
" ayo pak, kita kembali ke ruangan tempat ibu dirawat."
"iya nak."
Aku mengajak pak Roman kembali ke tempat istri beliau berobat, aku tidak lupa membelikan makanan untuk mbak Ayuna. Aku yakin dia belum makan juga, tadi dia terlihat lemas sekali.
Aku dan pak Roman berjalan dengan bersisian, beliau berjalan dengan langkah yang lambat. Aku merasa sangat kasihan pada pak Roman, mungkin sekarang beliau merasa tidak bersemangat karena istri beliau sedang terbaring lemah tak berdaya.
Ketika sampai di ruangan yang kami tuju, aku melihat mas Roland sedang berbincang dengan mbak Ayuna. Aku bisa melihat raut bahagia terpancar di wajah kakak laki-laki itu.
Mas Roland terlihat berbicara dengan senyum selalu terkembang di bibirnya. Dia kadang salah tingkah ketika mbak Ayuna memandang ke arahnya.
Aku senang sekali melihat pemandangan itu, sepertinya mas Rolang memang sedang jatuh cinta. Andaikan benar mas Roland jatuh cinta pada mbak Ayuna, aku akan membantu mendekatkan mereka.
"maaf nak Roland, bapak dan nak Rianti lama perginya."
"tidak apa-apa pak."
"ini mbak." Aku menyerahkan bungkusan yang ku bawa.
"apa ini mbak Rianti?"
" ini makanan untuk mbak Ayuna, saya membelinya di kantin tadi. Semoga mbak Ayuna menyukai makanan yang saya beli."
"terima kasih mbak."
"iya, sama-sama mbak."
Kami berbincang-bincang sejenak sebelum pergi, ternyata mbak Ayuna seorang wanita yang berpendidikan. Dia sekarang sedang kuliah dan sudah berada di tahap semester akhir.
Aku kagum pada wanita yang satu ini, di tengah segala hambatan dan cobaan hidup, dia masih mengutamakan pendidikan. Berbanding terbalik dengan diriku, aku tamat SMA langsung nikah cuma gara-gara karena di kecewakan oleh pacarku, mas Aldo.
Aku tersenyum miris mengenang semua itu, ternyata cinta sudah berkali-kali melukai dan menghancurkan hatiku. Aku tidak tahu, apakah setelah ini akan berani jatuh cinta lagi.
Aku terus memandangi wanita itu, tiba-tiba terbersit rasa iri di hatiku kepadanya. Aku ingin rasanya melanjutkan pendidikanku kembali, semoga mas Roland mau membantuku nanti.
"mbak Ayuna mau tidak kerja paruh waktu di perusahaan kakak saya?" Aku bertanya pada mbak Ayuna, tiba -tiba satu ide timbul begitu saja di benakku.
"saya sangat mau Rianti, tapi saya belum punya ijazah yang ada cuma ijazah SMA."
"tidak apa-apa mbak, nanti kita melamar kerja sama-sama di sana. Saya juga cuma Lulusan SMA, saya pastikan mbak Ayuna akan diterima di sana karena perusahaan itu milik mas Roland, he he." Aku berkata seraya tertawa kecil, mas Roland tampak kaget mendengarkan aku bicara begitu.
"benarkah itu mbak Rianti? Apakah mungkin perusahaan besar yang mas Roland miliki membutuhkan karyawan yang tidak berpengalaman seperti saya?"
"Aku yakin mbak Ayuna orangnya cerdas dan pintar, mbak Ayuna pasti tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajari dan menyesuaikan diri nantinya. Iya kan mas?"
__ADS_1
"i-iya dik, Mas kira juga begitu." mas Roland menjawab dengan sedikit tergagap, mungkin dia tidak menyangka aku akan bertanya begitu kepadanya.
"kalau begitu, bolehkah saya minta kartu nama pak Roland atau mbak Rianti?
"oh tentu saja mbak."
Aku memberikan sebuah kartu nama milik mas Roland mbak Ayuna. Dia terlihat tersenyum ketika menerimanya, aku senang akhirnya aku mendapat jalan untuk mendekatinya.
"nak Rianti dan nak Roland, mari kita ke rumah bapak kita akan menyelesaikan transaksinya di sana."
"baiklah pak." mas Roland segera bangkit, kami mengikuti pak Roman.
Setelah beberapa lama, Kami akhirnya kami menyelesaikan transaksinya. Pak Roman menyerahkan segala urusannya pada kami, beliau hanya mau tinggal beres saja.
Setelah semuanya beres, kami pamit pada pak Roman. Aku merasa senang sekali, akhirnya aku bisa menyelesaikan misi terakhirku. Sekarang semua kenangan yang berkaitan dengan mas Ringgo sudah aman. Jangankan dia, bayangannya saja sekarang tidak akan bisa menggangguku.
Aku menghela nafas panjang dan menghempaskannya kembali, semua beban yang selama ini bergelayut di hatiku sekarang aku buang jauh-jauh.
"selamat tinggal masa lalu, aku akan mengikhlaskanmu sekarang."
Aku melangkah pasti, kami meluncur meninggalkan rumah pak Roman. Selama dalam perjalanan, mas Roland hanya diam saja.
"mas bagaimana menurutmu mbak Ayuna?"
"dia cantik dan baik?"
"iya, mas menyukai kepribadiannya. Dia memiliki kepribadian yang menarik, kenapa kamu bertanya begitu?"
"apa mas tidak coba mendekatinya, kali aja mas Roland dan mbak Ayuna berjodoh."
"kamu kenapa sih dik? kita baru saja kenal sama dia, setelah ini kita belum tentu kita akan bertemu dengannya lagi."
"apa mas benar-benar menyukainya, aku bisa membantu kalau mas mau."
"apa kamu bisa dik?" mas Roland bertanya dengan antusias seketika terlihat matanyanya berbinar.
"tentu saja mas, asal ada syaratnya."
"apa dek?"
"aku mau melanjutkan pendidikanku mas, aku mau kuliah. Apa mas mau mendaftarkan aku di universitas tempat mbak Ayuna kuliah?"
"kamu yakin sekali mas, aku ingin kuliah mas."
"baiklah kalau begitu. Mas akan mendaftarkan kamu besok, kebetulan sekarang lagi penerimaan mahasiswa baru."
__ADS_1
"terima kasih ya mas."
"mas senang kamu ada keinginan untuk kuliah."
"seharusnya, aku melakukan ini dari dulu mas. Aku meyesal dulu tidak melanjutkan kuliah, malah buru-buru menikah. Tapi sekarang apa yang terjadi, aku hanya melakukan hal yang sia-sia"
"aku harus menerima kenyataan di khianati, rumah tanggaku hancur dan mampu bertahan sebentar saja."
"kamu tidak perlu menyesali diri dik, semua yang terjadi itu sudah takdir yang harus kamu jalani. Sekarang kamu harus berbenah diri, semoga hidupmu lebih baik ke depannya."
"iya mas,"
"mumpung belum malam, ayo kita jalan-jalan ke mall dik. Mas mau membeli stelan buat di pakai ke kantor, sekalian refresing."
"ayo mas," Aku langsung menerima ajakan mas Roland, aku memang ingin pergi ke sana.
Aku mengikuti kemana mas Roland pergi, senang rasanya bisa jalan-jalan walau hanya ke mall. Mas Roland memilih beberapa potong pakaian, ternyata seleranya sangat bagus.
Ketika hendak membayar ke kasir, aku terkejut melihat harga yang harus dibayar.
"dik, kamu tidak belanja sekalian?" mas Roland bertanya, dia heran melihatku karena hanya diam. Aku masih merasa sungkan padanya, malu rasanya kalau minta di belikan.
Akhirnya, aku memutuskan memilih beberapa potong pakaian untuk aku beli. Setelah lama memilih, aku menemukan beberapa potong yang aku sukai.
Aku membawa baju-baju itu ke kamar ganti, setelah di coba aku sangat menyukainya. Baju-baju itu terlihat cantik membalut tubuhku.
Aku sangat yakin dengan pilihanku, segera membawanya ke meja kasir. Setelah di total, aku terperanjat kaget karena harganya tidak masuk akal bagiku.
Aku celingak-celinguk melihat kanan kiri, memastikan mas Roland tidak ada.
"saya boleh mengurangi belanjaan saya tidak mbak, saya tidak jadi membeli semuanya. Mungkin, saya hanya akan memilih salah satu saja."
"kenapa mbak" kata pelayan kasir itu lagi.
"saya ternyata tidak memiliki uang cash sebanyak itu mbak."
"oh iya mbak, mbak mau beli yang mana?"
"yang mana ya, semuanya bagus-bagus. Aku bingung mau milih yang mana, karena terlanjur menyukai semuanya."
"kenapa dek?"
"tidak apa-apa mas." Aku nyengir menutupi apa yang terjadi. Semoga saja mas roland tidak mengetahuinya.
"begini mas, mbak ini tidak jadi membeli semua baju ini. Beliau mengatakan kalau uangnya kurang."
__ADS_1
'ya ampun, mbak penjaga kasir ini bikin tengsin aja.' Aku menjerit dalam hati, aku hanya senyum-senyum tak jelas menutupi perasaanku