SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 115: Tidak Kusangka, Kau Begitu Hina


__ADS_3

"Kali ini, anda telah membuat saya kecewa pak Ringgo. Sebagai manejer keuangan, anda sudah tidah bisa di andalkan lagi, kinerja anda sangat jauh dari yang dibutuhkan." Mas Ringgo seketika mendongak ketika mendengarkan kata-kata mama.


Mas Ringgo terlihat sangat terkejut, sampai-sampai dia membesarkan matanya ketika menatap mama. Dia terliha sangat syok, aku terus mengamati setiap sikap dan ekspresi wajahnya.


"maafkan saya buk, ini terakhir kalinya saya membuat kesalahan." mas Ringgo dengan nada lemah, wajahnya terlihat lesu yang membuat penampilannya semakin lusuh.


"baiklah pak Ringgo, kali ini anda saya maafkan."


"terima kasih buk, saya berjanji akan memperbaiki kinerja, jadi lebih baik lagi." Mas Ringgo berkata dengan suara lemah sambil mengerlingkan mata kepadaku.


Sejenak tatapan kami bertemu, aku membalas tatapannya dengan tatapan dingin tanpa ada emosi di dalamnya. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, aku sudah tidak ingin mengetahuinya.


Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah mama, beliau tampak masih menatap tajam ke arah mas Ringgo.


"oh ya, pak Ringgo. Saya menunggu anda dari pagi, anda pasti tahu apa yang ingin saya bicarakan dengan anda."


"iya buk."


Mas Ringgo menjawab singkat perkataan mama, dia tertunduk lemah menatap lantai. Aku sebenarnya merasa kasihan melihat dia seperti ini, bukan karena aku masih mencintainya. Aku merasa kasihan melihat wajah lesu serta kusutnya.


"silahkan duduk pak Ringgo, saya ingin mendengarkan penjelasan pak Ringgo. Kenapa laporan keuangan yang pak Ringgo buat tidak sesuai dengan yang seharusnya? Mama mulai melontarkan pertanyaan pada mas Ringgo, wajah mas Ringgo mulai terlihat tegang.


Mas Ringgo terdiam beberapa saat, dia terlihat memikirkan jawaban yang akan di berikan kepada mama.


"pak Ringgo, saya harap anda berkata jujur pada saya. Anda jangan coba-coba bohong kalau tidak ingin berakhir di penjara. Saya tidak pernah main-main, sebaiknya bekerja sama dengan saya." Mas Ringgo terkejut mendengar mama berkata, akupun tak kalah kagetnya.


wajah mas Ringgo mendadak pias, bintik- bintik keringat mulai bermunculan di dahinya. Dia terus menunduk, tidak berani menatap ke arah mama.


"maaf buk, sebenarnya itu memang kesalahan saya. Saya salah perhitungan awalnya. Jadi untuk menutupi kesalahan saya membuat laporan fiktif."

__ADS_1


"saya tidak yakin itu alasannya, apakah anda melakukan penggelapan uang perusahaan. Kalau anda jujur, saya akan menyelamatkan anda. Tapi, anda akan menanggung akibatnya jika coba menipu dan membohongi saya." mama lontarkan pertanyaan langsung pada sasarannya, membuat mas ringgo terperangah tak berdaya.


Aku memperhatikan cara mama menginterogasi mas Ringgo. Mama memang tidak ada duanya. Beliau tegas, pintar dan mengerikan. Beliau menanyai mas Ringgo sudah seperti polisi mengintrogasi pencuri.


Mas Ringgo terlihat menghela nafas berat dan sangat perlahan, dia menelan kasar air ludahnya. Dia sekarang benar-benar tak berdaya, pertanyaan mama sukses membuatnya kehilangan keberanian serta kata-kata.


"pak Ringgo, sekali lagi saya minta untuk jujur. Saya bukan orang baru di dunia bisnis. Saya tahu seluk beluk perusahaan ini karena saya yang mendirikannya."


"maafkan saya buk, saya khilaf." mas Ringgo mulai membuka sedikit tabir kejujurannya karena dia tidak mungkin berkilah lagi.


"jadi benar, anda telah menggelapkan dana perusahaan dan jumlah yang anda gelapkan itu, sebanyak data yang saya dapatkan?"


"tidak sebanyak itu buk." mas Ringgo bicara dengan suara yang pelan, aku hanya geleng kepala ketika mendengarkan pengakuan mas Ringgo.


Dari pengakuannya barusan, aku bisa tahu bahwa dia memang telah menggelapkan uang perusahaan. Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa melakukan semua itu. Sehebat itukah, wanita itu mempengaruhi kepribadian mas Ringgo.


"silahkan anda terangkan, saya ingin mendengarkan semuanya dengan lebih jelas lagi. Sekarang sebaiknya kita duduk dengan tenang, saya harap anda bisa memberikan penjelsan yang sejujur-jujurnya."


Kami kemudian duduk di kursi masing-masing, aku dan mama memutar kursi kami sehingga tubuh dan pandangan tertuju langsung pada mas Ringgo.


"sekarang, silahkan anda jelaskan."


Mas Ringgo menundukkan wajahnya beberapa saat, dia terlihat menelan kasar ludahnya. Aku menuggu kebenaran apalagi yang di sembunyikannya selama ini.


Beberapa menit berlalu, mas Ringgo belum juga berkata apa-apa, mama terlihat mulai tak sabar.


"jadi, apa penjelasan anda pak Ringgo." suara memecah keheningan yang tercipta, mas Ringgo sejenak mendongak sedangkan air mukanya semakin keruh.


"maafkan atas kekhilafan saya, bu. Semua ini bermula ketika, pak Irwan mengetahui hubungan saya dengan Ratu. Dia mengancam akan melaporkan perbuatan saya pada Pak Roland, karena takut akan dipecat saya memberikan uang tutup mulut padanya."

__ADS_1


Aku dan mama saling pandang sejenak, merasa aneh dengan penjelasan Mas Ringgo. Aku bertanya dalam hati, apa hubungannya?


"maksud pak Ringgo apa." mama kembali bertanya.


"perusahaan membuat aturan, karyawan di larang selingkuh kalau ketahuan akan langsung dipecat." Jawaban mas Ringgo membuatku terperangah, ternyata mas Roland anti perselingkuhan juga.


"jadi berapa besar uang yang anda berikan kepada pak Irwan sebagai uang tutup mulut."


"dua milyar bu, dia meminta segitu kepada saya."


"dalam data ini, saya menemukan ada sekitar lima milyar dana yang hilang, lebihnya anda kemanakan?"


Seketika, raut wajah mas Ringgo semakin pias. Aku melihat keringat dingin memercik di keningnya. Aku merasa uang itu pasti dia yang menggunakannya.


Tapi apa mungkin? Bukannya, aku hanya menemukan lima ratus juta lebih sedikit sedikit. Jadi, kemana perginya uang dalam jumlah yang jauh lebih besar itu.


"uangnya sa-ya yang memakainya bu." Suara mas Ringgo tergagap, tubuhnya gemetaran. Beginilah kalau maling ketangkap basah, menyedihkan!


"anda keterlaluan pak Ringgo tiga milyar anda makan sendiri. Saya minta anda kembalikan semua uang itu, kalau tidak siap-siap masuk penjara." mama menekan kata penjara, beliau benar-benar terlihat geram.


Aku geleng kepala seraya menatap tajam kearah mas Ringgo, ternyata dia juga menatap kearahku. aku memperlihatkan pandangan sinis dan air muka tidak suka padanya. Biar, dia tahu perbuatannya benar-benar telah melampau batas.


"tapi bu, saya tidak punya uang sebanyak itu karena sudah saya gunakan. Saya juga kehilangan uang tabungan saya beberapa bulan lalu, bagaimana saya bisa mengembalikan uang itu?"


"bagaimana caranya itu bukan urusan saya, anda harus mengembalikan uang perusahaan yang anda pakai secepatnya." mama bangkit dari duduknya kemudian melangkah keluar ruangan, aku segera menyusul beliau.


"dek,..


Mas Ringgo berkata, tapi dia tidak melanjutkan kata-katanya, aku menoleh sejenak kepadanya.

__ADS_1


"aku tidak menyangka, kamu begitu hina mas. Aku tidak menyesal berpisah dari kamu, ternyata kamu tidak lebih dari seekor tikus tak berguna." Aku kemudian beranjak, menyusul mama yang telah dulu meninggalkan ruangan.


__ADS_2