SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 69: Rasakan Karma Atas Perbuatan Kamu, Mas


__ADS_3

"sudah siap dik, kita berangkat?"


"ya mas"


Kami segera berangkat meninggalkan rumah sakit, dalam perjalanan aku hanya banyak diam. Ingatanku melayang, aku teringat ketika ayahku masih hidup.


Dulu ketika aku masih kecil, ayahku juga memiliki mobil mewah seperti ini. Ayahku meninggal ketika aku masih berusia dua belas tahun, mobil beliau mengalami kecelakaan yang menyebabkan beliau meninggal di tempat.


Aku masih mengingat dengan jelas, ketika pulang sekolah aku melihat banyak tetangga mendatangi rumahku. Aku heran melihat ada bendera hitam dikibarkan di depan rumahku. Bagaikan petir datang menyambar, aku tidak menyangka ternyata ayahku telah meninggalkanku untuk selama-lamanya.


"kenapa melamun dik?' Mas Roland mengejutkanku, aku tersadar dari lamunan yang membuat hatiku sedih kembali.


"tidak apa-apa mas, aku hanya teringat pada almarhum ayah. Dahulu sewaktu aku masih kecil, ayahku juga memiliki mobil mewah. Tapi sayang, beliau meninggal karena kecelakaan.


"oh, begitu. Apakah kamu trauma naik mobil dik?"


"tidak mas, aku tidak trauma kok."


"syukurlah dik, mas kira kamu trauma naik mobil karena tadi kamu terlihat sedikit ragu naik mobil." aku hanya tersenyum mendengar perkataan mas Roland, ternyata dia mengira aku trauma naik mobil.


Tidak berselang lama kami sampai di rumah, mas Roland bergegas membukakan pintu kemudian membimbingku masuk rumah. Mas Roland membawaku ke kursi sofa, dia menyuruhku duduk disana.


Mas Roland kemudian terlihat mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah, dia kemudian menatap ke arahku.


"apakah kamu tinggal sendiri di rumah sekarang dik?"


"iya mas, semenjak mas Ringgo pergi dari rumah aku tinggal sendirian."


"apa sebaiknya kamu tinggal di rumah mas saja untuk sementara dik?"


"tidak usah mas, aku di sini saja. Aku tidak mau terlalu merepotkan kamu, selama ini aku sudah terlalu banyak menyusahkan kamu mas."


"mas tidak ada maksud apa-apa dik, mas tulus mau membantumu."

__ADS_1


"aku tahu mas, tapi aku rasa sebaiknya aku di sini saja." Aku menolak tawaran mas Roland, bukan Apa-apa aku sudah banyak berhutang Budi kepadanya.


"baiklah jika itu keinginanmu, kalau begitu mas pulang dulu dik."


"iya mas, aku juga mau istirahat. Terima kasih banyak mas, kamu sudah banyak membantuku.


Mas Roland mengangguk perlahan seraya tersenyum kemudian dia berlalu pergi meninggalkanku. Aku segera mengunci pintu dan bergegas menuju kamar, aku membaringkan tubuhku mencoba untuk istirahat sejenak.


Sedang enak-enaknya tertidur, aku terjaga dari tidurku yang belum terlalu lama. Aku Mendengar seseorang mengetok pintu dari luar. Aku merasa malas sekali untuk membuka pintu, aku kemudian menutup mataku lagi.


Tok! Tok! Tok!


'siapa yang mengetok pintu? apa mas Roland? Tapi tidak mungkin dia, aku sudah memberi tahu mas Roland kalau aku ingin istirahat tidak mungkin dia kembali.' aku bergumam sendiri, aku malas sekali membukakan pintu karena mataku masih mengantuk sekali.


"dek, tolong bukakan pintu." Aku mendengar suara teriakan dari luar, seketika aku membuka mata suara itu terasa tidak asing bagiku.


'bukankah itu suara mas Ringgo? Apa aku bermimpi? Masa iya sih, mas Ringgo datang ke sini.' Aku terus bergumam, tidak menjawab panggilan yang barusan aku dengar.


'ternyata benar, itu memang mas Ringgo, buat apa lagi dia datang ke sini?'


Aku bangkit dengan perasaan malas, jalanku sedikit terhuyung. Aku merasa tubuhku masih lemas dan kepalaku masih terasa pusing.


Aku membuka pintu, mas Ringgo terlihat berdiri di depan pintu. Aku melihat wajahnya kusut, dia menatap tajam ke arahku. Aku merasa sangat heran melihat penampakan mas Ringgo, dia begitu berantakan dan matanya terlihat memerah.


'apa yang terjadi dengannya? Dia begitu serius menatapku, aku mendadak merasa ada yang janggal dengan kehadiran mas Ringgo.


"ada apa kamu datang kemari mas? Sebaiknya, kamu datang besok saja, sekarang aku mau istirahat."


"apa yang terjadi denganmu dek? kenapa wajahmu terlihat pucat sekali? apa kamu sakit?


"aku tidak apa-apa mas, mungkin hanya lelah saja." Aku memberi alasan, malas sekali lama-lama berurusan dengan mas Ringgo.


Aku harus membatasi diri, untuk sementara aku tidak mau bertemu dengannya. Sebelum resmi bercerai, aku sebaiknya menjauhi mas Ringgo. Aku tidak ingin terpengaruh lagi olehnya.

__ADS_1


"apa tujuan kamu datang kemari mas? kalau tidak terlalu penting, sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku ingin istirahat, mas?"


"Aku......


"cepatlah mas, katakan apa yang ingin kamu sampaikan. Aku ingin istirahat, aku benar-benar lelah mas." Aku berkata dengan nada ketus, kepalaku tambah pusing melihat dan mendengar suaranya.


"mas kehilangan uang dek," mas Ringgo berkata degan suara pelan, aku terkesiap mendengar perkataannya. Mas Ringgo mulai bertemu karmanya, aku senang mendengar perkataannya.


'babak baru kehidupanmu dimulai mas, Sekarang kamu akan merasakan hidup kekurangan uang, itulah karma yang kamu dapatkan karena membohongiku selama ini.' Aku berkata dalam hati, mas Ringgo sekarang harus merasakan balasannya.


"apa mas, uangmu hilang? Berapa dan dimana mas? Aku bertanya berlagak terkejut, mas Ringgo terlihat mengernyitkan dahinya. Pantas saja wajahnya begitu kusut, rupanya dia baru mengetahui uang tabungannya sudah ludes.


"iya dek, mas kehilangan semua uang yang ada dalam tabungan mas. Mas kehilangan uang lebih lima ratus juta dek, Apa kamu yang mengambilnya dek?


"lima ratus juta, tidak salah mas? Kamu jangan mengada-ngada mas, setahuku kamu baru bekerja kurang lebih tiga tahun. Mana mungkin kamu mempunyai tabungan sebanyak itu mas?"


Aku berlagak bodoh, mas Ringgo harus menyangka kalau aku benar-benar tidak mengetahui keberadaan uangnya. Dia sekarang termakan perkataannya sendiri, aku membalikkan kata-kata yang dulu sering dia ucapkan


Dulu, mas Ringgo selalu berkata tidak memiliki uang ketika aku meminta uang tambahan untuk membeli keperluanku. sekarang rasakan akibatnya, dia berbohong aku menggunakan kebohongannya untuk membalas kebohongannya.


"benar dek, kenapa kamu tidak percaya kepadaku? Mas benar-benar kehilangan uang di tabungan sebanyak itu."


Aku berusaha bersikap santai dan menjawab pertanyaan mas Ringgo dengan mengangkat bahu. Mas Ringgo menatap dalam ke arahku, tatapannya seakan dia berusaha menyakinkan ku.


"percayalah dek, mas mohon kamu percaya pada mas kali ini."


"bagaimana aku bisa percaya padamu mas? Kamu harus bangun dari mimpimu mas, aku tahu persis siapa kamu. Kamu hanyalah karyawan biasa yang mendapatkan gaji kecil, yang tidak mampu menafkahi istrimu sepenuhnya. Mana mungkin memiliki tabungan sebanyak itu."


Mas Ringgo menatap nanar kepadaku, mungkin dia merasakan kebenaran dari setiap kata-kata yang baru saja aku ucapkan. Aku tersenyum menyeringai melihat ekspresi wajah mas Ringgo, puas rasanya hatiku bisa membuatnya tidak berdaya seperti itu.


"beneran dek, apakah kamu tidak ada hubungannya dengan tabungan mas yang hilang?"


"jangan gila mas, apa kamu menuduh aku yang mencurinya?

__ADS_1


__ADS_2