SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 87: Simpan Saja Rindumu, aku tidak Membutuhkannya


__ADS_3

"ayo mas, kita berangkat sekarang."


Mas Roland segera menghidupkan mesin mobilnya dan segera meluncur. Aku merasa nyaman sekali ketika berada dalam mobil mas Roland. Aku kembali mengingat masa laluku ketika bersama mas Ringgo, walaupun dia punya mobil, aku sering jalan kaki.


"kok malah melamun dik?" mas Roland bertanya, membuyarkan lamunanku. Aku menghela nafas panjang, sesak rasanya ketika mendengar pertanyaan mas Roland.


Entah mengapa tiap kali mengingat mas Ringgo, aku hanya mengingat keburukannya. kadang aku sempat berpikir, apakah selama ini tidak ada kebaikannya? Kenapa yang teringat hanya keburukannya?" Ternyata beginilah rasanya di khianati oleh orang yang sangat kita percaya, sakit sekali rasanya.


"tidak ada apa-apa kok mas, aku hanya sedang memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya." aku menjawab dengan sedikit berbohong karena aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"oh begitu, tapi sebaiknya kamu jangan terlalu banyak pikiran. Ingat dik, kamu sekarang tidak sendiri. Mas akan selalu siap membantu jika kamu butuhkan dan akan selalu memberikan dukungan kepadamu.


"terima kasih mas, memang itulah yang sangat aku perlukan saat ini. Aku bersyukur bisa bertemu lagi dengan kamu dan mama."


Aku menatap mas Roland, andai dia hadir lebih awal mungkin aku tidak merasakan kepedihan ini. Tapi mungkin inilah takdir, aku harus merasakan kesakitan sebelum menemukan kebahagiaan.


Mobil mas Roland terus melaju dengan pelan, aku memperhatikan setiap sudut jalanan yang kami lalui. Akhirnya, aku menemukan kebahagian setelah sekian telah menjauh dariku.


Sekarang, aku dapat merasakan hangatnya sebuah ikatan cinta. Aku merasa ada kehangatan yang mengalir di relung terdalam hatiku. Ternyata, kalau hati bahagia pemandangan sederhana saja bisa membuat mata terpesona.


"mas berhenti dulu."


"kenapa dik?" Mas Roland bertanya, dia terlihat heran karena aku tiba-tiba meminta untuk berhenti."


"gak kenapa-kenapa mas, aku hanya lagi melihat sesuatu."


Aku kemudian melongok lagi ke belakang, ternyata kami telah melewati terlalu jauh dari hal yang membuat mataku tertarik untuk melihat dengan jelas.


"mas bisa mundurkan sedikit gak mobilnya."


"apaan sih dik?" mas Roland kembali bertanya, rupanya dia masih heran meski dia tetap memundurkan mobilnya seperti keinginanku.


"nah segitu aja cukup mas." Aku kemudian menghentikan mas Roland dan memperhatikan kembali yang membuat aku tertarik tadi.


Aku melihat ada papan bertuliskan "di jual tanah" di tepi jalan.


"mas bukankah ini jalan lintas ya,"

__ADS_1


"iya dik, ini jalan lintas yang selalu ramai di lalui kendaraan."


"kalau, kita telusuri jalanan ini kesana tembusnya kemana mas?"


"ke pusat kota dik."


"kalau kesana tembusnya kemana mas?"


"itu tembusnya ke area perkantoran dan pasar."


"nah kalo ke sana mas?"


"kamu kenapa sih dik?" mas Roland malah Balik bertanya, kelihatannya dia benar-benar heran mendengar rentetan pertanyaan yang aku lontarkan.


"sekarang, aku tahu apa yang harus dilakukan mas. Aku akan kita beli tanah yang mau dijual itu dengan uang hasil menguras ATM mantanku mas, dengan begitu tidak akan ada lagi hal yang perlu aku khawatirkan."


"tanah yang mana menurut kamu dik." Mas Roland bertanya seraya melongok kearah aku memandang.


"itu mas tanah yang ada papan bertuliskan mau dijual itu mas."


"iya mas, akan akan menghilangkan segala hal yang dapat membuatku jadi tersangka nantinya. Aku bosan menghadapi mas Ringgo, sebaiknya dia tidak mengetahui uangnya hilang karena ulahku." Aku menjabarkan alasanku, mas Roland terlihat mengangguk-anggukkan kepala.


"baiklah kalau itu keinginanmu. sebaiknya kita turun dulu untuk melihat keadaan tanah itu sebelum membelinya."


"ayo mas." aku segera turun dari mobil mas Roland, dan mas Roland juga melakukan hal yang sama. Kami berdua mengamati tanah tersebut.


"tanah ini cukup luas dik, kalau tidak salah perkiraan mas, tanah ini luasnya ada sekitar satu hektar atau mungkin lebih.


"kalau, aku perhatikan letaknya strategis mas apa lagi ini jalan lintas pasti sangat menguntungkan kalau kita membelinya." Aku mulai mengutarakan pendapatku pada mas Roland.


Mas Roland terlihat terdiam sejenak, dia terlihat berfikir lalu menatapku. Mas Roland terlihat tersenyum dan mengangguk.


"kamu benar juga dik, ternyata pengamatan kamu tajam juga." mas Roland berkata, entah itu hanya sekedar pujian atau yang sebenarnya aku tidak tahu. Yang jelas aku senang mendengar mas Roland berkata begitu.


"jadi mas berpendapat sama denganku kalau begitu kita harus segera membelinya mas sebelum keduluan orang lain."


"sekarang, kamu catat nomor ponsel dan segera hubungi pemilik tanah itu dik."

__ADS_1


"baik mas."


Setelah mencatat nomor ponsel tersebut, aku langsung menghubungi dan ternyata langsung tersambung. Aku kemudian membuat janji untuk ketemuan.


"sudah mas, aku sudah menghubungi pemilik tanah itu dan beliau bersedia ditemui kapan saja. Rumah beliau tidak jauh dari sini."


"mas akan temani kamu untuk menemui dan bernegosiasi soal harga tanah dengan beliau. Sebaiknya, kita menemui beliau sore nanti karena sekarang harus segera ke kantor. mas ada meeting dengan klien hari ini.


"iya mas, sebaiknya aku pulang dulu. Aku akan membereskan rumah yang masih berantakan."


"baiklah"


Setelah kami naik, mas Roland segera melajukan kembali mobilnya. Akhirnya, aku menemukan cara untuk menyamarkan tindakanku. Dengan begini, mas Ringgo tidak akan bisa mencurigai dan menuduhku nantinya karena dia tidak akan pernah bisa membuktikan apapun nantinya.


'mas Ringgo selamat berjuang nol lagi, aku ingin melihat sejauh mana kamu dan wanita selingkuhan mu itu bertahan dalam keterbatasan.' Aku bermonolog sendiri,puas rasanya bisa membalas sedikit dari rasa sakit yang telah dia torehkan di dalam hatiku.


Tidak beberapa lama, aku sudah sampai di rumahku. Aku segera turun dari mobil dan pamit pada mas Roland, dia kemudian melajukan kembali mobilnya.


Aku segera memasuki halaman rumah tidak ingin membuang waktu lagi. Aku harus segera menyelesaikan semuanya. Aku akan membereskan rumah dan harus selesai hari ini juga.


"dek!" Aku tersentak kaget mendengar suatu suara menyapaku, seketika menoleh ke arah sumber suara. Aku merasa sedikit muak melihatnya.


'dia lagi, untuk apa lagi dia datang kemari?'


"eh kamu mas, kamu mengagetkan aku saja mas. Sudah lama kamu disini?" aku bertanya dengan wajah tanpa ekspresi. Aku memang sengaja tidak memperlihatkan segala perasaan yang tiba-tiba saja berkecamuk ketika melihatnya.


"sudah sejak setengah jam yang lalu, aku merindukanmu dek?"


"rindu, apa aku tidak sah dengar mas? Kamu merindukanku?" Aku bertanya dengan nada menyindir, aku semakin muak mendengar kata-katanya.


"iya dek. Jujur, mas merasa sangat kehilanganmu."


"simpan saja rindumu itu mas, aku tidak lagi membutuhkannya."


"tapi ini benar dek, mas masih sangat mencintaimu dan mas menyesal telah menyakitimu."


"sudah terlambat mas, kamu jangan pernah berharap aku akan kembali kepadamu."

__ADS_1


__ADS_2