
"bagaimana dik, kita pergi sekarang?" Mas Roland bertanya, dia terlihat tersenyum simpul seraya memandang ke arahku.
"kita istirahat sebentar lagi ya mas, aku merasa tidak kuat jalan. Aku merasa perutku kenyang sekali mas." Aku menjawab dengan pelan. Aku merasa perutku sesak kekenyangan.
"ha ha"
Mas Roland sontak tertawa, mungkin dia merasa lucu melihat keadaanku sekarang yang terduduk. Aku hanya tersenyum seraya memonyongkan mulut ke arahnya.
"salah sendiri sih, kamu begitu kalapnya ketika melihat makanan. Kamu sepertinya sudah sehat sekarang dik, lihat hampir semua makanan kamu lahap."
"iya mas, mungkin ini efek sakit kemaren. Aku tiba-tiba merasa sangat lapar sekali saat makanan ada di hadapanku. Tapi tidak bisa dipungkiri mas, masakan Padang memang masakan kesukaanku." Aku berkata dengan mimik serius, mas Roland terlihat memandang dengan penuh selidik ke arahku.
Sejurus kemudian terlihat perubahan air muka mas Roland, dia yang tadi tertawa sekarang berubah serius. Mas Roland hanya diam dan menatap sayu ke arahku. Aku mendadak bingung melihat perubahan perhatian mas Roland yang terus tertuju padaku, entah apa yang dipikirkannya sekarang aku tidak tahu.
"ada apa mas, kok kamu menatapku dengan begitu serius? Aku bertanya pada mas Roland, dia terlihat terkejut ketika mendengar pertanyaan yang barusan aku lontarkan.
"dari sekian banyak masakan Padang, kamu paling suka masakan apa dik?" Aku mengernyitkan kening ketika mendengar pertanyaan mas Roland, aku merasa aneh dengan pertanyaan mas Roland.
"dari sekian banyak, aku paling suka rendang mas. Ibuku dulu sering membuat rendang sewaktu beliau masih hidup, tapi setelah menikah aku hampir tidak pernah makan rendang mas."
"kok bisa dek, bukankah suamimu bekerja bukan pengangguran?"
"bagaimana lagi mas. Aku harus menerima keadaan suamiku walaupun dia bekerja tapi gajinya sangat kecil. Aku harus pintar mengatur keuangan, kalau tidak gajinya akan habis sebelum gajian berikutnya."
"memangnya, Ringgo memberi uang belanja padamu sebulan berapa?" Mas Roland semakin serius bertanya kepadaku, aku semakin heran dengan sikapnya itu.
"mas Ringgo memberiku uang belanja satu juta Limas ratus ribu setiap bulannya, dengan uang sebanyak itu aku harus bisa membaginya untuk semua kebutuhan selama satu bulan. Kamu bisa bayangkan betapa kesulitannya aku mengaturnya, kadang aku mengurangi jatah makan untukku supaya uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami."
__ADS_1
Mas Roland geleng-geleng kepala mendengar ceritaku, aku hanya sanggup tersenyum di akhir cerita kisah hidupku. Aku menghela nafas berat untuk sesaat, kemudian menghempaskan dengan sedikit kuat.
Aku kembali teringat dengan kisah hidupku yang aku jalani bersama mas Ringgo. betapa bodohnya aku, aku yang selalu setia dan ikhlas menerima kenyataan hidup susah bersamanya. Aku tidak menyangka sama sekali mas Ringgo tega mengkhianati dan menghancurkan surga rumah tangga yang dengan susah aku bangun, dia tega selingkuh di belakangku. Sekarang, aku hanya bisa menyaksikan surgaku direnggut dariku.
"sudahlah dik, kamu jangan pikirkan itu lagi. Ringgo itu tidak pantas untukmu, dia pasti akan menyesal telah mengkhianati dirimu."
"iya mas. Aku mengerti, sebaiknya kita tidak membicarakan ini lagi. semakin mengingat dan membahasnya, aku semakin sakit hati dan terluka."
"oh ya dik, kamu asli orang sini maksud mas asli berasal dari tempat tinggal kamu yang sekarang?"
"aku asli orang sana mas, memangnya kenapa?"
"oh tidak, mas cuma heran. Sejak kecil mas sering melintas di tapi baru akhir-akhir ini melihatmu?"
"oh begitu. Dulu, aku tidak tinggal di sini mas. Sewaktu masih berumur enam tahun, orangtuaku mengajakku tinggal di Kalimantan. Beberapa tahun di sana, ayahku meninggal karena kecelakaan mobil beliau tabrakan dengan truk. Beliau meninggal di tempat, kalau tidak salah waktu itu aku berumur tiga belas tahun. Sejak ayah meninggal, ibuku sering sakit hingga akhirnya kami kembali kesini pada waktu itu umurku tujuh belas tahun. Mungkin itu sebabnya, kamu baru melihatku akhir-akhir ini karena sebelumnya aku jarang ke luar rumah." aku menceritakan kisah perjalanan hidupku pada mas Roland.
Entah kenapa, aku mendadak memiliki keberanian dan keinginan untuk menceritakan semuanya padanya. Padahal, aku selama aku tidak pernah menceritakannya kepada siapapun. Setelah bercerita panjang lebar, akhirnya aku merasa lega dan puas karena tidak harus menyimpan semua duka lara kehidupanku. Aku merasa beban berat yang selama ini menghimpit dadaku mendadak hilang entah kemana.
Aku mendengar mas Roland bergumam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian dia terdiam untuk beberapa saat. Aku merasa aneh ketika melihat sikap mas Roland begitu. Aku mau bertanya lagi, tapi enggan rasanya. Akhirnya aku dan mas Roland sama-sama terdiam, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
"oh ya dik, apa kamu sudah siap? Kita pergi dari sini yuk, mas ingin mengajak kamu ke suatu tempat mumpung hari belum terlalu malam."
"mas mau mengajak aku kemana?"
"ikut saja, kamu akan tahu juga nanti."
"ayo mas, aku rasa perutku sudah bisa diajak kompromi sekarang." Aku berkata seraya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"kalau begitu, mas akan bayar tagihannya terlebih dahulu nanti mereka kira kita tak mau bayar." Mas Roland berkata seraya memanggil karyawan rumah makan Padang tersebut.
Ternyata yang datang karyawan yang melayani kami tadi, aku tidak melihat pelayan yang beberapa waktu lalu melayaniku.
"oh ya mas, pelayan yang biasa melayaniku ketika aku makan di sini kemana ya?" Aku bertanya pada pelayan tersebut setelah dia sampai di meja kami.
"pelayan yang mana ya mbak?" pelayan tersebut balik bertanya seraya memandang ke arahku.
"itu lho mas, pelayan laki-laki yang berambut pendek dan berwajah sedikit tampan. Dia itu orangnya sedikit usil mas!"
"kalau boleh tahu namanya siapa ya mbak?"
Untuk sesaat, aku terdiam bingung harus menjawab apa. Aku tidak tahu siapa namanya karena memang tidak pernah menanyakan kepadanya.
"mbak kok malah diam?"
"itu di mas, aku juga tidak tahu siapa namanya mas. aku hanya tahu ciri-cirinya, dia itu laki-laki, sedikit tampan dan rambutnya pendek itu saja mas."
"kalau begitu saya sulit menjawab pertanyaan mbak, karena ciri-ciri yang mbak sebutkan tadi kami semua yang bekerja di sini punya mbak." jawab pelayan tadi seraya tersenyum.
"maksud mas?"
"mbak coba perhatikan, saya ini laki-laki, berambut pendek terus sedikit ganteng, benarkan? Kalau begitu, apakah saya yang mbak cari?" pelayan rumah makan Padang tersebut berseloroh sambil tertawa. Sebenarnya, aku merasa kesal dan keki tapi aku hanya ikut tersenyum karena yang dikatakan pelayan tersebut benar juga.
"berapa harga yang harus saya bayar mas?" Mas Roland berkata seraya tersenyum, mungkin dia juga merasa lucu dengan yang baru saja aku tanyakan.
"semuanya dua ratus lima puluh ribu mas?"
__ADS_1
"baiklah, ini uangnya mas." Mas Roland berkata seraya menyerahkan uang kepada pelayan tadi.
"ayo dek, kita pergi sekarang." Mas Roland berkata seraya berdiri kemudian kami pergi meninggalkan rumah makan Padang tersebut.