
"mas temani aku ke mall yuk, aku pengen beli baju dan sepatu baru." Aku mendengar permintaan Ratu, wanita cantik dan seksi yang beberapa minggu lalu resmi menjadi istriku. Wanita yang dulu yang sangat ku inginkan, ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan harapanku.
Awalnya, aku merasa bahagia bisa menjadikannya istriku. Dia begitu cantik dan seksi membuatku bangga ketika pergi bersamanya.
Tapi setelah berjalan waktu, aku merasa semua tidak semanis yang ku harapkan. aku tidak menyangka dia memiliki sifat yang bertolak belakang dengan parasnya yang cantik.
Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini, dia yang cantik dan menjadi kebanggaanku ternyata memiliki memiliki sifat asli yang sangat buruk.
Baru beberapa minggu menjadi istriku, Aku merasa mulai jengah dengan sikapnya. Dia suka berbuat seenaknya tanpa mau mendengarkan apa yang ku katakan.
Dia selalu saja mau menang sendiri kalau dinasehati dia malah marah, tidak kalah garang dariku. Aku mulai lelah menuruti semua permintaannya, sekarang dia tidak ubahnya beban berat yang harus aku pikul di pundakku.
"aku lelah dek, sebaiknya kamu beres-beres rumah. Kamu lihat sendiri rumah berantakan, karena belum kamu bersihkan dari pagi."
Aku menolak permintaannya, malas rasanya menuruti permintaannya. Aku mulai kewalahan dengan cara hidupnya, yang tidak sesuai dengan prinsip hidupku. Dia hanya mementingkan keinginannya tanpa mau tahu apa tugasnya sebagai seorang istri.
"aku tidak mau tahu ya mas, sekarang kamu harus temani aku." Ratu berkata seraya menghentakkan kaki ke lantai, entah kemana perginya sikap manis dan penurut yang dia tunjukkan selama kami berpacaran. Sekarang, dia jauh berbeda dengan Ratu yang ku kenali dulu.
Tidak pernah terpikirkan dan terlintas di benakku, Ratu memiliki sifat seperti ini. Dia seakan mau menakar-nakar kesabaranku, Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan dengan sikap yang kadang sangat keterlaluan itu.
Aku melemparkan tatapan tajam ke arahnya, sebagai ungkapan rasa kesalku dengan kelakuannya. Tapi, dia balas menatap tajam ke arahku tidak kalah tajamnya.
"kamu sebagai suami harus punya tanggung jawab, aku ini istrimu mas." Ratu memulai ceramahnya yang memuakkan, aku hanya mendengar karena malas untuk menjawabnya.
Sekarang, dia malah memintaku menjadi suami yang bertanggung jawab untuknya sedangkan dia enggan menjalankan tanggung jawabnya sebagai aeorang istri.
__ADS_1
Sejak pagi, dia hanya sibuk memainkan ponsel dan berhias diri. Rumah berantakan saja, dia seakan tidak peduli sama sekali.
Semakin lama ceramah Ratu makin membuat telingaku panas, dia benar-benar tidak menghargaiku. Aku tidak menyangka dia seperti ini, dia baru menampakkan sifat aslinya sekarang.
"Ratu tolonglah berhenti mengoceh, apa kamu tidak bisa menghargaiku sedikit saja? Mas janji akan menemani kamu besok, kamu masak dulu sebentar lagi makan malam."
Aku mencoba berkata selembut mungkin agar dia menurut, tapi jawabannya diluar dugaanku. Dia menentang habis-habisan, aku sudah tidak bisa lagi mendengarkannya.
Akhirnya, aku menuruti permintaannya pergi belanja ke mall. Aku sungguh kecewa dengan sifat dan sikapnya, perlahan ada rasa sesal menyeruak di dalam hatiku. Aku menyesal menjadikannya istriku.
Aku mengendarai mobil dengan perasaan kesal, Ratu hanya diam bersikap dingin kepadaku. Dia sekarang tidak lagi mampu memberikan kenyaman bagiku, sekarang muncul keraguan dalam hatiku. Apakah aku bisa bertahan dengan sifatnya yang seperti ini?
Aku memarkirkan mobil sesampainya kami di mall yang di tuju, Ratu turun tanpa berkata-kata. Aku semakin merasa tidak dihargai, harga diriku seakan tidak ada di matanya.
Aku mengikuti langkah Ratu, dia berjalan tanpa menungguku. Aku muak melihat tingkahnya, dia sekarang bukan lagi ratu di hatiku saat ini tapi ulat bulu di mataku.
Tidak berapa lama, Ratu melambaikan tangan dia terdengar memanggilku untuk menghampirinya. Aku berdiri dan melangkah dengan perasaan malas bergelayat dihatiku, perasaanku mulai tidak enak ketika mendekatinya.
"mas bayarin belanjaanku, uangku tidak cukup."
"berapa mbak?" Aku bertanya kepada penjaga kasir.
"tujuh juta enam ratus, mas." sang kasir menjawab singkat.
Alangkah terkejutnya, aku terpana mendengarkan total harga barang yang di beli oleh Ratu. Aku kemudian menoleh ke arahnya tapi dia hanya senyum tanpa merasa berdosa.
__ADS_1
"ayo bayarin mas." katanya enteng.
"sebaiknya kamu kurangi belanjaan kamu dek, mas tidak punya uang sebanyak itu." aku berkata berharap dia mau menuruti perkataanku kali ini. Tapi apa yang terjadi, dia malah melenggang pergi tanpa berkata apa-apa seraya membawa semua barang yang di belinya.
Aku terpaksa membayar semua harga yang diminta sang kasir, aku semakin muak tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian, aku menyusulnya dengan perasaan kesal yang semakin menggunung terhadapnya.
Ketika hendak keluar dari mall, aku dan Ratu kebetulan berpapasan dengan seorang wanita yang sangat ku kenal. Dialah mantan istriku, Rianti.
Aku terpaku melihatnya, penampilannya sungguh berbeda. Rianti terlihat sangat cantik, penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat.
Rianti yang dulu lecek,lusuh dan sederhana tidak ada lagi padanya, dia bahkan terlihat lebih cantik dari Ratu. Ratu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Rianti, aku mulai menyesali semua yang telah terjadi.
Tidak berapa lama, Ratu mulai melontarkan kata-kata yang tidak enak di dengar kepada Rianti. Aku sungguh malu dengan tingkah lakunya yang berbuat onar di tempat umum, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Ratu melemparkan kata-kata yang mampu menyulut kemarahan pada Rianti, tapi Rianti terlihat tenang tanpa luapan emosi. Aku tahu Rianti sakit hati mendengarkan kata-kata Ratu tapi dia tidak memperlihatkannya.
Aku bisa melihat kemarahannya karena dia mengepal erat kedua tangannya, pertanda dia sedang menahan gejolak amarah yang sedang membakar hatinya.
Plak!
Aku melihat Rianti menampar Ratu dengan kerasnya, terlihat cetakan lima jari bersarang di pipi Ratu. Aku melihat Rianti menampar Ratu sedikit terkejut tapi ada rasa senang ketika menyaksikan semua itu.
"mas lihat perlakuan mantan istrimu padaku." Ratu mengadu padaku, tapi aku hanya diam saja. Ada perasaan senang dan puas, ketika melihat Rianti menampar Ratu sampai dia meringis menahan sakit di pipinya.
"pak Ringgo silahkan bawa wanita selingkuhanmu dari hadapan kami." aku terkejut tatkala melihat dan mendengar siapa yang berbicara. Ternyata, Rianti tidak sendirian tapi dia bersama pak Roland yang notabene adalah pemilik perusahaan tempatku bekerja.
__ADS_1
"baik pak." Aku berlalu meninggalkan mereka, sebelum benar-benar menghilang aku sempat menoleh ke arah mantan istriku. Mantan istri yang dulu lusuh, kumal dan sederhana sekarang menjadi wanita cantik, anggun penuh kharisma.
Sekarang, aku hanya bisa memandang wanita itu tanpa bisa lagi menyentuhnya.