
Warga desa S yang melihat sebuah truk Fuso berhenti dan parkir di pinggir jalan, serta mendengar teriakan serang dari arah mobil itu
Langsung menghujani mobil truk Fuso itu dengan batu, sehingga memecahkan kaca mobil dan memaksa para penyerang berdiam diri di mobil.
Semua warga yang sudah siap sedia sedari awal, melompat dari segala arah seperti belalang dan menarik serta menahan supir, yang berusaha kembali ke mobilnya untuk melarikan diri itu.
Satu sisi jalan yang merupakan tanah tebing yang lumayan tinggi memungkinkan para pemuda terus melempari mobil dengan batu dan tanah keras ke dalam bak truk Fuso yang berisi manusia yang akan menyerang itu.
"Akkhhh..."
"Argghh sakiiittttt.."
"Kepalaku mengeluarkan darah..."
"Tolooooonngggg."
Beragam teriakan dan jeritan kepanikan para penyerang yang telah diserang lebih dahulu oleh warga desa yang telah menanti mereka, terdengar pecah dan mengisi suasana mencekam di pagi itu.
Hal itu memicu warga desa lainnya, untuk datang dan melihat dari dekat, apa sebenarnya yang sedang terjadi.
"Eh ada apa itu disana?
Ayo ayo lihat! kok ibu ibu ikut bawa kayu bakar itu?"
Semua warga desa yang berada di kedai kopi dan yang berkegiatan di sekitar lokasi ikut merapat dan merasa marah setelah mengetahui keberadan orang orang yang akan menyerang desa mereka.
"Eh sudah sudah, mereka sudah babak belur, nanti mati anak orang!!"
"Huuuuuuhh pak kades kalau tadi mereka sempat turun dan menyerang warga desa bagaimana?"
"Iya bapak ibu tapi tetap saja kita tidak boleh main hakim sendiri.
Saya sudah menelepon pihak berwajib, biar mereka yang menyelesaikannya.
Haris yang mengetahui kedatangan para penyerang itu, setelah dihubungi keluarga mertua si Jhon, segera menuju lokasi dan mendapati warga sedang gaduh.
Saat semua orang sedang berdebat bersama pak kades, untuk menentukan berbuat apa pada para penyerang itu dan ketika para pemuda pelempar batu, yang ada di tebing sudah turun untuk melihat keadaan, tiba tiba 10 orang bersenjata tajam melompat keluar dari timbunan manusia yang sudah terluka karena terlempar batu di bak truk Fuso itu.
"Ayo seraaaaaaaaang!!!"
Penyerang itu berteriak.
Ternyata mereka berlindung di bawah manusia manusia terluka itu agar tidak kena batu.
Mereka meraung dan menggila menyabetkan pedangnya ke semua orang.
"Awas hati hati!"
Haris segera menendang tangan seorang pria yang akan menyabetkan pedangnya ke seorang ibu dan menghajar orang itu sampai babak belur.
"Mundur.... mundur ibu ibu mundur!"
Seorang wanita berteriak agar kaum wanita mundur, dari jangkauan. penyerang.
"Itu lagi bang Haris.
Ada seorang lagi."
Haris yang mendengar teriakan seorang ibu yang akan diserang oleh berandalan itu, melompat tinggi dan punggung kakinya menampar mulut pria itu dari samping kanan tempat Haris melakukan serangan.
Orang itu terjatuh dan pedangnya terlepas.
"Hmmmm mampus kaukan, kena tendangan tanpa bayangan kaukan, mampus kulibas mukamu."
__ADS_1
Wanita itu melibas pria itu dengan sapu lidi.
"Arggghhh tolong....!
Pak kades berteriak tangannya robek dan tangannya mengeluarkan darah segar, karena terkena sabetan tipis pedang dari pihak perusuh.
Para pria yang ada disana langsung menghujani pelaku itu dengan pukulan kayu bakar, yang tersusun di pinggir jalan untuk di jual itu.
"Kenapa pak kades?"
"Tangan saya robek pak."
"Bapak sih, terlalu lunak.
Sudah jelas mereka datang menyerang kampung kita, bersengaja dan membawa senjata tajam.
Coba kalau yang robek tadi leher bapak?
Kita harus mendahulukan keselamatan diri dan warga kita pak.
Kalau ada warga yang mati karena insiden ini bagaimana coba?"
"Iya pak! saya pikir mereka sudah tidak berdaya lagi."
"Nyatanya?"
"Ya ini saya terluka.
Sudahlah pak, bantu saya berdiri tolong.!"
"Maaf pak saya tidak bisa main hakim sendiri."
Pria itu pergi meninggalkan si kades dengan rasa kesal dalam tatapan penuh pertanyaan dari si kades.
Tak lama sesudahnya, pihak berwajib datang dan membawa semua penyerang, yang berada di truk itu dan beberapa warga yang tahu kronologi kejadian sejak awal.
Haris bercerita banyak hal dengan keluarga mertua si Jhon, tentang bagaimana informasi penyerangan itu mereka peroleh dan dapatkan dari kerabat si Jhon.
Haris lalu menghubungi advokadnya, untuk memberikan pendampingan hukum pada warga yang diambil keterangannya.
Haris juga menghubungi Darman mempertanyakan keadaan mereka pasca penyerangan itu.
[Memanggil Darman ]
"Darman, bagaimana disana?"
"Aman bos, tidak ada hal yang berarti, semua normal seperti biasa."
"Baguslah. Kalau disini baru saja ada penyerangan dari keluarga si penjahat itu Man, mereka membawa massa satu truk fuso banyaknya."
"Apa?
Apa kami harus kesana?"
"Tidak usah, aku menghubungimu hanya agar kau berhati hati."
"Ya sudah sekarang kau dan Very pulang saja, lagian istrimu juga sudah harus di jenguk."
"Ok Ris, memang disinipun sudah relatif aman, penjelasan dari keluarga si Jhon yang menjamin bantuan dana dari kita, sudah membuat warga tidak lagi bergantung pada keluarga si tuan tanah.
Mereka sudah dalam proses kehilangan taring disini."
"Bagus, kalau masyarakat sudah bersikap begitu, maka dominasi mereka akan habis.
__ADS_1
Pejabat kebanggaan merekapun akan tersangkut dalam penyerangan desa kali ini."
"Baik bos, aku akan hubungi si Very agar kami pulang sekarang bos."
"Apanya kau Man? bas bos bas bos.
Sampaikan kalau ada apa apa agar mereka datang saja ke rumah, atau menghubungi kita.
Jangan lupa tinggalkan nomormu disana."
"Ok bos siap he he."
[Panggilan berakhir]
Setelah keadaan perlahan kembali normal, sebagaimana biasanya Haris kembali ke rumah mertuanya.
" Abang darimana bang?"
"Dari rumah mertua si Jhon dek, ada penyerangan."
"Lho penyerangan dari siapa bang?"
"Siapa lagi dek?
Keluarga dari yang ditangkap itulah."
"Oh kurang ajar sekali ya bang, apa mereka pikir dunia ini punya mereka?"
"Hmm.... begitulah yang mereka rasakan selama ini.
Tapi abang akan pastikan mereka selesai kali ini."
"Uh bagus itu bang!
Abang sudah makan?"
"Belum dek, kenapa?"
"Makan ke desa pak Slamet yang lama yuk bang, makan pakai lauk ikan sungai.
Si dedek bayi lagi pengen hehe."
"Oh ayo, tapi abang mandi dulu ya!
Sudah gerah."
"Sudah, mandi di sungai aja sekalian bang!"
"Dedek bayi juga yang pengen?"
"Ngak kalau itu, dedek abang yang pengen wkwkwwk."
"Ya sudah, yuklah siap siap biar kita pergi."
"Ini sudah siap bang dari tadi."
"Kita saja? ibu tidak ikut?"
"Nggak usah ini khusus kita aja bang, atau adek telepon adek Kirana agar datang, biar seru dan rame kita?"
"Nggak... nggak usah, kita aja."
"Haahahhahaha.. ayo kalau begitu."
__ADS_1
Haris dan istrinya pergi untuk mandi dan makan dengan lauk ikan sungai.