
Tok! Tok! Tok!
Sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu dari luar, aku yang sedang berada di dalam kamar segera keluar melihat siapa yang datang ke rumahku.
Tok! Tok! Tok!
Aku kembali mendengar ketokan pintu, sekarang suaranya semakin jelas terdengar. Aku semakin mempercepat langkah kakiku seraya bertanya dalam hati, siapakah yang datang? Setelah sampai di pintu, aku segera membuka pintu ternyata mas Roland yang datang.
Aku senang sekali melihat kedatangan mas Roland, dia berdiri seraya tersenyum kepadaku. Tidak dapat dipungkiri, aku sangat mengharapkan dan membutuhkan mas Roland sekarang.
"ayo masuk mas, maaf lama buka pintu tadi aku lagi di kamar."
"tidak apa-apa dik, mas mas juga baru sampai. Bagai mana kondisi tubuhmu? Apakah sudah benar-benar pulih?"
"Aku sudah tidak apa mas, hanya saja masih sedikit lemas." Aku berkata seraya tersenyum lemah kepada mas Roland.
"kamu harus rajin minum obat dan banyak istirahat dek, ingat hari Senin sidang terakhir kamu." mas Roland berkata seraya menatap serius ke arahku. Aku terkesiap mendengar kata-kata mas Roland.
"iya mas, semoga hari Senin kesehatanku sudah pulih total. Aku berharap sidang nanti berjalan dengan lancar."
"tenang saja dik, mas pasti lakukan yang terbaik untukmu.
"terima kasih mas telah membantuku, kalau tidak ada kamu mungkin aku tidak bisa sekuat dan setenang ini menghadapi mas Ringgo."
"sudah seharusnya, aku membantumu dek. Mas pastikan Ringgo akan membayar semua perlakuan buruknya terhadapmu dek." kata mas Roland mantap, terlihat ada kemarahan dalam kata-katanya.
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata mas Roland, aku sedikit bingung dengan maksud perkataannya. Aku merasa sedikit takut melihat ekspresi wajah mas Roland seketika rasa khawatir menyelinap di dalam hatiku.
"apa maksud kamu mas? Aku berharap kamu tidak melakukan sesuatu yang membuat kamu jadi terbelit masalah pada akhirnya. Aku tak mau kamu mendapat kesulitan hanya karena membantuku mas."
"tenang saja dik. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, kamu tidak usah khawatir."
"iya mas, aku serahkan semua urusan ini sama kamu. Aku tahu kamu pasti bisa menyelesaikannya dengan sempurna."
__ADS_1
"oh ya dik, kamu sudah makan apa belum?"
"belum mas, memangnya kenapa?"
"kalau begitu, kita makan di luar yuk. Kamu pasti tidak masak hari ini." Mas roland berkata, aku tersenyum simpul karena tebakan mas Roland itu memang benar sekali.
"iya mas, aku memang tidak masak hari ini karena belum sempat belanja kebutuhan dapur. Sebenarnya, aku tadi mau pesan makanan lewat aplikasi."
"kalau begitu, kita makan di luar saja nanti mas ajak makan di tempat langganan mas." Mas Roland berkata, dia kembali mengajakku makan di tempat langganannya.
"aku kapok makan di tempat langganan kamu mas, makanannya aneh-aneh. Sebaiknya, kita makan di rumah makan Padang saja mas makanannya enak-enak lagian harganya gak bikin kantong bangkrut." Aku berkata seraya melemparkan senyum aneh pada mas Roland.
Aku masih ingat dan trauma ketika mas Roland mengajakku makan di tempat langganannya. Mas Roland membayar mahal hanya untuk seporsi makanan yang membuatku terkapar di rumah sakit. Kalau mengingat hal itu, aku merasa tidak ingin lagi makan di sana.
"kamu juga salah dik, lihat makanan enak langsung hajar saja. Memangnya, apakah kamu tidak mengetahui kalau kamu itu alergi udang?"
"beneran mas, aku tidak tahu sama sekali kalau aku ada alergi udang. Ibuku tidak pernah memasak udang untukku mungkin itu sebabnya."
"ya sudah dik. Kita berangkat sekarang yuk, keburu lapar nih." mas Roland berkata seraya berdiri, dia kembali mengajakku.
"iya dik, tapi cepat ya." Jawab mas Roland, dia terlihat kembali duduk di kursi sofa.
Aku bergegas mengganti pakaianku, tidak mungkin rasa aku keluar hanya memakai baju tidur. Setelah selesai, aku memakai sedikit riasan untuk menutupi wajahku yang masih terlihat pucat.
Setelah dirasa cukup, aku segera keluar menemui mas Roland. Aku tidak mau membuat mas Roland menunggu terlalu lama.
"ayo mas, kita pergi sekarang."
"ayolah dek." Mas Roland berkata seraya bangkit berdiri kemudian melangkah keluar rumah. Aku segera mengikuti mas Roland, aku merasa sangat senang sekali.
Setelah mengunci pintu, aku dan mas Roland segera meluncur. Mas Roland ternyata tidak mengendarai motor seperti biasanya tapi dia membawa mobil mewahnya kali ini.Aku merasa takjub melihat mobil mas Roland, ada perasaan bangga sekaligus canggung saat menaikinya.
"cepat naik, kok malah bengong." mas Roland mengejutkanku dari perasaan yang masih menyelimuti hatiku.
__ADS_1
"eh, iya mas." aku bergegas naik ke mobil mal Roland, ternyata enak sekali setelah berada di dalamnya. Aku hanya duduk manis dan tidak berani menyentuh apapun yang ada di mobil mas Roland.
"kamu kenapa sih dik, naik mobil kok tegang begitu?"
"aku tidak apa-apa kok mas, hanya saja sedikit lapar." Aku menjawab asal untuk menutupi perasaanku.
"kita makan di rumah makan Padang saja ya, mas. Aku ingin makan rendang."
"baiklah dik."
Mas Roland segera meluncur dengan mobil mewahnya, aku merasa sangat nyaman sekali ketika menaiki mobil tersebut. Tak berapa lama, kami sampai di rumah makan yang kami tuju.
Aku dan mas Roland bergegas kemudian masuk rumah makan. Setelah duduk sejenak, mas Roland memanggil karyawan rumah makan dan memesan makanan. Tidak berapa lama, karyawan yang dipanggil datang.
Aku melongok ke kiri dan ke kanan, mencari sesosok yang sering usil ketika aku makan di sini. Tapi, aku tidak menemukan sosoknya di manapun.
"kamu melihat apa dik, Sepertinya ada yang kamu cari?"
"aku mencari apa-apa mas."
Tidak berapa lama, karyawan yang melayani kami tadi datang dan menghidangkan makanan di atas meja. Aku semakin lapar dan ingin segera menyantapnya tapi karena keberadaan mas Roland, aku menahan sedikit keinginanku.
"silahkan makan." Karyawan tersebut mempersilahkan kami makan dengan ramah dan senyum terkembang di bibirnya. Aku merasa kagum dengan pelayanan di rumah makan ini, semua karyawannya baik dan sopan.
"ayo dik, kita makan sekarang kebetulan mas sudah lapar."
"ya, mas"
Tanpa aba-aba lagi, aku langsung mengambil nasi dan milih lauk yang aku inginkan. Aku makan dengan lahap, tidak ada suara yang keluar dari mulutku selama makan. Aku menikmati hidangan yang ada di hadapanku dengan sepenuh hati.
Mas Roland ternyata memperhatikanku, tapi aku pura-pura tidak tahu. Aku bisa melihat dengan sudut mataku, mas Roland tersenyum melihat tingkahku.
"santai saja dik, kamu boleh kok menghabiskan semuanya kalau mau." mas berkata seraya tertawa kecil. Aku hanya membalas kata-kata mas Roland dengan senyuman kemudian meneruskan menikmati hidangan yang ada di hadapanku.
__ADS_1
'aku bersyukur bisa bertemu denganmu, mas" aku berkata dalam hati, perasaan bahagia hangat menyelimuti ruang hatiku.