SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 112: Kali Ini, Mas Ringgo Pasti Tamat Riwayatnya


__ADS_3

"sudah siang ma, sebaiknya kita istirahat dan makan siang dulu." Aku mengingatkan mama, beliau masih fokus dengan laporan keuangan yang sedang di kerjakan.


"hmm." cuma itu sahutan dari mama, aku menatap mama, beliau masih sibuk tanpa menoleh ke arahku.


"ma berhenti dulu, nanti kita lanjutin lagi." Aku berdiri seraya mendekati meja kerja mama.


Beliau berhenti sejenak dan menyandarkan punggung di kursi, aku bisa mendengar hembusan napas mama yang sedikit kuat.


"ma, ayo kita istirahat." Aku kembali mengulangi kata-kataku untuk kesekian kalinya.


"baiklah Rianti, tapi kita harus cepat kembali. Mama khawatir dengan perusahaan kakakmu, laporan keuangan itu sangat kacau. Mama takut kalau keadaan perusahaan kakakmu sekarang, sedang tidak baik-baik saja, karena dia tidak mengetahui kebenarannya.


Aku tercengang mendengar perkataan mama, beliau menampakkan ekspresi serius ketika mengatakan hal itu. Aku mulai khawatir, semua ini pasti ulah mas Ringgo yang tidak becus membuat laporan keuangan.


"maksud mama apa?"


"setelah mama pelajari dengan teliti, ternyata lappran keuangan ini banyak yang tidak sesuai dengan data transaksi yang ada. Mama melihat ada kehilangan sejumlah dana di sini dan kemungkinan telah terjadi penggelapan uang sangat besar."


"jadi maksud mama, ada orang yang korupsi di perusahaan mas Roland? Aku semakin penasaran dengan penjelasan mama.


"benar Rianti."


Sekarang tanpa sadar, aku menghela napas dan membuangnya dengan kasar. Aku kaget sekaligus khawatir mendengarkan penjelasan mama.


"sebaiknya, kita istirahat dan makan siang dahulu. Kita akan secepatnya kembali ke sini dan menyelesaikan laporan keuangan ini ma."


"baiklah nak, kita istirahat dulu."


Kami segera membereskan semua berkas dan mama memasukkan ke dalam map, kemudian beliau membawanya. Aku makin heran dengan sikap mama, karena beliau seperti tidak ingin meninggalkan berkas itu di meja beliau.


'ada apa yang sebenarnya? Kenapa mama membawa semua berkas itu?' Aku bertanya dalam hati, tanpa mau bertanya langsung kepada beliau. Aku bisa menerka, pasti sudah terjadi hal yang serius, makanya mama seperti itu.


Aku dan mama kemudian meninggalkan ruangan kerja kami, tanpa menyapa mas Ringgo. Lagi-lagi mama memperlihatkan Sikap yang tak wajar kali ini, beliau melewati mas Ringgo begitu saja.

__ADS_1


Sesampai di ruangan mas Roland, mama duduk dan kembali memghembuskan napas berat, seakan ingin membuang rasa di hati beliau. Aku memperhatikan sikap mama begitu, sekarang aku sangat yakin kalau ada yang tidak beres.


Aku bisa melihat mama begitu cemas, beliau tidak banyak bicara sekarang. Aku melihat mama seperti itu, tak kalah khawatirnya karena memikirkan kesehatan mama bukankah beliau baru sembuh dari sakit.


Aku takut mama akan sakit lagi kalau beliau terlalu memaksakan diri untuk berfikir, mas Roland harus tahu soal ini. Dia harus tahu perusahaannya dalam masalah, laporan keuangan yang dibuat mas Ringgo cuma fiktif belaka dan banyak kesalahannya.


Aku segera memesan makan secara online untuk kami, mama harus mendapat asupan makanan yang cukup supaya beliau sembuh lebih cepat. Tak berapa lama makanan kami datang, aku dan mama langsung menyantapnya.


Tengah menikmati makan siang, aku mendengar langkah kaki masuk keruangan mas Roland. Aku menoleh ke arah pintu, ternyata mas Roland yang datang.


"Assalamualaikum.


"waalaikumsalam"


Aku dan mama serempak menyahut salam dari mas Roland, dia terlihat letih sekali. Dia mendekati aku dan mama kemudian menjatuhkan bobotnya di sofa.


"bagaimana meetingnya mas, lancar?"


"kok bisa begitu mas." Aku kembali bertanya, penasaran kok mas Roland bisa kehilangan keyakinannya.


"proyek itu kejar target dik, mas tidak yakin bisa menyelesaikannya tepat waktu." mas Roland menjelaskan, napasnya terdengar berat.


" Seandainya, kita ambil proyek itu dan kita tidak menyelesaikannya tepat waktu bagaimana mas?"


"kita akan berada dalam masalah besar dik, kita akan mereka tuntut dan minta ganti rugi."


"oh gitu ya mas."


"iya dik." mas Roland terlihat lesu ketika menjawab pertanyaanku. Aku hanya diam tidak bisa membantunya, karena belum begitu paham tentang dunia bisnis.


"mas sudah makan?"


"belum dik, mas kurang selera makan."

__ADS_1


"jangan begitu mas, kita tetap harus jaga kesehatan sepelik apapun masalah yang kita hadapi. Ini makanlah dahulu, tadi aku pesanin buat mas sekalian."Aku menyerahkan sebungkus makanan kepadanya, dia harus tetap sehat. Bagaimanapun, aku dan mama sangat membutuhkannya.


"makasih, dik." mas Roland segera membuka bungkusan makanan yang aku berikan kepadanya, dia langsung menyantapnya.


Setelah makan, kami istirahat sebentar supaya makanan yang masuk ke perut masuk sempurna ke tempat yang seharusnya. Kemudbegi kami bertiga segera melaksanakan ibadah sholat zuhur secara berjamaah jamaah.


Aku dan mama kembali keruangan kami, untuk menyelesaikan laporan keuangan yang masih terbengkalai. Mama terlihat fokus sekali, membuat aku jadi ikutan fokus.


Menjelang sore, aku dan mama sudah menyelesaikan laporan keuangan yang kami buat. Mama terperangah melihat hasil laporan itu, karena hasil laporan yang kami buat jauh berbeda dengan yang dibuat mas Ringgo.


"ma, apa kita tidak salah menghitung?" Aku bertanya karena begitu melihat hasilnya berbeda jauh, perbedaannya sangat signifikan.


"tidak Rianti, hasilnya memang segitu. Mama sudah mengeceknya beberapa kali tapi hasilnya tetap sama." Aku sungguh tercengang mendengarkan kata-kata mama, bagaimana mungkin bisa seperti ini.


Aku melihat deitng jelas ada sejumlah dana yang hilang, jumlahnya juga tidak main-main. Aku menghitung jumlah angka nol yang tertera disana ada sembilan buah sedangkan di depannya ada angka lima.


"ma, ini berapa ya? Nolnya banyak banget." Sontak mama menoleh ke arahku kemudian beliau tersenyum.


"itu lima milyar, Rianti."


"ha, lima milyar. Apa gak salah ma?" Mama mengangguk pelan, Aku sampai ternganga mendengarkan penjelasan singkat dari mama.


Aku menoleh ke arah mas Ringgo sejenak, dia terlihat tertunduk menatap mejanya. Aku tidak habis pikir dengannya, kenapa dia bisa jadi seperti ini.


Aku merasa tidak lagi mengenalnya, dia sudah jauh berubah. Sejak kapan dia berubah? Apakah semenjak berhubungan dengan wanita itu?


Banyak pertanyaan yang berkelebat di kepalaku, kok bisa jadi lima milyar bukankah hanya ada lima ratus juta levih di dalam tabungan mas Ringgo. Kalau benar, mas Ringgo pelaku penggelapan semua uang itu, dimana dia menyimpannya.


Aku terus memandanginya, rasanya tidak percaya dia segila itu. Kali ini, mas Ringgo pasti tamat riwayatnya. Dia tidak akan bisa lolos karena mama dan mas Roland tidak akan melepaskannya.


"Pak Ringgo, saya mau minta penjelasan pada anda, kenapa laporan keuangan yang anda buat tidak valid seperti ini?" Mama mulai membuka suara, mas Ringgo terlihat kaget mendengar mama mulai mencecarnya dengan pertanyaan.


Aku memperhatikan wajah mas Ringgo, dia terlihat pucat ketika mama mengajukan pertanyaan itu kepadanya. Aku memperhatikan dan menyimak apa yang akan di katanya.

__ADS_1


__ADS_2