SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 68: Ternyata Benar, mas Roland Memang Orang Kaya


__ADS_3

"ayo dik, kita pergi." mas Roland berkata setelah membayar semua tagihannya.


"ya mas, aku kapok makan disini."


"kenapa?"


"makanannya mahal banget mas, aku ngeri Dengan harganya mas."


"kamu dek, buat perut kok hitung-hitungan." mas Roland berkata seraya tersenyum menatapku.


Kemudian kami beranjak pergi meninggalkan restoran menuju tempat parkir, aku menunggunya di depan pintu lobi restoran. Beberapa menit berlalu, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku.


Aku mendadak merasa pusing, perutku terasa mual. Aku mencoba mencari tempat untuk berpegangan, sekarang pandanganku berkunang-kunang.


'apa yang terjadi? kenapa aku merasa pusing begini?"


"kenapa wajahmu kelihatan pucat dek?" mas Roland bertanya, sepertinya dia memperhatikan perubahan di wajahku.


"entahlah mas, aku tidak tahu. Aku merasa kepalaku pusing, perutku juga terasa mual."


Keringat dingin mulai bercucuran di wajahku, aku merasa kulitku mulai terasa perih dan gatal. Mas Roland terlihat khawatir melihat kondisiku sekarang.


"kita ke rumah sakit ya dek, mas khawatir kondisimu makin memburuk."


Aku mengangguk pelan, aku tidak tahan menahan perih dan gatal di kulitku. Aku segera naik ke motor mas Roland, dia segera melajukan motornya.


"mas, apakah masih lama? Aku tidak tahan, kulitku terasa perih dan gatal." Aku bertanya seraya berpegangan erat pada mas Roland, aku makin khawatir.


'apakah aku bisa bertahan sampai di rumah sakit? aku bertanya dalam hati, rasanya tidak kuat lagi. aku khawatir pingsan di tengah jalan.


"bertahan dik, kita sebentar lagi kita sampai."


Aku tidak menjawab kata-kata mas Roland, aku merasa kepalaku semakin pusing. Tubuhku semakin berkeringat, aku merasa kesadaran ku makin lama semakin menghilang. Akhirnya,aku pingsan setiba di halaman rumah sakit.


"kamu sudah bangun dik?" aku mendengar suara mas Roland ketika baru saja membuka mata. Mas Roland memegang tanganku, dia terlihat khawatir.

__ADS_1


"aku dimana mas?"


"kamu berada di rumah sakit sekarang dik, tadi kamu pingsan." mas Roland menjelaskan, aku mencoba melihat sekeliling.


"apa yang terjadi denganku, mas."


"menurut dokter kamu alergi udang dik, kamu tidak usah khawatir sebentar lagi kamu akan sembuh."


'hmmm, baru saja makin enak sudah masuk rumah sakit.' Aku menggerutu sendiri, Mas Roland tersenyum seraya mengusap kepalaku.


Entah mengapa, aku merasa senang sekali ketika mas roland memegang dan mengusap kepalaku. Aku menatap mata mas Roland, terlihat ada kasih sayang dimatanya. Aku beruntung sekali bisa berjumpa dengan mas Roland, ternyata kehilangan mas Ringgo bukan berarti kiamat bagiku.


Aku merasa kehadiran mas Roland mampu memberikan kebahagian tersendiri bagiku. Dia selalu hadir saat aku butuh bantuan, dia hadir di waktu yang tepat ketika aku kehilangan tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah.


"dek, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu alergi udang? Mas sangat khawatir melihat kondisimu tadi, kamu pingsan begitu lama" Mas Roland berkata pelan, dia terlihat cemas melihat kondisiku. Aku perhatikan kulitku berubah warna menjadi kemerahan dan terasa gatal sekali.


"aku juga tidak tahu kalau aku alergi udang mas, selama ini aku tidak pernah makan udang. Selama ini, ibuku selalu melarang makan udang ternyata inilah sebabnya." aku menjelaskan pada mas Roland, aku benar-benar tidak tahu jika aku alergi udang.


"mas, sampai kapan aku harus di rawat di rumah di sini? Aku ingin segera pulang."


"bagaimana dengan pekerjaan kamu mas? Sebaiknya aku dirawat di rumah saja, aku tidak mau selalu merepotkan kamu mas."


"kamu tidak usah memikirkan semua itu dik, Mas sudah urus semuanya."


"tapi mas, apa tidak sebaiknya kita pulang saja? aku tidak suka disini, aku lebih suka di rawat di rumah saja." Aku merengek minta segera pulang pada mas Roland, terus terang aku tidak suka lama-lama di rawat di rumah sakit.


"kamu harus di rawat di sini dik, mas tidak ingin terjadi sesuatu padamu" mas Roland berkata, ternyata dia benar-benar khawatir padaku. Aku merasa senang sekali mendapatkan perhatian dari mas Roland, ternyata kehilangan mas Ringgo bukan berarti kiamat bagiku.


"tapi mas,...


"tidak ada tapi-tapian, kamu nurut saja kenapa sih dik? Tenang saja mas Pasti temani kamu selama disini." mas Roland memotong kata-kataku, aku terdiam mendengar kata-katanya.


"nah gitu dong, jangan keras kepala." mas Roland berkata seraya tersenyum seraya mengelus lembut rambutku. Aku memandang mas Roland, terasa ada perasaan hangat mengalir di hatiku.


Mas Roland begitu perhatian dan tulus menjagaku selama di rawat di rumah sakit. Aku tidak menyangka sama sekali mas Roland akan mengorbankan waktu berharganya demi menemaniku.

__ADS_1


Aku di rawat selama tiga hari di rumah sakit, ternyata mas Roland menepati janjinya. Dia selalu menjaga dan menemaniku selama dirawat di rumah sakit, aku sangat terharu melihat perhatiannya kepadaku.


Setelah tiga hari dirawat, aku merasa sudah cukup baikan. Aku tidak lagi merasa pusing dan mual, kulitku tidak lagi terasa gatal walau masih berwarna merah. Walaupun belum di perbolehkan pulang, aku memaksa untuk pulang secepatnya.


"dek, kamu masih harus dirawat sebaiknya kamu dirawat dulu disini."


"tidak mas, aku sudah merasa lebih baik. aku tidak mau lagi di sini, mohon mengerti aku mas."


"baiklah kalau begitu, mas akan tanyakan kepada dokter dulu. Kamu tunggu ya dik."


"ya mas," Aku mengangguk pelan, mas Roland kemudian segera menemui dokter yang merawat ku.


Tidak berapa lama, Aku melihat mas Roland kembali bersama dokter. Dokter itu memeriksa kondisi kesehatanku, beliau tersenyum kepadaku.


"kondisi kesehatan Bu sudah lebih baik, Bu Rianti sudah diperbolehkan pulang. Pak Roland ini resep obat, silahkan tebus di apotik ya pak."


"baik dok, terima kasih." Mas Roland menerima resep yang diberikan dokter.


"kalau begitu, saya permisi dulu pak Roland. Bu Rianti ingat jangan makan udang lagi, kalau ingin cepat sembuh rajin minum obat ya." Pak dokter permisi, beliau mengingatkanku. Aku mengangguk pelan seraya tersenyum pada beliau.


"terima kasih dok "


"kalau begitu, mas urus dulu administrasinya kamu tunggu di sini dik."


"ya mas."


Setelah selesai mengurus semuanya, mas Roland mengajakku pulang. Aku tidak tahu berapa biaya perawatan selama aku dirawat karena mas roland yang mengurus semuanya. Aku ingin menanyakan kepadanya, tapi aku merasa sungkan bertanya pada mas Roland.


"Ayo kita pulang dik." mas Roland membimbingku keluar rumah sakit, dia mengajakku ke parkiran tapi aku tidak melihat motor mas Roland.


"ayo dik." mas Roland menarik tanganku, dia melangkah mendekati sebuah mobil mewah. Aku hanya diam mengikutinya, mas Roland kemudian mempersilahkan aku masuk ke dalam mobil tersebut.


"tapi mas, ini mobil siapa?"


"ini mobil mas dek, ayo masuk."

__ADS_1


Aku kagum melihat mobil mas Roland, ternyata dia mempunyai mobil mewah. Aku kemudian masuk mobil mengikuti mas Roland. Ternyata benar, mas Roland memang orang kaya.


__ADS_2