SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 128: Menyentuh Berarti Membeli


__ADS_3

"tidak ada apa-apa kok kak, aku hanya terkenang potongan kisah masa lalu." Aku tersenyum malu, saat menjawab pertanyaan mas Roland.


"tapi, kamu jangan lakukan lagi ya, nanti mas tidak mau bayar makanan yang kamu sentuh tapi tidak kamu makan."


Aku menoleh cepat ke arah mas Roland, dia terlihat nyengir, asli dia membuatku terkejut. Jangan-jangan, mas Roland tahu apa yang sedang kupikirkan.


"maksud mas apa?"


"kamu jangan menyentuh semua makanan, ingat ya ini rumah makan padang, menyentuh berarti membeli." mas Roland berkata lagi dengan santai dan senyum aneh terkembang di bibirnya.


"jangan bilang, mas Roland dulu ngikutin aku ya?!"


"kamu baru tahu ya, he he." mas Roland ketawa ngakak, aku hanya tersenyum simpul mendengarnya.


Tak berapa lama, karyawan rumah makan yang tadi menghampiri dan mendatangi kami kembali dengan membawa berbagai menu di tangan dan menghidangkannya di hadapan kami. Semua di tata dengan apik, aku menatap semua menu yang di hidangkan.


Kriuuuk!


Perutku langsung tahu jika ada makanan enak di depan mataku, aku mendadak langsung merasa sangat lapar. Karyawan rumah makan itu mempersilahkan kami menikmati hidangan, begitu semua menu siap di hidangkan.


"ayo kita makan ma."


"aku tidak di ajak mas."


"kamu nunggu mas nawarin juga, tunggu tahun depan, mas tawarin ya!" mas Roland kembali tersenyum, senang sekali dia meledekku.


Aku hanya mengerunyutkan bibir sebagai balasan dari ledekannya, rasanya kesel tapi senang juga. Aku bahagia sekali menikmati saat-saat seperti ini, terus terang aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.


Aku merupakan anak tunggal dari mendiang ibuku, aku tak punya kakak ataupun adik. Dulu, almarhumah tidak pernah cerita kalau aku bukanlah anak kandungnya.

__ADS_1


Tapi sekarang setelah bertemu dengan keluarga kandungku, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kakak laki-laki, bahagia sekali rasanya. Aku menikmati kebersamaan yang tercipta diantara kami, semoga kebahagian ini tidak lepas lagi dari genggamanku.


Aku makan dengan lahap, semua masakan pada aku suka apalagi rendangnya. Mama juga terlihat menikmati begitu juga dengan mas Roland. Kami begitu menikmati suasana hangat seperti ini, tidak pernah terbayang di benakku, aku bisa merasakan hal seperti ini sebelumnya.


Hari berangsur gelap, kamipun sudah menyelesaikan ritual makan. Kami pulang dalam perut kenyang dan kebahagian yang memenuhi hati, sungguh besar nikmat yang kami terima.


Setiba di rumah, aku langsung masuk le dalam kamar. Aku segera membersihkan diri dan mengerjakan kewajibanku kepadaNya karena azan magrib telah berkumandang. Aku datang kepadanya dengan segala kepasrahan dan rasa syukur yang telah ku terima pada hari ini.


Setelah sholat magrib, aku kemudian memeriksa ponselku, melihat apakah ada notifikasi dan pesan masuk. Aku tertegun pada sebuah yang menampilkan logo sebuah universitas.


Aku membaca pesan itu, ternyata isinya pemberitahuan untuk segera masuk dan memulai proses belajar. Aku merasa sangat senang karena akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikanku yang tertunda.


Aku segera keluar kamar hendak menemui mas Roland untuk mengabarinya. Setiba di ruang keluarga, ternyata dia sudah duduk di sana bersama mama. Aku mendekati mereka dan ikut duduk di sofa empuk yang ada.


"mas tadi ada pesan dari pihak universitas, tempat mas mendaftarkan Risnti kemaren." Aku menberikan laporan pada mas Roland seraya duduk di dekat mama.


"oh ya, Apa katanya dik?"


"kalau begitu, Rianti segera bersiap diri, lenkapi semua yang dibutuhkan untuk keperluan kuliah nanti." Mama berkata seraya tersenyum padaku, tampak rona bahagia terpancar di wajah beliau.


Aku mengangguk tanda setuju denga kata-kata mama. Mas Roland menatap kami berdua, dia terlihat serius mendengarkan kami bicara.


"nanti mas temani Rianti untuk belanja keperluan yang dibutuhkannya, ma." Mas Roland berkata menawarkan bantuannya, namun aku rasanya ingin membelinya sendiri.


Aku masih memiliki uang untuk membelinya, selain itu aku tak mau terlalu merepotkan mas Roland. Dia sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya, aku tak mau menambah kesibukkannya.


"biar aku pergi sendiri mas, aku ingin jalan-jalan sekalian. Aku akan lama belanja, sebaiknya mas tak usah antarkan." Aku menolak di antarkan mas Rolad.


"kalau gitu, mama yang akan antarkan kamu ya. mama juga udah lama gak jala-jalan di mall, sekalian mama mau ke salon untuk memperbaiki penampilan mama." Mama terlihat antusias, aku senang sekali karena mama mau menemaniku.

__ADS_1


Aku menangguk seraya tersenyum bahagia menerima tawaran mama, mas Roland ikut tersenyum mendenharkannya. Dia mengangguk seraya mengeluarkan dompet seraya mengeluarkan kartu segi empat dari dompetnya dan menyerahkannya padaku.


"Rianti pegang kartu ini dan pakai untuk membayar apapun yang kamu dan mama beli. Kamu boleh mempergunskan sampai limidnya habis, jika kurang hubungi mas lagi nanti."


"tapi mas, aku masih punya uang untuk membelinya." Aku menolak kartu yang diberikan mas Roland padaku.


"tidak apa-apa, Rianti ambil saja. Kita mungkin akan membutuhkannya nanti." Mama malah memintaku mengambil kartu itu.


"kamu boleh belanja sepuasnya, beli saja apa yang kamu inginkan, dik.


"tapi mas, aku.....


"sudahlah dik, kamu simpan saja. Mas ingin ke kamar, udah ngantuk." mas Roland berdiri, lalu beranjak pergi.


"Sekarang, Rianti tidur juga, istirahat." Mama kemudian beranjak pergi kemudian masuk ke kamar beliau.


Aku masih terdiam duduk di sofa, tinggallah aku sendiri karena mas Roland dan mama sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.


Aku merasa ada sesuatu yang hangat di hatiku, ada rasa bahagia yang tiba-tiba memyeruak hingga terasa bulir bening hangat mengalir dari kedua mataku. Aku sungguh terharu dan bahagia mendapatkan perlakuan istimewa dari kedua orang yang memiliki ikatan darah denganku itu.


Aku membiarkan bulir bening itu jatuh membasahi pipi, biarlah dia yang jadi saksi kebahagian yang kurasakan saat ini. Betapa besarnya kuasa Allah, aku kehilangan mas Ringgo sebagai suamiku namun Dia menggantinya dengan kebahagian yang lebih besar lagi.


Aku kembali dengan keluarga kandungku dan ternyata mereka sangat menyayangiku. Mereka memmberikan kasih sayang yang tak pernah kurasakan selama ini. Aku tahu ibuku angkatku juga sangat menyayangiku, tapi aku kehilangan kasih sayang itu semenjak beliau meninggal dunia.


Aku sangka kebahagiaanku akan berakhir setelah kehilangan mas Ringgo. Waktu itu aku sudah berusaha mempertahankannya, namun kesabaran dan cintaku tidak mampu melawan besarnya penghianatan yang di lakukan mas Ringgo.


Akhirnya, aku dengan segala kesakitan dan kepedihan yang memuncak, merelakan cintaku dan rumah tanggaku hancur. Aku sudah tak sanggup menggenggamnya, hingga genggaman itu terlepas menjadi puing-puing masa lalu.


"Terima kasih, ya Allah atas segala kebahagian yang kuterima saat ini. Aku percaya engkau tak pernah meninggalkan umatmu dan akan selalunmenjaganya." Aku berucap di sela-sela isakan walau suaraku tertelan dalam diam.

__ADS_1


A


__ADS_2