
"ayo kita pergi dari sini, dik." mas Roland mengajakku pergi setelah selesai berbincang dengan mas Ringgo.
"baiklah mas, aku sangat lelah ingin segera istirahat." Aku berkata seraya mengikuti langkah mas Roland.
Aku tidak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka, aku melihat mas Ringgo beberapa kali menoleh ke arahku ketika berbicara dengan mas Roland. Mas Ringgo memandang ke arahku dengan tatapan yang tidak biasa, aku bisa merasakan semua itu dari tatapan matanya.
Sebenarnya, aku masih penasaran dengan mas Roland. Dia begitu baik dan peduli padaku, padahal kami baru saja bertemu. Tapi karena situasinya belum memungkinkan, aku tidak berani menanyakan hal itu kepadanya.
"apakah kamu lapar dek Sebelum pulang, kita cari makan dulu yuk, mas lapar sekali."
"iya mas, aku juga lapar. Tadi pagi, aku sarapan hanya sedikit.
"kalau begitu, ayo cepat naik ke motor. Mas akan membawa kamu ke restoran langganan, tempat mas biasa makan. Mas yakin kamu pasti sangat menyukai makanan di sana, semua makanan di sana enak-enak lho dik."
"ayo mas, aku jadi tambah lapar mendengarnya mas." Aku bergegas naik ke motor mas Roland, Aku tak sabar ingin mencicipi makanan enak yang dikatakan mas Roland.
"kamu harus pegangan yang erat, nanti kamu jatuh dik."
"ya mas," Aku segera berpegangan pada mas Roland, sekarang aku tidak sungkan lagi berpegangan padanya.
Tidak tahu mengapa, aku merasa begitu dekat dengannya padahal kami baru saja bertemu. Aku merasa dia begitu melindungi dan sangat hormat kepadaku. Aku merasa nyaman dan aman bila berada di dekatnya, dia mampu menyalurkan kekuatan hati ketika menggenggam erat tanganku.
Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, perasaan ini mengalir begitu tulus. Aku tidak merasakan gejolak batin, seperti yang aku rasakan sewaktu pertama kali bertemu dengan mas Ringgo dan mas Aldo.
'andai saja mas Roland jadi kakakku, aku pasti sangat bahagia.' mendadak kata-kata terbersit di hatiku, aku berharap mas Roland menjadi kakakku.
'sekarang, aku menginginkanmu mas, aku ingin kamu menjadi kakakku. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, sekarang siapa yang akan menjagaku?' Aku bertanya dalam hati, mendadak aku merasa ruang hatiku sunyi.
Setelah bercerai dari mas Ringgo, Aku pasti kesepian karena aku tidak memiliki satu orangpun yang bisa di anggap keluarga. Ayah dan ibuku sudah lama meninggal, sekarang aku juga harus kehilangan mas Ringgo.
Aku harus melepaskan mas Ringgo karena tidak mungkin lagi aku hidup bersamanya. Aku Aku akan membiarkan dia hidup bersama Ratu, wanita selingkuhannya.
__ADS_1
"kenapa kamu diam saja dik?" mas Roland mengejutkanku, seketika aku tersentak dari lamunanku. Aku tersadar dari mimpi, kenyataannya mas Roland bukanlah kakakku.
"tidak ada apa-apa mas, aku hanya tidak ingin mengganggu konsentrasi kamu." Aku berkata seraya tersenyum getir, berusaha menutupi perasaanku ya sebenarnya.
'ayolah Rianti. jangan terlalu banyak bermimpi. mas Roland baik dan perhatian kepadaku bukan berarti kamu berhak mengharapkan dia menjadi kakakmu.' Aku berkata dalam hati, aku mengingatkan diriku sendiri.
Aku harus menyadari siapa lah diriku, aku bagaikan burung pungguk yang merindukan bulan. Aku hanya bisa berharap tapi semua tidak akan pernah menjadi kenyataan.
"kamu jangan kebanyakan melamun dan berpikir, dik. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?"
"he he, aku tidak memikirkan apa-apa mas."
"nah kita sudah sampai, ayo kita masuk." Mas Roland berhenti tepat di depan sebuah restoran.
Mas Roland segera mengajakku setelah dia memarkirkan motornya. Aku mengikuti mas Roland seperti seorang anak kecil mengikuti ibunya.
"ayo pesan makanan dik, kamu boleh memesan makanan apa saja yang kamu sukai." Mas Roland menyuruhku memesan makanan ketika pramusaji datang memberikan daftar menu kepadaku.
Aku segera memindai satu persatu makanan yang terdapat di dalam daftar menu, terus terang aku bingung memilihnya. Walaupun tamatan sekolah menengah atas, jujur aku tidak mengerti dengan nama makanan yang tertulis di sana.
"ini pesanan anda, selamat menikmati mbak." pramusaji yang melayani pesanan ku tadi, mengantarkan makanan dan menghidangkannya di meja.
'astaga, makanan apa ini' aku berkata sendiri di dalam hati. Aku segera mengambil daftar menu dan membandingkan dengan makanan yang tersaji di atas meja. Setelah diperhatikan, aku melihat makanan tersebut memang sama persis dengan yang ada di daftar menu.
Aku mendadak bingung sendiri karena makanan yang aku pesan rupanya udang dengan ukuran yang sedikit besar tanpa di temani nasi, tapi hanya ditemani kentang goreng. Aku melihat kentangnya cuma sedikit, aku sedikit kecewa dengan makanan yang aku pesan.
'aku dulu malas sekali belajar bahasa Inggris, ternyata inilah akibatnya. walah, alamat tidak akan kenyang makan makanan ini."
"kenapa dek, kok kamu malah melamun melihat makanan. Ayo segera makan, bukankah kamu lapar?"
"i-iya mas," Aku tergagap menjawab pertanyaan mas Roland.
__ADS_1
Sebenarnya, aku tidak pernah makan udang, karena ibuku selalu melarang dan tidak pernah memasak makanan berbahan udang. Entah apa sebabnya, aku tidak mengetahuinya.
Aku mulai menyuap ternyata masakan itu sangat enak, tidak berapa lama aku sudah menghabiskan makananku. Terus terang, aku masih merasa lapar karena makanan itu porsinya sangat sedikit menurutku apalagi tidak ditemani nasi."
"kalau mau nambah, pesan saja dik." mas Roland menawarkan untuk nambah, tapi aku hanya tersenyum menolak walau perutku terasa masih lapar
"tidak usah mas, aku sudah kenyang." Aku berbohong menolak tawaran mas Roland. Dia hanya tersenyum seraya menggeleng, mungkin dia tahu kalau aku belum kenyang.
"mas kemari, berapa tagihan yang harus kami bayar?" Aku memanggil seorang pramusaji, kemudian dia mendekati kami.
Aku ingin membayar makanan yang barusan kami makan, aku merasa sudah sepatutnya aku mentraktir mas Roland karena selama ini dia sudah terlalu baik kepadaku.
"sebentar mbak, saya akan menghitungnya dulu." pramusaji itu segera menghitung, kemudian menyerahkan nota yang harus dibayar kepadaku
"apa tidak salah hitung mas?" Aku terbelalak melihat deretan angka yang tertera di sana. Jumlahnya lumayan besar, aku tidak percaya dengan yang kulihat.
Pramusaji itu tersenyum seraya menggeleng, aku melihat lagi deretan angka yang tertera.
"kenapa dek? Kamu tidak apa-apakan?"
"ini mas, aku tidak percaya makanan yang kita makan semahal ini. Mas bisa lihat kita hanya makan udang sama daun selada, harganya hampir sejuta. Waduh mas, ini setara dengan uang belanjaku selama dua puluh hari mas." Aku mengoceh seraya memperlihatkan nota kepada mas Roland.
Mas Roland mengambil nota yang aku sodorkan, dia malah tersenyum melihatnya. Aku tidak mengerti, mas Roland begitu santai ketika melihat nota tersebut.
"maaf ya mas, saya akan membayar semua tagihannya."
"mas, kamu...
"tidak apa-apa dik,kita bayar saja." Mas Roland menyerahkan kartu ATMnya kepada pramusaji itu, dia hanya senyum seraya menggelengkan kepala.
"aduh mas, besok-besok kita tidak usah makan disini" Aku masih menggerutu, sedangkan mas Roland hanya tersenyum mendengarkan semua aku menggerutu.
__ADS_1
'restoran apa sih ini, makan sekali harganya bisa untuk membeli beras sekarung.' Aku menggerutu dalam hati, aku merasa malu. Tadinya aku berniat mentraktir mas Roland, tapi malah mas Roland yang mentraktirku.
'aduh, malunya.....