
Pov Ringgo
Aku mengerjapkan mata, tiba-tiba sudah berada di ruangan yang terasa asing bagiku, ruangan serba putih dengan aroma obat yang kuat berpendar dan menusuk hidung. Aku mencoba mengedarkan pandangan ke sekelililng, terlihat beberapa tempat tidur dengan orang yang terbaring di sana sama halnya denganku.
Aku juga melihat beberapa orang berseragam berlalu lalang di sana. setelah beberapa saat, aku kembali mengumpulkan kesadaran dalam ingatanku.
"aku berada dimana" ucapku lirih.
"pak Ringgo, anda sudah sadar?" salah seorang yang berseragam putih bertanya seraya bergegas mendekatiku dengan senyum sedikit terkembang di bibirnya.
"saya berada dimana, kenapa bisa berada di sini?"
"bapak berada di rumah sakit, tadi di bawa kesini dalam keadaan pingsan" perempuan berseragam itu menjelaskan.
Aku melihat kembali ke sekeliling, ternyata aku sedang berada di rumah sakit. Aku memcoba mengingat kembali, kejadian yang terjadi bebebrapa jam lalu sebelum aku di sini.
"siapa yang membawa saya ke sini dokter"
"teman bapak yang membawa kemari, namanya Rianti, beliau juga yang tadi menyelesaikan proses pengisian data." perawat itu memberi penjelasan dengan nada tenang ciri khasnya seorang perawat.
Aku menghela nafas, ada rasa bahagia sekaligus getir yang kurasakan saat mendengar nama yang baru saja di sebutkan oleh perawat tadi.
Aku merasa senang karena ternyata Rianti masih baik dan peduli kepadaku, walaupun aku sudah melakukan kesalahan fatal kepadanya. Dia memang perempuan berhati mulia, yang selama ini telah kusakiti hatinya. Kenaapa, aku baru menyadarinya sekarang. Aku merasa bagai laki-laki paling bodoh di dunia ini.
Aku telah menukar kilauan berlian yang sangat berharga dengan sepotong tembaga yang penuh karat. Aku benar-benar bodoh, kenapa mataku tidak bisa melihat dengan jelas semua itu dulu. Harusnya semua ini tidak terjadi, aku benar- benar menyesal sekarang.
Sekarang, aku hanya bisa menelan kegetiran yang kini menghimpit dan menyesakkan hati. Aku tahu penyesalanku sudah terlambat, tiada lagi yang bisa kulakukan sekarang. Aku akan menghadapi dan meyesali semua kebodohanku ini seumur hidup.
__ADS_1
"Sekarang, saya akan mengecek kondisi bapak dulu." suara perawat itu membawa kembali ingatanku yang tadi tengah meratapi kebodohan yang selama ini kulakukan.
"oh ya! Setelah ini, bapak silahkan hubungi keluarga bapak untuk menjaga bapak di sini . Bapak kemungkinan besok baru bisa pulang, karena kondisi bapak hanya perlu perawatan ringan saja."
"bapak sudah mulai stabil kembali, sekarang boleh istirahat sekarang. Saya permisi dulu!
Perawat itu kemudian pergi berlalu setelah memeriksa kondisiku, aku terdiam membisu menatap kepergiannya. Aku menatap ke sekeliling, hatiku merasa pilu. Aku merasa kesepian, tiada yang peduli padaku.
Aku segera menghubungi Ratu, tapi tidak ada jawaban darinya. Aku terus berusaha, hingga akhirnya aku menyerah.
Aku benar-benar sendirian sekarang, tak terasa air mataku berlinang. Dadaku terasa sesak ketika melihat sekeliling. Di pojok sana tidak jauh dariku, aku melihat seorang bapak yang terbaring lemas di tempat tidurnya. Dia tersenyum saat anak dan istrinya mengajaknya bercanda.
Aku di sini hanya bisa memandangi kehangatan keluarga itu, yang jelas tidak akan mungkin akan kudapatkan. Aku makin sedih dan pilu melihatnya, tak tahan dengan semua itu aku kemudian memutar posisi tidur menghadap dinding.
Aku menangis, air mata yang tadi hanya berlinang di kelopak mata kini mulai mengalir. Aku tak bisa menahannya lagi, biarlah sesak di dadaku ini hilang seiring airmataku yang tumpah membasahi bantal.
Setelah sekian lama menangis dan meratapi semua yang terjadi, akupun tertidur dengan air mata yang telah membasahi bantal.
Entah berapa lama tertidur, aku terjaga. Akumembuka mata. Aku mencoba mencari keberadaan seseorang yang sangat kuharapkan saat ini, siapa lagi kalau bukan istriku Ratu. Tapi, dia tak ada.
Aku menghela nafas berat, kemudian aku meng
ambil dan mencoba untuk menghubunginya, tetap tak tersambung. Aku mulai putus harapan akan kehadirannya, perutku pun terasa lapar.
Aku menoleh ke meja yang di sediakan di dekatku, ternyata di sana sudah ada makanan. Aku mencoba meraihnya walau dengan tenaga yang masih teramat lemah. Aku mengangkat piring, tanganku sedikit gemetaran.
Aku segera menyantap hidangan yang ada, rasanya sangatlah hambar. Namun, aku terus melahapnya. Aku makan tidak bernafsu, makanan yang kutelan terasa begitu pahit
__ADS_1
Setelah menghabiskan makanan itu aku segera minim obat, aku tak mau berada lama di sini. Aku ingin segera pulang, bau obat di sini membuat perutku mual.
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, namun Ratu belum terlihat keberadaannya. Aku seperti anak kecil yang menunggu di jemput oleh ibunya, namun yang di tunggu- tunggu tidak datang juga.
'Ratu dimanakah engkau sekarang, apa kamu tidak tahu aku lagi terbaring sakit begini?'
Aku bergumam lirih, hatiku makin sedih. 'Ini kah karma yang harus kuterima?'
Aku kembali menangis terisak untuk kedua kalinya hari ini, teringat bagaimana masa tuaku nantinya. Aku membayangkan betapa buruknya masa tuaku nanti jika terus hidup bersama Ratu.
'ya Allah mengapa hidupku jadi seperti ini." Aku kembali terisak, rasanya dadaku seakan meledak menahan rasa gelisah yang swkaeang membuncah di hatiku.
Aku berusaha duduk dan terus menatap pintu, berharap siapa saja yang akan datang menjengukku. Semoga saja, Ratu akan segera datang menjengukku.
Lama menunggu, Ratu tak juga datang. Aku merasa iri dengan orang lain. Mereka di jenguk oleh keluarga dan saudara mereka yang datang silih berganti. Beda dengan diriku, semenjak sadar tadi tak seorangpun datang menjenguk untuk sekedar menanyakan keadaanku.
Haripun menjelang malam, aku tak lagi punya harapan. Aku kemudian mencoba memejamkan mata, menidurkan hati dan pikiran yang sejak tadi lelah menunggu.
Aku sekarang sudah mendapatkan balasan atas pebuatanku pada Rianti. Semoga ini tidak terus berlanjut , aku susah tidak kuat menanggungnya.
Ratu yang kusanjungi dan kupuja selama ini, entah kemana dia. Aku sudah menuruti sefala permintaan dan keinginannya. Namun, dia tidak bisa kubanggakan.
Lama pikiran menerawang, aku tertidur juga. Aku terbangun saat azan berkumandang. Aku melihat suasana dalam ruang rawatku sudah terlihat kesibukannya.
Anggota keluarga yang menunggui keluarga mereka yang sakit terlihat sudah bangun, mereka terlihat memakai sarung dan mukena hendak ke musholla.
Aku mencoba bangun dan bangkit dari tidurku, terasa tenagaku sudah kembali . Aku berjalan ke kamar mandi walau sedikit tertatih. Mungkin inilah saatnya bagiku, aku harus memohob ampun atas segala dosa yang telah ku lakukan selama ini.
__ADS_1