
"lha di tungguin, kamu kok mangkal di sini dik? Mas Roland mengejutkanku yang tengah memperhatikan foto yang terpajang dengan serius.
"ini lho mas, fotoku kok bisa terpajang di sini? Kenapa mas mengambil fotoku secara diam-diam?"
"siapa yang mengambil dan memajang foto kamu dik?" Mas Roland malah tersenyum, aku merasa tidak mengerti maksud mas Roland.
"ini buktinya mas, bukankah aku yang di foto ini mas?"
"coba kamu perhatikan foto itu dengan seksama, apa kamu masih yakin yang di foto itu kamu?"
"apa maksud mas Roland? Aku benar-benar tidak mengerti.
"jangan banyak tanya dulu, kamu perhatikan saja foto itu dulu." Aku bingung dengan maksud mas Roland, tapi aku turuti juga yang dikatakannya. Aku melihat seluruh detail foto itu, ternyata benar wajah dalam foto itu banyak perbedaannya dengan wajahku, kalau di lihat sepintas tidak akan terlihat perbedaannya.
"apa kamu masih yakin itu foto kamu dik?"
"tapi mas, apa kamu mengedit fotoku?
"maksud kamu? mas mengedit foto kamu, tidak mungkinlah dik. Apa kamu pikir tidak punya pekerjaan, sehingga mas mengedit foto kamu biar punya kesibukan?"
"tapi ini buktinya, fotoku terpajang di sini."
"itu makanya, mas mengajak kamu ke sini dek. Mas ingin mempertemukan kamu dengan mama, tapi sayang beliau sudah tidur."
"maksud kamu apa mas?"
"wajah dalam foto yang tengah kamu lihat itu adalah mamaku dik, kamu bisa lihat sendiri kalau tidak diperhatikan dengan seksama wajah kalian itu mirip sekali."
"benar juga, tapi apa hubunganku dengan semua ini mas?"
"kamu kemungkinan Rianti, adik mas hilang dua puluh tahun yang lalu. Rianti hilang ketika di titipkan kepadaku, saat itu mama hendak ke toilet yang ada di pasar dekat tempat tinggal kamu sekarang. Karena lengah saat menjaganya, mas asyik melihat orang menjual ikan hias sehingga tidak sadar dia sudah tidak ada lagi di dekatku." Mas Roland bercerita dengan nada serius, tampak jelas air muka penyesalan terpancar di wajahnya.
Aku sedih bercampur senang mendengarnya, sejenak ada setitik kebahagiaan menyelinap di hatiku. Aku berharap Rianti adik mas Roland yang hilang itu adalah aku, tapi mungkinkah itu?
__ADS_1
'ah, tidak mungkin. Aku tidak boleh terlalu berharap walaupun kemungkinan ada tapi bisa saja itu bukanlah aku. Aku pernah dengar tiap-tiap orang di dunia ini ada tujuh kembarannya dan kemiripannya, mungkin saja ini juga terjadi padaku dan mamanya mas Roland. Lagi pula, bukankah aku juga memiliki ayah dan ibu? alu mulai berpikir dengan segala pikiran yang mulai bermunculan.
"kok, kamu malah diam mendengar cerita mas dik?"
"jadi, apakah mas Roland mengira aku adalah Rianti adik mas yang hilang."
"mas bukan hanya mengira tapi berharap semoga semua itu benar, dik."
"apakah hal itu yang membuat kamu selalu membantuku selama ini, mas?"
"iya, dik." Aku terkejut mendengarkan kata-kata mas Roland. Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana Ika dugaannya selama ini salah
"andaikan aku bukan seperti yang mas harapkan, apakah mas Roland akan menyesal telah membantuku sejauh ini mas?"
"apa maksudmu dik?"
"andaikan, aku terbukti bukanlah Rianti yang kamu cari. Apa kamu akan berhenti peduli padaku, mas? Aku bertanya seraya menatap serius ke dalam mata mas Roland.
"oh ya, malam semakin larut, apakah kamu mau pulang atau menginap di sini saja?" mas Roland bertanya menyudahi pembicaraan kami.
"aku sebaiknya pulang saja mas."
"kalau begitu, ayo mas antar kamu sekarang. Kamu harus segera istirahat supaya lekas sembuh, ingat hari Senin sidang terakhirmu.
"kalau begitu dua hari lagi ya mas, tapi aku tidak punya persiapan apa-apa mas."
"kamu tenang saja dik, mas sudah atur semuanya. Sekarang yang terpenting, kamu jaga kesehatan dan banyak istirahat supaya kamu bisa menghadiri sidang hari Senin nanti."
"iya baiklah mas, antar aku pulang sekarang. Aku ingin segera istirahat."
"ayo dik." Mas Roland kemudian melangkah, aku mengikutinya di belakang.
Setiba di mobil, aku jadi hemat bicara karena pikiranku terus melayang berusaha mencerna yang baru kulihat dan kudengar. Bermacam pertanyaan berseliweran didalam kepalaku, aku masih belum bisa percaya dengan yang barusan kulihat. Ternyata ibu mas Roland sangat mirip denganku.
__ADS_1
"kok kmu diam saja, apa yang kamu pikirkan dik?" Mas Roland bertanya mengejutkanku, seketika aku tersentak dari lamunan.
"a-aku tidak memikirkan apa-apa kok, mas." Aku menjawab dengan sedikit tergagap, mas Roland menatapku beberapa saat kemudian dia kembali menoleh ke depan.
"kamu jangan memikirkan apapun saat ini, kamu harus fokus pada kesehatan dan persidangan hari Senin nanti. Mas yakin sekali kamu itu Rianti, adik yang selama ini mas cari.
"ya mas. aku hanya khawatir, mas akan melupakan aku andaikan terbukti aku bukanlah adik kandung mas Roland."
"berhentilah memikirkan hal itu, kita sudah sampai dik."
"ya mas." aku hanya sanggup berkata seperti itu, sepertinya aku tidak memiliki kata-kata lain untuk diucapkan.
Aku kemudian turun dari mobil, setelah mas Roland meninggalkanku. Aku segera masuk kemudian langsung menuju kamar. Aku membaringkan tubuhku di ranjang, tidak lama kemudian aku tertidur dengan sejuta pertanyaan dan kegelisahan yang menggelayuti hati dan pikiranku.
Sekitar pukul lima pagi, aku terjaga dari tidurku. Aku kemudian bangkit dan segera mengambil wudhu untuk menunaikan sholat subuh. Selesai sholat, aku tidak lupa menengadahkan tanganku pada Yang Maha kuasa, aku menumpahkan segala perasaan dan kegelisahan yang ada dalam hatiku.
Selesai sholat, aku segera menuju dapur untuk membuat secangkir teh manis untukku. Aku berharap semoga hariku semanis teh yang tengah aku buat.
'aku sebaiknya istirahat saja hari ini supaya lekas sembuh dan kembali pulih. Aku tidak mau kelelahan karena besok sidang terakhirku, semoga saja semua bisa berjalan lancar besok. Aku berkata sendiri di dalam hati, aku sedikit kebingungan hendak melakukan apa hari ini.
Akhirnya, aku hanya tiduran saja seharian ternyata hari lama sekali berlalu kalau kita tidak melakukan apapun. Mas Roland juga tidak datang ke rumahku hari ini, dia hanya mengirim chat kepadaku. Dia hanya ingin memastikan keadaanku baik-baik saja dan menanyakan apa yang aku lakukan hari ini.
kring! kring! kring!
Aku mendengar suara ponselku yang terletak di atas meja, aku segera menghampiri dan melihatnya. Ternyata, mas Roland mengirim pesan kepadaku.
'apa kamu sudah bangun dik?"
"sudah dari tadi mas,"
"kalau begitu, kamu segera bersiap, mas akan jemput kamu jam satu jam lagi."
"baiklah mas." Aku segera menutup ponselku, aku harus segera mempersiapkan diri. Aku harus tampil sebaik dan secantik mungkin hari ini, karena aku ingin membuat mas Ringgo merasa menyesali semua kebodohannya selama ini.
__ADS_1