
"ayo ma, kita ke ruangannya mas Roland." Aku menggandeng tangan mama, mengajak beliau pergi meninggalkan tempat itu.
Aku berusaha melupakan masa laluku bersama mas Ringgo, kini dia bukan lagi siap-siapa bagiku. Sudah saatnya, aku harus menata hidupku kembali.
Kini, akan fokus belajar bisnis bersama mama dan kak Roland. Aku harus belajar sekuat mungkin karena perusahaan ibuku sudah menanti untuk kuurus.
Aku secepatnya akan mengambil alih dan mengurus perusahaan peninggalan almarhumah ibuku, setelah aku memiliki kemampuan yang baik. Ibu, mama dan kakakku Roland adalah orang-orang hebat dan diakui dalam dunia bisnis, aku sangat ingin seperti mereka.
Aku tidak akan lagi bergantung pada orang lain, cukup sudah orang meremehkanku selama ini. Biarlah yang berlalu menjadi masa lalu, aku akan membuat jati diriku sendiri.
Aku bertekad akan memnjadi pebisnis handal seperti halnya mama dan ibuku. Apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan pernah menyerah dan berusaha mewujudkan segala tekad dan cita-citaku.
Begitu tiba di ruangan mas Roland,Aku dan mama langsung masuk, namun mas roland ternyata tidak ada di ruangannya tapi tas kerja dan berkas berkas milik mas roland ada di atas meja kerjanya.
"kemana mas Roland ya ma, tas dan berkas-berkasnya ada tapi orangnya tidak ada." Aku bertanya pada mama seraya mengedarkan pandangan.
"entahlah, mungkin dia keluar mengerjakan sesuatu. Kita tunggu saja dia di sini. "mama menjawab seraya menjatuhkan bobotnya di sofa empuk yang ada di ruangan mas Roland.
"iya ma." Aku menjawab secara singkat dan ikut duduk di sebelah mama.
"Rianty, sudah waktunya kita pulang, sebelum pulang kita makan di luar yuk."
"oh iya ma, Rianti juga lapar. kita makan di mana ma?" tanyaku seraya membuka ponselku tanpa menoleh kepada beliau.
"kita makan di rumah padang kemaren saja, mama suka masakannya, rendang sama dendengnya enak." Mama menjawab dengan antusias
Mendengar masakan kesukaanku disebut, aku langsung merasa lapar. Aku tak kalah antusias daripada beliau, terlihat senyuman terkembang di bibir mama. Aku bahagia saat senyum itu merekah, rasanya ada seribu kebahagian menyentuh hatiku.
__ADS_1
"kita tunggu kakakmu dulu, mungkin saja Roland mau ikut makan bersama kita."
"iya deh ma, Rianti ikut mama aja deh."
Aku kembali menoleh ke gawaiku, ingin rasanya berselancar di dunia maya seraya menunggu mas Roland. Walaupun, aku tak punya banyak pertemanan di dunia maya tapi aku senang membaca tentang tutorial bisnis yang dibagikan di sana.
Aku terinspirasi dengan berbagai kisah yang menunjukkan perjuangan perempuan yang nasibnya hampir sama denganku. Mereka berjuang bertahan hidup setelah gagal membina rumah tangga.
Mereka berusaha berjuang dan bertahan dengan segala ketebatasan yang mereka milik hingga mereka mempunyai jati diri dan kebanggan sendiri. Ada yang diantaranya harus berjuang dengan tetesan airmata, tapi mereka kuat dalam menjalaninya
Aku masih beruntung dari mereka, walaupun bernasib sama, tapi aku masih memiliki keluarga yang secara ekonomi lebih mapan. Kalaupun, aku tidak bekerja aku tidak akan kekurangan.Merekanpasti mampu mencukupi segala kebutuhan hidupku.
Tapi, aku tidak mau bergantung begitu saja. Aku ingin seperti wanita-wanita hebat yang diluar sama. Aku akan membuktikan pada dunia, jika aku juga mempunyai kemampuan yang bisa kubanggakan dari diriku sendiri.
"Rianti dan mama ternyata ada di sini, Roland tadi mencari mama ke ruangan, mau mengajak makan di luar sebelum pulang. Suara khas yang sangat familiar mengejutkanku, aku segera menoleh ke arah pintu.
Aku begitu kagum padanya, dia muda tampan dan mapan. Dia hanya beda tiga tahun di atasku, tapi dia terlihat begitu sempurna.
"kenapa, kamu memandangku begitu dik? Kakak ganteng ya?" Mas Roland mengagetkan lamunanku, dia ternyata dia memperhatikan saat aku menetapnya.
"ganteng dari mana, dari hongkong." Aku membalas guyonan yang dilontarkan mas Roland, bahagianya kebersamaan diantara kami mulai terbangun.
"bukan dari hongkong dik, tapi dari sekian banyak yang jelek pasti mas lebih ganteng."
"ya lah, soalnya dari yang jelek sih, jadi bagaimana nih? Kita jadi makan diluar sebelum pulang?" Aku kembali menanyakan soal makan pada Mas Roland.
"yuk, mas sebenarnya juga lagi lapar sibuk dari pagi."
__ADS_1
Kami bertiga berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan mas Roland. Aku dan mama terlebih dulu menuju parkiran di mana mobil mas Roland berada, karena mas Roland ingin menemui sekretarisnya terlebih dahulu.
Setiba di parkiran, aku dan mama terpaksa menunggu mas Roland karena mobilnya di kunci dan kuncinya masih di pegang oleh mas Roland. Aku lupa meinta kunci, kini aku dan mama terpaksa menunggu mas Roland sampai.
Tak sampai sepuluh menit, mas Roland sudah sampai. Kamipun segera masuk kemobil begitu kunci pintu mobil di buka.
Mas Roland segera menghidupkan mobilnya kemudian pergi meninggalkan kantor, sedangkan aku dan mama duduk kursi belakang. Mas Roland mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, mobilsegera melaju menuju rumah makan yang kami tuju.
Setelah menempuh perjalanan yang sedikit macet, kamipun sampai di rumah makan yang kami tuju. Aku memandang sekeliling, serasa tempat ini mempunyai kesan yang sulit ku artikan.
Aku juga bingung setiap kali ke tempat ini, hatiku selalu tergerak untuk mencari keberadaan seseorang. Walaupun dulu, aku sedikit kesal saat dia usil kepadaku, namun ada rasa ingin bertrmu dengannya lagi. Sekarang, dia tidak pernah terlihat lagi entah di mana dia sekarang.
"kamu melihat apa dek, kok mukanya seperti mencari sesuatu? Apa kamu lagi mencari seseorang?"
"tidak mencari siapa-siapa kak, aku hanya memperhatikan tempat ini, masih seramai dulu ya?" Aku menjawab sekenanya, malu rasanya jika mas Roland sampai tahu apa yang kupikirkan.
" yuk kita masuk," mas Roland mengajak masuk rumah makan, kamipun mengikuti langkahnya.
Setiba di dalam kami langsung mencari tempat di pojokan, tak berapa lamapun karyawan rumah makan datang menghampiri kami. Mas Roland berbincang sebentar dengan karyawan itu, kemudian karyawan itu pergi meninggalkan kami.
Sebenarnya di rumah makan padang, kita tidak perlu memesan makanan. Kita cukup mengatakan keinginan kita untuk makan, sebab ada yang khas jika kita makan di rumah makan padang.
Di rumah makan padang, akan di sajikan semua menu yang ada. Kita hanya boleh menyentuh makanan mana yang akan kita makan dan habiskan. Jika makanan itu di sentuh walau cuma kuahnya, berarti kita harus membayarnya.
Aku teringat ketika mengerjai mas Ringgo waktu itu, dia terlihat kesal sekali karena dia harus mengeluarkan uang banyak untuk membayar makanan. Teringat hal itu, aku jadi senyum-senyum sendiri.
"kenapa kamu dek, sejak tiba di sini kamu aneh sekali?"
__ADS_1