati dulu suasana hari ini."


"Oke deh. Wah ini nampaknya jagungnya sudah matang nih yang ini, sudah bisa dimakan."


"Tunggu dingin dulu dong Bang, masih panas juga. Nanti gigi rontok lho hihi."


"Iya juga ya Dek, nanti Adek mukanya masih mulus, masa iya giginya sudah rontok, gimana dong..?"


"Ah Abang jahat deh, gigi Abang tuh yang rontok."


"Ha..ha..ha."


Haris tertawa terbahak-bahak, begitu juga Shasmita tertawa begitu lepas seolah tidak ada lagi beban apa-apa pun di dunia ini yang sanggup menyusahkan pikiran mereka.


Kedua Insan yang masih dalam masa pengantin madu ini, menikmati suasana hari-hari mereka yang manis begitu seperti madu, membuat wanita petani dan ketiga anaknya itu tidak henti-hentinya mencuri pandang ke arah mereka.


Tetapi Si Ibu petani terkejut, mendengar cerita putrinya Linda, kalau kedua pasangan suami istri itu akan membiayai semua kebutuhan sekolahnya ke depannya.


Wanita petani itu sangat bersyukur dan berterima kasih, kiranya semua do'a-do'anya selama ini, telah dijawab oleh Tuhan, lewat kehadiran sosok Haris dan juga Shasmita, yang saat ini sedang asyik bersenda gurau, sambil merebus kacang tanah dan juga membakar jagung, dari hasil panen ladang mereka.

__ADS_1


__ADS_2