SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 117: Ampuni Aku, ya allah...


__ADS_3

Pov Ringgo2


"nah ini dia, aku harus menjual cincin berlian ini secepatnya. Aku harus berhasil menjualnya sebelum Ratu mengetahui jika cincin berliannya telah hilang" Aku segera mengambil cincin berlian itu beserta tempatnya.


Aku bergegas meninggalkan rumah kontrakan, tujuanku cuma satu yaitu mencari tempat menjual cincin berlian itu. Aku sebelumnya tidak pernah berniat melakukan semua ini, tapi melihat sikap Ratu padaku, membuatku tega melakukan hal ini kepadanya


Aku dianggap tidak ubahnya bagai seonggok sampah tidak berguna dimatanya, dia seakan menunjukkan bahwa bisa membuangku kapan saja bila dia mau. Dia juga tidak mau peduli sama sekali padaku, setelah semua yang kulakukan untuknya.


Aku tidak peduli lagi dengan tanggapan dan reaksi Ratu nanti, yang kupikirkan saat ini bagaimana caranya bisa lepas dari masalah yang sedang menjeratku saat ini.


Aku merasa dipecundangi oleh Ratu, selama ini aku sudah memberikan apa yang dia inginkan tapi dia selalu mementingkan dirinya sendiri, apakah masih kurang pengorbananku baginya?


Aku berjalan mendekati mobil yang ku parkir di halaman rumah kontrakan, ku pandang mobil itu sejenak sebelum menaikinya. Tak terasa airmataku menetes, aku teringat kenangan ketika membeli mobil ini.


Aku membeli mobil ini ketika masih bersama Rianti, istri sempurna yang telah aku khianati. Aku menyia-nyiakan Rianti karena tergoda oleh mulut manis dan rayuan Ratu kala itu.


Tapi sekarang, aku sangat menyesal karena kehilangan istri sempurna seperti Rianti. Aku kehilangan istri terbaikku, sekarang hidupku penuh kesialan setelah hidup betsama Ratu.


Aku menghapus air mata yang mengalir di pipiku, tak ingin rasanya ada orang yang melihatku seperti saat ini. Tiada guna menyesali semuanya, nasi sudah menjadi bubur. Aku sekarang diambang kehancuran, mungkin ini balasan atas perbuatanku terhadap Rianti dahulu.


'ya allah, mohon ampuni segala kesalahanku.' Aku bergumam lirih diantara isak tangisku yang berusaha ku tahan, seraya mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan.


Setelah menenangkan hati dan pikiran sejenak, aku kemudian mencari kontak nomor orang yang menjual cincin berlian itu kepada Ratu. Dulu, aku pernah meminta dan menyimpan nomor orang tersebut di ponselku.

__ADS_1


Waktu itu, aku dan Ratu menemui orang tersebut ketika hendak membeli cincin itu. Aku memang bodoh sekali, mau saja mengikuti keinginan Ratu. Aku tidak menolak sama sekali malah menawarkan diri untuk memgantarkannya.


Aku mencari dengan seksama, ternyata benar nama orang tersebut masih tersimpan di ponselku. Aku segera menghubungi dan membuat janji bertemu dengannya.


Aku dan pembeli itu sepakat bertemu di cafe yang berada tidak berapa jauh dari kontrakan kami, kebetulan dia sedang berada di sekitar daerah itu. Aku segera meluncur ke kafe yang dimaksud, ternyata pembeli itu sudah duduk menantiku di sana.


"selamat siang bu Ratih, apa sudah lama sampai di sini." aku menyapa wanita separuh baya yang masih kelihatan cantik dan berpenampilan menarik untuk wanita seumuran beliau.


"selamat siang juga pak, anda siapa ya?"


"saya Ringgo bu Ratih. Saya suaminya Ratu, yang dulu pernah membeli cincin berlian kepada ibu beberapa bulan yang lalu." Aku memperkenalkan diri kepada beliau, mencoba membangkitkan ingatan beliau kepadaku.


"Ratu yang mana ya pak , saya lupa. Maklum pelanggan saya banyak dan saya sudah beumur pula, jadi wajar kalau saya lupa.


"Ratu yang membeli Cincin berlian seharga satu milyar beberapa bulan yang lalu buk, waktu itu saya ikut menemaninya waktu membeli sama bu Ratih." Aku mencoba mengingatkan, tapi sepertinya beliau lupa.


"ada bu Ratih, ini surat beserta barangnya." Aku menyodorkan cincin berlian beserta suratnya yang kubawa tadi.


"oh ini memang berlian yang saya jual, jadi sekarang bapak akan menjualnya?"


"iya buk, saya sangat butuh uang untuk bayar hutang."


"baiklah kalau begitu pak, tapi saya tidak akan membelinya seharga saya menjualnya dulu pak. Saya hanya bisa membelinya seharga delapan ratus juta, bagaimana pak Ringgo? Apakah anda bersedia saya membelinya dengan harga segitu?" Aku terkejut mendengar penawaran dari bu Ratih, karena dia menawar dengan harga yang rendah menurutku.

__ADS_1


Harga cincin berlian yang dulu kubeli seharga satu milyar sekarang, sedangkan beliau hanya menawarnya delapan ratis juta.


"apa tidak bisa sembilan Ratus juta saja bu Ratih karena dulu saya membelinya seharga satu milyar pada ibu." Aku mencoba mengutarakan keberatanku.


"tidak bisa pak Ringgo karena itu sudah aturannya. Kemanapun akan menjualnya, bapak pasti akan mendapati harga yang sama, mungkin saja harganya akan lebih rendah dari yang saya tawarkan. Saya berani menawar dengan harga segini, karena bapak dulu membelinya dari saya." Bu Ratih meyakinkanku bahwa penawaran yamg diberikannya memang sudah harga yang pantas, tapi aku masih merasa kurang bisa menerima harga yang beliau yawarkan.


"maaf buk, apakah harganya masih bisa dinaikkan lagi. Saya benar-benar butuh uang untuk membayar hutang, kalau saya tidak melunasinya saya terancam akan di penjarakan." Aku berusaha membujuk bu Ratih, agar mau menaikan sedikit penawaran beliau.


"baiklah pak Ringgo, ini adalah penawaran terakhir dari saya. Jika , pak Ringgo setuju maka kita akan deal dan transaksi kita berhasil. Tapi, jika pak Ringgo tidak setuju, saya tidak bisa menambahkannya lagi.


"saya akan membeli cincin berlian ini seharga delapan Ratus dua puluh lima juta rupiah. Saya membeli segitu karena saya memahami kesulitan bapak. Jika bukan karena hal tersebut saya tidak akan membeli dengan harga segitu. Bagaimana pak Ringgo? Apa bapak setuju dengan harga yang saya berikan?


Aku berpikir sejenak, akhirnya aku menyetujui harga yang beliau berikan. Sebenarnya ada rasa kecewa dalam hati, aku tadinya berharap bisa menjual cincin berlian itu dengan harga sembilan ratus juta lebih ternyata malah kurang banyak.


Aku terpaksa menerima harga yang di berikan bu Ratih karena tiada pilihan lain bagiku, setidaknya sekarang aku bisa mengembalikan sebahagiaan uang perusahaan yang aku gelapkan.


"baiklah bu Ratih, saya sepakat dengam harga yang ibu berikan."


"Baiklah pak Ringgo, kita deal. Saya akan segera transfernya ke rekening bapak."


Setelah transaksi jual beli selesai, aku segera pamit pada bu Ratih. Aku bergegas meninggalkan kafe itu, ingin segera kembali ke kantor. Aku tidak ingin memperbesar kesalahan, yang akan membuat diriku semakin tidak disukai oleh mamanya pak Roland.


Aku mencoba mencari jalan alternatif supaya sampai secepatnya di kantor. Tidak berapa lama, aku sampai di kantor. Aku buru-buru menuju ruanganku, semoga saja Rianti dan mamanya tidak ada di sana.

__ADS_1


Aku masuk ruangan dengan dada berdegup kencang, rasanya tidak ada jawaban yang akan aku berikan jika mereka bertanya aku dari mana.


'alhamdulillah, ternyata mereka belum ke sini.' aku bersyukur dalam hati, begitu masuk ruangan aku tidak menemukan keberadaan mereka di sana.


__ADS_2