SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 7: Kejutan Kecil Untuk Suamiku


__ADS_3

"apa dek, uang untuk perawatan" tanya mas Ringgo sedikit terkejut.


"iya mas, aku minta uang untuk perawatan ke salon. selama jadi istrimu, aku belum pernah merasakan dan melakukan perawatan." kataku membujuk mas Ringgo.


"kan bisa perawatannya pakai cara alami saja dek? tanyanya seakan mas Ringgo segan mengeluarkan uang untuk perawatan yang aku minta.


"aku selama ini telah berusaha melakukan perawatan secara alami mas, tapi hasilnya tidak maksimal" kataku coba menjelaskan pada mas Ringgo. Kepalang tanggung, aku sekarang tak akan mundur. Aku harus mendapatkan uang untuk perawatan ke salon dari mas Ringgo.


Aku tak mau peduli dan tak mau tahu, uang itu harus aku dapatkan. selama ini, aku telah menjadi istri dan pribadi yang baik buat mas Ringgo. Tapi sayang, mas Ringgo tidak menghargai semua itu.


Aku terlalu mencintai dan mempercayai mas Ringgo, sehingga mataku buta tak bisa melihat perubahan sikap mas Ringgo selama ini. Firasat hati yang dulu pernah muncul , aku abaikan tanpa pernah berusaha mencari tahu lebih jauh. Aku sadari itu semua salahku, aku terlambat menyadari semua itu.


"sebenarnya apa yang terjadi dek, kenapa kamu tiba-tiba jadi begini? tanya mas Ringgo serius.


"tidak ada apa-apa mas, aku hanya lelah jadi bulan-bulan tetangga." kataku penuh kebohongan menutupi alasan sebenarnya. Kalau mas Ringgo pintar berbohong kepadaku selama ini, aku akan lebih lihai darinya.


"maksud kamu, bagaimana dek? mas kurang mengerti." kata mas Ringgo lagi, dengan tatapan penuh selidik.


"Iya mas, tetangga selalu ngomongin kita selama ini mas. Mereka mengatakan kalau mas Ringgo tidak sanggup mencukupi kebutuhan keluarga kita. Mereka selalu membandingkan kamu dengan mas Herman teman sekantor kamu yang tinggal di ujung komplek ini, mas" kataku pada mas Ringgo sengaja untuk memanasi mas Ringgo.


Sebenarnya tetanggaku mereka baik semua, mereka tidak ada yang jahat kepadaku. Para tetangga menghormati aku, karena aku selalu berusaha menghargai dan menolong mereka. Walaupun aku tak mempunyai uang, tapi aku akan menolong mereka dengan tenaga dan pikiran sekuat aku mampu. Tak jarang, mereka meminjami aku uang kalau aku kehabisan uang sebelum gajian berikutnya.


Aku sengaja mengatakan demikian, supaya mas Ringgo merasa sedikit tahu diri. Mas Ringgo harus sadar kalau selama ini dia telah mengabaikan aku istrinya.

__ADS_1


"Herman yang mana ya dek? tanyanya lagi kepadaku.


"itu lho mas, Herman suaminya mbak Dewi. Kata tetangga, mereka heran melihat penampilanku jauh di banding mbak Dewi. Aku lusuh tidak seperti penampilan mbak Dewi yang jauh lebih terawat dariku. Seingat mereka, mas Herman itu bawahan kamu ya mas? aku terus memberikan penjelasan dan pertanyaan beruntun kepada mas Ringgo.


"mungkin saja istrinya Herman itu punya usaha sampingan dek, tidak seperti kamu cuma mengharapkan gaji suami" kata mas Ringgo mencoba mengalihkan pembicaraan. Mas Ringgo memang pintar sekali bersilat lidah, dalam sekejap dia bisa memberikan jawaban dan tuduhan sekaligus.


Aku sebenarnya sakit hati mendengarkan perkataannya tadi, tapi aku harus tetap terlihat tenang. Aku tidak boleh terbawa perasaan yang membuat rencana yang akan aku laksanakan nanti terancam gagal.


"usaha sampingan apa mas, tiap pagi mbak Dewi itu selalu usahanya cuma ngerumpi sama ibu-ibu di pedagang sayur. tapi mereka gak salah juga ngomong begitu mas, aku lihat mbak Dewi itu penampilannya memang beda jauh denganku mas" kataku antusias pada mas Ringgo.


"mbak Dewi itu mas kalau belanja di pedagang sayur, pakai pakaiannya bagus tidak buluk seperti yang aku pakai. Dia juga memakai banyak perhiasan sedang aku tak mempunyai satupun perhiasan yang melekat di tubuhku." ucapku lirih sambil menatap ke arah mas Ringgo dengan ekspresi wajah sedih supaya makin meyakinkan.


"kamu jangan dengarkan kata-kata mereka dek, lagian buat apa kamu iri sama mbak Dewi istrinya Suherman itu. Mas yakin semua itu bukan Herman yang membelikan" kata mas Ringgo lagi menanggapi kata-kataku.


Aku sebenarnya memang merasa sedikit heran dengan penampilan mbak Dewi tetanggaku itu, aku lihat dia begitu terawat dan selalu memakai pakaian bagus. Padahal sepengetahuanku, suami Dewi adalah bawahan mas Ringgo di tempat mas Ringgo bekerja.


"benar juga kata-katamu mas, mas Herman mana sanggup membelikan istrinya semua itu sedangkan kamu yang notabene atasannya saja tak bisa membelikan itu semua" kata berseloroh sambil tertawa kecil, mengiyakan kata-mas Ringgo malas rasanya melanjutkan membahas semua itu.


Aku bisa melihat perubahan ekspresi di wajah mas Ringgo yang terlihat gusar. Aku tahu mas Ringgo pasti merasa tersinggung dan tidak bisa menyangkal apa yang aku katakan. Mas Ringgo tak akan bisa menyangkal kata-kataku karena kenyataannya dia memang tidak pernah memberi aku uang lebih untuk membeli semua itu.


"sudahlah mah, kita tidak usah membicarakannya lagi. aku mau membereskan


meja makan, sebaiknya kamu istirahat dulu di sofa menunggu aku menyelesaikannya." kataku kepada mas Ringgo menyudahi pembicaraan kami. Aku sudah tidak mau melanjutkan lagi karena tidak ingin merusak suasana nyaman yang telah berhasil aku ciptakan.

__ADS_1


"memangnya kamu mau apa dek? minta ditunggu segala kata mas Ringgo menatap ke arahku.


"Ihhh mas, aku kangen lho sama kamu." kataku sambil mengedipkan sebelah mata kearah mas Ringgo menggoda mas Ringgo.


"kan kita bertemu tiap hari dek."kata mas Ringgo tersenyum nakal.


"tapi mas, aku rindu sama adik kecilmu mas" kataku tak kalah nakal, memancing birahi mas Ringgo.


"dek, kamu mulai nakal sekarang ya. Awas nanti aku terkam habis-habisan kamu." kata mas Ringgo tersenyum gemas memandang ke arahku.


"aku mau dong mas diterkam kamu, apalagi dihajar pake adik kecil kamu.hmmmmm mau dong mas," kataku berseloroh meninggalkan meja makan membawa piring bekas kami makan tadi.


Aku segera mencuci piring, setelah selesai aku bergegas membersihkan meja makan. Aku sudah tak sabar memberikan kejutan kecil untuk mas Ringgo, aku melakukan semua ini karena ini merupakan bagian dari rencana ku. Semua harus berjalan sempurna, aku tak ingin semua gagal.


Setelah semua selesai, aku segera menuju kamar untuk mempersiapkan diri untuk rencana berikutnya. Aku kemudian mengganti baju yang aku pakai dengan baju tidur, tidak lupa memakai lingerie yang aku beli tadi. Aku


keluar kamar menuju sofa tempat mas Ringgo beristirahat, aku kemudian duduk disampingnya.


"mas kita ke kamar yuk, kamu pasti capek ntar aku pijitin" aku berkata sambil tersenyum manja mengajak mas Ringgo.


"yuk" jawab mas Ringgo cepat, kemudian beranjak mengikuti masuk kedalam kamar.


Baru saja sampai kamar, mas Ringgo langsung memelukku. Aku tersenyum membalas pelukannya. Seketika birahiku memuncak, aku kemudian mendorong tubuh mas Ringgo jatuh di pembaringan. Aku segera membuka baju tidur hingga menyisakan lingerie.

__ADS_1


Aku melihat mulut mas ringgo sedikit ternganga, dengan pandangan mata tak berkedip ke arahku.


'mas nikmatilah kejutan kecil untukmu mas' aku membatin di dalam hati dengan senyuman nakal tersungging manis.


__ADS_2