
"baiklah mas, aku akan ambilkan minum untukmu" kataku beranjak meninggalkannya. Sebelum beranjak, aku mendaratkan ciuman mesra di pipinya. Aku melihat ada ekspresi tak percaya di wajah mas Ringgo aku melakukan hal itu, karena selama ini aku jarang melakukan hal itu
Aku berjalan santai meninggalkan mas Ringgo menuju lemari. Aku berjalan gontai bak peragawati menuju lemari pakaian dengan tubuh masih tanpa pakaian. Mas Ringgo melihat memandang tubuh cantikku tanpa berkedip, terlihat di kaca lemari yang aku tuju.
"dek, jangan terus menggodaku, aku bisa pingsan kalau terus kamu goda begini" kata mas Ringgo lirih tapi sangat merdu di telingaku. Aku melihat pandangan mata mas Ringgo penuh syahwat birahi, tapi dia sekarang terkulai lemas tak berdaya.
Mas Ringgo kehabisan tenaga setelah bertarung denganku. Aku tersenyum menoleh ke arah mas Ringgo, tak lupa mengedipkan mataku dengan nakal.
'silahkan nikmati maduku sekarang mas, sebentar lagi kamu akan merasakan akibat dari racun yang telah kau taburkan terhadap cintaku yang suci dan tulus kepadamu' aku berkata dalam hati. Miris sekali nasib cintaku, aku dikhianati suami yang sangat aku percayai.
Setelah sampai di depan lemari, aku segera membuka pintunya. Dengan hati-hati aku mengambil obat tidur yang aku beli tadi. Supaya tidak ketahuan mas Ringgo, aku menyelipkan diantara pakaian dalam yang akan aku pakai.
Aku segera mengenakan pakaian dalam kemudian memakai baju tidur yang tadi sempat berserakan. sesaat kemudian, aku menatap mas Ringgo yang berbaring di ranjang masih tanpa busana. Aku melihat ada pancaran rasa lelah di wajahnya
"cepat ya dek, mas sudah tidak tahan lagi, mas sangat haus" kata mas Ringgo ketika aku hampir sampai di pintu.
"iya mas tunggu sebentar, aku akan segera kembali membawakan air minum untukmu. sekarang, kamu istirahatlah dulu" jawabku seraya membuka pintu bergegas mengambil air minum.
Aku bergegas menuju dapur dan mengambil gelas dari rak piring. Sejurus kemudian, aku mengisi gelas itu dengan air dari dispenser. Aku kemudian melepaskan genggaman tanganku yang sejak tadi mengepal erat. Aku melihat satu tablet obat tidur ditangan.
Aku terdiam sejenak memperhatikan tablet obat tidur yang sekarang berada di telapak tanganku. sebenarnya tidak percaya, aku akan melewati dan melakukan semua ini.
__ADS_1
Andai saja, mas Ringgo tidak merusak kepercayaan yang aku berikan kepadanya semua ini tidak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin mengetahui sejauh mana mas Ringgo telah berbuat di belakangku.
'maafkan mas, aku harus melakukan semua ini. Andai kamu tidak memulainya, aku tidak akan jadi setega ini mas.' lirihku di dalam hati. Aku merasa ada rasa sedih dan sakit hati yang sekarang bersarang di hatiku.
'sekarang sudah saatnya mas, semua rencana yang aku siapkan dilaksanakan' kataku bergegas membuka tablet obat tidur, dan memasukkan ke dalam air minum yang akan aku berikan pada mas Ringgo.
Aku segera mengaduk obat tidur tadi. sesaat kemudian, aku melihat obat tidur larut dalam air tanpa menimbulkan warna yang kentara. Mas Ringgo tidak akan menyadari minumannya telah aku campur dengan obat tidur.
Aku segera membawa minuman mas Ringgo ke kamar. Mas Ringgo tersenyum menerima minuman yang aku berikan. Tak berselang lama air minum itupun telah berpindah dari gelas ke perut mas Ringgo seluruhnya.
'yes, aku berhasil' teriakku dalam hati saking senangnya. Aku sangat senang karena sebentar lagi akan mengetahui kebenaran yang ditutupi oleh mas Ringgo.
"terima kasih dek" kata mas Ringgo seraya menyerahkan gelas kosong kepadaku. Mas Ringgo ternyata tak menyadari, minumannya telah aku campur dengan obat tidur.
"iya mas, kalau begitu kamu tidur dulu. aku tahu kamu sangat lelah setelah pertempuran kita tadi" kataku seraya menatap nakal kearah mas Ringgo.
Aku menyunggingkan senyum terindah yang aku punya kepada mas Ringgo.Aku melihat mas Ringgo balas tersenyum kepadaku. Aku tersenyum karena yakin aku akan mendapatkan apa yang aku cari yaitu suatu kebenaran.
"kamu mau kemana dek?tanya mas Ringgo di sela-sela kantung yang mulai menyerangnya.
"aku tidak kemana-mana mas, aku akan ikut tidur bersamamu. Aku juga merasa sangat mengantuk dan juga sangat lelah mas." kataku seraya membaringkan tubuh di samping mas Ringgo. Aku dapat merasakan tangan mas Ringgo memeluk tubuhku.
__ADS_1
Seketika terasa hangat menjalar , mas Ringgo memelukku dengan erat dan dalam keadaan masih dalam belum memakai pakaian. Dia tertidur dengan wajah melukiskan kebahagiaan dan kepuasan. Andai saja, mas Ringgo selalu bersikap seperti ini mungkin semua akan baik-baik saja.
Aku menunggu mas Ringgo benar-benar tertidur, aku menunggu seraya memejamkan mata layaknya orang mau tidur. Tidak terasa, aku mulai Serang kantuk.
Sebenarnya, aku juga merasa mengantuk. aku lelah setelah melakukan perlawanan terhadap mas Ringgo tadi. Tapi rasa kantuk tak boleh merusak segalanya, aku segera duduk untuk mengusir rasa kantuk yang mulai merayapi tubuh.
"mas, apakah kamu sudah tidur mas?" tanyaku seraya menggoyangkan tubuh mas Ringgo, tapi tidak ada jawaban. ternyata, obat tidur yang tadi diminum oleh mas Ringgo mulai bekerja.
Aku berusaha melepaskan pelukan mas Ringgo dari tubuhku. Aku bangkit beranjak dari tempat tidur meninggalkan mas Ringgo yang sekarang tertidur lelap. Aku segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka untuk mengusir rasa kantuk.
'aku merasa sangat lelah dan mengantuk, baiknya aku minum kopi' kataku di dalam hati.
Aku segera menuju dapur untuk membuat kopi, kemudian membawanya ke meja makan. Sambil menunggu kopi sedikit dingin, aku ke kamar mencari sesuatu. Sebelum menjalankan aksiku, aku kembali memastikan kalau mas Ringgo telah benar-benar tertidur.
"mas...mas sudah tidurlah? tanyaku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya tapi terdengar jawaban darinya. Aku goyangkan sekali lagi mas Ringgo tetap tidak meresponnya. Sekarang, aku yakin mas Ringgo benar-benar telah tertidur. Aku berdiri merasa saatnya telah tiba, rencana siap dijalankan.
Aku segera mencari keberadaan benda pipih milik mas Ringgo. Aku mencari dimana mas Ringgo menyimpan ponselnya. Aku menatap tempat biasanya mas Ringgo ternyata ponselnya tidak ada di situ. Aku memeriksa saku celana mas Ringgo tidak ada juga.
Aku mengedarkan pandangan keseluruhan tetap tidak dapat mengetahui keberadaan benda itu. Mas Ringgo ternyata mulai menyembunyikan ponselnya dariku.
Aku kembali menuju meja makan, memeriksa kopi yang tadi aku buat telah bisa diminum. Setelah di seruput sedikit, ternyata kopinya telah sedikit dingin. Aku kemudian duduk di kursi untuk menikmati kopi dan menyeruputnya pelan-pelan.
__ADS_1
Setelah meminum kopi, pelan-pelan rasa lelah dan kantuk yang aku rasakan mulai hilang.Aku terus memikirkan dan menebak dimana kira-kira mas Ringgo menyimpan ponselnya.
Tanpa sengaja mataku tertuju kebawah sofa tempat mas Ringgo duduk tadi. Aku melihat ponsel mas Ringgo terselip diantara tempat duduk dan tangan-tangan sofa.Aku bergegas menghampiri dan mengambilnya. Sebentar lagi, aku akan mengetahui kebenaran apa yang disembunyikan mas Ringgo dariku.