SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 41: Aku Yang Melakukannya,Kamu Mau Apa?


__ADS_3

"sayang bagaimana kalau istrimu tahu tentang hubungan kita?"si Ratu kadal terdengar bertanya kepada mas Ringgo, aku jijik mendengarkan pertanyaannya. Ternyata dia mengetahui kalau mas Ringgo itu pria beristri tapi dia tetap nekat mendekati mas ringgo yang notabene suami orang


'dasar wanita murahan tidak tahu malu, benar-benar menjijikkan' aku berkata seraya dalam hati, aku benar-benar geram mendengarkannya.


"tenang sayang, dia tidak bakalan tahu. Istriku itu tidak seperti kamu dia itu terlalu lugu dan bodoh, mudah sekali dikibuli. Selama ini kamu lihat, dia tidak pernah mengetahui hubungan kita." mas Ringgo berkata dengan bangga seraya memegang mesra tangan si Ratu buaya tidak tahu adat itu.


"mas kamu yakin, apa kamu tidak takut ketahuan istrimu nanti? Ratu ular itu kembali bertanya dengan senyum menyeringai di bibirnya, entah apa maksud pertanyaannya.


"mas sangat yakin sayang, mas tahu betul siapa dia. Selain mudah di bohongi dia itu tidak sepintar kamu. Dia hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa ." mas Ringgo berkata membuat Ratu tersenyum bahagia.


Mendengarkan percakapan mereka, aku semakin tidak mampu menahan emosi di dalam dada, Aku tidak menyangka mas Ringgo mengatakan hal itu, bangganya dia mengatakan aku bodoh.


"kalau dibanding, cantikan mana aku atau istrimu mas?" si Ratu ular itu kembali melontarkan kepada mas Ringgo.


"cantikan kamulah sayang, istriku itu tidak bisa dandan. Dia tertinggal jauh bila dibandingkan denganmu." Mas Ringgo berkata, sakit sekali hatiku mendengarnya memuji wanita itu.


Dia juga sekarang membandingkan aku dengan wanita murahan itu. Jelas saja, aku dan wanita itu tidak sebanding dia wanita tidak tahu murahan sedangkan aku jauh lebih bermartabat darinya.


'cukup sudah aku tidak bisa menerima lag semua ini. Mas Ringgo ternyata kamu selama ini telah membohongiku. sekarang akan aku perlihatkan siapa aku.' aku berkata dalam hati, aku menutup kamera ponselku.


Aku akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan. Selama ini, mas Ringgo melihatku pribadi yang lembut, baik hati dan mudah di bohongi tapi sekarang akan aku perlihatkan sisi lain dari diriku.


Aku berdiri diam-diam hendak pergi ke meja kasir, hendak meminta karet gelang. Melihat aku berdiri mas, Roland menatap heran ke arahku.


"mau kemana dik? mas Roland bertanya, tapi aku tidak menjawab pertanyaannya, malah meletakkan jari di bibirku. Melihat itu, mas Roland diam, dia tidak lagi bertanya.


Setelah mendapatkan karet gelang, aku segera kembali ke meja makan. aku kemudian merunduk dan bersembunyi di kolong meja.

__ADS_1


Aku kemudian menempatkan karet gelang itu di telunjuk hendak menembakkan ke arah wanita kurang ajar itu. Setelah merasa posisi karet gelang itu tepat, Aku segera menembakkan karet gelang itu.


"aduh mas, sakit" seketika terdengar jerit kesakitan dari mulut Ratu, rupanya tembakan yang aku lepaskan pas mengenai bibirnya. Aku melihat ratu seketika memegang mulutnya.


Mas Ringgo seketika terkejut mendengar Ratu menjerit kesakitan. Aku bersorak dalam hati karena tembakan berhasil mengenai sasarannya.


"ada apa sayang." mas Ringgo berkata kepada Ratu, dia terlihat mencemaskan wanita itu.


"bibirku sakit sekali mas, ada orang yang sengaja menembak pakai karet gelang ini." Ratu mengadu pada mas Ringgo seraya memperlihatkan karet gelang yang terletak diatas meja.


Mas Ringgo segera berdiri, melihat sekeliling mencari siapa yang telah melakukannya kepada Ratu wanita selingkuhannya. Dia terlihat rasa marah tampak jelas tergambar di wajahnya.


"siapa yang berani melakukan semua ini" mas Ringgo berteriak, amarahnya seketika meledak karena emosi. Mendengar teriakan mas ringgo, pengunjung memandang kearahnya.


Aku segera keluar dari kolong meja, tempat aku bersembunyi. Mas Ringgo yang dari tadi berdiri dalam posisi membelakangi, tidak melihat kehadiranku.


"aku yang melakukannya. Kamu mau apa? aku menjawab pertanyaan mas Ringgo setelah keluar dari persembunyian. Mas Ringgo kemudian menoleh kebelakang, seketika dia terkejut melihatku.


"dek, kamu...


"ya, aku yang melakukan semua itu kepada pacarmu. sekarang kamu mau apa? Aku menjawab seraya menatap tajam penuh kebencian kepada mas Ringgo, dia terbelalak melihat ke arahku.


"dek, a-apa yang kamu lakukan disini? mas Ringgo berkata dengan tergagap, dia terlihat sangat terkejut.


"mas, aku tidak menyangka kamu serendah ini berani sekali kamu berselingkuh di belakangku." Aku berkata dengan keras, para pengunjung menoleh ke arah kami mereka penasaran dengan apa yang terjadi.


Aku berjalan kearah mas Ringgo, dia terlihat tidak percaya ada di situ. Aku tidak akan memberi ampun kepadanya kali ini, dia harus merasakan pembalasanku.

__ADS_1


Plak!


Aku menampar pipi mas Ringgo sekeras mungkin, terlihat dia terhuyung menerima tamparan super keras dariku. saking kerasnya, aku merasa tanganku sampai sakit. Aku melihat warna merah bekas tamparan tanganku di pipinya.


"masih mau lagi mas ? Aku bertanya seraya melayang tamparan yang tidak kalah kerasnya ke pipi sebelahnya lagi. mas Ringgo terlihat memegangi kedua pipinya yang memerah karena tamparan tanganku.


"kau wanita sialan, ini balasan untukmu yang telah berani tidur dengan suamiku." aku berkata dengan penuh emosi.


Aku sekarang benar-benar lepas kendali. Aku melihat beberapa jenis gulai di atas meja, dengan serta Merta aku menuangkan gulai tersebut ke tubuh wanita itu. Wanita itu menjerit menahan perih karena matanya terkena kuah gulai.


Tidak sampai di situ, aku mendorong kursi yang sedang diduduki wanita tidak tahu malu itu. Ratu sialan itupun jatuh terjengkang kelantai, aku kemudian menendang perempuan itu beberapa kali.


Entah apa yang merasuki, aku seperti memiliki kekuatan yang sangat besar. Aku membalikkan meja makan sehingga hidangan yang berada di atasnya berhamburan jatuh ke lantai.


"Akan aku bunuh kalian sekarang juga." aku jadi kalap, aku sekarang di kuasai amarah yang aku sendiri tidak bisa mengendalikannya.


Aku mengedarkan pandangan, di sudut ruangan aku melihat sebuah tongkat besi tersandar di sana. Aku segera berlari mengambil tongkat itu, kemudian kembali hendak memukul wanita tidak bermoral itu.


Para pengunjung berusaha menghentikan, mereka berusaha memegangi tangan dan tubuhku. Pengunjung wanita terutama mak-mak menyerukan kalimat istighfar, aku tetap saja bersikukuh dalam kemarahan.


Aku meronta berusaha melepaskan diri, ingin terus melampiaskan segala kemarahan yang telah menguasai seluruh tubuh dan nadiku. Para pengunjung semakin banyak berkumpul, maklum sekarang jamnya makan siang.


"tolong lepaskan, aku akan membalas perbuatan mereka. Aku akan menghabisi mereka berdua." Aku berkata seraya berteriak keras.


"istighfar nak, jangan turuti kemarahan di hatimu." seorang mak-mak mencoba menasehati.


Aku masih saja meronta tapi aku tidak bisa melepaskan diri dari pegangan para pria pengunjung rumah makan, mereka terlalu kuat. Aku akhirnya pingsan karena kehabisan tenaga, tidak kuat menahan emosi yang tidak tersalurkan.

__ADS_1


__ADS_2