SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 44: Kamu Tidak Akan Pernah Menang Melawanku


__ADS_3

"assalamualaikum bu, bolehkah kami bertemu dengan Bu rianti? salah seorang polisi bertanya kepadaku, aku merasa heran kenapa polisi datang ke rumahku.


"saya Rianti pak, kalau boleh tahu ada keperluan apa ya? aku bertanya kepada mereka, aku merasa bingung atas kedatangan mereka. Mereka memandang ke arahku, aku semakin merasa ada yang tidak beres dengan kedatangan mereka.


"begini Bu, kami membawa surat pemanggilan untuk ibu, kami berharap ibu bisa datang secepatnya ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan yang kami perlukan." petugas itu berkata seraya menyerahkan surat panggilan dari kepolisian kepadaku, aku bertambah bingung kenapa mereka memberikan surat panggilan itu.


"memangnya, apa kesalahan saya pak sehingga pihak kepolisian memberikan saya surat panggilan, saya merasa tidak pernah melakukan perbuatan melanggar hukum selama ini." Aku berkata seraya menatap kedua polisi itu, aku merasa sedikit takut menghadapi mereka.


"Anda dilaporkan oleh saudari Ratu mustika dengan tuduhan penganiayaan yang anda lakukan terhadapnya." pak polisi itu berkata memberikan penjelasan, kenapa aku diberi surat panggilan oleh pihak kepolisian. Ternyata, Ratu melaporkanku ke polisi atas kejadian tempo hari.


'ternyata, dia belum jera berurusan denganku. Ratu benar-benar ingin menantang aku, dia berani melaporkan aku ke polisi. Baiklah aku ladeni permainan dia, Aku akan membuat dia sendiri yang akan mencabut laporannya kembali.' Aku berkata dalam hati, rasa takut yang tadi menyapaku tiba-tiba hilang entah kemana.


"kami harap anda secepatnya datang ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan." pak Polisi itu berkata dengan nada tegas kepadaku, aku menjawab perkataannya hanya dengan anggukan kepala seraya tersenyum hormat kepadanya.


"baiklah pak, saya pasti datang memberikan keterangan. Saya tidak akan pernah berani melawan hukum, tapi tolong beri saya waktu seminggu untuk menyiapkan segala sesuatunya." Aku berkata memohon diberi sedikit waktu. Aku akan menggunakan waktu yang diberikan untuk membuat Ratu membatalkan tuntutannya.


"seminggu terlalu lama, kami akan beri waktu anda selama tiga kali dua puluh empat jam. Kami akan memberikan surat panggilan kedua, kalau dalam masa itu anda tidak menepati janji." Polisi itu berkata, mereka memberikan waktu bagiku hanya selama tiga kali dua puluh empat jam berarti itu sama dengan tiga hari. ko

__ADS_1


"baiklah pak, saya akan datang ke kantor polisi tiga hari lagi." aku berkata, ada rasa lega mendengarkan perkataan mereka. Aku merasa waktu selama tiga hari yang mereka berikan, cukup bagiku untuk menyelesaikan semua masalahku.


"kami permisi bu, kami menanti kedatangan Bu Rianti tiga hari lagi. Kami berharap Bu rianti datang tepat waktu karena kalau Bu Rianti melalaikan panggilan kami, itu akan merugikan diri ibu sendiri." polisi itu berkata seraya undur diri.


Aku memandang kepergian kedua petugas kepolisian itu, hingga mereka hilang dari pandanganku. Selepas kepergian mereka berdua, Aku kemudian menutup pintu seraya pikiranku berputar mencari solusi dari masalah yang tengah menghadang langkahku.


"mas akan membantu menyelesaikan masalah ini dek." mas Ringgo berkata seraya tangannya hendak memegang tanganku, tapi aku segera berlalu menepis genggaman tangannya sehingga tangannya hanya memegang angin.


"aku tidak memerlukan bantuan darimu mas, biarlah aku menyelesaikan masalahku sendiri. Aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan, aku pasti bisa keluar dari jerat hukum yang dituduhkan oleh kekasih tercintamu." aku berlalu dari hadapan Ringgo, sudah cukup dia mendatangkan masalah untukku.


"aku akan membuat wanita busuk itu mencabut tuntutannya dalam jangka tiga hari, kalau dia tidak menurut akan aku buat dia menyesal seumur hidup." Aku berkata dalam hati, kedua tanganku mengepal erat, menahan amarah yang sedang bergolak di dalam dada


Aku yakin bisa membuat wanita itu tidak berkutik, akan aku pastikan dia sendri yang akan datang ke kantor polisi untuk mencabut laporannya. Dia belum tahu berhadapan dengan siapa, berani main-main denganku berarti dia berani menanggung resikonya.


'walaupun, kamu lebih tua dariku bukan berarti aku bisa kamu kalahkan begitu saja Ratu. Kamu akan menyesal telah berurusan denganku." aku berkata seraya menyunggingkan senyuman di bibirku, aku yakin sekali bisa memenangkan permainan ini.


Setelah mengunci pintu kamar, aku segera membaringkan tubuh lelahku di ranjang. Aku merasa sangat lelah sekali, semua masalah ini seakan menyedot habis seluruh tenagaku. Aku akan tidur sejenak, ingin mengistirahatkan tubuhku.

__ADS_1


"dek kamu tidak apa-apakan?" Aku mendengar suara mas Ringgo bertanya kepadaku dari luar. Tapi, aku merasa tidak perlu menjawab pertanyaannya dan apapun yang dia lakukan sekarang tidak akan bisa mencegah apa yang telah terjadi.


Kalau dulu mungkin, aku merasa sangat senang dia memberi perhatian kepadaku. Tapi sekarang, semua perhatiannya tidak lagi berguna bagiku. Percuma, dia memberikan perhatian sekarang kepadaku semuanya sudah tidak memiliki arti apa-apa bagiku.


Aku segera memejamkan mata, ingin tidur sejenak segala masalah yang ada. Aku tidak perlu mengkhawatirkan laporan si Ratu ular berbisa itu, karena aku mempunyai cara jitu untuk memaksa dia membatalkan tuntutannya.


'Ratu kau tidak akan pernah bisa menang melawanku, kau harus tahu aku memegang semua rahasia pribadimu. Andaikan tidak mau mencabut semua laporannya, dia harus bersiap-siap menanggung malu seumur hidup." Aku berkata di dalam hati seraya tersenyum, Ratu ular harus mengakui kekalahannya, dia tidak bisa menang melawanku.


Aku akhirnya tertidur, setelah lelah seharian bergelut dengan masalah yang aku hadapi. Jangan ditanya seberapa lelahnya, aku lelah lahir dan batin sehingga tubuhku lemah tak bisa dipaksa untuk di ajak kompromi lagi.


Entah berapa lama tertidur, aku terjaga dari tidurku setelah azan isya berkumandang di mesjid. Aku ternyata tertidur cukup lama, sehingga aku melewatkan shalat magrib. Astaga, aku baru ingat aku belum menyiapkan makan malam.Aku segera bangun dan bergegas bangkit dari tidurku, aku kemudian berlalu keluar kamar hendak menyiapkan makan malam untukku karena perutku terasa lapar.


Aku kaget melihat luar biasa melihat pemandangan yang tidak pernah terjadi selama ini. Selama tiga tahun menikah, aku belum pernah melihat dan menyaksikan mas Ringgo menyiapkan makan malam. Tapi ini apa? Aku melihat makanan terhidang diatas meja, entah apa maksudnya.


"kita makan dulu ya dek, mas sidah menyiapkan mlam untuk kita." mas Ringgo berkata dia mengajakku makan malam bersama.


"aku memang lapar mas, tapi kamu jangan pernah berharap aku akan memaafkan segala kesalahanmu hanya dengan semua ini." Aku berkata dengan nada dingin, sedingin hatiku yang telah mati.

__ADS_1


__ADS_2