SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 85: Apakah Ini yang Disebut Ikatan Cinta


__ADS_3

"aku bingung di mana kamar tamunya, rumah ini besar sekali dan terlihat banyak kamar tidurnya." Aku berkata dalam hati seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


Terus terang, aku merasa bingung harus masuk ke kamar yang mana. Aku hanya terdiam terpaku seraya memperhatikan setiap pintu kamar rumah mewah mas Roland.


"kenapa kamu malah berdiri saja dik?" mas Roland bertanya, tiba-tiba saja dia sudah berada di dekatku. Aku segera menoleh ke arah mas Roland seraya tersenyum.


"aku tidak tahu harus masuk ke kamar yang mana, mas."


"oh itu masalahnya, sekarang ikuti mas. Mas akan tunjukkan kamar tamunya padamu." Aku mengikuti mas Roland dari belakang, ternyata kamar tamunya tidak jauh dari tempatku berdiri.


"silahkan masuk dik, sebaiknya kamu langsung istirahat karena hari sudah hampir pagi."


"iya mas, kalau begitu aku istirahat dulu." Aku segera masuk dan mengunci pintu kemudian melangkah menuju ranjang. Aku merasa memang sangat lelah, aku ingin segera istirahat.


Aku kembali bangun karena ingat belum menunaikan kewajiban kepada yang maha kuasa. Aku segera ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah selesai aku segera menghadap kepadanya.


Selesai sholat, aku tidak lupa memanjatkan doa supaya aku selalu di mudahkan jalanku dan semoga masa depanku di penuhi kebahagiaan.


Di penghujung doaku, aku tidak lupa bersyukur kepadaNya karena telah dipertemukan dengan keluarga kandungku.


"Terima kasih ya Allah, aku bersyukur atas semua karunia dan kebahagiaan yang engkau berikan." Aku mengucapkan rasa syukurku dalam doaku. Aku benar-benar bersyukur dan bahagia sekarang.


Aku tidak pernah menyesali perpisahan dengan suamiku, mas Ringgo. Sekarang, aku mengerti ucapan orang-orang yang mengatakan "dibalik kesusahan pasti ada kemudahan dan di balik penderitaan pasti ada kebahagiaan. Pepatah itu benar adanya, aku membuktikan kebenarannya sekarang.


Setelah selesai menghadap penciptaku, aku kemudian melipat sajadah dan segera membaringkan tubuhku di atas ranjang, betapa empuk terasa. Aku merasa sangat nyaman ketika tubuhku mendarat di atasnya.

__ADS_1


'jadi, di rumah inikah aku dilahirkan?' seketika muncul sebuah pertanyaan di hatiku.


'aku tidak menyangka akan mendapat kejutan yang begitu besar setelah mas Ringgo memberikan kejutan yang teramat pahit padaku. Aku ternyata masih memiliki keluarga, betapa beruntungnya aku.' Aku memejamkan mata tatkala mengingat semua itu.


aku memejamkan mata untuk sejenak, kemudian membukanya kembali ternyata semua ini nyata. Aku mengulas senyuman bahagia kemudian memejamkan mataku kembali dan tidur nyenyak dalam kebahagiaan.


Aku terjaga tatkala mendengar suara azan berkumandang di mesjid, betapa merdunya suaranya. Aku perlahan bangkit dan menuju kamar mandi, aku segera mengambil wudhu dan menunaikan sholat.


Beberapa menit kemudian, aku selesai menunaikan sholat subuh. Aku keluar kamar menengok kanan dan kiri, masih terlihat sepi.


Aku kemudian menuju ruang tamu, memandang ke seluruh ruangan rumah besar mas Roland. Tatkala pandanganku tertuju pada sebuah kamar yang pintunya dicat dengan warna pink aku merasa sangat tertarik untuk melihatnya.


Aku berjalan perlahan mendekati pintu kamar dan membuka pintunya. Seketika bau harum keluar dari kamar itu, akupun melongok ke dalam tidak ada siapapun di sana.


Aku kemudian masuk kedalam kamar tersebut dan mengedarkan pandangan ke segenap penjuru kamar, betapa cantiknya kamar ini. Kamar ini di cat dengan cat berwarna pink, aku melihat banyak sekali boneka yang tertata rapi di sana.


'siapakah yang ada dalam foto itu? apakah mungkinkah itu aku?' Aku memperhatikan wajah dalam foto dengan seksama, pertanyaan demi pertanyaan mulai bergulir di dalam hatiku.


Aku melihat setia detil foto tersebut, ternyata pakaian yang dikenakan bayi perempuan itu terlihat sama dengan pakaian yang aku temukan di rumahku. Seketika aku mengulas senyum di bibirku.


Aku kemudian kembali tersadar dari pikiranku,walaupun mas Roland sudah yakin betul kalau aku ini adalah adik kandungnya tapi dalam hatiku tetap saja berharap keyakinan mas Roland itu tidak salah.


"kamu di sini dik?" Mas lihat ke kamar kamu, kamu tidak ada. Mas pikir kamu kemana?" mas Roland mengejutkanku, aku menoleh ke arahnya yang berdiri di ambang pintu.


"eh mas, aku minta maaf karena telah lancang masuk kamar ini tanpa permisi." Aku seketika gugup dan merasa bersalah karena seharusnya aku berbuat seperti itu.

__ADS_1


"kamu tahu gak dik, kamar ini adalah kamarmu ketika masih kecil, sebelum aku menghilangkan kamu." mas Roland bercerita dengan senyum terlukis di bibirnya.


"jadi menurut mas, aku adalah anak yang ada di foto itu aku mas?" Aku bertanya sekali lagi pada mas Roland.


"bagaimana kalau ternyata itu bukan aku mas?" bagaimana kalau kami hanyalah kebetulan mirip dan terbukti kalau aku bukanlah bagian dari keluarga kamu mas?"


"mas yakin sekali kamu itu adik mas Rianti karena sekian banyak kesamaan yang ada, tidak mungkin kebetulan semata. mas merasa tidak mungkin keyakinan yang begitu kuat ini merupakan suatu kesalahan." Mas Roland berkata penuh keyakinan, dia benar-benar yakin dengan perasaannya.


"apakah kamar ini tertata seperti ini semenjak Rianti kecil pergi mas?" Aku bertanya pada mas Roland untuk sekedar mengalihkan pembicaraan.


"ya dik, mama tidak mengizinkan seorangpun merubah letak dan menyentuh barang-barang yang ada di dalam kamar ini, semua barang masih seperti saat kamu tinggalkan. Beliau sangat menderita karena kehilangan kamu, sehingga beliau sering sakit-sakitan semenjak itu."


Aku mengedarkan pandangan, benar saja kamar ini terlihat tertata rapi.


"aku berharap mama akan kembali sehat setelah bertemu denganmu kembali."


"semoga aja mas, aku juga berharap begitu. Semoga kebahagian menggantikan penderitaan yang kita alami."


" ayo keluar, dik. Sebaiknya kita temui mama sekarang. Biasanya, beliau sudah bangun jam segini."


"iya mas."


Mas Roland memutar tubuhnya, kemudian dia meninggalkan kamar yang pernah aku diami sewaktu masih kecil itu.Aku mengikuti langkahnya dari belakang, meninggalkan kenangan masa lalu yang tidak pernah aku ingat.


Aku melangkah santai ketika melintasi ruang tamu ternyata mama sudah duduk di sofa.Aku kemudian menatap sejenak wajah mama yang memang benar mirip sekali denganku.

__ADS_1


Aku kemudian mendekati mama dan duduk di sebelah beliau. Tatkala duduk bersebelahan, aku merasa suatu ikatan hangat segera menyentuh ruang hatiku.


'Apakah ini rasanya ikatan cinta suci seorang ibu dan anak yang anak kandung?' aku membatin dalam hatiku. Ikatan itu begitu kuat sehingga tidak perlu di rekayasa ataupun di ucapkan dengan kata-kata tapi dia akan terikat erat dengan sendirinya.


__ADS_2