
"dik Rianti, kamu sudah bangun." aku mendengar suara lembut seorang pria, dia berdiri seraya menatap dengan tatapan penuh perhatian ke arahku. Ternyata pria itu mas Roland, tukang ojek yang tadi mengantarku.
"dimanakah aku?" aku bertanya melihat sekeliling, tempat itu begitu asing bagiku.
"kamu berada di rumah sakit dik." kata mas Roland seraya tersenyum ke arahku.
"rumah sakit, apa yang terjadi denganku mas? Aku bertanya seraya bangkit, kepalaku terasa sakit sekali.
"kamu tidak apa-apa dek, cuma pingsan karena terlalu emosi tadi," mas Roland menjawab, dia menjelaskan penyebab aku sampai masuk rumah sakit.
Aku terdiam mencoba mengingat kejadian sebelumnya, hatiku kembali terasa sakit ketika mengingatnya. Mas Ringo benar-benar telah menghancurkan perasaanku, mereka telah berhasil merenggut surgaku.
"dimana manusia-manusia terkutuk itu, beraninya mereka menghancurkan hidupku. Aku akan menghabisi mereka berdua."Aku kembali histeris, meneriakkan segala emosi yang meronta untuk di lampiaskan.
"tenang dik, kamu harus tenang mereka tidak ada di sini. Ratu di bawa ke rumah sakit karena pingsan habis kamu pukuli sedangkan Ringgo suami masih di rumah makan ketika kami membawamu ke rumah sakit tadi." mas Roland berkata berusaha menenangkan.
Aku terdiam mendengarkan penjelasan mas Roland, aku senang mendengar si Ratu kadal sialan itu masuk rumah sakit karena dia pantas mendapatkan semua itu. Aku berjanji akan menghancurkannya seperti dia menghancurkan rumah tangga dan hidupku
"ternyata kamu menyeramkan juga ya." mas Roland berkata seraya tersenyum, mungkin dia berusaha mengurangi ketegangan yang terjadi. Aku tidak menanggapi perkataannya karena hati dan pikiranku masih benar-benar kacau.
Aku memandang langit-langit kamar rumah sakit tempatku sekarang dirawat, pikiranku menerawang jauh entah kemana. Aku tidak percaya sama sekali, surga yang selama ini berusaha aku bangun dan selalu aku jaga hancur berkeping-keping.
Air mataku berlinang mengingat surgaku direnggut paksa dariku. Mas Ringgo dan wanita selingkuhannya berhasil memporak-porandakan kebahagiaanku, sekarang yang tertinggal hanyalah luka dan duka yang menaungi hatiku.
'tidak ada harapan lagi semuanya sudah hancur, aku menyerah tak sanggup lagi bertahan." Aku dalam hati tak terasa air mata mengalir di sudut mataku.
Walau sekuat apapun, aku tetaplah wanita yang terluka jika menyaksikan rumah tanggaku hancur berantakan. Aku tidak bisa menerima kenyataan orang yang paling aku sayangi, tega menghancurkan hidupku.
__ADS_1
Sekarang, aku akan melepaskan mas Ringgo kalau itu yang dia inginkan. Aku merasa tidak ada gunanya aku mempertahankannya karena dia tidak mencintaiku sepenuhnya. Lebih baik, aku meninggalkannya dari pada hidup tersiksa.
"mau kemana dik." mas Roland berkata melihat aku bangun dari tempat tidur, dia kelihatan khawatir.
"aku mau pulang, masih ada yang harus aku lakukan." Aku berkata seraya memperbaiki pakaianku yang terlihat berantakan.
" sebaiknya, kamu istirahat dulu dik." mas Roland memberi nasehat, tapi aku tidak bisa mendengarkannya saat ini. Aku mau pulang ingin meminta pertanggung jawaban mas Ringgo.
Aku mau menanyakan apa sebenarnya kemauannya, aku akan melepaskannya kalau itu yang dia inginkan. Aku akan membebaskan dia dari ikatan pernikahan ini agar dia bebas hidup bersama wanita kurang aja itu.
"tidak mas, aku harus segera pulang menyelesaikan semuanya. Aku merasa sudah saatnya mengakhiri segala kepahitan ini." Aku berkata seraya berlalu keluar menuju meja resepsionis untuk menyelesaikan administrasi.
Setelah menyelesaikan semua administrasi rumah sakit, aku kemudian kembali menemui mas Roland yang masih setia menungguiku.
"mas tolong antar aku pulang." Aku berkata kepada mas Roland, suaraku terdengar pelan menyedihkan.
"ayo naik dik." mas Roland berkata seraya menyerahkan helm kepadaku. Aku mengambil helm dan segera memakainya tanpa mau bicara sedikitpun, hatiku terasa mati rasa.
Selama diperjalanan aku hanya diam saja, aku tidak ingin membicarakan apapun saat ini. Mas Roland mengendarai motornya dengan pelan, aku menyandarkan kepala di punggungnya untuk sekedar mengurangi beban berat di hatiku.
"dik kita sudah sampai, silahkan turun." mas Roland berkata, dia mengingatkanku terasa ternyata kami telah sampai di depan rumahku.
Aku segera menegakkan tubuhku kemudian bergegas turun dari motor mas ringgo. aku merasa tidak bersemangat, seluruh tenaga hilang entah Kana.
"dik Rianti kamu tidak apa-apa?" mas Roland berkata seraya menatap ke arahku, aku mengangguk pelan. Aku tidak mau mas Roland ikut terbebani, dia seharusnya tidak ikut terlibat dengan masalahku.
"aku tidak apa-apa mas, kamu tidak usah khawatir." Aku berkata seraya berlalu, hendak masuk rumah.
__ADS_1
"dek barang belanjaan kamu ketinggalan." mas Roland berkata, aku ingat aku belum mbawa barang belanjaan yang aku beli tadi.
"oh iya. Mas bisa tolong membawakannya ke dalam, aku tidak kuat membawanya." Aku berkata seraya meminta bantuan mas roland untuk membawakan barang-barang itu ke dalam rumah.
"baiklah dik" mas Roland berkata, dia dengan sigap membantuku mengangkat dan membawakan semua barang belanja untuk keperluan laundry yang baru saja aku beli.
Aku berjalan gontai masuk ke dalam rumah, kakiku teras sangat letih untuk melangkah. Aku merasa tubuhku lemas tidak bertulang, semua terasa berat bagiku.
"dik semua barang belanja kamu sudah mas bawa masuk semua, kalau begitu mas pulang dulu ya." mas roland berkata seraya berlalu meninggalkanku.
"tunggu sebentar mas." aku berkata seraya menyodorkan uang untuk membayar sewa ojek kepada mas Roland, tapi dia menolaknya.
"dik kali ini tidak usah membayar, mas ikhlas membantu." mas Roland berkata, menolak uang sewa ojek yang aku berikan kepadanya.
"mas terima saja uang ini, harap tidak mengasihani aku." Aku berkata memaksa mas Roland untuk menerima uang yang aku berikan. Dia menatap tajam ke arahku, entah maksud
tatapan matanya aku tidak terlalu memperhatikan.
"baiklah dik, kalau begitu terima kasih banyak ya." mas Ringgo berkata seraya berlalu meninggalkanku. Sebelum meninggalkanku, aku melihat dia menatap sedikit lama ke arahku kemudian dia melajukan motornya.
Aku segera masuk kedalam rumah, aku bergegas merapikan barang belanjaan yang di bawa masuk oleh mas Roland tadi. tidak berapa lama, aku sudah selesai membereskannya.
"dek kamu sudah pulang? aku mendengar suara mas Ringgo, ternyata dia sudah pulang.
"aku sudah pulang dari tadi mas. Kamu tidak perlu sok perhatian kepadaku, aku tidak butuh semua itu. Sebaiknya kamu menjauhi aku mulai sekarang? Aku berkata kepada mas ringgo, merasa emosiku mulai kembali membara.
"maksudmu apa dek? mas Ringgo kembali bertanya, aku merasa muak mendengarkan suaranya.
__ADS_1
"maksudku sudah sangat jelas mas, aku ingin kamu pergi dari kehidupanku. Aku tidak membutuhkan kamu lagi." aku berkata penuh kebencian, kesabaranmu sudah habis. Aku merasa tidak perlu lagi menghormatinya.