SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part : Apakah Yang Harus Kulakukan?


__ADS_3

'aduh...!'


Aku mencoba berdiri sambil memegangi kepala yang terasa sangat pusing, kemudian menyiram bekas muntahan yang berserakan di lantai kamar mandi. Setelah itu, Aku segera berjalan terseok-seok seraya berpgangan pada dinding.


Setelah sampai di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang. Aku mencoba memejamkan mata, mungkin dengan tidur sejenak tubuhku akan terasa lebih baik.


Aku tidur meringkuk menahan perut yang masih terasa sakit, kepalaku masih terasa pusing. Setelah sekian lama mencoba memejamkan mata, akhirnya aku pun tertidur juga.


Entah berapa lama tertidur, akhirnya aku terbangun. Aku menatap ke arah jam yang tergantung di dinding kamar ternyata sudah menunjukkan jam satu siang.


Aku mencoba bangun walau perutku masih terasa sakit, kepalaku masih pusing walaupun sudah tidak separah tadi pagi. Terus terang tubuhku terasa lemas walau baru saja bangun, aku melangkah perlahan-lahan supaya tak terjatuh.


Setiba di luar, aku langsung menuju dapur tujuanku cuma satu mau memasak air untuk membuat teh hangat. Hanya itu yang bisa kulakukan, aku tidak memiliki apapun yang bisa dimakan sekarang.


Aku segera membuat teh begitu air matang, setelah airnya sedikit dingin aku menikmatinya dengan pelan-pelan. Seketika asa hangat menjalar masuk ke perutku saat air teh itu melalui tenggorokanku.


Aku minum teh tanpa buru-buru seperti sarapan tadi pagi, takut rasanya akan muntah lagi. Tegukan demi tegukan kunikmati, aku bersendawa setiap kali aku selesai meneguk teh itu.


Setelah menghabiskan minumanku, aku tak langsung berdiri namun duduk sejenak sekedar membiarkan air teh itu tenang dalam perutku. Aku kemudian memesan makanan secara online untuk makan siangku, tak kuat rasanya mencari makanan ke luar.


Sementara menunggu, aku mandi membasuh tubuhku yang tadi bermandikan keringat dingin. Aku berharap tubuhku akan kembali segar setelah mandi.


Aku tidak berlama-lama mandi, takut rasanya nanti pusing lagi. Setelah mandi, aku langsung merapikan penampilanku. Aku berhias semaksimal mungkin untuk menutupi bekas luka lebam yang masih tersisa.


Tok! Tok! Tok!


Aku mendengar ketukan pintu, aku bergegas membukanya. Ternyata makanan pesananku telah sampai, aku menerima makanan tersebut dan langsung membayarnya.

__ADS_1


Aku menikmati makananku dengan perlahan, tidak terburu-buru lagi. Aku hanya menghabiskannya separuhnya, karena makanan yang kutelan terasa pahit di lidahku.


Setelah merasa cukup, aku menyimpan makanan ke dalam lemari penyimpan makanan. Aku akan memakannya lagi nanti jika rasa laparku kembali lagi.


Setelah membereskan meja makan, aku kemudian mencari gawaiku karena teringat akan mas Ringgo. Aku sekarang tidak tahu keberadaannnya di mana, karena tadi pagi dia tidak pamit padaku.


Aku juga tidak tahu, apakah dia tidur di rumah semalam karena aku pingsan setelah diamuknya. Waktu tersadar ternyata hari sudah pagi, aku di biarkannya pingsan di dapur. Entah apa yang ada dalam pikirkannya, aku tidak tahu, dia tega memperlakukanku seperti itu.


Setelah mendapatkan gawaiku, aku segera mencari nomor kontak mas Ringgo dan menghubunginya. Beberapa kali mencoba tapi tidak tersambung, dia benar-benar tidak bisa dihubungi.


'kemanakah dia? Aku bergumam sendiri dalam hati, dia tidak memberikan kabar sama sekali.


'apakah yang harus aku lakukan? Apa sebaiknya aku menunggu dia pulang saja? Bagaimana jika dia tidak kembali?' Berbagai macam pertanyaan mulai muncul di benakku, aku benar-benar bingung tidak tahu harus melakukan apa.


Lama berpikir, akhirnya aku putuskan untuk mencarinya ke kantor. Aku segera memesan ojek online, tak berapa lama ojek online pesananku datang.


Di tengah lelahku mencari mas Ringgo, aku melihat Rianti dan mamanya sedang berjala, sepertinya mereka hendak ke ruangannya pak Roland.


Aku segera menghampiri mereka untuk menanyakan keberadaan mas Ringgo, aku yakin mereka mengetahuinya karena mereka bekerja dalam satu ruangan yang sama. Sebenarnya, aku segan bertanya pada mereka tapi aku tak punya pilihan lain selain bertanya pada mereka.


Begitu sampai di dekat mereka, aku langsung bertanya tentang mas Ringgo. Aku berusaha bicara sesopan mungkin pada mereka, walau sebenarnya malas sekali berurusan sama mereka.


"maaf bu, apakah mas Ringgo hari ini masuk kerja." Aku langsung bertanya pada intinya tanpa basa-basi.


Aku melihat Rianti tercengang mendengar pertanyaanku, dia terlihat mengernyitkan keningnya. Entah apa yang dipikirkannya, namun aku berusaha bersikap setenang mungkin.


"kamu aneh Ratu, bukankah mas Ringgo itu suami kamu. Kenapa kamu tidak tahu suamimu masuk kerja atau tidak hari ini?" Rianti malah balik bertanya padaku, membuatku gusar mendengar pertanyaannya.

__ADS_1


Aku masih berusaha bersikap tenang padanya, karena dia sekarang bukanlah Rianti yang dulu lagi. Dia sekarang anak pemilik perusahaan ini, jika aku membuat 8masalah dengannya bisa-bisa aku akan kehilangan pekerjaanku.


"aku dan mas Ringgo tadi malam ribut, dia tidak pamit padaku tadi pagi." Aku menjawab dengan ekspresi datar, dia akhirnya tahu apa yang terjadi antara aku dan mas Ringgo.


"tadi pagi ms Ringgo, eh pak Ringgo masuk kerja tapi sekarang dia masuk Rumah sakit. Aku tadi menemukannya pingsan di ruangan kerjanya." Aku kanget mendengar jawaban dari Rianti, ternyata mas Ringgo tidak baik-baik saja


"apa yang terjadi padanya." Aku kembali melontarkan pertanyaan, ingin tahu apa yang telah terjadi.


"Aku juga tidak tahu tapi dari keterangan dokter pak Ringgo kelelahan dan kelaparan." Aku terperangah mendengar penjelasannya, kaget luar biasa.


Aku secepatnya mengendalikan keadaan, Rianti tak boleh melihat perubahan ekspresi wajahku. Aku harus bersikap seperti biasa saja, dia tak boleh tahu apa yang terjadi sebenarnya.


'Aku sebaiknya pergi sebelum dia bertanya lebih jauh.' Aku bergumam dalam hati.


"kalau begitu, saya akan ke rumah sakit melihat keadaan mas Ringgo. Saya permisi dulu bu." Aku pamit dan buru-buru pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka.


Berbagai pertanyaan timbul di benakku, mas Ringgo kenapa bisa pingsan. Apa benar dia pingsan karena kelelahan dan kelaparan? Apa dia tak sarapan dulu sebelum berangkat? Bukankah dia punya uang untuk sekedar membeli sarapan?


Aku memesan ojek untuk menyusul mas Ringgo ke rumah sakit, tak berapa lama ojek pesananku datang. Aku langsung mengiyakan ketika pengendara ojek itu namaku.


"mau kemana bu?'


"ke rumah sakit pak, suami saya dirawat di sana."


"kerumah sakit mana bu, bukankah rumah sakit di kawasan ini ada tiga?"


Astaga, aku lupa menanyakan alamat rumah sakit tempat mas Ringgo di rawat. Aku menoleh ketempat aku menghampiri Rianti dan mamanya tadi tapi mereka sudah tidak kelihatan lagi.

__ADS_1


"Bagaimana bu, kemana tujuan kita?"


__ADS_2