
"kita sudah sampai di rumahmu, silahkan turun dik." Mas Roland berkata, setelah dia menghentikan motornya tepat di depan pagar rumahku. Aku merenggangkan tubuhku dan segera turun dari motor mas Roland.
Sebelum turun, aku menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi. Aku harus berusaha tegar menghadapi cobaan, yang tengah menerpa hidupku.
"terima kasih telah mengantarku pulang mas, sebaiknya aku masuk dulu." Aku segera pamit kepada mas Roland. Aku merasa sangat lelah sekali, rasanya ingin tidur sejenak melupakan kejadian hari ini.
Aku berbalik membelakangi mas Roland, segera meninggalkannya. Baru beberapa langkah, mas Roland kembali berkata mengingatkanku.
"tunggu dulu dek, kamu belum melepaskan helm dari kepalamu." Mas Roland berkata, aku tidak ingat melepaskan helm yang masih terpasang di kepalaku.
"oh iya, aku lupa melepaskannya." Aku kembali berbalik seraya melepaskan helm dari kepalaku. Kemudian, aku menyerahkan helm tersebut kepada mas Roland
"sebenarnya, apa yang terjadi padamu,dek" mas Roland bertanya seraya menatap ke arahku. Aku hanya diam, tidak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan mas Roland kepadaku.
Aku merasa lidahku kelu, tidak mampu menjawab pertanyaan mas Roland. Aku merasa tidak perlu melibatkan mas roland dalam masalahku, dia sudah banyak membantuku selama ini
"aku tidak apa-apa kok mas, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Aku berkata seraya tersenyum kepadanya. Aku tidak mau terus- terusan membebaninya, dengan semua masalahku.
"Aku bisa merasakan kalau kamu sedang menghadapi masalah. Aku siap menjadi pendengar yang baik, kamu bisa menceritakan masalahmu padaku." ucap mas Roland, hatiku tersentuh haru mendengarkan perkataannya.
Aku merasa senang mendengar kata-kata mas Roland, dia begitu baik dan perhatian kepadaku. Aku merasa semakin kagum dan salut kepadanya, dia mampu menenangkan hatiku.
__ADS_1
"aku hanya merasa lelah mas, setelah istirahat sebentar pasti aku akan merasa lebih baik" Aku berucap, berusaha menutupi yang sebenarnya terjadi.
"baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa kamu untuk bercerita. Andai menemukan kesulitan kesulitan, kamu jangan sungkan meminta bantuan padaku." mas Roland berkata seraya tersenyum, dia tampak begitu mengagumkan. Aku merasa mendapatkan sedikit kekuatan saat mendengar kata-kata mas Roland.
"terima kasih mas, kalau begitu aku masuk dulu." Aku kemudian berlalu meninggalkan mas Roland yang masih menatapku ketika aku berjalan meninggalkannya.
Aku berjalan dengan sedikit menyeret salah satu kakiku, yang masih terasa sakit. Aku benar-benar merasa lelah, seakan semua kekuatan pergi meninggalkanku.
Setiba di dalam Rumah, aku segera duduk di sofa untuk istirahat. Aku merasa butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiran dari segala masalah yang menguras semua waktu dan tenagaku.
Aku mencoba memejamkan mataku yang sebenarnya tidak begitu mengantuk, mencoba menyingkirkan berjuta bayangan yang melintas di pikiranku. Terus terang tidak mudah bagiku untuk melupakan semua yang terjadi, aku terus membayangkan perselingkuhan mas ringgo dan Ratu.
Setelah sekian lama berkelana dalam lamunanku, akhirnya aku tertidur juga. Aku berharap semua masalah yang sekarang menerpa hidupku, akan hilang pada saat aku bangun nanti.
Aku terkejut ketika melihat kondisi mas Ringgo, wajah mas ringgo terlihat babak belur penuh luka memar. Mas ringgo kelihatan begitu menyedihkan, entah apa yang terjadi dengannya. Dia masuk rumah dengan tubuh terhuyung sambil memegangi perut.
"mas, ada apa denganmu? kenapa wajahmu babak belur begitu? Aku bertanya ketika melihat luka-luka memar di wajahnya, dia meringis menahan sakit. Aku mencoba menerka apa yang telah terjadi, sesaat aku bergidik ngeri membayangkannya.
Aku sejenak membayangkan apa yang terjadi, setelah aku pergi dari rumah sakit tadi. Mas Ringgo yang tertangkap basah sedang berpelukan dengan Ratu, pasti membuat mas Aldo naik pitam kepadanya.
Mas Aldo pasti menghajar mas Ringgo, dia tidak mungkin bisa menerima perbuatan mas Ringgo. Aku yakin sekali luka-luka memar di wajah mas Ringgo, pasti karena perbuatan mas Aldo.
__ADS_1
'kamu memang pantas mendapat balasan seperti ini, mas.' Aku berkata dalam hati, merasa mas Ringgo memang pantas mendapatkannya.
Wajar saja, mas Aldo menghajar mas Ringgo karena merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh mas Ringgo. Aku sedikitpun tidak merasa kasihan melihat kondisi mas Ringgo saat ini, karena dia memang pantas mendapatkannya.
"apa ini perbuatan mas aldo, mas?" Aku bertanya dengan tatapan tajam ke arah mas Ringgo, dia hanya mengangguk pelan. Ternyata benar, mas Aldo telah memberikan pelajaran kepada mas Ringgo.
"kamu memang pantas mendapatkan semua perlakuan ini mas, perbuatan kamu telah melampaui batas. Kamu bersalah pada mas Aldo karena telah meniduri istrinya. Kalau menjadi mas Aldo, mungkin aku berbuat lebih parah dari pada yang dilakukan mas Aldo kepadamu." Aku berkata dengan nada menyalahkan mas Ringgo, dia harus tahu kalau semua itu memang pantas dia rasakan.
"maksud kamu apa dek, mengapa kamu malah memihak padanya?" mas Ringgo bertanya, dia seperti tidak terima karena disalahkan. Aku tersenyum sinis kepadanya, dia masih tidak menyadari kesalahannya.
"masih untung, mas Aldo tidak membunuh kamu, mas. Kamu seharusnya bersyukur, Dia masih memberikan kesempatan untuk bernapas kepadamu." Aku menjawab, gerah sekali hatiku mendengar pertanyaannya.
"dek seharusnya kamu tidak berkata begitu, aku ini suami kamu. Seharusnya, kamu merasa kasihan melihat keadaanku seperti ini, bukan malah membela laki-laki itu." Mas Ringgo berkata, dia protes dan tidak terima dengan kata-kata yang baru saja aku lontarkan padanya.
"kamu ingin tahu mas, apa yang aku rasakan saat melihat kondisimu sekarang? Terus terang, aku sangat senang melihat kondisimu saat ini. Kamu telah berani selingkuh di belakangku, sebenarnya aku berharap mas Aldo menghajar kamu lebih parah dari pada ini." Aku semakin menyerangnya dengan kata-kata pedas yang menyakitkan. Aku merasa kesempatannya telah tiba, dia harus tahu aku sangat membencinya saat ini.
"dek, kenapa kamu berubah? Apa kamu tidak sayang lagi sama aku? " Mas Ringgo bertanya, aku malah tertawa muak sekali mendengarnya.
"kamu bertanya kepadaku, apa aku masih sayang padamu mas? Asal kamu tahu saja, aku sangat membencimu sekarang. Aku berharap kita segera berpisah, aku ingin secepatnya bercerai darimu." Aku mengutarakan keinginanku untuk segera bercerai darinya. Dia kelihatan terkejut mendengarkan, apa yang baru saja aku katakan.
"ingat kata-kataku, aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku tidak akan melepaskan kamu, karena aku masih mencintaimu." Mas Ringgo berkata, dia memang tidak tahu diri.
__ADS_1
"persetan dengan cintamu mas, terus terang aku sudah tidak membutuhkannya." Aku berkata seraya berlalu menuju kamar tidur, benar-benar muak mendengar kata cinta yang keluar dari bibirnya. Sebaiknya, aku segera tidur dari pada melanjutkan pembicaraan yang tidak berguna.