SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 64: Aku Yang Dulu Sudah Tidak Ada Lagi


__ADS_3

"sudah subuh, aku harus segera bangun." Aku terjaga dari tidurku, terdengar sayup-sayup suara azan subuh dari mesjid dekat rumahku. Aku kemudian bangun hendak mengambil wudu' dan segera menunaikan sholat subuh.


Setelah selesai sholat subuh, aku segera ke dapur hendak memasak air dan membuat sarapan. Aku membuat sarapan hanya untukku, karena sekarang aku hanya tinggal sendiri sedang mas Ringgo tidak lagi tinggal bersamaku.


Aku segera menyelesaikan sarapan pagi, kemudian bergegas membersihkan rumah dan kamarku. Aku harus melakukannya secepat mungkin, aku tidak mau meninggalkan rumah dalam kondisi berantakan.


Sedang asyik membereskan rumah, aku mendengar nada panggilan dari ponselku. Aku menghentikan pekerjaanku dan bergegas mengambil ponsel yang berada di kamar.


sesampai di kamar nada panggilan pun terhenti, aku membuka ponselku ternyata mas Roland yang menelpon. Aku berniat menelpon balik mas Roland, tapi sebelum sempat menekan nomor mas Roland ponselku kembali berdering.


kring! kring! kring!


'halo mas, kenapa menelpon sepagi ini?"


"mas cuma mengingatkan dik, sidang perdana kamu hari ini jam delapan. Apakah kamu sudah bersiap-siap, dik?"


"belum mas, kalau begitu aku akan segera bersiap." Aku sedikit terkejut ternyata jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit , itu artinya aku harus segera bersiap kalau tidak ingin datang terlambat ke pengadilan.


"mas jemput kamu satu jam lagi, jadi segeralah bersiap dik."


"baiklah mas." Aku segera menutup ponselku, kemudian bergegas menyelesaikan pekerjaanku. Aku buru-buru membersihkan rumah, karena terburu-buru aku tidak bisa mengerjakannya dengan sempurna.


Setelah semua selesai, aku bergegas mandi dan merapikan diri. Aku membuka lemari pakaian, kemudian aku memilih memakai pakaian yang di belikan oleh mas Roland.


'terima kasih mas." Aku berkata seraya mengenakan pakaian mahal yang sekarang melekat di tubuhku, ternyata pakaian itu memang sangat cocok dan pas denganku. Aku sangat menyukai baju ini karena selain model dan warnanya bagus, bahannya juga sangat lembut.


Aku merasa sangat beruntung bisa mengenal mas Roland, dia begitu baik kepadaku. Tiga tahun hidup bersama mas Ringgo, dia belum pernah membelikan baju bagus apalagi semahal ini untukku.


Semenjak menikah, aku hanya sanggup membeli baju daster murahan yang pastinya luntur dan cepat sekali pudar warnanya. Aku membeli daster-daster itu dengan menyisihkan sedikit demi sedikit uang belanja setiap bulannya.


Jujur uang belanja yang diberikan mas Ringgo selama ini sangat kurang, sehingga aku kesulitan kebutuhan pribadiku. Aku hanya sanggup membeli baju daster yang sekarang sudah tidak layak dipakai.

__ADS_1


Kring! kring! kring!


Aku mendengar panggilan masuk di ponselku, setelah aku lihat tenyata mas Roland yang menghubungiku. Aku segera mengangkat panggilannya.


"assalamualaikum mas"


"wassalamu'alaikum dek, Apa kamu sudah siap? Mas sudah hampir sampai di rumahmu."


"oh ya mas, aku sudah hampir siap. Aku tunggu mas di rumah." Aku segera menutup pembicaraan kami, karena aku harus segera menyiapkan diri.


Aku segera memakai sedikit bedak dan riasan di wajahku, hari ini aku harus tampil beda dari biasanya. Aku akan perlihatkan kepada mas Ringgo dan Ratu, kalau aku bukanlah Rianti yang dulu. Rianti yang dulu berpenampilan kucel dan buluk sekarang sudah tidak ada lagi, sekarang mas Ringgo akan melihat aku lebih cantik dari wanita perusak rumah tanggaku itu.


Setelah selesai meras diri, aku tidak lupa memakai jam tangan dan beberapa perhiasan yang beberapa hari yang lalu aku beli. Aku membelinya dari uang hasil menguras ATM mas Ringgo.


'wow, aku tidak percaya bisa secantik ini. Mas Ringgo pasti menyesal telah meninggalkanku'.


Aku berkata sendiri, tidak percaya perubahan penampilanku sekarang.


Tok! Tok Tok!


"assalamualaikum dik, mas sudah didepan rumahmu." Aku mendengar ketokan pintu, sepertinya mas Roland yang datang.


"ya mas, tunggu sebentar." aku kemudian keluar kamar, segera membuka pintu untuk mas Roland.


"mas roland sudah sampai, ayo masuk mas." Aku senang sekali, ternyata benar mas Roland yang datang. Dia terlihat rapi sekali, tidak seperti tukang ojek yang selama ini aku kenal.


"dik, kamu ....


Mas Roland tidak melanjutkan kata-katanya, dia terpaku menatap tajam ke arahku. Dia bengong melihatku, matanya terlihat berbinar-binar. Aku melihat mata mas Roland seperti berkaca-kaca ketika memandangku.


"mas Roland ada apa? apakah ada yang salah dengan penampilanku, mas?" Aku mengangetkan mas Roland yang masih bengong menatap ke arahku, aku merasa heran dia memandangku begitu.

__ADS_1


"tidak apa-apa dik, ayo kita segera berangkat." mas Roland berkata seraya mengalihkan pandangan dariku, aku makin heran mendengarkan jawabannya. entah mengapa, aku merasa ada sesuatu dari pandangan matanya


"sebentar mas, aku mau mengambil tas dulu."


"ya dik." mas Roland menjawab singkat, aku merasa heran mendengarnya. Mas Roland mendadak hemat bicara, setelah melihat perubahan penampilanku.


Aku segera masuk kembali ke dalam rumah hendak mengambil tas. Sebelum keluar, aku kembali mematut penampilanku di depan cermin.


Setelah mengamati dengan seksama, aku melihat tidak ada yang aneh dengan penampilanku. Aku merasa penampilanku dan riasan wajahku tidak mencolok, aku semakin heran mas Roland memandangku seperti itu.


'aku tahu sekarang, mas Roland pasti takjub melihat perubahan penampilanku. He he, aku memang cantik luar biasa." Aku tersenyum sendiri, seraya memuji penampilanku. Mas Roland membuatku bingung dengan sikapnya pagi ini, dia memandang seolah-olah telah lama mengenalku padahal kami baru satu bulan bertemu.


'apa yang sebenarnya mas Roland sembunyikan dariku? Kenapa dia menatapku begitu dalam?' aku bertanya dalam hati, sekarang sederetan pertanyaan mulai muncul di benakku.


"dik, ayo cepat berangkat nanti kita terlambat." Aku mendengar mas Roland teriak, seketika aku tersentak dari lamunan. aku segera berlari keluar menemui mas Roland, dia terlihat terus memandangiku.


"ayo mas kita berangkat sekarang." Aku berusaha membuat mas Ringgo mengalihkan perhatiannya dariku, terus terang aku salah tingkah diperhatikan oleh mas Roland.


"ayo dik, sebelum berangkat pakai dulu helmnya." mas Roland menyodorkan helm kepadaku, aku mendengar suara mas Roland terdengar sedikit parau.


Kemudian, mas Roland segera melajukan motornya setelah memastikan aku naik. Aku sungguh tidak mengerti, sekarang mas Roland tiba-tiba tidak banyak berbicara.


Setelah sekitar dua puluh lima menit menempuh perjalanan, aku dan mas Ringgo sampai di pengadilan agama. Mas Roland segera memarkirkan motornya di tempat yang telah disediakan.


Aku melihat sekeliling, ternyata mas Ringgo belum datang. Aku berharap mas Ringgo segera datang, dia seharusnya tidak mempersulit proses perceraian kami.


"dik, apakah kamu sudah sarapan? sebaiknya, kamu sarapan dulu sebelum sidang dimulai" mas Roland berkata, aku merasa dia semakin perhatian kepadaku.


"aku sudah sarapan tadi pagi mas,"


"jangan khawatir dik, mas pasti akan menemanimu." Mas Roland berkata seraya menggenggam tanganku,ternyata dia paham dengan perasaanku. Terus terang, aku merasa deg-degan.

__ADS_1


Mas Roland menarik tanganku, kemudian dia mengajakku duduk di kursi. Aku terus menatap ke arah pintu gerbang, dari kejauhan aku melihat mas Ringgo datang bersama dengan Ratu.


__ADS_2