
"mas istirahat dulu ya, aku mau membawa makanan ini ke dapur" kataku kepada mas Ringgo seraya berlalu menuju dapur. Aku tidak mau berkata banyak saat ini, tidak mau merusak suasana hatiku.
Aku memilih dan memilah makanan untuk dihangatkan, karena tidak bisa dihangatkan bersamaan. Setelah selesai memilah, aku langsung memasukkan kedalam kuali dan menghangatkan semuanya.
Tidak berapa lama akhirnya,aku bisa menyelesaikan pekerjaanku. Aku segera membersihkan dapur yang tidak terlalu berantakan.
'akhirnya selesai juga, aku harus segera melaksanakan semua rencana yang telah aku susun. Aku tidak bisa menundanya lagi keburu mas Ringgo tidur' aku membatin dalam hati segera membersihkan diri.
Setelah selesai, aku segera ke kamar mandi membersihkan diri tidak lupa aku menggosok gigi. Aku sekarang merasa semuanya sudah beres, kini waktunya rencana yang aku susun tadi dilaksanakan.
Aku segera ke ruang tengah, terlihat mas Ringgo tengah duduk santai di sana. Aku melihat dia sedang sibuk memainkan ponselnya, tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Mas Ringgo terlihat sangat bahagia, terlihat dari wajahnya yang sumringah penuh semangat.
'pasti dia lagi sibuk dengan perempuan tak tahu malu itu.' aku berkata dalam hati, seketika hatiku sakit sekali melihatnya. Aku kembali merasa luka di hatiku kembali berdarah walaupun tak nyata, tapi rasa sakitnya begitu nyata.
'sekarang, kamu boleh tersenyum sepuasnya silahkan nikmati kebahagiaanmu. Aku akan pastikan bila saatnya tiba, kamu akan menangis menyesali diri, tapi penyesalan itu sudah terlambat. Kamu tidak bisa kembali karena semua pintu kembali aku tutup untukmu.' aku berujar lirih dalam hati seraya mengepalkan tangan.
Sekarang hatiku semakin mantap, aku sudah yakin dengan keputusanku tidak ada lagi keraguan. Aku akan pastikan aku akan mendapatkan uang mas Ringgo malam ini.
'aku akan menguras isi ATM mas Ringgo, akan aku ambil sebanyak yang aku bisa.' aku bergumam sendiri meyakinkan hatiku.
"mas kamu belum tidur? tanyaku pada mas Ringgo ketika melintas di dekatnya, tak ayal dia terkejut. Aku melihat dia salah tingkah ketika aku mendekatinya, bahkan senyum yang tadi terkembang di bibirnya mendadak hilang. Aku pura-pura tak tahu, masa bodoh dia melakukan apa.
Sekarang, aku tak lagi mempersalahkan perhatian yang kurang terhadapku. Aku merasa cukup mengetahui semuanya, tidak perlu aku mempertanyakan kepadanya. Semua itu sekarang sudah tak berguna, aku juga tidak akan mau kembali kepadanya walau dia berjanji akan berubah.
__ADS_1
Aku merasa apa yang dilakukan mas Ringgo sudah di luar batas. Mas Ringgo benar-benar telah kehilangan harga dirinya, tidak ada lagi hal yang membuat aku bangga hidup bersama dirinya. Dia sekarang tidak ubahnya sampah yang menebarkan bau busuk menjijikkan.
Aku mendudukkan pantat di sofa seraya menghidupkan televisi. Sudah lama rasanya, aku tidak memandang layar kaca itu karena terlalu sibuk mengurus rumah tanggaku dan mas Ringgo. Sekarang saatnya, aku menghibur hati yang terluka akibat pengkhianatan mas Ringgo.
"mas, kamu mau aku buatkan teh?" tanyaku kepada setelah lima belas menit berlalu, aku mulai melancarkan aksiku. Semoga saja, mas Ringgo menerima tawaranku.
"boleh dek, kalau bisa sama cemilannya sekalian" kata mas Ringgo menerima tawaranku, aku bersorak riang mendengarnya.
"baiklah mas, aku akan membuatkan untukmu. kamu tunggu sebentar" kataku seraya melangkah ke kamar tidur.
"lho kok buat teh ke kamar dek, seharusnya kan ke dapur? tanyanya keran melihatku bukannya ke dapur tapi malah ke kamar.
"begini mas, aku tadi membeli teh membawanya ke kamar dan lupa memindahkannya. Sebentar, aku mau mengambilnya." aku berkata pada mas Ringgo sekedar memberi alasan. Sebenarnya aku ke kamar bukannya mau mengambil teh, tapi mau obat tidur yang aku taruh di dalam lemari.
Terus terang sekarang, aku menjadi tidak ingin disentuh oleh tangan kotor mas Ringgo. Aku terlanjur merasa jijik kepadanya, rasa ilfil mulai menguasai hatiku Aku merasa mas ringgo tidak pantas lagi untukku, dia sekarang begitu hina.
" he he bersiaplah mas, malam ini kamu akan kehilangan uangmu. aku akan menguras uang yang ada di dalam ATM. Sudah saatnya, aku mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku.' aku berkata dalam hati seraya senyum sinis tercetak di bibirku.
Setiba di dalam kamar, aku segera mengunci pintu takutnya mas Ringgo masuk tiba-tiba. Aku harus bermain secantik dan seaman mungkin, semua harus terlihat begitu sempurna tanpa cela. Aku tak mau semua rencana yang aku susun berantakan sebelum berhasil dilakukan.
Setelah merasa aman, aku segera mendekati lemari kemudian membuka pintunya. Aku mengambil satu buah tablet obat tidur kemudian menyembunyikannya di balik bra yang aku pakai. Aku kemudian keluar kamar, setelah aku rasa tidak ada yang akan membuat mas Ringgo curiga.
Aku berdiri di depan pintu kamar, kulihat mas Ringgo telah kembali sibuk dengan ponselnya. Aku melihat mas Ringgo sangat serius dan bersemangat memainkan benda pipih itu. Mas Ringgo sampai tersenyum sendiri tanpa sadar aku sedang memperhatikannya. Dia juga tidak menyadari aku melintas di belakangnya ketika aku menuju dapur untuk membuat teh untuknya.
__ADS_1
Sabar, aku harus menghadapi lelaki busuk itu, biarkan dia senang dulu. Aku akan membiarkan dia tidak menyadari kalau aku sudah mengetahui perbuatan menjijikkan yang telah dilakukannya. Dia akan terkejut sendiri nanti bila saatnya tiba, penyesalan tidak akan berguna baginya kalau saat itu tiba.
'lihat saja mas, kamu akan hancur. Aku pastikan waktu itu akan segera datang. Andai, kau menangis darah dan bersujud meminta maaf untuk kembali kepadaku semua itu tidak akan bisa membantu' aku berujar lirih dengan tekad sempurna seraya mengepalkan tanganku. Aku sekarang sangat membencinya hingga rasa benciku membunuh habis semua rasa cintaku.
Aku segera membuat teh manis untuk mas Ringgo, tanpa menunggu lama segera kumasukkan obat tidur yang kubawa. Aku mengaduk membuat teh mas Ringgo agak sedikit lama, memastikan obat tidur itu larut dengan sempurna.
Aku membawa teh tersebut ke hadapan mas ringgo beserta cemilan yang dia pesan. Aku kemudian duduk berniat menemaninya, mendadak aku merasa muak kepadanya. Dia begitu asyik dengan selingkuhannya, tanpa sadar aku sekarang sekarang berada di dekatnya.
"mas ini tehnya, silahkan diminum" kataku menawarkan, seketika mas Ringgo terkejut mendengar suaraku. Dia segera memasukkan ponselnya kedalam saku.
"kenapa mas, kok sepertinya kamu sangat terkejut mendengarkan suaraku?" tanyaku seraya menatap serius kepadanya.
"tidak ada apa-apa dek. Kamu tiba-tiba bersuara mas terkejut dibuatnya" jawab mas Ringgo memberi alasan menutupi salah tingkahnya di hadapanku.
"ohhhh, aku kira kamu lagi menyembunyikan sesuatu dariku mas" jawabku meluncur begitu saja dari bibirku. Aku melihat perubahan ekspresi di wajah mas Ringgo,tapi aku sudah tidak memperdulikan hal itu.
"ayo mas, kamu minum tehnya nanti keburu dingin" aku berkata sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku sengaja duduk menemaninya, ingin memastikan mas Ringgo menghabiskan tehnya.
Tidak berapa lama, aku melihat mata mas Ringgo mulai saya ternyata obatnya mulai bekerja.
"mas ngantuk dek, tidur duluan ya" kata mas Ringgo seraya bangkit menuju kamar untuk tidur.
"iya mas, aku sebentar lagi menyusul" jawabku memperhatikan mas Ringgo berjalan, aku tersenyum puas.
__ADS_1
'tidur yang nyenyak mas, saatnya sudah tiba. Aku akan menguras uangmu' aku tersenyum puas, sekarang bersiap menjalankan aksiku.