
"sudah beres semua dik, apa tidak ada barang yang ketinggalan lagi" mas Roland bertanya mengingatkanku.
"aku merasa tidak ada lagi yang ketinggalan, sekarang kita let's go mas." Aku berkata dengan penuh keyakinan.
Aku dan mas roland segera meluncur ke rumahnya, dia kelihatan sumringah dan senyum-senyum sendiri. Mas Roland mendadak jadi pendiam setelah bertemu dengan anak gadis Pak Roman tadi.
Aku bisa melihat ada binar-binar kebahagian terpancar dari wajah mas Roland, pria yang beberapa waktu lalu baru aku ketahui dia adalah kakak kandungku.
Hatiku bersenandung bahagia, tatkala menatap wajahnya, aku begitu beruntung menjadi adiknya.
Mas Roland begitu baik dan penyayang, dia bagai cahaya matahari yang menyinari relung hatiku yang sempat di landa gemuruh duka. Dia datang disaat yang tepat, saat aku membutuhkan uluran tangan dan dukungan untuk keluar dari penderitaanku. Ternyata dengan kehadiran mas Roland dan mama di hidupku, luka hatiku bisa cepat tersembuhkan.
"kita sudah sampai dik, ayo turun." Mas Roland menyadarkanku dari lamunanku, tidak terasa ternyata kami sudah sampai di rumah mas Roland.
Aku turun dari mobil, mengikuti langkah panjang mas Roland. Mas Roland berjalan begitu cepat hingga aku tertinggal jauh di belakang.
Aku mengedarkan pandangan ketika telah berada di dalam ruang tamu, tidak ada seorangpun kulihat di sana. Mas roland sudah terlihat, benar-benar aneh sikap Mas Roland hari ini.
'kemanakah mas Roland tadi, kok dia cepat sekali menghilangnya?' Aku bertanya dalam hati seraya menjatuhkan bobotku di sofa. Tak berapa lama, mas Roland terlihat keluar kamar seraya membimbing mama.
Aku tersenyum pada wanita yang rupanya mirip dengan wajahku. Dia adalah wanita yang telah menghadirkanku di dunia ini, walaupun ada wanita lain yang tulus membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Mereka berdua adalah wanita-wanita yang berjasa dalam hidupku.
"Rianti kapan datang nak?" mama bertanya dengan suara lembut dan penuh kasih sayang setelah mendudukkan tubuh beliau di sofa. Tubuh ini terlihat kurus sekali, walau begitu aku masih bisa melihat gurat kecantikan yang terpancar di wajahnya.
"baru saja ma, Rianti datang bersama mas Roland."
"Kamu sudah makan nak?" mama sekarang menggapai tanganku, aku balas menggenggam erat tangan yang selama ini jauh dari genggamanku.
"sudah ma, apa mama sudah makan dan minum obat?" Aku mencoba memberikan seluruh rasa sayang yang sekarang mulai mengalir di hati.
__ADS_1
"belum, mama menunggu Roland datatang menemani mama makan."
"kalau begitu, Rianti temani makan m ya ma. Mas Roland tadi buru-buru jadi gak begitu nikmat makannya. " Aku memberikan alasan, padahal tadi aku dan mas Roland sudah makan banyak.
"iya ma, kita makan sama-sama ya. "
Mama mengangguk pelan, aku membantu beliau berdiri dan membimbing ke meja makan. Aku, mas Rolanddan mama makan bersama untuk kedua kalinya.
Aku merasa betapa nikmat makanan yang ada di hadapanku, karena makanan ini memang enak dan terlebih lagi karena makannya ditemani orang-orang yang aku sayangi.
Aku mencuri pandang kearah mama dan mas Roland secara bergantian selama makan, rasanya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memandang dan mencermati wajah mereka.
Selesai makan makan, kami terus bercanda seraya melempar canda dan tertawa bersama. Betapa hangatnya kebersamaan ini, aku bahagia dan menikmati semua kehangatan yang hadir setelah sekian lama tidak dapat ku rasakan.
"pak Roland sudah saatnya ibu minum obat dan istirahat." seorang wanita berpakaian khas seorang perawat datang menghampiri, dia memberitahu bahwa sudah saatnya mama minum obat.
"mulai saat ini, mama tidak mau minum obat lagi Roland. Mama merasa sudah sembuh, anak mama yang hilang sekarang sudah kembali jadi tidak perlu lagi semua obat-obatan itu"
"mama tidak mau Roland, sekarang mama sudah sembuh sebaiknya kamu tidak memaksa mama." mama bersikeras tidak mau minum obat, aku hanya tersenyum ketika mendengar perdebatan antara mas Roland dan mama.
Cukup lama mas Roland membujuk mama tapi mama tidak mau minum obat sama sekali. Ternyata darah itu memang lebih kental dari air, aku dan mama memiliki tingkat keras kepala yang sama.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku mama, beliau tidak bisa dibujuk sama sekali. akhirnya mas Roland menyerah,dia tidak lagi membujuk mama.
'kenapa senyum-senyum, kamu mau membujuk mama?"
"tidak sama sekali, aku tidak mau membujuk beliau. Ternyata buah itu jatuh tidak akan jauh dari pohonnya." aku berkata dengan nada pelan, aku tersenyum ringan ke arah mas Roland.
"oh ternyata, kamu menyadarinya juga dik." mas Roland nyengir ke arahku, dia seperti terlihat mengejekku. Aku hanya membalas dengan mencebikkan bibir dan kemudian tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"sudahlah mas, gak usah di paksa lagi, mungkin mama merasa bosan minum obat."
"iya dik, mas tidak bisa membujuk mama lagi."
"mama istirahat ya, Roland akan mengantar mama ke kamar."
" tidak mau, mama mau tidur bersama Rianti. Sekian lama terpisah, mama tidak ingin melepaskan kesempatan ini."
Mas Roland memandang kearahku dan aku menanggukkan kepala padanya. Aku kemudian membimbing dan menemani mama sampai mama tertidur.
Setelah beliau tidur pulas, aku bangkit dan kembali bangun. Aku teringat belum menunaikan kewajibanku, mulai saat ini aku harus berusaha menjalankan kewajibanku sebaik mungkin.
Aku berjalan ke kamar mandi, segera mensucikan diri. Aku mengambil wudhu untuk menghadap kepada Sang pemilik dan penulis takdirku.
Di hadapanNya, aku menangis dengan penuh kesyahduan. Aku merasa sangat bersyukur atas apa yang telah dianugrahkannya kepadaku.
Betapa besar kuasaNya, luka yang di turehkan mantan suamiku tidak ada apanya dibandingkan dengan kebahagiaan yang diberikanNya padaku.
Aku yang dulu bukan siapa-siapa, sekarang mendadak memiliki semua kebahagiaan di dunia. Aku yang dulu tidak punya apa-apa, dalam sekejap mata sekarang berlimpah harta.
Di akhir rasa syukurku, aku mendoakan ibuku semoga beliau bahagia di sana. Tidak lupa pula aku panjatkan doa semoga mama akan segera sembuh, aku ingin merasakan indahnya kebersamaan bersama beliau. Amin...!
Setelah selesai menunaikan kewajibanku yang diiringi dengan memanjatkan doa serta keluh kesahku padaNya. Aku teringat akan barang bawaanku yang tadi aku bawa. Aku segera berlari keluar kamar karena teringat aku menaruhnya di atas meja makan tadi.
Sesampai di meja makan, aku kaget karena tas milikku tidak ada lagi di sana. Aku kemudian memeriksa kursi dan kolong meja ternyata tidak aku temukan jugadisana.
'kemana tasku?' aku bertanya sendiri seraya mengedarkan pandangan. Aku kemudian menuju ruang tamu, berangkali tasku ada disana.
Ternyata benar, aku menaruhnya tadi di sana. Aku bergegas mengambil dan membawanya. Tapi karena terburu-buru, aku tidak sengaja menjatuhkan tas yang ada di tanganku hingga isinya berhamburan keluar.
__ADS_1
Aku bergegas memunguti , tanpa sadar seorang sedang memperhatikan dari kejauhan.