SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 100: Betapa Besarnya Luka Akibat Pengkhianatan


__ADS_3

"bagaimana ini nak? Bapak benar- benar butuh uang itu sekarang. Ibu tidak akan mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya, kalau uang administrasi rumah sakit tidak segera dilunasi." Pak Roman berkata, beliau terlihat gelisah. Aku bisa melihat ekpresi wajah beliau yang terlihat bingung.


"begini saja pak, kami akan membayar biaya administrasi rumah sakit itu sekarang. Kita akan menyelesaikan transaksinya nanti saja, setelah semua urusan rumah sakit selesai diurus." Aku tidak tega melihat pak Roman bersedih, wajah beliau yang terlihat kusut membuatku berinisiatif untuk menalangi biaya rumah sakit.


"baiklah nak, bapak tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bapak merasa sungkan rasanya tapi apa daya bapak benar-benar membutuhkan bantuan nak Rianti sekarang.


"tidak apa-apa pak. Saya mengerti dan kakak saya juga pasti sangat senang bisa membantu bapak."


"terima kasih banyak nak."


"iya pak. Kalau begitu, saya dan kakak saya akan ke bagian administrasi rumah sakit untuk menyelesaikan pembayarannya."


"baiklah. Bapak akan menunggu nak Rianti dan nak Roland di sini."


"ayo kak." Aku berkata seraya melirik pada kak Roland, dia masih saja diam.


Aku benar-benar tidak habis pikir melihat sikap mas Roland sekarang. Dia diam saja di tempatnya berdiri, seolah-olah tidak memiliki satu inisiatif apapun. Bahkan sedari tadi, aku tidak mendengar satu katapun keluar dari mulutnya.


Aku tersenyum dalam hati, mas Rolad sedang dilanda demam cinta. Aku mengerti dan paham dengan perubahan sikap mas Roland.


"mas Roland, temani aku mas." aku menarik tangan mas Roland, dia hanya manut saja ketika aku mengajaknya.


Setelah menyelesaikan pembayaran, kami kembali menemui pak Roman. Aku segera menyerahkan bukti pembayaran pada pak Roman, beliau terlihat bahagia ketika menerimanya.


"terima kasih nak Roland dan nak Rianti, bapak bersyukur bertemu dengan kalian. Semoga, allah membalas berkali lipat semua kebaikan yang kalian lakukan untuk bapak."


"Amin...!" Aku dan mas Roland serempak mengaminkan doa pak Roman. Aku memandang sekeliling ternyata Mbak Ayuna tidak ada di sekitar kami.


"mbak Ayuna kemana pak?"


"dia sedang di dalam ruangan tempat ibu dirawat nak."


"oh iya, ibu di rawat di mana pak?" Aku bertanya pada pak Roman.


"ibu dirawat di sini nak." Pak Roman menunjuk ke ruangan tempat istrinya di rawa, beliau mempersilahkan aku dan mas Roland masuk.

__ADS_1


Aku mengikuti langkah beliau, terlihat istrinya sedang tertidur. Aku merasa sangat prihatin melihat keadaan beliau, telihat pucat dan kurus sekali.


Pak Roman mendekati istrinya dan dengan hati-hati sekali menyelimutnya. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan, aku takjub melihat kasih sayang diberikan pak Roman pada istrinya.


"sudah berapa lama ibu sakit pak?"


"sudah hampir satu tahun nak, tapi yang parah begini sudah hampir dua bulan." Beliau berkata dengan gurat kesedihan tergambar jelas di wajah beliau, hingga membuatku turut merasakan kesedihan yang beliau rasakan saat ini.


Mbak Ayuna terlihat termenung di sisi lain ranjang, wajahnya tak kalah murung dan sedih dari wajah pak Roman. Aku merasa suasana dalam ruangan ini diliputi kesedihan yang tidak bisa di gambarkan, hingga membuat mulutku susah untuk berbicara lagi.


Untuk beberapa saat, aku terdiam. Aku teringat kembali ketika ibuku dirawat beberapa tahun lalu, beliau sempat dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.


Aku merasa istri pak Roman masih beruntung daripada ibuku karena ketika sakit pak Roman setia menemaninya. Dulu, hanya aku yang merawat ibuku karena ayahku telah dulu meninggal dunia.


Ayahku meninggal dunia waktu aku masih kecil karena kecelakaan mobil. Entah apa yang menyebabkan kecelakan beliau, aku merasa ada kejanggalan dengan kematian beliau. Tapi kerena masih kecil, aku tidak bisa mencari tahu apa penyebabnya.


Sebelum kecelakaan itu, aku pernah melihat ibuku menangis sendiri diam-diam, beliau menangis dengan sangat menyedihkan.


"{kamu jahat mas, aku sudah menghianati segala pengorbananku, semoga tuhan membalas semoga perlakuanmu padaku}." Aku sering mendengar kata-kata itu saat ibuku menangis, beliau menangis sampai akhirnya tertidur.


Sejak melihat ibu menangis, aku selalu menemani beliau tidur. Aku tidak ingin melihat ibu menangis lagi, hingga akhirnya ibu jatuh sakit. Setelah beberapa lama, akhirnya ibuku meninggalkanku untuk selamanya.


Betapa besar luka akibat pengkhiatan, hingga ibuku membawa sampai kemarian menjemputnya. Aku benar-benar membenci orang yang telah tega menghancurkan ibuku, smoga dia juga mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan.


"dik!" Mas Roland berkata seraya memegangi pundakku, seketika lamunanku terhenti. Aku terisak walau tidak mengeluarkan air mata.


Aku merindukan ibu, wanita yang telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Betapa mirisnya kenyataan hidupku, wanita yang penuh ketulusan dan memiliki kasih sayang yang tidak terukur besarnya, menderita hingga akhir hayatnya.


Aku menutup mata sejenak, mencoba menetralkan perasaanku. Aku mencoba melupakan semua bayangan masa lalu untuk sejenak, kembali fokus dengan yang ada di hadapanku sekarang.


"nak Rianti kenapa?"


"tidak apa-apa pak." Aku berkata seraya tersenyum menutupi perasaan yang sebenarnya.


"bapak harus tabah menghadapi cobaan ini ya, semoga ibu secepatnya di berikan kesembuhan." Aku berkata, berusaha menghibur beliau.

__ADS_1


Aku tak sanggup lagi bertanya, tidak ingin membuat beliau bertambah sedih.


"Amin..!" pak Roman mengaminkan, bibir beliau terlihat bergetar telihat bergetar. Aku bisa melihat betapa beaar beban yang menghimpit dada beliau.


"bapak sudah makan belum?" Mbak Ayuna bertanya pada Pak Roman, beliau terlihat menggelang lemah.


"kalau begitu, aku belikan makanan buat bapak ya." kata mbak Ayunan lagi.


"nanti saja nak, bapak belum lapar."


"begini saja pak, kita ke kantin yuk. Saya juga sangat lapar, tapi saya tidak tahu dimana tempatnya". Aku berkata pada pak Roman, mungkin sebaiknya aku mengajak beliau makan bersama.


Aku kasihan melihat beliau yang rela menahan lapar, demi menjaga istrinya. Beliau kemudian mengantarkanku, tapi ketika hendak keluar aku melihat mas Roland hendak mengikuti kami.


"mas Roland di sini saja, temani mbak Ayuna."


"i-iya dik."


Aku keluar ruangan dan jalan bersisian dengan Pak Roman. Tidak berapa lama kami sampai di kantin, aku segera memesan makanan untuk kami berdua.


"ayo kita makan pak." Aku mengajak pak Roman makan setelah makanan yan kupesan terhidang di meja.


"tapi nak,"


"bapak harus makan, supaya kuat menjaga ibu. Ibu membutuhkan bapak saat ini, bapak harus jaga kesehatan supaya tidak ikutan sakit."


"iya nak." pak Roman mengangguk, beliau tampak memandangiku beberapa saat.


"ayo pak, kita segera menghabiskan makanan ini."


"i-iya nak."


Aku dan pak Roman mulai makan, aku berusaha fokus dengan makananku. Aku sebenarnya tidak begitu lapar, aku sengaja mengajak beliau makan dengan cara begini.


Aku senang melihat pak Roman menyantap makanan, walau terlihat kurang menikmati. Aku berharap dan berdoa dalam hati semoga beliau selalu di beri kekuatan dan kesehatan untuk menghadapi cobaan yang sekarang beliau hadapi. Amiin.......!

__ADS_1


__ADS_2