
"bagaimana menurut kamu mas?" Aku bertanya pada mas Roland Tapi dia malah terlihat asik memandang ke arah gadis tadi.
Tiba-tiba muncul niat dalam hatiku untuk menjahili mas Roland.
"sebentar ya pak, saya akan mengirim pesan pada seseorang."
"oh silahkan nak." Bapak itu mengangguk.
Aku mengambil pnselku dari dalam tas kemudian mengirim pesan singkat melalui aplikasi what's up pada mas Roland.
[mas Roland, aku tahu dia cantik mas tapi jaga pandanganmu mas] Aku segera memasukkan kembali ponselku ke dalam tas.
Ting tong!
Ponsel mas roland berbunyi, dia terlihat tersentak kemudian dia mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Sesaat kemudian, dia membuka ponselnya.
Seketika, mas Roland menoleh dan melotot kearahku. Aku hanya tersenyum kecil kearahnya sebagai aksi balasan.
Sekilas, aku bisa melihat kalau pak Roman tersenyum melihat tingkah kami. Beliau mungkin menyadari apa yang sedang kami bicarakan.
Karena melihat mas Roland yang tidak fokus lagi dengan tujuan kami, aku berinisiatif untuk melakukan negosiasi sendiri dengan pak Roman.
"begini pak, saya sangat tertarik dan ingin membeli tanah yang akan bapak jual tapi sayangnya saya tidak memiliki uang sebanyak itu."
"jadi berapa uang yang anak punya?"
"saya cuma memiliki uang sebanyak lima ratus juta pak, apa boleh saya membeli tanah bapak itu seharga empat ratus delapan juta pak karena sisanya akan saya gunakan untuk biaya pengurusan surat-menyurat nantinya."
"kalau segitu, bapak keberatan nak karena tanah itu sangat luas dan letaknya juga strategis."
"jadi berapa kurangnya dari harga yang bapak tawarkan tadi?"
"bagaimana kalau lima ratus sepuluh juta nak?"
"saya rundingkan dengan kakak saya dulu ya, pak."
"oh iya, silahkan nak."
"mas Roland, bagaimana menurutmu mas?" Aku bertanya pada mas Roland, tapi yang di tanya malah tak menjawab. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya.
__ADS_1
"mas."
"eh iya dik, ada apa?"
Sekarang gantian, aku yang melotot ke arahnya. Kemudian, aku tersenyum seraya mengangkat kedua alisku.
"begini mas, pak Roman katanya mau menjual tanah beliau seharga lima ratus tiga puluh juta. Tapi mas tahukan, aku hanya memiliki uang sebanyak lima ratus juta. Setelah, aku menawar beliau hanya bisa mengurangi duapuluh juta. Bagaimana mas?
"jadi, beliau akan melepas tanah beliau seharga lima ratus sepuluh juta."
" iya mas."
"kalau begitu, kita beli saja dik?"
" tapi, aku hanya punya lima ratus juta mas."
" kekurangannya mas yang akan menambah dik, kamu tenang saja."
"baiklah mas."
"Pak Roman, saya dan kakak saya setuju dengan harga yang bapak berikan. Kami sepakat akan membeli tanah bapak itu."
"tunggu sebentar pak, bapak tidak usah mengambilnya sekarang. Kami akan pulang dulu untuk membuat dan mengurus berkas pembelian.
"baiklah kalau begitu nak, tapi setelah ini bagimana kelanjutan transaksinya."
"bapak jangan khawatir, saya akan kembali kemari besok siang. Kita akan langsung menyelesaikan transaksi dan pembayarannya. Bapak mau pembayaran seperti apa? Apakah bapak mau saya transfer atau dengan uang cash saja?
"anak bisa transfer uangnya ke rekening anak saya."
"oh ya, berapa nomor rekeningnya pak?"
"Ayuna berapa nomor rekening kamu nak, bapak ingin pembayarannya ditransfer saja melalui rekeningmu." bapak itu berkata dengan lemah lembut pada putri cantiknya. Gadis cantik itu ternyata bernama Ayuna.
"iya pak. Ayuna akan ambil buku tabungannya sebentar." dia bangkit dan bergegas mengambil buku tabungannya. Sesaat kemudian dia kembali dengan sebuah buku tabungan ditangannya.
"ini pak" Gadis itu menyodorkan buku tabungan itu kepada bapaknya, pak Roman kemudian memberikan kepada mas Roland.
"sudah pak, saya sudah mencatat nomor rekeningnya. Sekarang kami berdua pamit dulu, kami akan kembali besok setelah makan siang.
__ADS_1
"baiklah nak, bapak tunggu kedatangan nak Roland nan nak Rianti besok."
"kalau begitu, kami berdua pamit dulu ya pak." Mas Roland pamit pada pak Roman, aku hanya ikut tersenyum ke arah beliau.
Aku dan mas Roland beranjak pergi, tapi ketika telah sampai di halaman aku melihat mas Roland mengedarkan pandangan, seakan sedang mencari sesuatu.
"mas, kamu lagi cari siapa?" aku bertanya seraya tersenyum ingin menjahilinya.
"tidak cari siapa-siapa dek, memangnya kamu pikir mas lagi cari siapa?"
"mbak tadi cantik dan mempesona ya kak." Aku tersenyum menyeringai ke arah mas Roland. Aku bisa melihat wajah mas Roland berubah warna, dia seperti tersipu malu.
"sudah mas, besok kita akan melihatnya lagi dan nanti kita pikirkan cara mendapatkannya." Aku berseloroh seraya tersenyum ke arah mas Roland.
Aku segera beranjak pergi meninggalkan mas Roland yang masih terus mengedarkan pandangan, mungkin dia berharap bisa melihat gadis tadi sebelum kami meninggalkan tempat itu.
"mas Roland." aku berteriak memanggil namaya setelah sampai di dalam mobil karena dia masih saja tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"apaan sih dik, kamu berisik banget." celoteh mas Roland ketika dia sudah berada di dalam mobil.
Aku hanya tersenyum menanggapi kata-kata mas Roland. Aku tahu mas Roland tertarik kepada gadis itu, aku juga menyukai sikapnya yang ramah serta tutur katanya yang lemah lembut.
"mas, sebelum kita kerumah mama kita balik dulu ke rumahku ya. Aku mau mengambil beberapa pakaian ganti dan uang yang aku sembunyikan itu. Sebaiknya, Aku menyimpan uang dan surat berharga milikku dirumah mama mas. Aku merasa disana lebih aman dari pada aku menyimpannya di rumahku.
"iya dik, mas rasa juga begitu."
Mas Rolandpun segera melajukan mobilnya, tidak berapa lama kami sudah sampai di rumahku. Aku segera masuk mengambil beberapa potong pakaian dan memasukkannya kedalam kedalam ransel, tidak lupa aku membawa uanng dan semua surat berharga yang aku miliki.
Setelah dirasa beres dan tidak ada lagi yang tertinggal, aku kembali kembali ke mobil mas Roland. Dia terlihat termenung dan tersenyum sendiri, mas Roland pasti sedang melamunkan gadis cantik tadi.
"udah mas, besok kita akan kesana lagi. kamu akan kembali bertemu dengan gadis yang telah menggoda hatimu itu." aku sengaja mengejutkan mas roland dengan maksud menggodanya, senang sekali rasanya menjahili mas Roland.
"apaan kamu dik, kamu senang sekali menjahili aku."
"bukankah kamu juga begitu padaku tadi mas? Sekarang, aku bayar tunai keusilan kamu."
" tapi benar mas, anak gadis pak Roman itu benar-benar cantik dan menawan.Ini buktinya, kamu berubah jadi pendiam dan suka senyum-senyum sendiri."
"mana dik, mas tidak senyum-senyum sendiri."
__ADS_1
" iya lah mas, kamu tidak senyum-senyum sendiri tapi lagi nyengir kayak kuda." aku tertawa lepas ketika melihat ekspresi mas Roland yang tersipu malu.