
"selamat siang mbak, kami datang mengantarkan mesin cuci yang mbak beli." Aku senang sekali, ternyata yang datang karyawan toko elektronik tempat aku membeli mesin cuci tadi. Aku bersiap memberikan kejutan yang akan membuat mas Ringgo semakin lemah tak berdaya.
Aku membeli mesin cuci yang lumayan harganya, kalau mas Ringgo bertanya aku katakan bukan membeli cash tapi membelinya secara kredit, jadi dia harus membayar tagihan setiap bulannya.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana frustasinya mas Ringgo nanti ketika mendengar jawabanku, tapi aku tidak peduli karena memang itulah tujuanku. Dia akan pusing memikirkan semua hutang yang harus dibayarnya, padahal hutang itu akulah yang membuatnya bukan dia.
"mas tolong bantu saya membawa mesin cuci itu ke dalam ya." Aku meminta karyawan tadi untuk meletakkan langsung ke dalam rumah.
"baik mbak," karyawan itu menuruti permintaanku, dia segera mengangkut mesin cuci itu langsung ke dalam rumah.
"mbak semua sudah selesai, tolong tanda tangani bukti pengiriman ini." aku segera menandatangani surat pengiriman itu, lalu karyawan itu pergi meninggalkan rumahku.
Aku tersenyum memandang mesin cuci yang baru saja datang, aku bersiap melihat respon mas Ringgo ketika mengetahui aku membeli itu. Dia pasti sangat terkejut melihatnya.
"dek siapa yang datang,?" mas Ringgo bertanya kepadaku, dia terlihat heran melihat mesin cuci itu.
"karyawan toko elektronik mas, mereka datang mengantarkan mesin cuci yang tadi aku beli." aku berkata tanpa menoleh ke arah mas Ringgo. Aku menjawab dengan enteng menjawab pertanyaannya, aku menunggu reaksinya.
"dek katanya tidak memiliki uang tapi malah bisa membeli mesin cuci, uang dari mana?" mas Ringgo bertanya seraya menatap tajam kepadaku, dia menanti jawabanku.
"aku tidak membeli secara cash mas tapi dengan cara kredit, angsuran pertamanya aku janjikan membayarnya pas kamu gajian." aku berkata berusaha menjelaskan kepadanya.
Seketika, mas Ringgo terkejut mendengarkan penjelasan dariku, dia terlihat shock mendengarkannya. Aku bisa melihat perubahan ekspresi wajahnya, terlihat jelas dia tidak suka menyukainya.
__ADS_1
"dek kenapa tidak membicarakan terlebih dahulu sebelum membelinya?" mas Ringgo berkata, dia terlihat mulai emosi kepadaku. aku bisa merasakan kemarahan dalam pertanyaan yang dia lontarkan kepadaku.
"aku tidak mungkin meminta izin terlebih dahulu kepadamu mas karena aku yakin kamu pasti tidak akan memperbolehkannya." Aku menjawab pertanyaannya, sejenak dia terdiam mendengarkan penjelasan dariku.
"sebaiknya, kita kembalikan mesin cuci ini dek. mas takut kita tidak bisa membayarnya" mas Ringgo kemudian berkata, sentak saja aku menolak usulannya.
"tidak mas, aku tidak akan mengembalikannya. Suka ataupun tidak, aku menginginkan mesin cuci ini." aku berkata bersikukuh tidak akan mengembalikan mesin cuci yang baru saja aku beli.
"tapi dek,...
" tidak ada tapi-tapian mas, aku tidak mau tahu kamu harus membeli mesin cuci ini.Coba kamu ingat-ingat, apakah pernah kamu membelikan aku sesuatu selama ini?" Aku bertanya kepadanya, mulai menyerangnya dengan pertanyaan.
Mas Ringgo terdiam mendengarkan pertanyaan dariku, dia tidak bisa menjawabnya. Dia pasti tidak menyangka aku bisa berkata seperti itu kepadanya, aku benar-benar puas melihatnya tersudutkan seperti itu.
Aku bukannya takut melihat dia begitu marah kepadaku, tapi malah membuatku semakin puas. Aku senang karena salah satu tujuanku membeli mesin cuci itu akhirnya tercapai, aku ingin menambah penderitaannya.
"bukan aku yang berubah mas, tapi kamulah yang terlalu pelit kepadaku. Tiga tahun menikah kamu harus sadar kalau kamu tidak pernah membelikan apa-apa untukku." Aku terus menyerangnya, dia tidak bisa menyangkal semua kata-kataku karena yang aku katakan karena fakta.
Mas Ringgo termenung mendengarkan setiap kata-kata yang keluar dari mulutku, dia tidak bisa menjawab lagi. Sebagai manusia, aku kasihan melihat dia begitu tapi kalau mengingat kelakuan buruknya aku senang tiada terkira bisa membalas semua perlakuannya.
'Kamu berani main-main denganku mas, maka kamu harus terima balasannya. Aku tidak akan tanggung-tanggung, kamu sakiti aku sekali maka aku akan membalas sepuluh kali lipat lebih menyakitkan." aku bergumam di dalam hati, seraya berlalu dari hadapannya.
Aku kemudian menuju dapur untuk menyiapkan makan siang. walaupun sedang marah, aku tidak melupakan kewajiban sebagai seorang istri. Aku tetap menyiapkan makan siang untuk mas Ringgo walau menu yang aku masak sangat sederhana.
__ADS_1
Aku segera menggoreng telur dadar sebagai lauk untuk makan siang, selain mudah dan cepat membuatnya tapi sekarang juga akhir bulan. Aku cuma memiliki telur dan sayur bayam untuk di masak.
Setelah selesai memasak, aku kemudian membawanya ke meja makan. Aku segera menata dan menghidangkan diatas meja.
"mas, ayo kita makan," aku memanggil mas ringgo untuk makan siang, aku melihat dia masih duduk diatas sofa.
Melihat dia tidak merespon ajakan dariku, aku kembali mengajaknya tapi dia tetap diam saja. Aku tidak peduli dengan sikapnya itu, malah aku berpikir lebih baik dia tidak makan dari pada ikut makan bersamaku.
'terserah mas, kamu mau makan atau tidak aku tak peduli.' aku bergumam di dalam hati, yang penting aku telah mengajaknya tadi
Aku kemudian mengambil nasi dan lauk untukku sendiri, dan mulai menyantap makanan yang ada di hadapanku. Aku tidak peduli lagi dengan mas Ringgo, apakah dia mau makan atau tidak yang jelas aku telah mengajaknya tadi.
Tidak berapa lama, aku melihat mas Ringgo bangkit dan berjalan kearah meja makan dia duduk menghadap ke arahku. Dia segera mengambil sendiri nasi dan lauk untuk ya, aku tersenyum sendiri melihat tingkahnya.
Aku selesai makan makan lebih dulu dari mas Ringgo, dia rupanya kurang selera karena menu yang seadanya. tapi, aku tidak peduli dengan semua itu mas Ringgo harus menerima dan memakan apa yang aku masak.
Selesai makan, aku segera membereskan meja makan dan mencuci piring bekas makan tadi. Aku melihat mas Ringgo beranjak dari meja makan lalu kembali pindah duduk di sofa. Dia sekarang tidak banyak bicara mungkin dia masih marah kepadaku soal mesin cuci tadi.
Tapi aku sama sekali tidak peduli, aku puas sekali bisa memberi pelajaran kepadanya. Dia harus merasakan pembalasan dariku, dia pantas mendapatkannya bahkan itu belum seberapa.
Aku kemudian beranjak bangkit segera menuju kamar tidur. Aku duduk di tepian ranjang seraya memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Aku kemudian mengambil ponsel membuat postingan dan mengiklankan usaha baruku di aplikasi Facebook milikku.
Aku berharap semoga usaha laundry kiloan yang aku dirikan mendapat respon positif dari teman-temanku yang ada di Facebook dan segera mendapatkan langganan. Setelah membuat postingan, aku kemudian menutup ponselku.
__ADS_1
Aku kemudian bangkit menuju kamar mandi mengambil wudu' untuk melaksanakan sholat. Aku akan mengadukan segala apa yang telah terjadi di hidupku kepada dia yang maha pengasih dan maha penyayang, semoga aku selalu dalam limpahan hidayahnya.