Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _154 : Terungkapnya identitas penyerang istri Haris


__ADS_3

"Ada yang aneh, biasanya para petugas akan sangat bisa diandalkan untuk bekerjasama dan akan segera berpihak kepada kami, tapi kali ini para petugas ini seolah-olah tidak mengenalku. Ada apa ini..? Siapa orang ini..?"


Wanita yang menjadi akar dan sumber dari segala permasalahan itu, kini mulai merasakan kejanggalan, dia bertanya-tanya dalam benaknya, sebab dia merasa terkesan tidak bisa berbuat sesukanya seperti biasanya.


"Bab... plak..gedebuk.."


[Suara beragam pukulan dan hantaman dalam penyerangan]


"Akhh... Aku sudah tidak kuat...Ampuuunnnnn."


"Nona...! Tolong kami Nona, kami sudah tidak kuat..!"


"Huhhhh benar-benar tidak bisa di andalkan kalian."


Bukannya kasihan kepada para pengawalnya yang telah dihajar oleh para pengawal Haris, wanita itu kemudian dengan begitu cepat malah berlari masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan lokasi para pengawal wanita yang merupakan bawahan Haris.


Para pengawal istri Haris hendak mengejar wanita itu tapi Haris melarangnya dan mengatakan agar dibiarkan saja.


"Sudah tidak usah dikejar, nanti juga pihak mereka akan datang sendiri kepada kita.


Ayo bersiap semuanya, kita segera pulang ke hotel."


"Baik Tuan." Haris kemudian berbincang-bincang sejenak dengan para bawahan Budi, yang merupakan pemimpin kepala Polisi kota dan menjelaskan kronologi kejadian. Para bawahan Budi kepala Polisi kota itu, kemudian segera membawa seluruh para penyerang pihak Haris untuk dimintai keterangan dan mereka yang terluka akan dirawat.


"Tidak biasanya Abang membiarkan suatu masalah, selesai begitu saja."


"Tidak ada yang selesai, hal ini sama sekali belum selesai Dek, percayalah mereka pasti akan datang kepada kita. Melihat dari sikap wanita itu, sepertinya dia merupakan Putri dari seseorang yang sangat kaya raya dan juga berkuasa, sehingga begitu lancang dan bersikap sesukanya pada orang lain."


"Oh begitu ya Bang, teringatnya kenapa Abang tidak bersama Kak Diana di mobil ini..?"


"Lho tadi kan kita perginya bersama, tentu pulangnya juga harus bersama dong Dek. Lagipula Dek Diana serta Dek Kirana juga kan tadinya memang berada di satu mobil yang sama saat datang kemari, ya sudah biarkan saja mereka bersama juga pulangnya.


Jangan terlalu dipikirkan hal-hal kecil semacam itu Dek Shasmita."


Shasmita tersenyum melihat dan memikirkan sikap Haris, yang ternyata bisa mendudukkan sesuatu pada tempatnya


Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di hotel, karena jarak tempuh yang terbilang dekat. Haris segera bergegas saat sampai di hotel milik mereka dan dia segera memasukkan mobilnya ke garasi mobil pribadi miliknya. Setelahnya Haris segera memasuki hotel bersama Diana, Kirana dan Shasmita yang merupakan istrinya.


"Hahhh... Ada ada saja. Aku tidak habis pikir dengan perilaku wanita perusuh tadi itu Bang."


Diana menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di ruangan Royal suite milik mereka dan kembali teringat peristiwa yang mereka alami di Salon and spa Bidadari biru


"Apa dia satu-satunya wanita yang datang bersama para pengawalnya Dek Diana..?"


"Tidak juga Bang. Tadinya mereka itu ada tiga orang, tapi entah ke mana keberadaan dua wanita yang lainnya itu setelah ada keributan tidak kelihatan."

__ADS_1


"Ya sudahlah, jangan dipikirkan. Bagaimana kalau malam ini kita menginap di sini saja Dek, tidak usah pulang ke desa P, tapi jangan lupa kalian kabari hal iu pada orang tua kita di sana."


"Itu hal yang bagus Bang, sebab kita bertiga juga ada disini, lagi pula bukankah besok Abang juga masih melakukan pengobatan ayahnya Jendral Gunawan sekali lagi.?"


"Iya karena itulah makanya Abang berpikir, kita tidak usah pulang dan menginap disini saja. Selain itu Abang juga akan mengobati Pak Nurdin nanti, setelah Linda pulang dari sekolah dan selesai berbelanja."


"Memangnya Linda mau berbelanja dengan siapa Bang.?"


"Tadi Dek Shasmita dan Abang sudah berjanji sama Linda, makanya rencananya Abang juga bakal ikut nanti, Apalagi tadi sempat ada masalah, Abang tidak tenang kalau dek Shasmita pergi sendiri saja bersama para pengawal tanpa keberadan kita, kalian juga ikut bukan..?"


"Kalau kami sebaiknya di sini saja Bang. Rasanya nggak enak juga keluyuran, apalagi sesudah sempat ada masalah begitu.


entah kalau Dek


Kirana tapi Diana maunya di sini saja deh, masih mau menenangkan diri dulu, Diana mau berendam di kolam renang saja biar adem."


"Hmmm.. Begitu juga cocok sih. Lalu Dek Kirana sendiri ikut tidak..?"


"Kirana juga mau di sini saja Bang, sama Kak Diana mau menenangkan diri dulu."


Ya sudah kalau kalian memang maunya begitu, tidak apa-apa tapi selain berendam kalian juga bisa pergi ke atas, ke Rooftop hotel kita ini, menurut manajemen Hotel kita di bagian Rooftop hotel kita ini, sekarang sudah disediakan taman bunga yang cantik dan juga ada kolam ikannya lho.


Selain itu kita juga akan dimanjakan dengan pemandangan yang lebih eksotis bila menatap dari atas, yang mana hal itu jauh lebih eksotis daripada sekedar kita memandang dari balkon kamar kita ini."


"Oh ya..? Cocok juga tuh Bang. Abang tahu dari mana memangnya..? Abang sudah pernah ke sana.?"


Hanya saja sepertinya sekarang belum tepat waktunya. Ya sudah besok atau nanti-nanti saja kita ke sana."


"Oke tapi sementara itu biar saja kami berdua dengan Dek Kirana yang lebih dahulu kesana sebelum kita pergi sama-sama."


"Abang setuju, soal itu.


Abang ingin turun sebentar ke bawah, apa ada yang mau ikut..?"


"Tidak, kami disini saja Bang, lagipula kami bertiga ingin diberi waktu sebagai istri Abang buat bercerita beberapa hal."


"Oh begitu, ya sudah agar kalian lebih lepas berceritanya, Abang akan turun ke bawah sebentar."


Haris yang ingin mencari tahu kelompok yang menyerangnya, berencana untuk pergi ke lantai bawah, di mana salah satu bagian ruangannya telah diperuntukkan khusus untuk tempat atau semacam markas cabang para pengawal Haris.


Saat Haris sedang berada di dalam lift pribadi miliknya, Jenderal Gunawan menghubunginya dari ibukota.


[Panggilan dari Jenderal Gunawan_ panggilan diterima]


"Halo Tuan Haris."

__ADS_1


"Halo Jenderal.


Bagaimana kabar di sana.?"


"Kabar di sini baik-baik saja Tuan Haris, tapi sepertinya saya belum bisa pulang hari ini. Masih ada satu sesi pertemuan berikutnya lagi yang harus kami jalani besok, setelahnya siang baru kemungkinan saya bisa kembali pulang.


Bagaimana pengobatan Ayah kita Tuan Haris.?"


"Untuk pengobatan itu, Jenderal tidak perlu khawatir, perkembangannya sudah sesuai dengan apa yang kita harapkan. Intinya prosesnya berjalan dengan baik dan bahkan hasilnya lebih dari yang kita targetkan.


Hanya tinggal satu kali pengobatan lagi besok, sesudah selesai mungkin setelahnya hanya tinggal minum suatu ramuan saja, setelah itu barulah tuntas semua rangkaian pengobatannya."


"Ah saya senang mendengarnya Tuan Haris. Terima kasih untuk segalanya, tapi saya dengar belakangan ini ada keributan. Apakah mereka masih menyusul mencari keberadaan Tuan ke hotel..?"


"Tidak, Saya bahkan tidak tahu siapa orang-orang itu, apa Jenderal tahu siapa orang-orang itu..?"


"Ah mereka itu adalah salah satu keluarga pengusaha kaya, yang bergerak di bidang usaha perkebunan sawit terbesar di daerah kita Tuan Haris.


Selain itu keluarga mereka juga pengusaha listrik tenaga air yang lokasinya juga masih ada di daerah kita, tapi Tuan tidak perlu khawatir, saya sudah mewanti-wanti mereka agar jangan macam-macam kalau masih ingin tetap bisa eksis menjalankan usahanya di daerah kita.


Sedikit banyaknya saya juga sudah menjelaskan tentang sosok keberadaan Tuan dan juga hubungan kedekatan keluarga kita.


Intinya pihak mereka meminta maaf dan mengaku salah. Mungkin nanti secara khusus mereka akan datang untuk meminta maaf pada Tuan, setelah saya pulang ke sana Tuan Haris. Bagaimana menurut Tuan..?"


"Syukurlah kalau begitu Jenderal. Saya juga sebenanrya tidak mau terlalu ambil pusing tentang masalah ini, tapi memang kalau mereka mau meminta maaf itu lebih baik, karena bagaimanapun mereka telah menyinggung kedua istri saya."


"Ya itulah yang paling pihak mereka kesalkan saat ini, khusunya orang tua dari wanita yang memulai kerusuhan itu Tuan Haris, karenanya mereka ingin berjumpa dengan Tuan Haris, sekaligus juga ingin saling berkenalan dan bila memungkinkan, mereka juga berkeinginan agar bisa bekerja sama nantinya dengan pihak Tuan Haris."


"Baiklah itu bukan masalah lagi."


"Baik Tuan Haris, maaf kalau saya harus sudahi dulu panggilan ini, karena saya juga masih harus mempersiapkan beberapa hal, untuk sesi pertemuan besok."


"Baik Jenderal. Terima kasih Jenderal, atas apa yang telah Jenderal lakukan terkait masalah ini."


"Ah itu bukan sesuatu yang harus membuat Tuan Haris sampai mengucapkan terima kasih. Bagaimanapun saya sekarang merasa kalau kita itu sudah seperti keluarga, terlebih Ayah kita juga sudah menganggap Tuan Haris ini, sebagai putranya. Malah kalau Tuan Haris bersedia untuk saya panggil Adik, saya akan sangat bersyukur nantinya."


"Kenapa tidak..? Bang Jendral Gunawan dari segi umur memang lebih tua dari saya, jadi tentu tidak ada salahnya, malah saya sangat berterima kasih bisa diakui Adik oleh sosok besar seperti Anda."


"Ha..ha..ha Dek Haris ini terlalu merendah, siapapun tahu kok siapa sosok Adik Haris ini, para pengusaha kelas kakap itu saja sampai sport jantung setelah tahu sosok yang disinggung Putri mereka adalah Tuan besar Haris.


Baiklah tapi saya senang dengan karakter Dek Haris yang Low profile, kalau begitu selanjutnya saya akan memanggil dengan sebutan Adik saja dan jika berkenan Adik Haris bisa memanggil saya dengan Abang Gunawan saja, tidak usah menyebut embel-embel Jenderal nya."


"Oke Bang Gunawan, kalau begitu selamat bertugas di sana. Saya juga kebetulan masih ada sedikit hal yang harus diselesaikan di sini."


"Iya.. iya betul sekali Adik Haris, kalau begitu selamat siang dan sampai berjumpa kembali nanti di sana."

__ADS_1


"Baik Bang Gunawan. Selamat siang kembali."


[Panggilan ditutup]


__ADS_2