SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 122: Sikap Aneh Ratu


__ADS_3

Aku segera kembali ke kantor setelah menyelesaikan semua urusan dengan rumah sakit. Sebelum pergi, aku berpesan kepada perawat yang menangani mas Ringgo, supaya menghubungiku kalau ada apa-apa dengan mas Ringgo.


Selama dalam perjalanan hatiku nelangsa, aku tidak habis pikir dengan yang baru saja menimpa mas Ringgo. Aku sebenarnya kasihan melihat keadaannya, bagaimanapun juga kami pernah hidup bersama dalam suka maupun duka. Tapi apa daya, kami harus berpisah karena mas Ringgo tidak setia.


Dia selingkuh dengan Ratu, wanita yang sekarang menjadi teman hidupnya. Betapa hancurnya hatiku waktu mengetahui hal itu, aku merasa sakit hati karena perbuatannya.


Aku tidak menyangka dia tega padaku, setelah pengorbananku dan perjuangan kami selama menempuh biduk rumah tangga. Aku sudah berusaha sebaik mungkin, tapi dia menghancurkan segala usahaku.


Aku terisak menahan tangis, tidak terasa air mata menetes di pipiku. Ingatan ke masa lalau membuatku kembali bersedih, aku belum bisa melupakan penghianatannya padaku.


Tidak berapa lama, aku sampai di kantor. Aku menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipi, tidak ingin rasanya orang tahu dan melihat kerapuhan hatiku.


Aku segera menuju ruangan mas Roland, mencari keberadaan mama. Aku segera masuk ruangan begitu sampai, tapi aku tidak menemukan mama di sana.


Aku kemudian melirik ke meja sekretaris mas Roland, ternyata kosong juga. Akhirnya, aku keluar dari ruangan mas Roland karena tidak seorangpun ada di sana.


"kak, apa kakak melihat ibu saya? Maksud saya ibu Rahayu?" Aku bertanya pada salah satu karyawan yang kebetulan berpapasan denganku.


"Saya melihat bu Rahayu keruangan mas Ringgo, bu Rianti." karyawan itu menjawab sambil tersenyum ramah.


"makasih ya kak, kalau begitu saya permisi dulu."


"iya bu." karyawan itu berlalu, kemudian beranjak pergi meninggalkanku.


Aku segera ke ruanganku, setiba di sana aku melihat mama sedang duduk di meja kerja sedang membalik-balik berkas. Entah apa yang sedang beliau lakukan, aku segera masuk ke ruangan menemui beliau.


"sedang apa ma?"


"eh Rianti, sudah lama balik nak. Bagaimana keadaan Ringgo?"

__ADS_1


"dia baik-baik saja kok ma, dia hanya kelelahan dan kelaparan, begitu kata dokter." Aku menjelaskan keadaan mas Ringgo pada mama, sesuai dengan penjelasan yang dokter berikan di rumah sakit tadi.


"kamu ini nak, orang sakit kok malah di ledekin, harusnya kita prihatin nak." mama menasehatimu. Aku memandang ke arah mama seraya tersenyum, mungkin mama mengira aku sedang bercanda.


"mama menyangka Rianti lagi bercanda ya? Tidak ma, dokter ngomong begitu tadi." Aku menjelaskan dengan mimik muka serius, mama terlihat mengernyitkan dahi.


"jadi itu memang benar nak, Ringgo pingsan karena kelelahan dan kelaparan?"


"benar ma, dokter tadi ngomong begitu."


Mama tidak bertanya lagi, beliau terdiam mendengar penjelasan dariku. Beliau kembali membalik-balikkan berkas yang ada di hadapan beliau.


Aku kemudian menghampiri beliau untuk melihat berkas apa yang sedang beliau pegang, beliau terlihat fokus sekali.


"mama sedang mengerjakan apa? Apa ada yang bisa Rianti bantu ma?"


"begini nak. Mama melihat kondisi Ringgo sekarang, rasanya tidak mungkin dia menyelesaikan laporan keuangan sesuai dengan waktu yang kita tentukan. Mama berinisiatif untuk mengerjakannya sendiri, supaya kita bisa mengambil langkah apa yang kita ambil selanjutnya."


"Rianti kumpulkan semua bukti transaksi keuangan, biar mama yang membuat jurnalnya. Nanti kita kita buat laporan keuangannya bersama-sama.


"baiklah ma." Aku segera melaksanakan perintah mama, mengumpulkan semua bukti transaksi.


Setelah semua bukti transaksi terkumpul, kami berdua berusaha keras menyelesaikan laporan keuangan. Aku dan mama bekerja sama melakukannya, ternyata menyusun laporan keuangan yang sebenarnya lebih sulit dari yang ku perkirakan.


Setelah beberapa hari berjibaku dengan laporan keuangan, akhirnya aku dan mama bisa menyelesaikannya. Hasilnya tepat seperti perkiraan mama, mas Ringgo memang terbukti melakukan penggelapan dana perusahaan sebanyak yang mama sangkakan sebelumnya.


Aku melihat mama mendesah beberapa kali seraya menggeleng-gelengkan kepala. Setelah memastikan beberapa kali, mama kemudian menutup berkas yang baru kami selesaikan.


"Sekarang sudah terbukti kalau Ringgo mengelapkan dana perusaan, kita harus bersikap tegas padanya. Mama tidak ingin mempertahankan karena perbuatannya sudah merugikan perusahaan." mama berkata dengan nada sangat tegas, akupun mengangguk pelan.

__ADS_1


Aku tidak bisa memberikan pertimbangan apalagi membantah perkataan mama, karena tidak alasan yang bisa kuberikan. Fakta membuktikan, mas Ringgo memang bersalah.


"oh ya ma, mas Ringgo belum kembali ya? Aku tadi tidak melihat keberadaannya."


"iya, kakakmu bilang tadi dia mungkin tidak balik lagi ke kantor. Kalau begitu kita pulang saja, sudah sore." Aku melihat jam, ternyata sudah jam lima sore.


Aku mengangguk dan berdiri, kemudian keluar ruangan mengikuti langkah mama yang sudah lebih dulu keluar.


Saat berjalan keluar, aku berpapasan dengan Ratu yang terlihat berjalan dengan tergesa-gesa dan kemudian menghampiri. Aku melihat wajahnya kusut dan penampilannya tak lagi cantik dan rapi seperti biasanya.


"maaf buk, apakah hari ini mas Ringgo masuk kerja?" Aku tercengang mendengar pertanyaan darinya. Aku heran mendengar pertanyaan yang baru saja dia lontarkan.


"kamu sangat aneh Ratu, Ringgo itu suami kamu. Kenapa kamu tahu jika suamimu masuk atau tidaknya hari ini?"


Aku balik bertanya kepadanya, dia terlihat gusar saat aku bertanya begitu. Aku terus menatap heran kepadanya, rasanya ingin tahu apa yang telah terjadi.


"aku dan mas Ringgo semalam ribut, tadi pagi dia tidak pamit kepadaku." jawabnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Ternyata, mereka habis ribut semalam hingga terjadi miss komunikasi antara mereka. Aku geleng kepala mendengarkan pengakuan yang keluar dari mulutnya.


Aku tak mau bertanya lebih lanjut, karena tak mau ikut campur urusan dengan urusan mereka. Bagiku, mas Ringgo sudah menjadi masa lalu dan aku harus melupakannya.


"tadi pagi mas, eh pak Ringgo masuk kerja tapi sekarang dia masuk rumah sakit. Aku menemukan dia pingsan di ruangannya." Aku menjelaskan apa yang terjadi.


"kenapa dengan mas Ringgo, apa yang terjadi padanya?" Ratu terlihat kaget mendengar apa yang aku sampaikan.


"aku sendiri tidak tahu, kata dokter dia kelelahan dan kelaparan. Apa kamu gak ngasih makan dia?" Ratu menatapku dengan setengah melotot, aku membalas dengan tatapan tajam ke arahnya. Sejurus kemudian, dia sudah terlihat seperti biasa saja.


Aku merasa aneh sekali melihat sikap perempuan yang ada di hadapanku ini, sama sekali tidak terlihat kecemasan di wajahnya. Dia terlihat tenang dengan ekspresi wajah dingin, aku sedikit bingung menghadapinya saat ini.

__ADS_1


"kalau begitu, saya akan ke rumah sakit untuk melihatnya keadaannya. Saya permisi dulu!" Ratu kemudian berlalu meninggalkanku yang masih berdiri tertegun melihat sikap yang ditunjukkannya. Aneh...!


__ADS_2