
Kring! kring!
Alarm berbunyi mengusik tidurku, pertanda sudah waktunya untuk bangun. Aku menggeliat seraya membuka kelopak mata, sesaat mengerjapkan mata, membuang rasa kantuk yang masih tersisa.
'alhamdulillah ya allah.' aku bergumam dalam hati, karena masih diberikan kesempatan untuk bernafas hari ini.
Sayup-sayup suara azan berkumandang di mesjid, aku segera bangkit dan menuju kamar mandi dan segera mengambil wudhu.
Aku segera menunaikan sholat, menunaikan kewajibanku kepada yang maha penciptaku. Tidak lupa, aku berdoa semoga aku selalu dalam lindungan dan limpahan rahmatnya. Setelah selesai, aku segera melipat sajadah dan meletakkan di tempat yang seharusnya.
Tok! Tok! Tok!
"apa kamu sudah bangun dik?" Aku mendengar ketokan pintu disertai pertanyaan dari luar. Aku hapal betul suara itu, pasti itu suara mas Roland.
"sudah mas." Aku segera membuka pintu, terlihat mas Roland sudah mandi dan berpakaian rapi.
"kok belum siap-siap dik? Bukankah hari ini, mas akan mengajakmu ke kantor " mas Roland bertanya ketika melihatku.
"oh iya mas, kalau begitu aku siap-siap dulu ya."
"baiklah, mas akan menunggumu di meja makan."
"iya mas." Aku masuk kembali ke kamar, bergegas mandi dan bersiap diri.
Aku membuka pintu lemari dan terlihatlah jejeran baju mahalku bertengger di sana. Walaupun belum banyak, aku merasa sangat bahagia dan bangga ketika memandangnya.
Aku segera meraih dan mengenakan salah satu baju terbaik yang kumiliki, tidak lupa aku merias diri. Aku akan tampil maksimal supaya mas Roland bangga memiliki aku sebagai adiknya.
H
Setelah selesai, aku kembali mematut penampilanku yang memantul di cermin.Aku pangling melihat penampilanku sendiri, belum pernah aku merasa secantik ini sebelumnya.
'benarkah ini aku?' aku bertanya dalam hati, seraya mengangkat alis dan tersenyum pada bayanganku sendiri.
Setelah merasa cukup, aku keluar menemui mas Roland yang telah menungguku di meja makan. Aku segera menghampiri dan duduk di kursi yang tepat beradadi hadapannya.
Aku jadi salah tingkah ketika mas Roland memandang sedikit lama ke arahku, dia mungkin tercegang melihat penampilanku yang sekarang.
Sebenarnya, aku juga tidak percaya bisa tampil secantik ini rasa percaya diriku menjadi naik drastis.
__ADS_1
Entah apa yang dia pikirkan, aku tidak tahu. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca ketika memandangku.
"mas Roland kok memandangiku seperti itu? Aku sangat cantik ya mas." Aku berkata seraya tersenyum, mengajak mas Rolang bercanda.
"percaya diri sekali."
"he he." aku hanya tertawa kecil sebagai tanggapannya.
"ayo dik, kita segera sarapan. Setelah itu, kamu ikut mas ke kantor."
"iya mas. Mama mana ya mas kok gak keliatan?" Aku celingukan mencari keberadaan mama yang tidak terlihat dari tadi.
"mama sebentar lagi menyusul dik, beliau masih di kamar. Kita sebaiknya sarapan saja dulu."
"iya mas." Aku dan mas Roland kemudian sarapan tak lama kemudian mama muncul, beliau bergabung ikut sarapan bersama.
"sudah selesai dik."
"iya mas." Aku mengangguk pelan.
"Rianti kemana pagi-pagi sudah rapi?" mama bertanya tatkala aku berdiri.
"Roland akan mengajak Rianti ke perusahaan kita."
"iya ma."
"tunggu sebentar, mama ganti baju dulu." mama kemudian meninggalkan aku dan mas roland, kami mematung melihat perubahan mama yang tidak kami sangka-sangka.Tidak beberapa lama, mama sudah keluar dari kamar.
Aku ternganga dan begitu takjub, penampilan mama begitu sempurna. Walaupun sudah berumur dan wajah beliau sedikit pucat, mama terlihat masih cantik, anggun dan berkharisma.
"mama...."hanya itu yang terucap dari mulut mas Roland, matanya terlihat berkaca-kaca.
Aku juga meraskan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh mas Roland. Aku sangat bahagia melihat perubahan mama, beliau sekarang tidak seperti orang yang pernah sakit sebelumnya.
Aku, mas Roland dan mama kemudian berangkat ke kantor, mas Roland menjalankan mobil dengan pelan. Tidak berapa lama, kami sampai di kantor.
Setelah memarkirkan mobil, kami masuk ke gedung kantor. Aku melihat para karyawan menunduk tatkala kami melewati mereka. Ternyata mas Roland sangat di segani dan di hormati oleh karyawannya.
"dek, kamu di sini?" Aku terkejut mendengar suara yang lagi menegurku, saat aku melihat ke arah suara ternyata dia adalah mantan suamiku mas Ringgo.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kecil, entah terlihat atau tidak olehnya. Aku malas menjawab sapaan darinya. Aku berlalu tanpa berucap apa-apa, tidak mau berurusan lagi dengannya.
"mas, jadi mas Ringgo bekerja di sini mas."
"iya dek, dia bekerja sebagai menejer keuangan di sini." aku terkejut mendengar penjelasan mas Roland. Ternyata, mas Ringgo bekerja sebagai menejer bukan seperti karyawan biasa seperti yang selama ini ku kira.
'kurang ajar kau Ringgo.' aku mengumpat dalam hati, betapa aku membenci laki-laki itu saat ini.
Aku melangkah mengikuti langkah kaki mas Roland, tidak berapa lama kami sampai di sebuah ruangan yang cukup luas dan hanya terdapat satu meja di sana. Ruangan itu cukup bersih dan nyaman.
"kamu dan mama duduk dulu di sofa itu dik."
"iya mas." Aku menggandeng tangan mama dan duduk di sofa yang mas Roland tunjuk.
Aku melihat mas Roland menelepon seseorang, setelah itu dia terlihat membuka beberapa berkas yang ada di atas meja. Dia terlihat sibuk dengan berkas-berkas tersebut.
Beberapa saat berlalu, mas Roland terlihat sudah selesai dengan berkas-berkas itu. Dia terlihat menyusunnya kembali di atas meja.
Tok! Tok! Tok!
"silahkan masuk."
"semua sudah beres, sekarang bapak ditunggu di ruang rapat."
"baiklah, saya akan segera kesana."
"ayo ikut dengan Roland ma."
"apa aku diajak juga mas?" Aku bertanya ketika mendengar mas Roland hanya mengajak mama, sedang aku tidak.
"kamu ikut juga dik, memangnya kamu mau sendirian di sini" mas Roland tersenyum mendengar pertanyaanku, mungkin pertanyaanku terdengar konyol olehnya.
Aku kemudian segera bangkit mengikutinya mas roland, dia kemudian masuk keruangan yang diatas pintunya tertulis ruangan rapat.
Sesampai disana, ternyata mas Roland sudah ditunggu oleh para bawahannya. Mas Roland kemudian duduk di kursi yang telah di sediakan untuknya, sedang aku dan mama masih berdiri di dekatnya.
"mama dan Rianti silahkan duduk." mas Roland mempersilahkan aku dan mama duduk di kursi yang berdekatan dengan mas Roland duduk.
Aku mengedarkan pandangan, aku kaget ternyata mas Ringgo juda ada di sana. Dia terlihat memandang ke arah ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
__ADS_1
"Selamat siang saudara, saya perkenalkan ini adik saya Rianti. Dia akan bekerja di sini sebagai menejer keuangan menggantikan pak Ringgo, sedangkan pak Ringgo akan dimutasi menjadi wakil menejer."
Aku terkejut mendengarkan pernyatan mas Roland, dia mengangkatku sebagai menejer keuangan tanpa berdiskusi terlebih dahulu. Entah apa yang di pikirkannya....