SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 109: Dia Harus Tahu Diri Dan Tahu Posisi


__ADS_3

"baik pak." mas Ringgo menjawab singkat, dia memandang ke arahku dengan bibir sedikit terbuka.


Aku hanya tersenyum ringan ke arahnya, dia terlihat ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi, aku berusaha tak acuh padanya, supaya dia tahu kalau aku sudah tidak ingin berurusan apapun lagi dengannya.


"sebentar lagi, meja kerja mama akan di antarkan ke sini. Mama duduk dulu di meja Rianti, nanti mama pusing."


"iya nak." Mama segera duduk.


"maksud bapak apa?" mas Ringgo bertanya seraya mengernyitkan dahi, tampak jelas dia merasa heran mendengar mas Roland bicara.


"selain Rianti, mama saya juga akan bekerja disini. Beliau akan menjadi pengawas keuangan mulai hari ini, saya harap pak Ringgo bekerja sama dengan beliau."


Mas Roland berkata dengan lugas dan tegas, mas Ringgo makin ternganga mendengarkannya. Aku tertawa dalam hati melihat ekspresi wajahnya, dia kelihatan depresi mendengarnya. Dia pasti tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini.


Tak beberapa lama, beberapa laki-laki membawa sebuah dan diletakkan persis di sebelah meja kerjaku. Setelah semua selesai, para pekerja itupun pergi.


"mama, Roland pergi dulu karena ada meeting dengan klien."


"pak Ringgo bantu Rianti dan mama, anda harus mematuhi dan bekerja sama dengan baik dengan mereka.


"baik pak." mas Ringgo berkata seraya mnundukkan kepala.


"pak Ringgo, saya minta laporan keuangan beberapa bulan terakhir, saya akan mempelajarinya." Tiba-tiba, mama bicara pada mas Ringgo, beliau minta laporan keuangan


"ba-baik buk." mas Ringgo terlihat gugup ketika mama meminta laporan keuangan kepadanya. Dia segera mencari berkas yang mama minta, aku mengamati setiap gerak geriknya.


Aku melihat ada kejanggalan dari ekspresi muka mas Ringgo, dia terlihat salah tingkah. Aku merasa curiga, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.


"Rianti, hari ini mama akan mengajari kamu membuat laporan keuangan."


"baik ma."


Mama mulai mengajariku satu persatu, beliau ternyata sangat cerdas. Aku sangat salut pada beliau walaupun lama sakit ternyata daya pikir beliau tidak banyak berkurang.


Aku memperhatikan dengan seksama setiap ilmu yang beliau ajarkan, ternyata tidak terlalu sulit. Aku bisa memahami dengan cepat, semua yang mama ajarkan kepadaku.


Sebenarnya dulu waktu sekolah, aku pernah belajar akutansi keuangan dan merupakan pelajaran favoritku. Aku suka pelajaran itu, tapi sayang aku tidak melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi.

__ADS_1


"bagaimana Rianti, apa kamu mengerti." mama bertanya di akhir penjelasan beliau.


"Rianti mengerti mama." Aku mengangguk pasti, merasa sangat memahami penjelasan mama


"kalau begitu, kamu praktekkan sekarang. Kamu pelajari laporan keuangan beberapa bulan terakhir."


"Pak Ringgo, mana laporan yang saya minta. Tolong, anda bawa ke meja saya sekarang."


"ba-baik buk." mas Ringgo terlihat gugup sekali. Aku semakin merasa aneh, melihat sikapnya.


Mas Ringgo menyerahkan beberapa laporan keuangan kepada mama.


Akupun disuruh mama untuk memeriksa setiap angka yang ada di laporan itu. Tapi, aku merasa janggal laporan keuangan itu tidak seimbang antara aktive dan passivanya. Aku berulang kali memeriksanya tetap saja tidak seimbang.


Aku menatap mas Ringgo sejenak, ternyata dia juga menatap ke arahku. Aku melihat rona muka yang gelisah terpancar di wajahnya. Dia menatapku tanpa berkedip tapi tatapan matanya sayu, seakan ada yang dia pikirkan.


Aku kembali menoleh kearah mama, beliau terlihat sedang sibuk memeriksa berkas lainnya. Beliau terlihat fokus memeriksa angka demi angka yang ada di laporan yang ada di hadapannya.


"ma, aku menemukan adanya kejanggalan dalam laporan keuangan ini."


"benarkah? coba mama periksa lagi," Mama kaget mendengar perkataanku, beliau segera mengambil alih memeriksa laporan keuangan.


"benar laporan ini tidak seimbang, mama menemukan ada selisih yang cukup besar."


"Sekarang, kamu cek laporan yang satu lagi."


"baik ma." Aku langsung melakukan memeriksa berkas satunya lagi, ternyata keadaannya sama.


Aku menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan itu, sejenak aku menoleh pada mas Ringgo. Dia terlnhat makin gugup, aku hanya menggelengkan kepadanya.


'apa mas Ringgo melakukan penggelapan selama ini?' aku bertanya dalam hati, ada rasa sesal dalam hati mendapati kenyataan ini.


Kalau benar begitu, aku ternyata menyolong uang hasil curian. Dia menggelapkan uang perusahaan, pantas saja dia memiliki uang begitu banyak di rekeningnya.


Aku tak percaya mas Ringgo sampai sejauh ini, dia telah tersesat jauh. Ternyata memang benar kata orang, sekali kau berbohong akan menjadi kebiasaan.


"bagaiman Rianti? Mama mengejutkanku, beliau menatap serius kepadaku. Aku melihat sisi mama yang lain, ketika beliau benar-benar serius kalau sudah bekerja.

__ADS_1


"sama ma, laporan keuangannya tidak seimbang terlihat banyak kesalahan disini. Coba mama periksa kembali, mana tahu Rianti salah."


Mama mengambil laporan keuangan yang aku berikan padanya, beliau terlihat kembali geleng-geleng kepala. Aku semakin yakin, mas Ringgo berbuat kecurangan.


"pak Ringgo, saya minta penjelasan tentang semua ini." Mama berkata tegas seraya menatap tajam pada Mas Ringgo, beliau terlihat berang sekali.


Mas Ringgo terdiam tak berkata apa-apa, dia semakin gugup. Aku melihat dengan jelas ada ketakutan di matanya.


"pak Ringgo, tolong berikan penjelasan kepada saya." mama mengulang kembali pertanyaan kembali.


"maaf bu. Saya akan memeriksa kembali laporan-laporan keuangan itu dan akan memperbaikinya kembali."


"laporannya tidak salah pak Ringgo, tapi angka-angkanya yang bermasalah. Saya melihat di laporan keuangan ini, ada sejumlah uang yang hilang."


"mungkin ada kesalahan pemasukan angka bu, saya akan memeriksanya kembali."


"baiklah kalau begitu, saya akan memberikan waktu anda sampai besok."


Mas Ringgo terlonjak mendengar mama berkata, mama ternyata sadis juga. Beliau memberikan waktu cuma dua puluh empat jam kepada mas Ringgo untuk memperbaiki kesalahannya.


Aku tak kalah terkejutnya, ingin tertawa. Aku tertawa melihat ekspresi mas Ringgo, dia ternganga tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"bagaimana pak Ringgo? Apakah anda bisa?" Mama bertanya dengan tatapan tajam, aku ngeri melihatnya.


"ba-baik bu? Saya akan mengusahakannya."


"baiklah kalau begitu, saya harap besok pagi semua laporan itu sudah ada di meja saya.


"baik bu."


Mama menghela nafas panjang, aku memperhatikan segala tingkah mama. Aku semakin kagum dan salut pada wanita yang ku sebut mama itu. Dalam hati aku berkata, aku ingin seperti beliau.


"Rianti sebaiknya kita istirahat dulu, sudah waktunya makan siang." Aku melihat jam tangan rupanya sudah jam dua belas.


Aku menganggukkan kepala, kemudian bangkit mengikuti langkah mama yang sudah lebih dahulu ke luar ruangan.


"dek, mas ingin bicara sesuatu. Apakah kamu ada waktu?" Aku menghentikan langkahku seraya menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"maaf mas, aku mau makan siang dulu." Aku memperlihatkan sikap angkuhku padanya, sudah waktunya bagiku untuk bersikap tegas padanya. Dia sekarang harus tahu diri dan tahu posisi, dia bukanlah siapa-siapa ku sekarang.


__ADS_2