SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 78: Aku Setelah Ini Aku Menemukan Kebahagiaanku.


__ADS_3

'sempurna.' Aku berkata dalam hati seraya tersenyum memandang pantulan wajahku di cermin. Aku merasa puas dengan penampilanku, sekarang aku akan membuat mas Ringgo menyesal telah mengkhianati cintaku.


Kring! Kring! Kring!


Aku mendengar suara ponselku berbunyi, aku segera menghampiri ternyata mas Roland yang menghubungiku. Aku segera mengangkat dan menerima sambungan telepon dari mas Roland.


"halo mas"


"ya dek, mas sudah hampir sampai di rumahmu. Apa kamu sudah siap?"


"ya mas, aku sudah siap."


"kalau begitu, kamu tunggu mas di depan rumahmu."


"iya mas." aku menjawab singkat dan segera menuntaskan riasan wajahku. Setelah selesai, aku segera keluar dan menunggu mas Roland di depan rumah, seperti yang dia katakan tadi padaku.


Tidak berapa lama, mobil mas Roland sudah terlihat dari tempatku menunggu. Aku melemparkan senyum kepada mas Roland ketika dia sudah sampai dan menghentikan mobilnya tepat di hadapanku.


"ayo naik dek, kita langsung saja berangkat ke pengadilan. Kita harus segera sampai di sana karena jadwal sidang kamu satu jam lagi, dik"


Mas Roland menyuruhku segera naik ke mobilnya, aku segera bergegas menuruti perintahnya. Aku tidak mau terlambat tiba ke sana, terus terang aku merasa sudah saatnya semua hubungan antara aku dan mas Ringgo berakhir.


"sudah siap dik, kita berangkat sekarang?" Mas Roland bertanya dan memandang serius ke arahku.


""ayo mas, aku sudah siap." aku menjawab disertai dengan anggukan kepala.


Aku tidak banyak bicara dalam perjalanan, sekarang pikiranku tertuju pada persidangan yang akan aku hadapi nanti. Aku merasa sedikit gugup dan berdoa dalam hati semoga semuanya lancar tanpa hambatan.


"kenapa kamu diam saja dik? Mas Roland bertanya, sejenak dia menatap ke arahku.


Mungkin mas Roland juga merasakan kegelisahan yang sekarang aku rasakan.


"tidak apa-apa mas. Aku hanya sedikit gugup dan gelisah, aku harap semua berjalan sesuai dengan keinginanku mas."


"kamu jangan cemas dik, mas yakin kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan." mas Roland memberikan setitik ketenangan di dalam hatiku.

__ADS_1


"apakah kamu sudah benar-benar mantap dengan segala keputusanmu dik."


"aku sudah yakin dengan keputusanku mas, aku merasa keputusanku sudah sangat tepat."


Mas Roland terus melajukan mobilnya, ternyata jalanan tidak begitu macet sehingga kami datang tepat waktu di pengadilan. Aku melihat ke sekeliling areal pengadilan tapi aku tidak menemukan tanda-tanda kehadiran mas Ringgo.


'semoga mas Ringgo tidak mempersulit semuanya, aku berharap nasib dan statusku jelas jari ini.' aku berkata sendiri dalam hati.


"kamu mencari siapa dik, mas rasa Ringgo belum datang." Mas Roland berkata rupanya dia mengetahui perasaan dan pikiranku.


"oh iya mas, aku rasa juga begitu."


"kamu harus bersikap tenang, jangan memikirkan apapun sekarang. Mas sudah mengurus semuanya."


"iya mas." Aku menjawab singkat, aku merasa perasaanku semakin tidak tenang.


"ayo turun dik, kita harus segera menemui pengacara yang akan membantu kita nanti." Aku tidak menyangka ternyata mas Roland telah mengurus segalanya, termasuk menyewa pengacara yang akan membantuku.


"ayo mas."


"ayo cepat dik, kita harus diskusi terlebih dahulu dengan pengacara sebelum sidang dimulai." Mas Roland berkata seraya menarik tanganku. Tanpa berkata apapun, aku segera mengikuti langkah kaki mas Roland.


"selamat pagi pak, apakah semua sudah siap?" mas Roland berkata pada pengacara, terlihat kharisma mas Roland terpancar di wajahnya.


Aku hanya memperhatikan mas Roland yang tengah serius berbincang dengan sang pengacara. Aku hanya menjawab apa yang ditanyakan dan berkata seperlunya, terus terang aku kurang mengerti.


"dek!" Aku mendengar suara yang tidak asing menyapaku, sejenak aku menoleh ke arah suara yang barusan menyapaku.


"mas Ringgo, kamu sudah datang?" aku bertanya sekedar basa-basi kepadanya, dia terlihat tersenyum tapi senyum itu sudah tak menarik lagi di mataku.


"sudah lama tidak bertemu, apa kabarmu dek?


"seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja mas. Kamu sendiri kok terlihat menyedihkan begini mas?" aku bertanya seraya memindai penampilan mas Ringgo, dia benar-benar terlihat lusuh tidak terawat.


"aku... aku sengsara dek, Ratu tidak bisa mengurusku sebaik kamu." mas Ringgo berkata dengan lirih tampak air mukanya sangat sedih sekali, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.

__ADS_1


"bukankah kalian saling mencintaimu mas, dia rela menghancurkan rumah tangganya sendiri demi bisa hidup bersamamu mas." Aku berkata pada mas Ringgo, dia menatap nanar ke arahku ku.


"aku tidak tahu kedepannya dek, semua terasa begitu hambar bagiku sekarang. Ratu begitu egois, dia hanya mementingkan penampilan dan dirinya sendiri."


"bukankah kamu mencari wanita cantik dan seksi sebagai pendamping hidupmu mas?" Seharusnya kamu bahagia, sekarang kamu telah mendapatkan apa yang kamu cari."


"nyatanya, mas sama sekali tidak bahagia dek. Mas sangat menyesal dan sangat kehilangan kamu dek."


"penyesalan memang datangnya belakangan mas, apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu tuai. Tidak ada gunanya lagi, kamu menyesal sekarang mas. Ibarat kata, nasi sekarang telah menjadi bubur tidak akan mungkin kembali lagi menjadi nasi." Aku menandaskan kalimatku, mas Ringgo menatap sendu ke arahku.


Apapun yang terjadi sekarang, aku harus teguh pada keputusanku. Aku tidak akan merubah keputusanku, karena aku merasa tidak ada lagi jalan kembali. Mas Ringgo harus menerima semua akibat dari perbuatannya.


ti pilihanmu.


"dek, apakah kamu tidak akan merubah keputusan kamu lagi?"


"ya mas, aku tidak akan merubah keputusanku lagi. Kamu sendiri yang telah meruntuhkan surga yang dengan susah payah kita bangun."


"maafkan aku dek...... Mas Ringgo berkata dengan nada sangat lirih, aku bisa melihat penyesalan sekarang bersarang di matanya. Tapi, aku sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi sekarang."


"aku sudah memaafkan kamu mas, kuharap kamu bahagia bersama Wanita pujaan hatimu."


"Rianti!" Aku mendengar namaku di panggil oleh mas Roland, dia terlihat tidak menyukai kehadiran mas Ringgo.


"maaf ya mas, aku tidak bisa lama-lama bicara denganmu karena mas Roland memanggilku."


Aku melangkah meninggalkan mas Ringgo yang diam terpaku. Aku senang akhirnya dia merasakan buah dari penghianatan yang dia lakukan kepadaku, walau rasa kasihan terselip di hatiku melihat penampilannya yang sekarang tidak terurus.


Aku dipersilahkan masuk keruang sidang, walaupun bukan sidang perdana bagiku tetap saja terasa sangat berat beban hatiku saat menghadapi persidangan.


"kamu tenang saja dik, mas pastikan semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginanmu."


"iya mas, aku percayakan semuanya padamu." aku berkata seraya tersenyum, betapa getir rasanya hatiku. Aku akan melepaskan dan merelakan surgaku direnggut dariku, tapi apa daya aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk mempertahankannya.


Aku memandang sisi lain ruangan persidangan, terlihat jelas wajah mas Ringgo muram seakan kehilangan cahayanya. Sekarang, mas Ringgo akan memetik buah dari perbuatannya. Aku tidak mungkin lagi melihat ke belakang, sekarang aku harus melihat jauh ke depan semoga aku menemui kebahagiaanku di sana.

__ADS_1


__ADS_2