
'seharusnya, aku melakukan ini sejak dahulu. Aku seharusnya lebih memperhatikan diriku sendiri, ketimbang memikirkan perasaan mas Ringgo.' aku bergumam dalam hati seraya terus memandangi perubahan penampilanku. Aku merasa ada sedikit penyesalan muncul dalam hatiku.
Seharusnya dulu, aku meluangkan waktu untuk merawat diriku sendiri. aku memang terlalu naif selalu saja memikirkan mas Ringgo hingga melupakan penampilanku sendiri. Tapi, mas Ringgo tidak menghargai semua pengorbananku untuk dirinya, dia malah mengkhianati cintaku.
Tapi sekarang semua sudah berlalu, aku tidak perlu lagi menyesali semua yang telah terjadi. Aku harus bangkit dan memperbaiki diriku sendiri. Aku akan membuat mas Ringgo menyesal telah menyakiti hatiku.
"mbak kelihatan seperti masih remaja, cantik sekali. Sebenarnya mbak itu memang dasarnya sudah cantik, hanya perlu sedikit perawatan cantiknya langsung keluar. Mulai sekarang, mbak harus meluangkan sedikit waktu untuk sekedar memperhatikan penampilan."
Aku tersenyum pada pekerja salon, perkataannya memang benar adanya. Aku memandang ke cermin, sekarang penampilanku sudah jauh berubah dari saat sebelum masuk salon kecantikan.
"mbak Rianti umurnya sekarang berapa,? Wajah mbak Rianti terlihat masih kencang dan mulut banget"
"umur saya masih dua puluh dua tahun mbak." Aku menjawab pertanyaan pekerja salon, dia terlihat mengerutkan dahinya.
"ternyata masih muda, memangnya mbak Rianti menikah umur berapa?"
"saya menikah umur sembilan belas tahun mbak, setahun setelah tamat sekolah menengah atas."
"pantesan, wajah mbak masih sangat masih bagus dikasih perawatan sedikit saja langsung terlihat cantik dan kinclong." perkerja salon itu memujiku, aku senang sekali mendengarnya.
"berapa biaya perawatan yang harus saya bayar mbak?"
"satu juta lima ratus ribu rupiah mbak?"
"kok mahal sekali, kasih diskon sedikitlah mbak."
"Sebenarnya biaya perawatannya dua juta, karena mbak pelanggan baru biayanya saya kurangi lima ratus ribu. Jadi, mbak Rianti cukup cukup membayar satu juta lima ratus saja." ucap wanita itu seraya tersenyum. Karena tidak pernah melakukan perawatan sebelumnya, aku merasa biaya perawatan itu memang mahal setara dengan uang belanja untuk sebulan yang di berikan mas Ringgo.
Tapi melihat hasil perawatan yang sangat memuaskan, aku merasa tarif yang diminta sesuai dengan kualitas yang diberikan.
'baiklah, tapi saya tidak membawa uang tunai sebanyak itu. Bisakah saya membayar dengan kartu ATM ini, mbak?" aku bertanya seraya menyodorkan kartu ATM, dia tersenyum ke arahku.
"mbak tidak usah merasa bingung begitu, ambil saja uangnya di Mesin ATM sebelah sana." pegawai salon tersebut menunjuk ke mesin ATM yang berada tidak jauh dari salon, ternyata tempatnya tidak jauh dari salon.
"oh iya mbak, saya tidak melihatnya kalau begitu saya ke sana dulu.
Pegawai salon itu mengangguk seraya tersenyum, Aku bergegas menuju mesin ATM untuk mengambil uang, untung saja disana sepi. Jadi, aku bisa mengambil uang tanpa harus antri terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah berhasil mendapatkan uang, aku kembali ke salon dan membayar tagihan perawatan. Aku kembali mematut diri di cermin, sebelum meninggalkan salon. Sekarang penampilanku jauh berbeda dari pada sebelumnya, aku sekarang lebih menarik.
'aku akan melupakan masa lalu dan siap menyambut masa yang akan datang. Selamat tinggal masa lalu, aku akan melangkah semoga kebahagian mengiringi setiap langkahku.' aku bergumam dalam hati seraya berdoa semoga bisa melupakan mas Ringgo secepatnya.
Aku melangkahkan kaki keluar dari salon, sekarang rasa percaya diriku meningkat drastis. Sekarang, mas Ringgo pasti akan menyesal telah memilih wanita itu.
Setelah melakukan perawatan, aku merasa jauh lebih lebih cantik dari si Ratu ular lagi pula umurku jauh lebih muda darinya.
Selanjutnya, aku memutuskan hendak pergi ke mall. Aku ingin membeli beberapa potong pakaian, untuk menunjang penampilanku. Mas Ringgo tidak pernah memberikan uang lebih padaku untuk membeli baju, dia hanya memberi uang belanja itupun tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah.
Aku berdiri di tepi jalan menunggu angkot yang bisa ditumpangi ke mall, tapi sudah setengah jam menunggu angkotnya belum juga ada yang lewat. akhirnya, aku memutuskan naik ojek online saja.
Ketika hendak menelpon, aku melihat mas Roland dari kejauhan. Mas Roland terlihat mendekat k ke arahku, aku senang ketika melihatnya menghampiriku.
Entah mengapa setiap melihat mas Roland, aku terasa ada kedekatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku ada suatu ikatan dengan mas Roland, tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa merasa begitu.
"mau kemana dik?" Mas Roland bertanya, dia menatap seraya tersenyum kepadaku. Aku melihat mata mas Roland terlihat berbinar ketika melihatku. Aku sedikit salah tingkah diperhatikan begitu oleh mas Roland.
"aku mau ke mall mas, tapi gak ada angkot yang lewat." jawabku, aku balas tersenyum kepadanya.
Entah mengapa, aku merasa ada ketenangan saat melihat mas Roland tersenyum. Mas Roland begitu baik, dia selalu ada saat aku membutuhkan bantuan.
"baru mau mas, tapi mas roland sudah keburu datang."
"kalau begitu, ayo dik mas antar." mas Roland berkata seraya memberikan helm kepadaku.
Aku segera mengambil dan memakai helm, kemudian bergegas naik ke motor mas Roland. Mas Roland segera menghidupkan dan melajukan motornya.
"dik rianti ke mall mau membeli apa?"
"mau beli baju mas, aku sudah lama sekali tidak membeli baju baru. Aku sudah tidak memiliki baju yang di pakai buat pergi-pergi."
"kalau begitu kita belanja bareng ya, mas juga mau membeli beberapa baju untuk di pakai di rumah."
"ya mas, kalau begitu kita belanja bareng aja." aku mengiyakan ajakannya, senang sekali bisa berbelanja bersamanya.
"Setelah sampai di mall, mas Roland segera memarkirkan motornya. Kemudian, kami segera masuk ke dalam mall. Aku berjalan santai seraya mengedarkan pandangan.
__ADS_1
Aku takjub melihat barang-barang bagus yang di jual orang disana. mataku seakan-akan dimanjakan, aku merasa ingin membeli semua.
Mas Roland menggamit tanganku, dia terlihat tersenyum kepadaku. Dia menarik dan membimbing tanganku ke bagian yang menjual pakaian. Setiba disana , aku malah bingung melihat baju-baju yang terpajang disana.
Aku melihat semua baju yang terpajang di sana semuanya bagus-bagus, aku menjadi bingung harus memilih yang mana.
"ayo pilih dek, katanya kamu membeli baju," mas Roland berkata, dia mengagetkanku yang masih bengong memandang semua pakaian yang terpajang di hadapanku.
"i-iya mas." aku menjawab dengan sedikit tergagap.
Aku mulai melihat dan memilih, mas Roland terlihat memperhatikanku. Setelah beberapa lama, akhirnya aku menemukan empat potong pakaian yang paling kusukai.
Aku kemudian mencoba pakaian-pakaian yang telah aku pilih di ruang khusus yang disediakan di sana. Setelah mencoba, aku makin menyukai semua baju itu.
Aku kemudian segera menuju meja kasir, berniat membeli ke empat pakaian yang baru saja ku pilih.
"mbak, berapa harga baju-baju ini." Aku bertanya seraya menyodorkan pakaian yang berada di tanganku.
"sebentar ya mbak, saya akan menghitung terlebih dahulu."
"totalnya lima juta lima ratus rupiah, mbak"
"hah," aku ternganga mendengar harga semua baju itu. Pantas saja bagus, ternyata harganya juga sangat mahal.
Akhirnya, aku memutuskan hanya membeli dua pakaian saja. Aku mengembalikan dua potong lagi ke tempatnya. Sebenarnya malu juga mengembalikannya, tapi aku harus mengembalikan karena harganya ternyata sangat mahal bagiku.
Aku tidak menyangka harga pakaian di sana begitu mahal harganya, satu potong setara dengan nafkah sebulan yang di berikan mas Ringgo. Aku hanya menggelengkan kepala, walau aku akui pakaian di sana memang bagus model dan kualitasnya.
"sudah selesai dek? mas Roland bertanya, ternyata dia juga sudah menemukan pakaian yang hendak dibelinya.
"ya mas, mari kita pulang hari juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam."
"dek, tolong pegang ini." mas Roland menyodorkan tas belanjaannya, mungkin dia kerepotan memegang tas belanja seraya mengemudikan motornya.
"ya mas,"
Tidak berapa lama, kami sampai di rumahku. Aku turun dan segera menyerahkan helm kepada mas Roland.
__ADS_1
"kalau begitu, mas pulang dulu ya dek." mas Roland pamit, dia segera menghidupkan mesin dan melajukan motornya.
"mas, tas belanjanya ketinggalan." aku berteriak, tapi mas Roland sudah jauh meninggalkanku.