SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Draft 110: Aku bahagia ketika mama tersenyum


__ADS_3

Aku meninggalkan mas Ringgo yang terdiam mendengarkan kata-kataku, mungkin dia tidak menyangka sikapku begitu dingin Kepadanya. Aku tak peduli bagaimana tanggapannya mengenai sikapku, aku hanya ingin menjauhkan diriku dengan dirinya. Saat ini perasaanku lebih penting, Aku tidak mau punya masalah lagi.


Aku menyusul mama, ternyata beliau sudah berada di ruangan mas Roland. Beliau sedang berbincang-bincang dan bercanda dengan mas Roland, entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Aku segera berbaur dengan mas Roland dan mama, bahagia sekali rasanya ada di tengah-tengah orang yang sangat mencintaiku. Mama dan mas Roland adalah kebahagian bagiku sekarang, mereka membuat hidupku kembali berwarna.


"ma, kita makan siang di luar yuk!" Mas Roland mengajak untuk makan siang di luar.


"mas, kita pesan makanan secara online saja. kasihan mama, beliau nanti kecapean."


"bagaimana ma? Apa mama setuju dengan usulan Riantu tadi?"


"iya mama setuju, kita pesan makanan secara online saja."


Setelah sepakat, akhirnya mas Roland memesan makanan secara online. Aku khawatir dengan kondisi kesehatan mama, beliau tidak boleh terlalu lelah, takutnya kesehatan beliau menurun lagi.


Tidak berapa lama, makan yang kami pesan datang. Kami makan dengan menyatukan bungkusan makanan kemudian makan bersama, sungguh nikmatnya makan seperti ini.


Mama makan dengan lahap, aku pun juga. Beliau makan dengan porsi yang lebih banyak daripada biasanya. Aku mengintip dari sudut mataku, mas Roland terus memandang mama yang tengah asyik menikmati makan siang beliau.


Aku bisa melihat mata mas Roland berbinar ketika melihat mama makan, matanya terlihat berkaca-kaca. Aku paham yang dirasakan mas Roland, karena aku ikut merasakan apa yang di rasakannya.


Setelah sekian lama sakit, mama begitu kurus. Beliau sakit bukan badan tapi perasaannya. Aku berharap mama akan kembali sehat setelah kehadiranku.


"mas, kamu tidak lapar? Sejak tadi, aku lihat kamu belum makan sesuap pun."


"i-iya dik." mas Roland segera memasukkan makanan ke mulutnya. Aku tersenyum melihat tingkahnya, dia memasukkan nasi ke mulutnya dengan suapan yang besar.


Tidak berapa lama makanan sudah tandas, kami terperangah karena kekenyangan. kami beristirahat sebentar, setelah merasa cukup kami menunaikan sholat berjamaah.

__ADS_1


"mas, sebaiknya mama pulang saja.Aku takut mama kecapean, nanti beliau sakit lagi." Aku berbisik pada mas Roland, takut mama mendengar yang ku katakan.


"iya dik, sebaiknya kamu ajak mama pulang."


"baiklah mas." jawabku singkat seraya mengangguk, aku segera bangkit dan mengajak mama pulang.


Aku dan mama pulang dengan taksi online karena mas Roland masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Sepanjang perjalanan, aku dan mama terus berbincang, membicarakan apa saja.


Aku senang sekali melihat ekspresi mama, beliau jauh lebih baik sekarang. Awal mula aku bertemu dan melihat, beliau terlihat sangat pucat tak ada bias kegembiraan di wajahnya.


"ma, kita jalan-jalan dulu yuk. Kita belanja di mall itu, di sana barangnya bagus-bagus. Aku dan mas Roland sudah beberapa kali belanja disana." Mama menoleh ke arah mall yang baru saja ku tunjuk, seketika mama memperlihatkan senyumnya.


"Ayo nak, mama udah lama tidak cuci mata. Pak berhenti di mall itu ya!" Mama terlihat antuias menerima ajakan dariku, beliau langsung meminta sopir taksi yang kami tumpangi berrhenti di depan mall.


Setelah membayar ongkos taksinya, aku dan mama langsung masuk ke mall. Aku menggandeng tangan mama dan berjalan santai untuk mengimbangi langkah kaki mama.


"kita lihat-lihat saja dulu ma, nanti kita beli kalau ada yang mama suka." mama ngangguk kecil, kami terus melangkah seraya memindai setiap sudut mall itu.


"waah bagus sekali nak, mama sangat menyukainya. Ternyata, selera Rianti bagus juga ya." mama memujiku, tidak dipungkiri aku merasa senang mendengarkan mama memujiku.


Aku segera mengambil tas itu dan membawanya ke meja kasir Ternyata harganya lumayan mahal. Tapi tak mengapa, Aku merasa senang ketika melihat senyum dan binar kebahagiaan di wajah mama.


Setelah membayar, kami melanjutkan perjalanan kami. Aku dan mama terus memindai dan melihat setiap barang yang terpajang.


Tidak terasa, aku sudah begitu lama jalan-jalan dimall. Aku dan mama keasyikan belanja, hingga tidak sadar hari sudah sore.


"ma kita pulang yuk, sudah sore."


"iya nak. Tapi sebelum pulang kita makan dulu yuk, mama lapar."

__ADS_1


"ayo ma, Rianti juga lapar."


Kami segera mencari tempat makan, ternyata ada yang jualan bakso di sana. Aku segera masuk dan memesannya. Setelah pesananan datang, kami langsung menikmatinya.


Aku sekali lagi terkejut melihat perubahan selera makan mama, beliau sudah menghabiskan satu mangkok bakso porsi orang sehat. Aku senang melihatnya, sungguh diluar dugaanku.


"mama mau nambah." aku menawarkan ketika melihat mangkok bakso ma sudah kosong.


"tidak nak, mama sudah kenyang." mama menggeleng, beliau menolak tawaranku.


"Setelah ini, kita pulang ya ma. Rianti takut mas Roland sudah pulang, dia sampai rumah duluan. Kita bisa marah sama dia ma."


"iya nak." Aku segera menghabiskan baksoku, kemudian membayar tagihannya.


Aku dan mama segera meninggalkan tempat itu dan memesan taksi online. Tak berapa lama taksi yang di pesan datang, kami segera pulang dengan membawa beberapa tas belanjaan.


Setiba di halaman, aku sedikit kaget karena mobil mas Roland sudah terparkir di sana. Aku dan mama saling pandang, takengira mas Roland lebih dulu sampai.


Sejenak, aku menelan ludah seraya mencari alasan andai mas Roland bertanya nanti.


"Rianti, ayo masuk." mama menarik tanganku.


"iya ma." jawabku singkat seraya mengikuti mama dari belakang.


"Mama dan Rianti dari mana, kok jam segini baru pulang?" Mas Roland memandang kami berdua, Aku terperanjat kaget tidak menyangka akan bertemu mas Roland, dia menunggu kami di depan pintu.


"eh mas, kamu memgejutkan saja. Kami tadi singgah di mall tempat kita belanja beberapa hari yang lalu. Karena keasyikan, kami lupa waktu. Maaf ya mas!"


"iya kalau begitu, sekarang cepat masuk. Lain kali, kamu minta izin dan ngabarin mas kalau mau pergi, jangan bikin mas Khawatir." Mas Roland menyuruh kami masuk seraya memarahiku.

__ADS_1


Aku hanya diam saja, dalam hati berdoa semoga tidak akan lama. Ternyata, Aku salah dia terus saja memarahahi dengan omelannya, mama juga hanya diam saja tidak membelaku, beliau malah meninggalkanku.


Sejenak, aku duduk di sofa seraya mendengar ocehan mas Roland. Dia ternyata nyinyir juga, aku sesekali hanya tersenyum ketika mendengarkan.


__ADS_2