SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 90: Gadis Cantik dan Menawan


__ADS_3

"ayo dik, kita berangkat sekarang nanti keburu malam."


"iya mas, aku mau ambil dulu tas di kamar." aku segera berlari ke kamar, tidak ingin membuang waktu lagi.


Sebelum keluar kamar, aku kembali mematut diri di depan cermin. Aku harus tampil sempurna, hal yang hampir tidak pernah aku perhatikan selama ini. Bukannya tidak peduli dengan perawatan diri, Aku seperti itu karena tidak memiliki uang untuk itu.


Tapi sekarang, uang bukan lagi masalah bagiku. Aku bukan lagi wanita kere dan miskin tapi wanita tangguh yang memiliki cukup kemampuan untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginanku.


'penampilanku sekarang sudah sempurna, ibarat ulat sudah menjadi kepompong dan kepompong itu sekarang telah berubah menjadi kupu-kupu yang siap menebarkan pesonanya kepada siapa saja.


"dik, cepatlah."


"ya mas, aku akan segera keluar." aku menyahut, sebelum pergi aku kembali tersenyum pada bayanganku yang terpantul di cermin.


Aku bergegas keluar dan mengunci pintu. Aku melangkah penuh percaya diri menuju mobil kemudian naik dengan perasaan bangga pada diriku sendiri.


Diriku pantas mendapat pujian dan kebaggaan dariku dan semua orang. Walaupun aku selalu di berikan cobaan dan di zalimi oleh orang yang seharusnya melindungi, tapi diriku mampu menahan semua derita yang menerpa.


Aku sekarang harus tersenyum karena tidak ada lagi alasan untukku bersedih. Biarlah masa laluku pergi karena itu memag seharusnya terjadi. Andaikan bukan sekarang, aku akan tetap kehilangan pada akhirnya.


"kamu cantik sekali dik, beda dari biasanya. memangnya kamu mau kemana? mas Roland bertanya seraya tersenyum kecil memperlihat giginya yang putih.


mas Roland kalau lagi tersenyum begitu terlihat tampan sekali tapi karena mendengar dia bertanya seakan sedang menyindirku,aku merasa kesal dan jengkel. Ternyata begini aslinya mas Roland, dia jahil dan resek banget.


"bukankah mas mengajak untuk menemui orang yang akan menjual tanah di jalan lintas itu?" Aku bertanya seraya melotot kearah mas Roland, dia hanya tertawa melihat ekspresi wajahku.


"jadi begini aslinya kamu ya mas, resek amat."


"kamu juga sih dik, mau ketemuan sama penjual tanah saja, seperti mau ketemuan sama artis terkenal.


Aku tersenyum geli ketika mendengar kata-kata mas Roland, kalau dipikir mas Roland ada benarnya juga. Dia termyata memperhatikan penampilanku, ternyata punya kakak itu memang sangat menyenangkan.


"aku kelihatan norak ya, mas." Aku memandang serius kearah mas Roland, dia hanya tersenyum ringan ke arahku.


"bukan norak dik, tapi terlalu cantik." Mas roland menjawab dengan senyum terkembang di bibirnya.


Mendengar mas Rolang berkata seperti itu, aku bahagia bukan main. Ternyata bahagia itu memang sederhana, hanya mendengarkan pujian dari orang yang kita sayangi telah mampu membuat hati berbunga bahagia.


"kita berangkat sekarang ya, dik."

__ADS_1


"iya mas." aku seraya mengaangguk kecil, kemudian mobil mas roland segera meluncur menuju rumah orang yang kami tuju.


"dik, sebaiknya kamu tinggal dengan mama untuk sementara. Mas khawatir kamu tinggal sendirian di rumahmu yang sekarang. Alangkah baiknya kamu tinggal bersama kami demi keamanan dan keselamatanmu." mas Roland berkata dengan nada serius seraya mengendalikan mobil yang terus menyusuri jalan yang kami lalui.


"iya mas, aku mau tinggal bersama mas dan mama. Aku sebenarnya takut tinggal sendirian di rumah.


"mas senang mendengar keputusanmu dik, nanti malam kamu langsung saja pulang ke rumah mama dengan mas."


"tapi, aku harus pulang dulu mas buat mengambil pakaian ganti. Tidak mungkin, aku tidur dengan pakaian seperti ini."


"iya dik." mas roland mengangguk pelan.


Tidak berapa lama, kami sampai ke alamat yang diberikan oleh pak Roman. Aku dan mas roland turun dari mobil kemudian melihat sekeliling mencari di mana rumah pak roman.


"mas telpon saja mas?"


"ya dik."


Mas roland menelpon pak Roman, beberapa menit kemudian dia mematikan ponselnya.


"bagaimana mas?


"kita tanya saja mas, ayo mas itu ada ibu-ibu lewat."


Kami segera menghampiri ibu-ibu yang baru saja lewat, mas Roland segera bertanya. Setelah bertanya, kami segera menuju rumah yang ditunjukkan.


"mas ketuk pintunya." aku berujar pada Roland, dia menatapku dengan mengangkat alisnya.


Tok!" Tok" Tok!


"assalamualaikum "


"waalaikumsalam" Kami mendengar suara perempuan menyahuti salam yang mas Roland ucapkan. Pintu rumah dibuka, terlihatlah seorang gadis muda muncul dari balik pintu.


"cari siapa ya?" Gadis itu bertanya dengan suara lembut dan menawan. Gadis itu memiliki wajah yang cantik dan tatapan tajam nan meneduhkan.


Sesaat aku memandang mas Roland, dia terdiam dengan mata yang tidak berkedip. Aku tahu mas Roland pasti sedang terpana dengan sosok gadis yang sekarang berada di depan kami.


Aku tersenyum melihat ekspresi yang ditunjukkan mas roland. Aku segera menggamit lengan mas Roland, mas Roland terlihat tersadar dia terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"maaf mbak, apa benar ini rumahnya pak Roman?" Aku segera bertanya pada gadis itu.


"benar mbak, pak Roman itu bapak saya. ada keperluan apa ya?"


"kami kesini ingin membicarakan mengenai tanah yang akan beliau jual. Apakah beliau ada mbak?"


"oh iya mbak, beliau sudah menunggu di dalam, silahkan masuk." Gadis itu mempersilahkan kami masuk, dia sangat sopan dan tutur katanya sangat lembut.


"terima kasih mbak." Aku segera masuk, menyusul gadis cantik itu, tapi langkah kakiku terhenti ketika menoleh kebelakang.


Mas Roland masih terdiam dan terpaku di tempatnya berdiri, aku tersenyum geli melihatnya. Aku kembali mundur dan menarik tangannya.


"Ayo mas."


"eh iya dik."


Aku dan mas Roland masuk, aku berjalan di depan sedangkan mas Roland mengikutiku dari belakang. Tiba-tiba saja, mas Roland kehilangan konsentrasinya ketika bertemu dengan gadis itu. Tapi, aku tidak merasa heran karena gadis itu memang cantik dan mempesona.


Setibanya di ruang tamu, kami disambut oleh seorang bapak dengan senyum yang terkembang di bibirnya. Aku mengangguk dan balas tersenyum kearah beliau.


"silahkan duduk nak,"


"terima kasih pak, perkenalkan saya Rianti dan ini kakak saya Roland. Kami berdua ke sini ingin membicarakan tentang tanah yang akan bapak jual.


"iya nak, bapak memang akan menjual tanah itu karena bapak butuh uang untuk uang kuliah anak bapak. Selain untuk uang kuliah, bapak juga membutuhkan biaya pengobatan istri bapak yang lagi sakit."


"oh begitu pak, memangnya bapak mau lepas berapa pak?"


"silahkan di minum tehnya, maaf cuma ada ini." gadis cantik tadi datang membawa teh buatannya dan menyuguhkannya pada kami.


"terima kasih mbak." ucapku seraya tersenyum, mas Roland hanya terdiam dan terpaku memandang ke arah gadis itu.


"mas Roland." aku mencolek lengan mas Roland, dia terkejut kemudian menoleh kearahku.


"oh ya dik, ada apa?"


"ini mas, ternyata benar pak Roman akan menjual tanah beliau."


"iya nak bapak mang ingin menjual tanh itu, sebenarnya bapak ingin melepas tanh itu seharga lima ratus tiga puluh juta, tapi harga itu masih bisa kurang karena bapak sangat membutuhkan uang sekarang."

__ADS_1


__ADS_2